Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah untuk Pintu yang Terkunci
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari ketika Dara tiba di mulut gang sempit dan kumuh tempat tinggalnya. Rumah-rumah berimpitan, bau selokan menguar tajam terbawa air hujan yang meluap. Dara mendorong pintu triplek rumahnya yang rapuh. Bunyi engsel yang berkarat membangunkan seisi rumah yang tak seberapa besar itu.
Di ruang tamu yang sempit, hanya diterangi cahaya lampu lima watt yang kuning temaram, ayah dan ibu Dara terbangun dari tidur mereka di atas tikar pandan. Sang ayah, Pak Karta, seorang buruh pabrik berwajah keras dengan gurat-gurat kelelahan hidup, menatap putrinya dengan dahi berkerut tajam. Sementara ibunya, Bu Ningsih, segera bangkit dengan wajah cemas melihat putrinya pulang dalam keadaan seperti mayat hidup.
"Astaghfirullah, Dara! Kamu dari mana saja Nduk? Kenapa basah kuyup begini? Di luar badai!" seru ibunya sambil mengambil handuk lusuh untuk menyelimuti tubuh putrinya yang menggigil hebat.
Dara tidak menjawab. Ia hanya menatap kedua orang tuanya dengan mata yang bengkak dan kosong. Perlahan, kakinya melemas dan ia kembali jatuh berlutut di atas lantai semen yang dingin.
"Ibu... Bapak... maafkan Dara..." rintihnya lirih, nyaris seperti bisikan.
Pak Karta bangkit, aura kemarahan langsung menguar dari tubuhnya yang kurus namun liat. "Ada apa ini? Kenapa kamu pulang jam segini dengan keadaan kacau? Kamu habis dari mana? Bukannya kamu pamit kerja lembur di kafe?"
Dara menggeleng pelan, air mata kembali mengalir membasahi pipinya yang dingin. "Dara... Dara tidak kerja, Pak. Dara dari rumah Riko."
Mendengar nama pemuda kaya itu, wajah Pak Karta sedikit melunak, digantikan oleh secercah harapan rakus yang selalu ia pelihara. "Oh, Riko. Anak orang kaya itu? Lalu kenapa kamu menangis? Apa kalian bertengkar? Dara, Bapak sudah bilang berkali-kali, kalau punya pacar orang kaya itu dijaga baik-baik! Turuti saja maunya! Dia itu tiket kita keluar dari lubang kemiskinan ini!"
"Dia membuang Dara, Pak..." isak Dara, suaranya pecah berkeping-keping. "Dia mengusir Dara dan mau bertunangan dengan wanita lain."
Keheningan seketika menyergap ruangan sempit itu, disusul oleh decak kesal dari Pak Karta. "Bodoh! Apa yang kamu lakukan sampai dia meninggalkanmu?! Gadis bodoh tidak berguna! Lalu, untuk apa kamu menangis di sini? Minta maaf sana padanya!"
Dara mengangkat kepalanya, menatap mata ayahnya dengan keputusasaan yang absolut. "Dara... Dara hamil, Pak. Mengandung anak Riko. Dan keluarganya tidak sudi menerima-"
PLAKK!
Sebuah tamparan keras, begitu keras hingga tubuh Dara terpental dan sudut bibirnya membentur ujung meja kayu tua, memotong kalimatnya. Darah segar seketika menetes dari sudut bibir Dara yang pecah. Telinganya berdenging hebat.
"Bapak!" teriak Bu Ningsih histeris, menutupi mulutnya sendiri, namun ia tidak berani mendekat untuk menolong putrinya.
Dada Pak Karta naik turun dengan cepat, matanya melotot seakan urat-urat matanya akan pecah. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak tak terkendali. "Anak jalang! Perempuan tidak tahu malu! Kau... kau mencoreng arang di wajahku! Kau menaruh kotoran di kepala keluargamu sendiri!"
"Pak, maafkan Dara, Pak... Dara ditipu..." rintih Dara, memegangi pipinya yang kebas dan panas, darah menetes dari bibirnya hingga menodai blus pudar yang ia kenakan.
