Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 15
... ada selisih besar pada persediaan Bunga Malam Biru di gudang terlarang?"
Suara Anran yang bening dan dingin bergema menembus setiap sudut pelataran Balai Pengobatan Kerajaan. Kalimat itu bagaikan petir yang menghantam tepat di atas kepala Tabib Kepala Lin. Pria tua berjanggut itu seketika tersungkur, dahinya menempel kencang pada ubin batu yang dingin, sementara peluh dingin mengucur deras membasahi leher bajunya.
"Yang... Yang Mulia Permaisuri, ampunilah Hamba!" jerit Tabib Kepala Lin dengan suara bergetar ketakutan. "Pencatatan obat-obatan di gudang utama memang sangat rumit dan... dan beberapa asisten mungkin melakukan kekeliruan saat memindahkan bahan herbal..."
"Kekeliruan?" Anran terkekeh halus, sebuah tawa dingin tanpa rasa humor yang membuat seluruh tabib di pelataran menahan napas. Ia melangkah maju satu tapak, ujung gaun sutra merah keemasannya menyapu lantai batu dengan anggun. "Selisih tiga puluh kati Akar Salju yang merupakan pemicu racun, serta puluhan dosis Bunga Malam Biru yang menghilang tanpa jejak, kau sebut sebagai kekeliruan pencatatan?"
Anran menundukkan pandangannya, menatap Tabib Kepala Lin dari atas dengan binar mata yang begitu tajam dan intimidatif.
"Sebagai Tabib Kepala yang memegang kunci gudang terlarang, kau tidak hanya lalai, tetapi secara sengaja membiarkan bahan racun berbahaya diselundupkan untuk mencelakai keluarga kerajaan," desis Anran dengan intonasi rendah yang sarat akan dominasi. "Atas nama otoritas penuh yang diberikan oleh Yang Mulia Kaisar hari ini, aku mencopot seluruh jabatan dan gelarmu!"
"Pengawal!" panggil Anran tegas tanpa memalingkan pandangannya.
Empat pengawal berarmor besi yang mengiringinya dari Aula Keagungan segera melangkah maju, menghunus pedang mereka separuh dari sarungnya dengan bunyi dentang logam yang nyaring.
"Seret Lin ke penjara pengadilan istana. Sita seluruh catatan pribadi dan periksa kediamannya hingga tak ada satu lembar kertas pun yang terlewat!" perintah Anran tanpa keraguan.
"Yang Mulia! Ampuni Hamba! Hamba hanya menuruti perintah Kediaman Barat! Hamba terpaksa!" teriak Tabib Kepala Lin histeris saat para pengawal mencengkeram kedua tangannya dan menyeretnya keluar dari kompleks Balai Pengobatan.
Ratapan ketakutan mantan Tabib Kepala itu perlahan memudar di balik gerbang kayu jati, menyisakan keheningan mencekam di antara puluhan tabib dan asisten yang masih berlutut gemetaran. Mereka menyadari bahwa Permaisuri di hadapan mereka bukan lagi wanita lemah yang bisa diperdaya atau diintimidasi.
Anran memutarkan tubuhnya, menatap seluruh jajaran Balai Pengobatan yang menunduk kaku.
"Mulai detik ini," seru Anran dengan suara jernih yang memikat namun berwibawa, "Tabib Zhou kuangkat menjadi Tabib Kepala interim Balai Pengobatan Kerajaan. Seluruh keluar-masuk obat-obatan racun, herbal langka, dan racikan medis wajib melewati pemeriksaan ganda serta segel pribadi dari Tabib Zhou dan diriku."
Tabib Zhou terperanjat, lalu dengan mata berkaca-kaca karena haru dan rasa hormat yang mendalam, ia bersujud penuh kepatuhan. "Hamba menerima tugas mulia ini, Yang Mulia Permaisuri! Hamba berjanji akan mempertaruhkan nyawa demi menjaga kebersihan dan kehormatan Balai Pengobatan!"
"Bangunlah kalian semua," ujar Anran seraya merapikan lengan gaun kebesarannya. "Aku tidak membutuhkan ketakutan kalian. Yang kubutuhkan adalah ketelitian, kejujuran, dan keahlian medis yang murni. Siapa pun yang bekerja dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan penghargaan yang pantas, namun siapa pun yang mencoba bermain api dengan racun... akhir hidup Tabib Kepala Lin dan Selir Mei adalah cermin