Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adu Mulut 03.
Lampu neon di langit-langit koridor berkedip sekali lagi, seolah ikut mengejek situasi absurd yang sedang terjadi. Keheningan romantis yang tadi dibangun Daffa hancur berkeping-keping, digantikan oleh hawa panas yang mendadak naik ke ubun-ubun dua remaja di sana.
"Gila lu ya! Lu sengaja mau ngerjain gue?!" Lilis berteriak lagi. Suaranya yang melengking tinggi sukses membuat telinga Daffa berdenging. Kedua tangan Lilis mengepal di sisi tubuh, sementara jaket maroon milik Kinar yang kebesaran di tubuhnya tampak bergoyang seiring napasnya yang memburu.
Daffa, yang punggungnya masih menempel erat di loker besi, mengangkat kedua tangannya ke udara. Gestur bertahan. Wajahnya yang biasa tengil kini putih bersih mirip kertas HVS. "Ngerjain lu? Kurang kerjaan banget gue! Lagian ngapain lu pake jaket Kinar, hah?! Penipuan publik tahu gak!"
"Heh, cowok minim otak!" Lilis melangkah maju, menunjuk muka Daffa dengan jari telunjuknya yang lentik tapi terasa mengintimidasi. "Ini jaket emang punya Kinar! Gue pinjem karena baju latihan gue basah dan AC ruang OSIS kayak kutub utara! Salah gue di mana?! Yang bego itu lu! Mata lu ditaruh di mana sampai gak bisa bedain gue sama Kinar?!"
"Ya kan tadi gelap, Lilis! Gelap!" Daffa membela diri, suaranya ikut naik satu oktav. Dia frustrasi setengah mati. Reputasinya sebagai cowok keren di angkatan langsung terjun bebas dalam waktu lima detik. "Gue cuma liat siluet rambut dikucir sama jaket maroon. Kinar tadi sore bilang mau nunggu di koridor ini. Ya wajar dong gue kira itu dia!"
"Tapi lu megang tangan gue! Lu melintir pergelangan tangan gue kayak mau ngajak berantem, terus tiba-tiba ngomongin dunia sempurna? Najis banget, Daf! Sumpah, kuping gue rasanya mau bernanah denger puisi lu yang sok puitis padahal aslinya norak maksimal!" Lilis menggosok-gosok pergelangan tangannya yang sebenarnya tidak sakit, tapi egonya yang terluka membuat semuanya terasa berlebihan.
Daffa mendengus, rasa malunya kini perlahan berubah menjadi kekesalan. "Lu gak usah kegeeran ya. Itu puisi universal! Lagian kalau lu ngerasa itu bukan buat lu, kenapa tadi lu diem aja pas gue pegang? Kenapa gak langsung lu tabok muka gue?!"
"Gue syok, bego!" Lilis melotot, matanya yang dilapisi eyeliner tipis tampak seperti mau keluar. "Gue baru keluar dari toilet, tiba-tiba lampu mati, terus ada cowok tinggi gede narik tangan gue sambil komat-kamit kayak dukun nyari pesugihan. Gue kira gue mau diculik atau dibegal! Pas gue mau teriak, lu malah mulai ngebacot soal bintang jatuh. Gue melongo karena tingkat kenorakan lu itu sudah di luar nalar manusia normal!"
"Wah, ngajak ribut nih anak," gumam Daffa. Dia maju satu langkah, mencoba merebut kembali wibawanya yang sudah tercecer di lantai koridor. "Lu sebut perjuangan gue norak? Lu tahu gak, persiapan ini butuh waktu seminggu? Temen-temen gue sampai bela-belain begadang!"
"Oh, jadi ini kerjaan komplotan sirkus lu itu?" Lilis melirik ke arah langit-langit, tepat ke arah lantai dua di mana dia samar-samar mendengar suara tertahan. "Bagus ya. Satu geng otaknya patungan semua, makanya gak ada yang jalan."
Sementara di bawah sana adu bacot makin memanas, di lantai dua, pertahanan Niko akhirnya jebol. Kamera DSLR di tangannya gemetar hebat. Dia berusaha keras membekap mulutnya sendiri, tapi suara tawa "ngik-ngik" seperti lumba-lumba asma tetap lolos dari sela jarinya.
Rian yang berada di balik pilar dekat speaker portabel sudah terduduk di lantai. Dia memukul-mukul lantai semen dengan frustrasi, bukan karena sedih rencana mereka gagal, melainkan karena menahan tawa yang kalau dikeluarkan bisa terdengar sampai ke ruang kepala sekolah.
Hanya Bams yang masih setia berdiri di dekat sakelar lampu. Wajahnya tegang. Otot-ototnya yang kekar karena sering latihan pencak silat mendadak kaku. Dia menatap walkie-talkie mainan di tangannya dengan pandangan kosong. "Ini... kita harus evakuasi Daffa atau gimana?" bisiknya lewat radio.