"Ditipu?! Kau yang bodoh mau menyerahkan kehormatanmu begitu saja sebelum diikat pernikahan! Lalu sekarang pemuda bajingan itu lepas tangan, dan kau mau membuang aibnya di rumah ini?!" bentak ayahnya, telunjuknya menuding tepat ke wajah Dara. Suaranya menggelegar mengalahkan suara guruh di luar sana. "Aku tidak pernah membesarkan seorang pelacur! Bagaimana aku harus menaruh mukaku di depan tetangga-tetangga?! Mereka akan menertawakan kita, mencemooh keluarga miskin yang anak perempuannya bunting di luar nikah!"
"Bapak, tolong jangan begini... ini cucu Bapak..." Dara merangkak, mencoba meraih kaki ayahnya, namun Pak Karta menendang tangan Dara dengan kasar.
"Cucu? Itu bukan cucuku! Itu benih haram pembawa sial!" raung ayahnya tanpa ampun. Pak Karta menunjuk ke arah pintu rumah yang masih setengah terbuka, membiarkan angin dingin malam yang basah masuk ke dalam rumah. "Besok pagi, pinjam uang pada rentenir, dan datangi dukun beranak. Gugurkan janin haram itu! Atau kalau kau bersikeras mempertahankannya, angkat kakimu dari rumah ini sekarang juga! Aku Karta, tidak sudi menampung perempuan berzina dan anak haramnya di atap rumahku!"
Dara menoleh ke arah ibunya, mencari setitik perlindungan. Namun, Bu Ningsih hanya berdiri mematung di sudut ruangan, menangis terisak-isak sambil memalingkan wajahnya. Ketakutan Bu Ningsih pada suaminya dan pandangan masyarakat lebih besar daripada naluri keibuannya. Ia tidak membela Dara sedikit pun.
Dalam detik yang sunyi di antara gemuruh hujan itu, hati Dara perlahan membeku. Rasa sakit, pengkhianatan, dan keputusasaan yang menggunung tiba-tiba bertransformasi menjadi sebuah keberanian yang gelap dan dingin. Tidak ada lagi tempatnya di dunia ini. Laki-laki yang ia cintai telah membuangnya bak sampah. Keluarga yang membesarkannya menolaknya karena menganggapnya sebuah aib yang hina.
Dara menghapus darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Ia perlahan bangkit berdiri. Lututnya masih gemetar, tetapi tulang punggungnya kini tegak. Ia menatap ayah dan ibunya bergantian dengan pandangan yang kosong, sebuah pandangan perpisahan dari seorang anak yang hatinya telah mati.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dara berbalik badan. Ia melangkah menuju kamar kecilnya, mengambil sebuah tas kain butut, dan memasukkan tiga potong pakaian lamanya. Ia tidak mengambil barang lain. Ia berjalan kembali ke ruang tamu, melewati ayah dan ibunya seolah mereka adalah bayangan semu.
"Bagus," desis ayahnya, nadanya penuh kebencian. "Pergi kau. Mulai detik ini, aku tidak punya anak perempuan bernama Dara. Dan jangan pernah berani menginjakkan kaki busukmu di gang ini lagi!"
Air mata Dara mengering malam itu, ia menatap ibu dan ayahnya untuk terakhir kali. Ia memilih mempertahankan nyawa yang tak berdosa di rahimnya, mengorbankan segalanya, dan membiarkan dirinya ditelan kerasnya dunia.
Dara berhenti sejenak di ambang pintu. Angin malam langsung menerpa wajahnya, mengeringkan sisa air matanya. Ia menoleh perlahan ke bahu kirinya. "Terima kasih sudah membesarkan Dara selama dua puluh tahun ini, Pak, Bu. Mulai malam ini, Dara mati untuk kalian. Dan bayi ini..." Dara menyentuh perutnya, sentuhan pertama yang penuh dengan insting perlindungan seorang ibu, "Dia bukan anak haram. Dia akan menjadi anak yang paling berharga di dunia ini. Dan akan kupastikan, dunia yang kejam ini akan bertekuk lutut padanya suatu hari nanti."
Setelah mengucapkan sumpah yang diiringi kilatan petir di langit malam, Dara melangkah keluar. Ia menembus kembali tirai hujan yang pekat, berjalan menjauh dari rumahnya, menjauh dari masa lalunya, ditelan oleh kegelapan dan dinginnya jalanan Jakarta yang tak bertepi, membawa satu-satunya nyawa yang tersisa untuknya di dunia ini. Di malam badai itulah, kisah perjuangan penuh darah, air mata, dan dendam seorang Dara dimulai.