"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Diri Nawang 23.
Lantai kamar mandi berkeramik putih itu mendadak penuh oleh helai-helai hitam yang jatuh satu per satu.
Nawang menatap pantulan dirinya di cermin besar di depannya.
Di tangan kanannya, sebuah gunting rambut profesional milik ibunya terasa dingin.
Srek. Srek.
Bunyi logam yang saling beradu itu terdengar ritmis, memotong bukan cuma untaian rambut yang selama ini dia rawat, tapi juga beban tidak kasat mata yang menggelayuti pundaknya selama berbulan-bulan.
Selama ini, rambut panjang sepinggang adalah identitasnya.
Rambut yang selalu dipuji Timy. Rambut yang sering ditarik gemas oleh cowok itu saat mereka berboncengan, atau yang dengan telaten Timy rapikan saat berantakan terkena angin. Menyingkirkan rambut ini rasanya seperti menguliti sebagian masa lalunya secara paksa.
Sakit, tapi membebaskan.
Ketika guntingan terakhir selesai, Nawang menyalakan keran, membasuh wajahnya, lalu mengeringkan rambut barunya dengan handuk.
Dia mendongak lagi. Di depan cermin sekarang, tidak ada lagi Nawang yang tampak rapuh dan kelelahan.
Gaya rambut korean bondol—short wolf cut dengan poni tipis yang membingkai wajahnya—justru menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan tulang pipinya yang tinggi.
Nawang terlihat lebih dewasa, tajam, dan elegan. Ada binar yang sempat redup kini menyala kembali di matanya. Nawang yang baru tidak lagi punya waktu untuk menangis di sudut kamar.
**
Keesokan paginya, koridor SMA Veteran mendadak gempar.
Langkah kaki Nawang yang dibalut sepatu sneakers putih bersih bergema di lantai satu. Setiap pasang mata yang dilewatinya langsung tertuju padanya.
Bisik-bisik mulai menjalar seperti api menyiram bensin.
"Eh, itu Nawang? Gila, pangling banget!"
"Potong rambut? Demi apa? Tapi kok malah tambah keren banget ya, vibes-nya kayak girlgroup Korea."
Nawang mengabaikan semua itu. Dagunya tetap terangkat. Tujuan pertamanya pagi ini bukan ruang kelas, melainkan ruang olahraga, tempat ruang sekretariat cheerleader berada.
Di dalam ruangan yang penuh dengan piala dan pom-pom itu, Sherly, wakil kapten sekaligus sahabatnya, hampir menjatuhkan ponselnya saat Nawang masuk. "Nawang?! Demi apa rambut lo—"
"Sher," Nawang memotong cepat, suaranya tenang namun tidak bisa diganggu gugat. Dia meletakkan sebuah map plastik bening di atas meja kerja mereka. "Ini surat pengunduran diri gue sebagai kapten sekaligus anggota aktif cheerleader."
Sherly melotot, beralih menatap surat dan wajah baru Nawang bergantian. "Lo gila? Kita mau kompetisi wilayah satu bulan lagi, Wang! Kenapa sih ih mendadak banget? Karena putus dengan Timy? Duh ya ampun Wang, tolong lah gue belum biasa ngatur formasi anak-anak"
Nawang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata, namun sarat akan ketegasan. "Enggak ada hubungannya sama Timy, Sher. Ini tentang gue. Cheerleader butuh kapten yang fokusnya seratus persen ada di lapangan. Sementara gue... energi gue udah habis buat hal lain. Gue mau mundur total. Tolong urus administrasinya ya. Gue tahu lo bisa pimpin anak-anak lebih baik dari gue."
Tanpa menunggu debat lebih panjang yang hanya akan menguras emosinya, Nawang menepuk pundak Sherly, lalu berbalik arah keluar ruangan. Keputusan itu logis.
Menatap lapangan basket setiap sore saat latihan cheerleader hanya akan menjadi masokisme emosional yang memperlambat proses penyembuhannya. Dia harus memutus rantai itu.
"Perubahan yang berani," sebuah suara bariton menyambut Nawang saat gadis itu baru saja melewati koridor dekat mading.
Rendy berdiri di sana, bersandar pada pilar beton dengan tangan terlipat di dada.
Matanya menilai penampilan baru Nawang. Tidak ada tatapan memuja yang berlebihan, hanya binar apresiasi yang tulus dari seorang cowok yang menghargai proses bangkitnya seseorang.
Nawang menghentikan langkah, menyentuh ujung rambut pendeknya yang sedikit mencuat. "Aneh ya?"
"Enggak. Bagus. Lo kelihatan lebih... hidup," jawab Rendy jujur. Dia menegakkan tubuhnya, lalu menyodorkan sebuah bundelan proposal tebal bersampul biru tua. "Gue denger dari anak-anak lo baru aja ngasih surat mundur ke Sherly."
Nawang agak terkejut dengan kecepatan informasi yang didapat Ketua OSIS ini. "Kalian punya mata-mata di setiap sudut ya?"
