Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 WARISAN LELUHUR
Hening yang menyelimuti pelataran reruntuhan candi purba di jantung Hutan Mandala Giri itu terasa begitu padat, seolah udara di sekitar altar batu membeku dan menolak untuk bergerak barang sedikit pun.
Raka berlutut dengan kedua tangan menumpu pada tanah berlumut di hadapan altar batu yang telah ditumbuhi lumut tebal berwarna hijau tua. Napasnya yang tadinya memburu karena pendakian dan ketegangan perlahan-lahan mulai ia atur kembali, ditarik dalam-dalam lewat hidung dan diembuskan perlahan lewat mulut, demi meredam getaran halus yang masih tersisa di ujung-ujung jemarinya.
Di atas altar batu berukir relief flora purba yang mulai aus dimakan zaman, kotak kayu berukuran sedang itu tampak begitu sederhana namun memancarkan wibawa magis yang luar biasa besar. Tidak ada gembok besi yang rumit, rantai baja, atau pengaman modern yang melindunginya; kotak tua berhias ukiran kayu itu hanya ditutup rapat oleh sebuah segel tanah liat kering yang telah mengeras sempurna, dengan lambang aksara kuno yang menyerupai bentuk daun sirih terukir jelas di permukaannya.
Lambang yang sama persis seperti yang sering digambar oleh kakeknya di halaman-halaman terakhir buku harian bersampul kulit rusa.
Raka menatap kotak tersebut lekat-lekat, membiarkan matanya merekam setiap detail kecil dari benda pusaka yang menjadi tujuan utamanya datang ke tempat terkutuk ini. Sesuai dengan catatan yang ia baca di buku harian kakeknya, ia tidak boleh sedikit pun berniat membuka kotak itu dengan paksa atau menggunakan golok pusaka peninggalan ayahnya.
Kekerasan fisik atau niat yang dilandasi keserakahan hanya akan memecahkan isi berharga di dalamnya, atau lebih buruk lagi, memicu mekanisme perlindungan gaib alam Mandalagiri yang dapat mencelakakannya.
"Niatku murni, wahai para leluhur penjaga tanah ini," bisik Raka pelan, suaranya parau memecah kesunyian hutan yang mencekam. "Aku datang bukan untuk merusak keaslian alam, bukan pula demi mencari kekuasaan, kesaktian palsu, atau kesombongan pribadi di hadapan sesama manusia. Aku datang membawa beban berat seluruh warga Desa Ciherang yang tanah kelahirannya, tempat cucuran keringat orang tua kami, terancam dirampas oleh orang-orang serakah. Berikanlah aku petunjuk, kebijaksanaan, dan kekuatan untuk melindungi mereka dari kehancuran."
Selesai mengucapkan kalimat sumpah batin itu, Raka perlahan mengulurkan tangan kanannya yang kokoh. Ujung jemarinya menyentuh permukaan kayu kotak yang terasa dingin luar biasa—bukan dinginnya es batu yang membekukan kulit, melainkan dingin yang menyejukkan jiwa, seolah menyerap seluruh kepenatan, keraguan, dan rasa takut yang sempat berkecamuk di dalam benaknya sejak ia melangkah masuk ke hutan larangan.
Dengan hati-hati dan penuh takzim, ia menekan segel tanah liat di atas kotak tersebut menggunakan ibu jarinya.
Krek... krek...
Suara retakan kecil terdengar nyaring memecah keheningan pelataran candi. Segel tanah liat kuno itu tiba-tiba pecah berkeping-keping tanpa memerlukan tenaga fisik yang besar, berubah menjadi serbuk halus berwarna abu-abu yang langsung tertiup angin tipis dari celah-celah reruntuhan candi. Tutup kotak kayu itu perlahan bergeser terbuka dengan sendirinya, seolah mengenali pemilik sah yang ditunggu-tunggu selama puluhan tahun.
Tidak ada cahaya menyilaukan mata atau suara gemuruh guntur menggelegar seperti yang sering digambarkan di dalam cerita dongeng rakyat masa lampau. Yang ada hanyalah aroma harum semerbak campuran kayu gaharu tua, getah damar, dan rempah-rempah kuno yang langsung menguar ke udara bebas, menyegarkan penciuman Raka seketika dan menghapus bau lembap hutan.
