NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SATU: Awal Mula (Bagian 1)

"Kamu pulang bareng aku kan, Ra?" aku menyenggol bahu gadis manis di sebelahku. Dia melengos.

"Iya, iya, Mas. Kayak biasanya aku nggak pulang bareng kamu aja."

"Yaa...kali aja kamu mau pulang bareng temenmu atau siapa gitu," aku menjawab asal dengan masih menatapnya.

"Kalau aku mau bareng orang lain, aku juga bakal bilang dari tadi. Kecuali kalau aku diajak pulang bareng mas Jo. Aku baru nggak ngomong sama kamu, Mas," mendengar nama salah satu temanku disebut, kupingku rasanya panas. Buru-buru aku meredam emosiku sendiri.

"Joan lagi, Joan lagi. Segitu naksirnyakah kamu sama temenku itu?"

"Menurutmu, Mas?" Ara menyahut pertanyaanku cepat. Ditanya balik seperti itu, tentu saja membuatku panik. Sekarang ganti mukaku yang panas.

"Mana kutahu. Kan kamu yang punya perasaan. Aku penasaran aja soal perasaanmu ke Joan. Ara si perfeksionis gitu ya jatuh hati sama Joan. Masih rada nggak terima aja aku," ujarku terus terang.

"Terus maumu aku jatuh hati sama siapa? Kamu?" lagi-lagi pertanyaannya membuatku kelabakan.

Ya setidaknya mending jatuh hati sama aku daripada Joan. Aku kan ganteng, pintar, rajin menabung, perhatian juga sama ka...

"Heh! Ditanya malah ngelamun. Akhir-akhir ini kamu banyak ngelamun tahu, Mas. Bikin jengkel!" Ara memanyunkan bibirnya dan tingkahnya itu entah kenapa selalu membuatku tertawa.

"Maaf, maaf. Aku lagi berusaha meyakinkan diri sama sesuatu soalnya, makanya banyak ngelamun. Kamu perhatian banget sampai tahu aku banyak ngelamun?"

"Dih, siapa juga yang perhatian? Abisnya aku kan satu sekolah sama kamu, pulang juga sama kamu, les juga sama kamu, tahulah kalau kamu ngelamun kayak gimana. Lagian aku tahunya juga gara-gara dikasih tahu fans-fansmu yang seabrek itu. Heran deh, apa juga yang mereka suka dari kamu, Mas?"

"Ya mungkin karena dari temen-temenku cuma tinggal aku yang jomblo. Makanya lebih banyak yang berminat ke aku daripada ke temenku yang lain," jawabku enteng. Tapi memang, di antara 4 teman dekatku, tinggal aku seorang yang belum pernah memiliki pacar. Bukan karena aku tidak laku. Sebaliknya, aku hampir memiliki semua kriteria laki-laki idaman. Aku tampan, tinggi, berkulit putih, pintar, anak basket, dan ramah. Kecuali pada wanita. Ara memanggilku 'Si Dingin' karena hampir semua wanita yang menyatakan cinta padaku aku tolak mentah-mentah. Bukan dengan cara yang manis tapi dengan cara yang sometimes lumayan ekstrem. Keempat temanku, yang awalnya tidak terlalu mempermasalahkan sikap cuekku, akhirnya penasaran juga dengan tipe wanita yang aku cari untuk dijadikan pacar. "Jangan terlalu pemilih, Zang! Kan cuma buat pacar aja. Masih terlalu awal kalau mau nyari istri sekarang", tutur Ario, sahabatku yang paling sering gonta-ganti pacar menasihatiku suatu hari. Aku hanya nyengir mendengarnya karena aku sendiri bingung akan menjawab apa. Aku yakin aku normal, absolutely normal. Aku hanya tidak suka dengan wanita yang menyatakan cinta pada laki-laki hanya karena dia tampan, pujaan di mana-mana, atau karena dia kaya apalagi. That's really not my type.

"Nah terus kamu ngapain jomblo sih, Mas? Cepetan punya pacar sana lho! Biar aku juga nggak dititipin surat cinta buat kamu terus. Semakin banyak yang patah hati, semakin ringan juga tugasku buat bawain hadiah-hadiah dari fansmu. Kalau kamu simpen sih mending, lha dibuang semua. Aku deh yang bingung kalau ditanya wanita-wanitamu," Ara lagi-lagi nyeletuk membuyarkan lamunanku. Aku meliriknya dan entah kenapa ada yang bermain-main di dalam diriku. Dan ini yang membuatku sering melamun sejak berhari-hari yang lalu. Bertanya-tanya apakah aku sakit atau memang ada yang tidak beres dengan perasaanku.

"Belum ada yang cocok, Ra. Aku juga punya alasan kenapa nolakin mereka semua."

"Apaan emangnya?"

"Pertama, aku nggak suka dikasih surat karena kesannya tuh cewek nggak berani ngomong langsung ke aku. Kalau bisa ngomong langsung kenapa pake surat segala? Buang-buang kertas aja. Udah tahu aku orangnya nggak suka ribet. Kedua, aku nggak suka dikasih hadiah karena selain uang yang mereka pake buat beli itu adalah uang orang tuanya, aku juga bisa beli sendiri kalau cuma baju atau apalah itu. Ketiga, mereka kebanyakan pingin pacaran sama aku karena nyari pamor aja. Mungkin karena aku ganteng, anak basket, atau lain-lainnya," jelasku pada Ara. Kulihat dia mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

"Kalau gitu cari 'adik' lagi aja buat kalian berlima. Biar aku nggak sengsara sendirian kalau dititipin salam atau hadiah buat kalian, apalagi yang buat kamu, Mas," Ara tiba-tiba mengusulkan hal yang menyadarkanku akan sesuatu.