Rendy terkekeh pelan. "Veteran itu sempit, Wang. Tapi kebetulan banget. Karena lo sekarang 'pengangguran', gue mau nodong lo."
"Nodong apa?"
"Gue butuh lo di kepanitiaan Veteran Youth Festival bulan depan. Spesifiknya, gue mau lo pegang posisi Koordinator Acara Utama," Rendy mengetuk proposal itu dengan jarinya. "Gue tahu otak lo encer kalau bikin konsep. Daripada energi dan waktu luang lo dipakai buat melamun atau dengerin lagu galau di kamar, mending lo bantu gue suksesin pensi terbesar tahun ini. Gimana?"
Nawang menatap proposal di tangan Rendy. Ini taktik yang cerdas. Rendy tidak sedang mengasihaninya atau menawarkan pundak untuk menangis; cowok itu menawarkan distrakasi yang produktif.
Rendy tahu persis cara memperlakukan cewek pintar seperti Nawang, beri dia tanggung jawab besar, maka otaknya akan sibuk berpikir hingga lupa cara bersedih.
"Gue baru aja keluar dari satu organisasi, Ren. Lo langsung seret gue ke proyek raksasa?" tanya Nawang, menaikkan sebelah alisnya.
"Justru itu. Obat terbaik buat hati yang patah itu bukan merenung, tapi sibuk sampai lo lupa hari ini hari apa," Rendy tersenyum, menyodorkan pulpen bermotif logo sekolah. "Gak ada penolakan, Nawang. Gue butuh partner kerja yang bisa diajak mikir cepat, bukan cuma anak-anak yang tahu beres."
Nawang terdiam sesaat. Menatap Rendy yang selalu tahu cara memosisikan diri tanpa pernah terasa agresif atau mendesak.
Akhirnya, Nawang mengambil pulpen itu dan menandatangani lembar kesediaan di halaman depan proposal.
"Oke. Tapi kalau gue galak saat rapat, jangan salahin gue ya."
"Itu yang gue harepin," sahut Rendy sambil mengantongi kembali pulpennya, matanya memancarkan rasa puas yang tertahan.
**
Sore itu, ruang OSIS menjadi markas baru Nawang. Ruangan ber-AC itu riuh oleh suara perdebatan panitia inti. Nawang duduk di sebelah Rendy, di kelilingi laptop yang menyala dan tumpukan kertas konsep rundown.
Nawang bergerak taktis. Jari-jarinya menari di atas keyboard, sesekali dia memotong argumen anak divisi perlengkapan dengan argumen yang masuk akal dan efisien.
Fokusnya terkunci total. Untuk pertama kalinya setelah patah hati terhebat, dadanya tidak terasa sesak. Otaknya bekerja penuh, memikirkan konsep panggung, negosiasi dengan sponsor, dan alokasi waktu tampil.
Rendy yang duduk di sampingnya sesekali memberikan catatan kecil atau menyodorkan sekotak susu cokelat dingin ke dekat laptop Nawang tanpa bersuara.
Interaksi mereka begitu natural, profesional, namun ada kenyamanan tersendiri yang terbangun di antara keduanya—sebuah hubungan yang didasari oleh rasa saling menghormati kapasitas intelektual masing-masing.
Di tengah-tengah diskusi sengit tentang guest star, pintu ruang OSIS yang memiliki kaca transparan itu dilewati oleh segerombolan anak basket yang baru selesai latihan.
Timy ada di sana. Handuk putih melingkar di lehernya yang berkeringat, memegang bola basket di tangan kiri. Langkahnya mendadak terkunci saat matanya secara tidak sengaja melirik ke dalam ruang OSIS.
Melalui celah kaca, Timy mematung.
Jantungnya seolah berhenti berdetak selama beberapa detik. Dia melihat Nawang.
Tapi itu bukan Nawang-nya yang dulu. Rambut panjang yang selalu dia sukai sudah hilang, digantikan potongan pendek yang membuatnya tampak begitu asing, berkelas, dan... tak tersentuh.
Timy bisa melihat bagaimana Nawang tertawa kecil merespons sesuatu yang diucapkan Rendy, sebelum kembali fokus menunjuk layar laptop. Mereka berdua terlihat sangat serasi di dalam sana—dua orang elit sekolah yang berada di elemen yang sama, membangun sesuatu yang besar bersama-sama.
Sementara Timy? Dia berdiri di luar koridor yang mulai menggelap, basah oleh keringat latihan, memegang bola oranye yang tiba-tiba terasa begitu tidak berarti. Jarak antara dirinya dan Nawang sekarang bukan lagi cuma soal status "mantan", tapi sebuah jurang pemisah berupa dunia baru yang diciptakan Nawang, di mana pintu masuknya sudah dikunci rapat-rapat untuk Timy, dan kuncinya telah diserahkan kepada Rendy.
Pahit yang kemarin dirasakannya di lantai dua kini menjelma menjadi rasa sesak yang jauh lebih nyata. Timy sadar, Nawang tidak sedang melarikan diri darinya. Nawang sedang tumbuh dewasa, dan sialnya, dia ditinggalkan di belakang.
......................
...****************...
Tbc,