Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 02
"Erson! Ersoooooon!!"
Lucien Von Kallistar, berteriak dengan kerasnya saat memanggil sang ajudan. Count Erson Castaline hanya bisa membuang nafasnya kasar sembari berlari menuju ke arah sang kaisar berada.
"Dimana wanita itu? Kenapa hingga detik ini kamu tidak bisa menemukannya. Apa saja yang kau kerjakan hah! "
Mata Lucien membulat sempurna, rahangnya mengeras sampai urat lehernya menonjol. Tangannya sudah siap menarik pedang yang ada di sisi kanan kursi kebesarannya.
Setahun sudah dia merasa tidak nyaman dalam tidur malamnya. Suara wanita yang tak diketahui namanya itu terus saja menganggu pendengarannya.
"Jangan bunuh saya. Saya mohon Baginda, biarkan saya hidup. "
Kata-kata yang dilontarkan wanita itu dengan wajah berurai air mata dan sambil memegang kakinya, membuat Lucien diam terpaku. Suara wanita itu begitu serak dan tangannya bergetar ketakutan.
Setiap malam Lucien kehilangan kenyamannya ketika tidur. Wanita yang terakhir kali diingatnya itu adalah wanita yang menghabiskan malam bersamanya. Wanita itu pergi saat Lucien benar-benar tidak menyadarinya. Namun anehnya setelah itu Lucien selalu bermimpi hal yang sama.
Kini sudah setahun berlalu dan sang kaisar masih saja mengalami hal itu.
"Tugas saya kan banyak, Yang Mulia," sahut Erson. Wajah lelahnya menunjukkan memang begitu banyak pekerjaannya.
"Berani kau ya!" Pekik Lucien.
"Ampun Yang Mulia, hanya saja saya sudah berusaha. Prajurit terbaik kita juga sudah disebar, namun wanita dengan ciri-ciri yang Anda sebutkan tidak ada."
Erson mengatakan hal yang sebenarnya. Dia memang sudah mencari ke seluruh benua. Tapi wanita yang digambarkan oleh sang kaisar tak pernah ditemuinya.
"Rambut hitam legam, itu bukan warna yang banyak dimiliki. Hanya segelintir saja. Warna mata amber, juga bukan warna yang mudah ditemui. Mengapa kamu tak bisa menemukan ciri-ciri yang sangat khusus seperti itu. Apa kau bodoh hah!"
Erson memejamkan matanya. Sebenarnya dia sangat merasa aneh dengan tuannya itu. Erson tahu bahwa Lucien bukan orang yang memerhatikan sebuah hal sampai sekecil ini. Apalagi wanita, bagi Lucien wanita tak berarti khusus. Beberapa kali dia disodorkan wanita saat di medan perang, namun Lucien bak batu, tak tergerak sama sekali.
Menjadi Kaisar yang menguasi benua pada usianya yang baru 25 tahun, juga cukup membuat beberapa petinggi ingin menjadikan anak mereka sebagai permaisuri. Bahkan beberapa lainnya juga siap untuk dijadikan selir, akan tetapi Lucien hanya bergeming dan menatap tajam ke arah mereka.
Namun setahun ini, pria itu sangat sibuk mencari sosok wanita berambut hitam legam dan bermata amber. Dari apa yang didengar oleh Erson, wanita itu adalah wanita yang menghabiskan malam bersama Lucien di sebuah pesta yang Lucien hadiri. Sungguh hal yang sangat tidak bisa Erson pahami.
"Baginda, mungkin sekarang saatnya Anda berhenti mencari wanita tidak jelas itu. Sebaiknya Anda fokus dengan pemilihan calon permaisuri. Duke Ramos Mortain sudah berkali-kali meminta pertemuan dengan Anda soal pembahasan pernikahan. Sejauh ini Putri Duke yakni Putri Adelle Mortain adalah kandidat yang sangat cocok."
Erson segera memutar pokok pembahasan. Jujur pria itu begitu lelah dengan perintah pencarian yang Lucien berikan. Bukan tidak suka atau benci, hanya saja masih banyak pekerjaan lain yang lebih utama, begitulah menurut Erson.
"Cih, beraninya dia mendesakku. Lagi pula siapa yang mau menikah dengan wanita itu?" Lucien membuang wajahnya. Erson bisa melihat tangan Lucien yang mengepal erat.
