*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Labirin Gravitasi
Rasanya seperti tubuh Lin Xuan ditarik melewati ribuan jarum saat terseret ke dalam pusaran Kuali Pembelah Surga. Tekanan ruang yang kacau terus menekan tubuhnya dari segala arah, tetapi dengan fisik Level 10 yang telah ditempa hingga mampu menahan tekanan ruang, kesadarannya tetap terjaga sepanjang perjalanan.
Blaam!
Tubuhnya akhirnya terlempar keluar dari celah ruang dan menghantam sebuah lempeng tembaga raksasa yang melayang di tengah kehampaan.
Lin Xuan segera bangkit dan menyapu pandangan.
Ia telah tiba di dunia yang sama sekali berbeda.
Langitnya berwarna perunggu gelap dengan cahaya hijau suram yang menyelimuti seluruh cakrawala. Ribuan lempeng tembaga kuno melayang di segala arah, sebagian bahkan berukuran sebesar kota.
Masing-masing bergerak dengan arah berbeda seolah tidak terikat oleh hukum ruang biasa. Beberapa reruntuhan kuil bahkan berdiri terbalik di bagian bawah lempeng yang melayang jauh di atas kepalanya.
"Labirin Gravitasi."
Lin Xuan bergumam pelan.
Di tempat ini, setiap lempeng memiliki daya tariknya sendiri. Tidak ada atas atau bawah. Arah gravitasi terus berubah, membuat seluruh dunia seperti labirin tanpa jalan yang pasti.
Suara Hun Yuan terdengar dari dalam Lautan Jiwanya.
"Tuanku, hubungan jiwaku dengan dunia luar terputus. Tempat ini disegel oleh hukum penciptaan. Mo Xie juga tidak berada di dekat sini. Kuali itu pasti telah memisahkan kita ke wilayah yang berbeda."
"Bagus."
Lin Xuan justru tidak terlihat kecewa. Ia melompat menuju lempeng berikutnya dan memanfaatkan perubahan daya tarik di sekitarnya untuk melesat semakin jauh.
"Aku tidak ingin berurusan dengan sabit busuknya sebelum menemukan jalan menuju inti kuali."
Tubuhnya bergerak dari satu lempeng ke lempeng lain dengan kecepatan tinggi. Setiap kali arah gravitasi berubah, Lin Xuan segera menyesuaikan tubuhnya dan menggunakannya sebagai pijakan baru.
Tak lama kemudian, sebuah candi perunggu raksasa muncul di kejauhan.
Bangunan kuno itu berdiri di tengah labirin, dikelilingi puluhan lempeng tembaga yang berputar perlahan. Aura kuno yang terpancar darinya begitu kuat hingga Lin Xuan langsung menyadari bahwa tempat itu pasti menyimpan petunjuk penting.
Ia mempercepat langkah.
Namun, begitu kakinya menyentuh pelataran candi, terdengar suara gemuruh dari bawah.
Lempeng tembaga di bawah kakinya tiba-tiba meleleh.
Logam cair bersuara lalu menyembur ke udara. Dari dalam lautan tembaga itu, seekor singa raksasa perlahan merangkak keluar.
Tidak ada daging ataupun tulang pada tubuhnya.
Seluruh tubuhnya terbentuk dari tembaga cair yang terus mendidih. Panas yang terpancar darinya membuat ruang di sekitarnya beriak, sementara auranya telah mencapai tingkat Kaisar Hukum Suci Puncak.
Lin Xuan menatapnya dengan tenang.
"Penjaga yang lahir dari sisa api kuali?"
Singa tembaga itu mengeluarkan raungan dahsyat sebelum menerjang.
Cakar logamnya menyapu pinggang Lin Xuan.
Ia tidak menghindar. Hukum Tolak langsung berkumpul di lengannya.
Bllaarr!
Cakar itu terpental keras.
Namun, tubuh singa tidak terluka. Wujudnya hanya pecah menjadi aliran tembaga sebelum kembali menyatu beberapa langkah di belakang Lin Xuan.
Dalam sekejap, cairan panas itu meluncur seperti ular dan melilit lengan Lin Xuan. Tembaga cair kemudian menyebar ke seluruh tubuhnya, membungkusnya dalam lapisan logam yang suhunya bahkan mampu melelehkan zirah dewa.
Tubuh Lin Xuan tetap tidak terluka, tetapi panas yang luar biasa itu mulai menembus pori-porinya.
Singa tembaga kembali membentuk tubuhnya. Rahangnya terbuka lebar, memperlihatkan cairan merah membara yang berputar di dalamnya.
"Tuanku!"
Hun Yuan segera memperingatkan.
"Makhluk itu tidak memiliki tulang. Hukum Tolak hanya akan memecah tubuhnya, bukan menghancurkannya!"