Niara Vero, panggilannya Ara. Gadis ini berperawakan kurus, tinggi, berambut hitam panjang, pintar, moody, dan yang terpenting darinya adalah dia memiliki dua gigi taring yang menjadi gingsul. Benar, dia memang manis. Dia adalah satu-satunya adik kelas yang entah kenapa bisa dekat dengan kami berlima. Kami juga tak tahu siapa yang memulai dan mengenalnya lebih dulu. Tapi sejak mengenalnya, kami jadi rajin mengunjunginya sebelum ke kantin, mengantarnya pulang jika tukang ojek langganannya tidak bisa menjemput, menungguinya makan atau les sampai selesai, mengajarinya pelajaran yang dia tidak bisa, bahkan keempat temanku selalu mendahulukan Ara daripada pacar mereka. Sejak itulah, semua orang di sekolah kami mengenalnya sebagai 'adik' kami. Dan semenjak itu pula Ara jadi punya pekerjaan baru yang lama-lama membuatnya jengkel. Ya, dia menjadi tukang pos dari para wanita yang menyukai salah satu dari kami. "Kalau dibayar uang sih nggak apa-apa, Mas. Lumayan kalau satu orang ngasih sepuluh ribu gitu. Nah, cuma dibayar makasih. Kecut!" ujarnya polos. Sampai sekarang aku masih terbahak jika mengingat perkataannya itu. Mungkin karena ucapannya yang blak-blakan dan sikapnya yang sederhana itulah yang membuat aku, Indra, Farel, Alan, dan Ario menjadi nyaman di dekatnya.

"Nggak ah. Susah nyari adik kayak kamu. Satu aja cukup," aku menjawab pertanyaan Ara tadi sambil mengacak poninya. Ada sedikit semu yang kutangkap dari wajahnya.

"Iyalah, anak kayak aku nih langka. Seribu tahun sekali baru ada," ujarnya sebelum tertawa cekikikan.

"Lho, Ra? Belum pulang?" tiba-tiba suara yang tidak asing di telingaku bertanya pada Ara.

Shit! Kenapa si Joan muncul di saat begini sih? Ilang kan konsennya Ara ke aku.

"Hehe. Belum, Mas. Masih ngobrol-ngobrol aja sama mas Izang," Ara menjawab dengan nada yang sedikit berbeda dengan saat dia berbicara denganku. Dan aku mulai membenci nada bicara itu.

"Oh. Besok kamu ada les pagi nggak? Kalau ada, kamu duduk di sebelahku aja biar kamu nggak perlu bawa kursi dari kelas sebelah."

"Ada kok, Mas. Kan lombanya minggu depan, jadi tiap hari les bareng terus sama kelasnya mas Jo."

"Sip deh kalau gitu, besok aku bookingin pagi-pagi. Aku pulang dulu ya? Zang, duluan yak?"

"Iya Mas, hati-hati!" Ara dengan semangat melambai pada Joan. Aku? Yah, cuma mengedikkan kepala saja tanda mendengar pamitannya.

"Untung aja kamu masih ngajak ngobrol di sini, Mas. Jadi bisa ketemu mas Joan deh aku," Ara mulai mengatur moodnya ke arah senang. Bagus sih, tapi aku tidak terlalu suka jika itu karena temanku barusan. Namanya Joan Erdinan. Jika dibandingkan denganku, dia tidak tampan. Biasa saja. Dia sudah lama ditaksir Ara, sejak sebelum menjadi 'adik' kami malah. Kami berlima tahu bagaimana sukanya Ara pada lelaki satu ini. Tapi entah kenapa Joan tidak sadar-sadar juga atas perasaan Ara. Padahal apapun sudah dilakukan Ara untuk menunjukkan perhatiannya pada Joan. Jika Ara mengolokku dengan sebutan 'Si Dingin', maka aku mengolok laki-laki pujaannya itu dengan sebutan 'Si Batu'. Dan Ara tahu olokanku benar karena dia tidak pernah berusaha membalas olokanku. Kami sudah pernah membujuknya untuk berhenti menyukai Joan. Kami melakukan segala cara yang kami bisa sebagai 'kakak' untuk membuatnya berpaling dari sosok Joan Erdinan. Tapi tetap saja gadis itu bersikukuh menyukai laki-laki yang seangkatan denganku itu. Mungkin Ara juga cocok dengan olokan 'Si Batu' karena sifatnya yang keras kepala. Jadi, kami berlima hanya pasrah saja melihat dia senang sendiri jika sudah dihadapkan dengan Joan.

"Seneng deh, seneng! Baru dijanjiin duduk sebelahan aja udah seneng banget. Harusnya kamu inget kalau ada banyak cewek di sekolah yang iri sama kamu karena aku selalu bisa nganterin kamu pulang," tukasku sambil mengetuk dahinya dengan jari telunjuk. Dia hanya nyengir dan mengucapkan kalimat yang sudah aku hafal di luar kepala.

"Bodo amat! Kan aku sukanya sama mas Joan, bukan sama mas Izang."

See? 'Si Batu Satu' ditambah 'Si Batu Dua' sama dengan MENYEBALKAN!

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!