Di dalam kotak kayu berbaris rapi tersebut, terbaring dua buah benda pusaka warisan leluhur: sebuah gulungan naskah tua yang terbuat dari kulit Kayu Lontar dengan tulisan tangan menggunakan aksara Sunda buhun yang sangat rapi dan detail, serta sebuah lempengan batu giok kecil berwarna hijau lumut berbentuk pipih bundar yang diikat erat oleh benang wol merah tua.
Raka menahan napasnya dalam-dalam, dadanya berdegup kencang karena rasa haru yang teramat sangat. Dengan tangan yang sedikit bergetar namun mantap, ia mengangkat gulungan lontar tersebut terlebih dahulu. Begitu gulungan kuno itu berada di dalam genggaman telapak tangannya, sebuah sensasi hangat yang luar biasa mendadak mengalir merambat masuk, menjalar melalui lengan, dada, hingga berpusat di kepalanya. Rasa pusing, letih, dan pegal akibat pendakian panjang menyusuri hutan belantara seketika menguap begitu saja tanpa bekas, digantikan oleh kejernihan pikiran yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Simbol-simbol huruf kuno di atas lembaran lontar itu tiba-tiba tampak begitu terang benderang dan sangat mudah dipahami oleh batinnya, seolah-olah akumulasi pengetahuan berabad-abad lamanya sedang ditransfer secara langsung ke dalam memori ingatannya.
Itulah yang dinamakan Welingan Sejati—warisan luhur para pendiri desa yang merangkum teknik pernapasan khusus untuk melipatgandakan kekuatan fisik, ketahanan tubuh yang luar biasa terhadap rasa sakit, kepekaan indra terhadap ancaman di sekitar, serta rahasia meracik berbagai tanaman hutan untuk menyembuhkan penyakit berat.
Kakeknya sama sekali tidak sedang membual di dalam catatan hariannya; ilmu itu nyata adanya, dan kini seluruh esensinya telah berpindah ke dalam genggamannya.
Raka kemudian mengambil lempengan giok hijau yang tersisa di dalam kotak. Saat ia menyentuh permukaan giok tersebut, lempengan batu itu terasa berdenyut pelan dengan ritme yang selaras dengan detak jantungnya sendiri. Ia tahu pasti, lempengan giok itu adalah tanda pengenal sekaligus kunci otentik bahwa ia telah diterima secara penuh sebagai pewaris sah dari garis keturunan penjaga tanah Ciherang.
Secara tiba-tiba, angin di sekitar pelataran candi purba bertiup kencang secara bersamaan dari segala arah mata angin. Pepohonan purba berukuran raksasa di sekeliling reruntuhan meliuk-liuk anggun, dan kabut tebal yang tadinya mengepung rapat perlahan-lahan mulai menipis, membiarkan seberkas sinar matahari sore menembus celah tajuk daun yang lebat, jatuh tepat menyoroti sosok Raka yang masih setia berlutut di atas tanah.
Di luar dugaan, suara batin sang kakek seolah berbisik lembut namun jelas di dalam ruang ingatannya: "Ilmu dan pusaka ini sama sekali bukan untuk ditunjukkan kepada dunia demi mencari sanjungan, pujian, atau kekuasaan semu, Raka. Gunakan ia selalu dengan kepala dingin, hati yang bersih tanpa kebencian, dan keberanian yang teguh dalam membela kebenaran. Pulanglah segera ke desa, karena pertarungan dan tugasmu yang sebenarnya baru saja dimulai."
Raka merunduk dalam-dalam, menempelkan dahinya ke tanah tempat ia berlutut sebagai wujud rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta dan para leluhur. Ia memasukkan gulungan lontar bersejarah itu beserta lempengan giok hijau ke dalam wadah khusus di bagian paling aman dan terlindung di dalam ransel usang miliknya.
Ketika ia bangkit berdiri tegak, seluruh otot di tubuhnya terasa jauh lebih ringan, sigap, bertenaga penuh, dan selaras dengan alam sekitar. Langkah kaki Raka saat menuruni lereng Hutan Mandalagiri sore itu tidak lagi menyisakan setitik pun keraguan atau rasa takut di dalam dadanya. Raka Ardian yang keluar dari batas hutan terlarang bukanlah lagi pemuda desa yang naif seperti saat ia masuk sehari sebelumnya; ia telah ditempa oleh keheningan alam, diberkahi oleh kebijaksanaan leluhur, dan kini ia siap sepenuhnya kembali ke Desa Ciherang untuk menghadapi apa pun rintangan yang menghadang jalannya demi mempertahankan tanah kelahiran tercinta.