Lin Xuan justru tersenyum.
"Aku seorang alkemis."
Ia mengangkat tangan kirinya dan menatap tembaga cair yang membungkus tubuhnya.
"Kalau tidak bisa menghancurkan wujudnya, aku akan mengubah wujudnya."
Cahaya perak menyala di matanya.
Kali ini, Lin Xuan tidak mendorong kekuatan keluar untuk menolak tembaga tersebut. Sebaliknya, ia mulai menarik panas yang terkandung di dalamnya.
Seni Alkimia berputar di dalam tubuhnya.
Bagi seorang alkemis, tungku bukan sekadar sebuah benda. Tungku adalah tempat segala sesuatu diubah dan dimurnikan.
Dan saat ini, tubuh Lin Xuan sendiri adalah tungkunya.
Ia menyerap panas dari tembaga yang melilit tubuhnya lalu menekannya ke dalam tubuh. Perubahan itu terjadi begitu cepat hingga tembaga yang semula mendidih mulai kehilangan panas.
Uap putih perlahan menyelimuti lengannya.
Krreekk... Krakk...
Retakan menjalar ke seluruh tubuh singa.
Tembaga cair mulai membeku.
Dalam beberapa tarikan napas, seluruh tubuh singa berubah menjadi patung logam yang kaku dan rapuh. Makhluk itu masih berada dalam posisi menerkam, tetapi tubuh cair yang sebelumnya sulit dihancurkan kini telah berubah menjadi seperti kaca.
Lin Xuan melepaskan lengannya dan menatap patung tersebut dengan senyum tipis.
"Kau memang sulit dihancurkan saat menjadi cair." Ia mengangkat kaki kanannya. "Tapi setelah membeku, kau tidak lebih dari sepotong logam rapuh."
Doom!
Tendangan Lin Xuan menghantam tubuh singa.
Patung raksasa itu langsung pecah menjadi jutaan serpihan tembaga yang beterbangan memenuhi pelataran.
Aura penjaga itu lenyap bersama pecahan tubuhnya.
Lin Xuan menurunkan kakinya dan menarik napas perlahan.
Pertarungan tadi tidak dimenangkan dengan kekuatan semata. Ia menang karena memahami hakikat lawannya.
"Alkimia tidak selalu membutuhkan kuali."
Lin Xuan kemudian melangkah melewati serpihan tembaga menuju aula utama.
Di dalamnya tidak terdapat harta karun maupun senjata suci. Hanya sebuah pilar berwarna emas kehitaman yang berdiri sendirian di tengah ruangan.
Lin Xuan mendekat.
Sebuah pola kuno terukir di permukaan pilar. Garis-garis cahaya bergerak perlahan, saling terhubung hingga membentuk sebuah peta labirin.
Lin Xuan memperhatikannya dengan saksama.
Peta itu ternyata menggambarkan seluruh dunia yang baru saja dimasukinya.
"Begitu rupanya."
Tatapannya bergerak mengikuti garis-garis cahaya hingga menemukan dua titik yang bersinar terang.
Satu berada di wilayah Tembaga, tepat di wilayah tempat ia berdiri.
Titik lainnya berwarna ungu dan berada sangat jauh di wilayah Besi Hitam.
"Mo Xie." Lin Xuan menyipitkan matanya. "Dia juga sudah menemukan jalannya."
Tatapannya kemudian bergerak menuju pusat peta.
Di sana terdapat sebuah pusaran hitam dan putih yang terus berputar dalam keheningan.
"Inti Yin-Yang." Jari Lin Xuan menyentuh ukiran tersebut. "Itulah pusat Kuali Pembelah Surga."
Di sanalah dua kekuatan yang berlawanan bertemu.
Yin dan Yang.
Penciptaan dan kehancuran.
Jika ia dapat memperoleh kekuatan dari pusat tersebut, mungkin ia bisa menemukan jalan untuk menyempurnakan tubuhnya dan menembus Level 11.
Senyum tipis muncul di wajah Lin Xuan ketika menyadari sesuatu yang lebih menarik.
Jalurnya dan jalur Mo Xie ternyata akan bertemu tepat di gerbang menuju Inti Yin-Yang.
"Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu lagi."
Lin Xuan mengepalkan tangannya.
"Tuan Muda Iblis Kuno, jangan mati sebelum sampai ke sana."
Ia berbalik dan meninggalkan aula.
Daya tarik di sekeliling tubuhnya kembali berubah. Lin Xuan memanfaatkan perubahan gravitasi itu untuk melesat ke udara, menembus atap candi, lalu menghilang di antara ribuan lempeng tembaga yang berputar.
Tujuannya sudah jelas.
Inti Yin-Yang.
Dan di sana, pertemuan berikutnya dengan Tuan Muda Iblis Kuno pasti akan jauh lebih dahsyat.