Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 — Nama di Balik Bayangan
Perjalanan kembali ke ibu kota memakan waktu satu hari penuh, jauh lebih lambat dari biasanya karena mereka harus terus berhenti demi kondisi Xiao Hei yang masih lemah. Setiap kali kuda mereka melewati jalan berbatu yang tidak rata, Zhou Chen bisa melihat pemuda itu meringis menahan sakit di titik dada—tanda bahwa retakan kecil di meridiannya, meski sudah distabilkan sementara oleh Rumput Napas Sunyi, masih jauh dari benar-benar pulih.
"Yang Mulia tidak perlu terus mengkhawatirkan hamba," kata Xiao Hei suatu kali, saat mereka berhenti untuk beristirahat di bawah pohon rindang di pinggir jalan. "Hamba sudah jauh lebih baik dibanding tadi malam."
"Aku akan berhenti mengkhawatirkanmu kalau retakan di meridianmu benar-benar sembuh," jawab Zhou Chen tegas, tidak membiarkan nada ringan dalam ucapan Xiao Hei mengelabui kekhawatirannya yang sesungguhnya. "Sampai saat itu, kau akan mengikuti setiap arahan pemulihan yang kuberikan, tanpa membantah."
Xiao Hei akhirnya mengangguk, meski jelas ia tidak terbiasa menerima perhatian sebesar ini dari siapa pun, apalagi dari seorang pangeran yang statusnya jauh di atasnya.
Begitu tiba di kediaman, Zhou Chen segera memerintahkan Xiao Hei untuk beristirahat total di bawah pengawasan Paman Guo, yang ternyata memang memiliki sedikit pengetahuan tentang penanganan qi liar—pengetahuan lama yang jarang ia gunakan sejak beralih sepenuhnya ke bidang pandai besi.
"Retakan seperti ini butuh waktu, Yang Mulia," kata Paman Guo, setelah memeriksa kondisi Xiao Hei dengan seksama. "Kalau dipaksakan sembuh terlalu cepat, justru bisa memperburuk keadaan. Biarkan dia istirahat penuh selama seminggu, jangan biarkan dia menggunakan tenaga dalam sama sekali selama itu."
"Bagaimana kau bisa menyiapkan Rumput Napas Sunyi itu tepat waktu?" tanya Zhou Chen, teringat kembali momen kritis di tengah pelarian semalam. "Kau seperti sudah menduga sesuatu seperti ini akan terjadi."
Paman Guo tersenyum tipis, kerutan di wajah tuanya semakin dalam. "Hamba sudah cukup lama hidup, Yang Mulia, untuk tahu bahwa kekuatan yang didapat terlalu cepat selalu punya harga yang menunggu untuk ditagih. Hamba hanya berjaga-jaga."
Kata-kata sederhana itu menancap dalam di benak Zhou Chen, mengingatkannya kembali pada prinsip yang mulai ia pahami lebih dalam sejak semalam—bahwa jalan menuju kekuatan, bagi siapa pun di kelompoknya, tidak akan pernah semulus yang ia harapkan.
Sementara Xiao Hei beristirahat, Zhou Chen dan Zhou Ming segera berfokus pada satu hal yang mengganggu pikiran mereka sejak semalam: nama "Ibu Suri" yang disebutkan Lin Feng sebelum ia tertidur kelelahan.
"Aku sudah memeriksa seluruh catatan resmi istana," kata Zhou Ming, menunjukkan tumpukan gulungan yang telah ia kumpulkan sepanjang hari di kediamannya. "Tidak ada gelar resmi 'Ibu Suri' yang berlaku saat ini. Permaisuri yang sekarang menyandang gelar itu sendiri, dan sejauh yang kutahu, ibunda Raja sudah wafat bertahun-tahun lalu."
Zhou Chen mengerutkan kening, mencoba menyusun kemungkinan dari ingatan Zhou Li yang lama maupun dari catatan-catatan sejarah kerajaan yang pernah ia baca selama berbulan-bulan terakhir. "Kalau begitu, siapa yang dimaksud para penjaga itu?"
"Ada satu kemungkinan," kata Zhou Ming perlahan, wajahnya menunjukkan keraguan yang jarang terlihat pada dirinya. "Gelar itu bisa jadi bukan gelar resmi kerajaan Zhou. Bisa jadi itu sebutan internal—semacam nama kode—yang dipakai oleh kelompok tertentu untuk seseorang yang posisinya lebih tinggi dari yang terlihat di permukaan."