"Tapi Putri Mortain adalah wanita yang sangat pas, Yang Mulia. Dia adalah lulusan terbaik di akademi. Di saat para putri bangsawan lainnya sibuk berpesta dan mengikuti tren pakaian, Putri Mortain memilih belajar dan menjadi sukarelawan di biara. Ini adalah wanita yang sangat pas untuk menjadi ibu negara."
Erson tak berhenti di situ, dia mengeluarkan catatan yang berkaitan dengan putri Duke Mortain dan membacakannya untuk Lucien. Namuan Lucien hanya bersikap abai. Bahkan mungkin suara milik Erson tak pernah masuk ke telinganya.
"Begitu, Yang Mulia," ucap Erson mengakhiri laporan yang sesungguhnya tak diinginkan oleh Lucien.
"Erson," kata Lucien. Matanya mengarah lurus kepada ajudannya. Ujung jari telunjukkan mengusap ujung mata, lalu tangan lainnya mengetuk-ngetuk meja kerja besar yang ada di ruangan itu.
"Yang akan menikah siapa?" tanyanya. Suara Lucien terdengar tenang tapi dalam.
"Baginda yang akan menikah," jawab Erson tanpa berani mengarahkan wajahnya untuk menatap Lucien. Ketika Lucien bersikap tenang seperti ini, Erson malah menjadi takut. Suasana tenang dan senyap, membuat aura membunuh dari Lucien terasa begitu menyengat.
Terkadang Erson lupa bahwa bukan sebuah omong kosong Lucien mendapati julukan dewa kematian di medan perang.
"Kamu tahu itu. Kamu paham bahwa aku yang akan menikah. Lantas, kenapa kamu yang ribut? Aku hanya akan menikah dengan wanita yang kuinginkan. Bukan wanita yang disodorkan atas alasan politik. Sekarang pergi, urus Duke siapa lah itu, aku tak ingin mendengar hal apapun tentang pernikahan sampai dimana aki sendiri yang membicarakannya. Jika masih ada yang ribut, katakan saja bahwa mereka akan berakhir berbicara dengan pedangku."
Gluph!
Erson menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Tubuhnya merinding, dan tangannya sedikit gemetar. Dia mengepal pena yang ada ditangannya dengan begitu erat.
"Baik Yang Mulia, saya akan mengurusnya. Permisi."
Erson membungkuk dalam. Dia lantas melenggang pergi. Namun langkahnya terhenti saat sang kaisar kembali memangil.
"Erson!"
"Y-ya Yang Mulia."
"Tetap lanjutkan pencarian."
"Baik, sesuai dengan perintah Anda Yang Mulia."
Klak
Erson menutup pintu ruangan itu dengan perlahan. Dia langsung menghembuskan nafasnya yang terasa berat dengan bersandar di pintu. Matanya juga memejam sejenak.
"Berat sekali sepertinya."
Erson langsung menegakkan tubuhnya. Dadanya juga bergemuruh ketika sebuah suara mengagetkannya. Tapi saat melihat ke arah sumber suara, Erson melayangkan tendangan yang tentu saja tak bisa mengenai orang itu.
"Jangan meledekku," ucap Erson kesal.
"Maaf, hanya bercanda. Apa baru saja mendapat kemarahan dari Beliau?"
"Haah, Baginda menolak pembicaraan tentang pernikahan lagi. Dan, beliau masih ingin melanjutkan pencarian terhadap wanita itu. Norman, kenapa Baginda begitu ya? Aku baru kali ini melihat Baginda mencari seseorang selama ini."
Marquis Norman Brington hanya mengendikkan kedua bahunya. Dia pun juga sama herannya.
Sebagai tangan kanan Lucien di medan perang, dan sekaligus pemegang jabatan jendral perang, Norman tak pernah tahu bahwa Lucien bisa memiliki sisi ini. Norman mengenal Luicen sejam kecil, dan baru kali ini pria itu menemui Lucien yang kebingungan mencari seseorang. Terlebih itu seorang wanita.
"Aku sangat pusing kali ini dengan perintah pencarian itu. Mau kemana lagi mencari wanita yang Baginda cari. Haah sudahlah. Pekerjaan ku masih banyak. Kau mau masuk? Sana masuklah."
Erson melenggang pergi dengan mulut yang masih mengoceh. Norman hanya tersenyum kec melihat rekan kerjanya itu.
"Sebenarnya siapa wanita itu sampai-sampai Baginda seperti ini?"
TBC