Kembali ke medan perang, Lilis sudah siap melangkah pergi. Dia menyampirkan tas ranselnya ke bahu kanan dengan sentakan kasar.
Namun, sebelum melangkah, dia berbalik lagi, menatap Daffa dengan senyum sinis yang paling menyebalkan yang pernah Daffa lihat seumur hidupnya.
"Satu hal lagi, Daffa," kata Lilis, suaranya mendadak merendah tapi penuh penekanan. "Kinar itu gak suka cowok yang kakehan atraksi kayak gini. Dia itu tipikal yang suka hal-hal simpel. Jadi, selain salah sasaran, metode lu ini juga salah total. Good luck deh sama status jomblo abadi lu."
Kalimat itu menancap tepat di ulu hati Daffa. Rasa malunya menguap, digantikan oleh rasa gengsi yang tersengat. "Eh, tahu apa lu soal selera Kinar? Lu cuma temen sekelasnya, bukan agen jodohnya!"
"Gue sahabatnya sejak SMP, pinter!" Lilis melipat kedua tangannya di dada. "Gue tahu bahkan sampai merek parfum yang dia benci. Dan tebak apa? Dia benci cowok yang terlalu banyak gaya."
Daffa terdiam. Fakta itu seperti pukulan knockout di ronde pertama. Wajahnya bergantian antara merah padam karena marah dan pucat karena malu. Dia ingin membalas, tapi otaknya mendadak macet. Semua kosakata keren yang dia siapkan untuk Kinar mendadak menguap tanpa sisa.
Lilis yang merasa sudah menang telak, membalikkan badan dan mulai berjalan menjauh. Langkah kakinya yang menggunakan sepatu sneakers putih terdengar berdecit keras di koridor yang sepi.
Melihat Lilis yang mulai menjauh, atmosfer ketegangan di koridor itu mendadak mencair. Bagi ketiga sahabat Daffa, drama menegangkan ini sudah resmi selesai dan kini saatnya memasuki babak komedi yang sesungguhnya.
"WUUUUUUUU!!! DAFFA PACARAN SAMA LILIS! CIEEEE!"
Sebuah teriakan melengking memecah kesunyian malam dari arah lantai dua. Itu suara Niko. Cowok itu sudah tidak tahan lagi. Dia bahkan nekat menjulurkan setengah badannya melewati pagar pembatas lantai dua, sambil terus mengarahkan kamera ke arah Daffa.
"Uhuy! Selamat ya Daffa! Langgeng sampai pelaminan! Nanti es tehnya jangan ditumpahin lagi ke rok ya!" Rian ikut muncul dari balik pilar. Dia sengaja menyalakan kembali pengeras suaranya, tapi kali ini bukan lagu akustik romantis, melainkan lagu instrumen "Selamat Ulang Tahun" yang sengaja dicepatkan temponya agar terdengar makin absurd.
Bams yang tadinya tegang, kini ikut berjalan mendekati Daffa sambil bertepuk tangan ritmis. "Mantap, Bos. Plot twist-nya keren. Kreatif banget lu, nembak Kinar dapetnya pawang macan."
Daffa langsung menengadah ke atas, lalu menoleh ke kanan dan kiri. Matanya memicing tajam, menatap ketiga sahabatnya dengan pandangan ingin membunuh. "Heh! Bacot lu semua ya! Turun lu sini, Niko! Gue banting kamera lu!"
Lilis yang belum keluar sepenuhnya dari koridor otomatis menghentikan langkah. Dia berbalik, wajahnya kembali memerah, tapi kali ini karena malu disoraki oleh geng Daffa yang terkenal berisik. "Heh, mulutnya dijaga ya! Siapa juga yang mau sama cowok kuper kayak dia!" teriak Lilis ke arah lantai dua.
"Alah, malu-malu tapi mau itu! Tadi buktinya dengerin puisi sampai habis!" sahut Rian dari kejauhan, memprovokasi dengan goyangan bahu yang menyebalkan.
"Rian, brengsek! Diem gak lu?!" Daffa berteriak, melemparkan kotak tisu kosong yang entah sejak kapan ada di atas loker ke arah Rian. Sayangnya, lemparannya meleset jauh.
Koridor sekolah malam itu yang seharusnya menjadi saksi bisu sebuah awal kisah cinta yang manis, justru berubah menjadi arena sirkus penuh tawa mengejek.
Daffa hanya bisa berdiri di tengah-tengah koridor di bawah terangnya lampu neon, meratapi nasib sialnya malam ini. Proyek menyatakan cinta yang dia rancang dengan penuh harga diri, berakhir dengan dirinya yang disoraki layaknya badut pasar malam oleh sahabat-sahabatnya sendiri, di hadapan cewek yang paling dia hindari di sekolah.
......................
...****************...
Tbc,