"Kau pikir ada seseorang di atas Permaisuri sendiri?"
"Aku tidak yakin," jawab Zhou Ming jujur. "Tapi kalau benar, itu akan menjelaskan banyak hal yang selama ini terasa janggal—kenapa Permaisuri, meski berpengaruh besar, sepertinya tidak pernah benar-benar bergerak sendiri dalam operasi sebesar penyelundupan Bubuk Sari Bulan. Selalu ada perantara: Pejabat Zhang, lalu Zhou Han. Seolah dia sendiri hanya pelaksana, bukan dalang utamanya."
Zhou Chen terdiam, menyerap implikasi dari kata-kata itu dengan perasaan berat. Jika benar ada seseorang di atas Permaisuri—seseorang yang bahkan Zhou Ming, dengan seluruh jaringan informasinya, belum pernah dengar namanya—maka konspirasi yang mereka hadapi selama ini mungkin hanya puncak gunung es dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih tersembunyi.
Jawaban, atau setidaknya petunjuk pertama menuju jawaban, datang dari sumber yang paling tidak terduga: Menteri Song, pejabat senior netral yang sebelumnya pernah membantu mereka dengan informasi tentang Gagak Hitam.
Zhou Chen mengunjunginya secara pribadi, di bawah alasan yang telah disiapkan sebelumnya—membahas kelanjutan proyek pengembangan jalur dagang yang menjadi tanggung jawab resminya. Namun di tengah percakapan formal itu, ia dengan hati-hati menyelipkan pertanyaan yang sesungguhnya ingin ia ajukan.
"Menteri Song," katanya, setelah pembicaraan resmi mereka mulai mereda, "aku pernah mendengar istilah 'Ibu Suri' disebutkan dalam sebuah percakapan yang kudengar tidak sengaja. Apakah itu istilah yang familiar bagimu?"
Menteri Song, yang tadinya tenang menyesap tehnya, tiba-tiba terdiam. Tangannya yang memegang cangkir teh sedikit gemetar sebelum akhirnya ia meletakkannya kembali ke meja dengan hati-hati berlebihan.
"Di mana Yang Mulia mendengar istilah itu?" tanyanya, suaranya berubah jauh lebih serius dari sebelumnya.
Zhou Chen menyadari, dari reaksi itu saja, bahwa ia baru saja menyentuh sesuatu yang jauh lebih sensitif dari yang ia duga. "Hanya sepotong percakapan yang kebetulan kudengar. Kenapa? Apakah ada yang salah?"
Menteri Song menghela napas panjang, menatap ke arah pintu ruangannya seolah memastikan tidak ada yang menguping sebelum akhirnya berbicara dengan suara yang jauh lebih pelan.
"Itu istilah lama, Yang Mulia. Sangat lama—dari masa sebelum Raja Zhou Tian naik takhta. Ada legenda di kalangan pejabat senior yang sudah lama mengabdi, tentang seorang wanita yang pernah menjadi kekuatan bayangan di balik takhta Zhou, jauh sebelum Permaisuri yang sekarang menikah dengan Raja."
"Siapa dia?"
"Namanya tidak pernah disebutkan secara terbuka," jawab Menteri Song, "bahkan di kalangan pejabat senior sekalipun. Yang kami tahu hanyalah, dia adalah kerabat jauh dari keluarga Permaisuri yang sekarang—mungkin bibi, mungkin sepupu jauh, tidak ada yang benar-benar yakin. Yang jelas, dia memiliki pengaruh yang sangat besar di masa lalu, cukup besar untuk 'mengatur' pernikahan Permaisuri yang sekarang dengan Raja Zhou Tian sendiri."
Zhou Chen merasakan jantungnya berdegup semakin kencang mendengar penjelasan itu. "Apakah dia masih hidup?"
Menteri Song menggelengkan kepala pelan, meski keraguan jelas terlihat di matanya. "Setahu kami, dia menghilang dari catatan resmi bertahun-tahun lalu—entah wafat, entah sengaja menyembunyikan diri. Tapi kalau istilah 'Ibu Suri' masih digunakan oleh orang-orang di sekitar Zhou Han..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, membiarkan implikasinya menggantung di udara.
"...maka dia masih hidup, dan masih memegang kendali dari balik bayangan," Zhou Chen menyelesaikan kalimat itu, suaranya tegang.
Malam itu, Zhou Chen kembali ke kediaman Zhou Ming, membawa informasi baru yang mengejutkan itu. Zhou Ming mendengarkan dengan seksama, wajahnya semakin serius seiring cerita berlanjut.
"Kalau ini benar," katanya setelah Zhou Chen selesai menjelaskan, "maka seluruh yang kita duga selama ini—Permaisuri sebagai dalang utama—mungkin keliru. Dia bisa jadi hanya wayang, sama seperti Zhou Han, sama seperti Pejabat Zhang yang sudah mati. Sosok yang sesungguhnya berkuasa mungkin belum pernah sekalipun kita sentuh."
"Bagaimana kita bisa menemukan seseorang yang sengaja menyembunyikan dirinya selama puluhan tahun?" tanya Zhou Chen, frustrasi mulai terdengar dalam suaranya.
"Kita tidak mencarinya secara langsung," jawab Zhou Ming, matanya berkilat dengan pemikiran yang mulai terbentuk. "Kita mengikuti orang-orang yang masih melayaninya. Kalau Zhou Han menerima kunjungan rahasia dua hari sebelum perjamuan, seperti yang dikatakan Lin Feng, itu berarti ada jalur komunikasi yang masih aktif antara dia dan sosok ini. Jalur itulah yang harus kita lacak."
Namun sebelum rencana baru itu bisa mereka susun lebih jauh, sebuah kabar mengejutkan datang dari arah yang sama sekali berbeda—bukan dari mata-mata atau informan, melainkan dari undangan resmi yang dikirimkan langsung dari kediaman Zhou Han keesokan paginya.
"Pangeran Kedelapan mengundang seluruh saudara-saudaranya untuk pertemuan khusus di Aula Utama," lapor Ah Fu, membawa gulungan undangan resmi dengan wajah waspada. "Katanya, ada 'pengumuman penting' yang ingin ia sampaikan di hadapan Ayahanda dan seluruh keluarga kerajaan."
Zhou Chen membuka gulungan itu dengan tangan yang mendadak dingin, membaca kata-kata resmi yang tertulis rapi di dalamnya—namun di balik bahasa formal itu, ia bisa merasakan sesuatu yang jauh lebih mengancam.
Zhou Han tahu. Dan sekarang, ia tidak lagi bersembunyi di balik senyum palsunya.
"Ini bukan sekadar pertemuan biasa," gumam Zhou Chen, menyerahkan gulungan itu kepada Ah Fu untuk dibaca. "Setelah kegagalannya menahan Lin Feng, setelah dia menyadari kita berani menyerang langsung ke jantung kekuasaannya sendiri, dia pasti sudah memutuskan untuk berhenti bermain di bayang-bayang."
"Apa yang akan dia lakukan?" tanya Ah Fu, cemas.
Zhou Chen menatap ke arah jendela, pikirannya berputar cepat memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di pertemuan besok—tuduhan terbuka, provokasi di hadapan Raja, atau bahkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya yang belum bisa ia bayangkan sepenuhnya.
"Aku tidak tahu pasti," jawabnya akhirnya, suaranya tenang meski hatinya dipenuhi kewaspadaan yang semakin dalam. "Tapi apa pun itu, dia ingin melakukannya di hadapan seluruh keluarga kerajaan—di tempat yang paling sulit bagi kita untuk membantah tanpa terlihat bersalah, dan paling sulit baginya untuk gagal tanpa kehilangan muka."
Ia menggulung kembali undangan itu, rahangnya mengeras dengan tekad baru yang mulai terbentuk.
"Permainan bayang-bayang benar-benar sudah berakhir," katanya pelan. "Besok, kita akan tahu wajah sesungguhnya dari lawan yang selama ini kita hadapi."
Di luar jendela, langit malam mulai kembali diselimuti awan tebal—tanda bahwa hujan mungkin akan turun lagi sebelum fajar, seolah alam sendiri tahu bahwa badai yang jauh lebih besar sedang menanti di Aula Utama esok hari.