I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
*TENT.*
Suara jentikan jari yang tidak berwujud itu runtuh dari ruang hampa udara.
Detik itu juga, waktu di dalam *The Outer Pit* yang sempat membeku mendadak mencair secara paksa. Partikel debu yang mengambang kembali bergerak, dan raungan memekakkan telinga dari *Iron-Tusk Boar* kembali menghantam gendang telinga Ren.
Jarak moncong babi hutan raksasa itu hanya tinggal beberapa sentimeter dari wajahnya. Taring rantai besinya yang memancarkan hawa murni binatang buas melesat lurus, siap menghancurkan apa pun di depannya. Di mata semua orang yang melihatnya, Ren—si Nol tanpa energi Qi—seharusnya sudah hancur menjadi bubur daging dalam hitungan milidetik. Logika kasta kekuatan dunia *Apex Universe* mendikte bahwa makhluk selemah dia *pasti* mati hancur.
Namun, di dalam kepala Ren, sebuah revolusi tak kasat mata baru saja terjadi.
Percikan cahaya perak cair dari sang Pengembara Kosmik tidak mengisi ototnya dengan aura dewa ataupun memberikan aliran Qi murni. Cahaya itu bertindak seperti kode terlarang yang meretas otaknya, menghancurkan batasan persepsi biologis yang selama ini menguncinya di titik nol.
Dunia di sekitar Ren mendadak berubah di bawah cara pandang barunya. *Iron-Tusk Boar* yang menerjang secepat suara itu kini terlihat bergerak begitu lambat di matanya. Bukan karena waktu benar-benar berhenti lagi, melainkan karena kecepatan pemrosesan data di dalam otak Ren telah melompat ke tingkat yang tidak masuk akal setelah bersentuhan dengan sang Anomali Absolut.
Mata abu-abu keperakannya yang baru terbangun mulai menangkap garis-garis mekanisme gerak di udara. Otaknya memancarkan kalkulasi taktis yang dingin:
* *Kecepatan terjangan musuh: 340 meter per detik.*
* *Sudut serudukan: 15 derajat ke arah kanan bawah.*
* *Titik tumpu beban: Kaki belakang bagian kiri.*
* *Celah mekanis: Jeda putaran taring rantai besi pada milidetik ke-0,4.*
"Mati kau, bocah!" mandor bertangan empat yang terkapar di dekatnya sempat berteriak pasrah, mengira kepala Ren akan meledak menjadi serpihan di detik berikutnya.
Ren tidak berkedip. Menghadapi ancaman maut dari hama berbobot belasan ton itu, dia tidak panik. Tubuhnya yang kurus kering bergerak dengan presisi yang mengerikan. Dia tidak mencoba melompat menjauh—karena fisiknya yang lemah tidak akan sempat melakukan gerakan besar seperti itu. Ren hanya menggeser tumit kanannya ke belakang sejauh tujuh sentimeter, lalu memiringkan lehernya ke kiri dengan sudut minimal.
*WUSH!*
Moncong tajam *Iron-Tusk Boar* melesat melewati pipi Ren, hanya menyisakan jarak satu milimeter dari kulitnya. Hantaman angin kencang akibat terjangan tersebut merobek kain gombal di bahunya, namun tidak menyentuh dagingnya sedikit pun. Sebuah hindaran yang mustahil, lahir murni dari kalkulasi spasial yang mutlak.
Ren tidak berhenti di situ. Di bawah level **Survivor**, melarikan diri bukan satu-satunya cara bertahan hidup. Menggunakan lingkungan dan memanfaatkan momentum musuh adalah hukum tertinggi.
Saat tubuh raksasa babi hutan itu melesat di sampingnya, Ren membungkuk. Tangannya yang melepuh menyambar gagang sapu kawat besi yang tergeletak di lantai jagal. Dengan ketenangan seorang pemburu, dia menusukkan ujung sapu kawat itu tepat ke dalam celah gir mekanis yang memutar taring rantai besi si monster—pada milidetik ke-0,4, persis di titik jeda rotasi yang dibaca oleh otaknya.
*KRETEKKK—BOOM!*
Sapu kawat besi itu hancur berantakan, namun fungsinya terpenuhi dengan sempurna. Putaran taring rantai besi monster itu mendadak terkunci dan macet total. Hukum momentum bekerja secara brutal. Karena taringnya terkunci di satu sisi saat bergerak dengan kecepatan tinggi, tubuh seberat belasan ton milik babi hutan itu mendadak kehilangan keseimbangan, terpelanting, dan berputar di udara.
Arah pelintingan monster itu tepat menuju ke arah tangki penampungan darah asam jagal yang berada di ujung parit.
*PRANK!! BUMMM!*
Babi hutan itu menghantam tangki obsidian tersebut hingga pecah berantakan. Ribuan liter darah asam murni bersuhu tinggi langsung tumpah ruah, menenggelamkan tubuh si monster. Raungan melengking penuh rasa sakit terdengar saat daging sekeras baja milik *Iron-Tusk Boar* melepuh dan meleleh akibat reaksi zat asam hingga menyisakan tulang belulang dalam hitungan detik.
Lembah parit *The Outer Pit* mendadak hening.
Dua babi hutan lainnya yang bersiap menyerang mendadak menghentikan langkah kaki mereka di dekat gerbang. Insting binatang mereka mendeteksi adanya bahaya yang tidak kasat mata. Mereka menatap Ren, lalu menatap sisa tulang rekan mereka di dalam genangan asam dengan gemetar.
Para kuli jagal dan sang mandor bertangan empat melongo, mulut mereka terbuka lebar dengan mata yang hampir keluar dari rongganya. Logika kasta kekuatan mereka runtuh berkeping-keping. Seorang *Zero-Core* yang biasanya tidak bisa menahan pukulan anak kecil, baru saja membantai hama kelas bencana tanpa mengeluarkan satu tetes pun energi Qi.
Ren berdiri di tengah uap asam yang mengepul. Napasnya terengah-engah, dan kepalanya berdenyut sangat sakit—efek samping dari otaknya yang dipaksa memproses ribuan data taktis secara instan. Dia melihat ke arah telapak tangannya yang gemetar, lalu menatap dua babi hutan yang kini perlahan melangkah mundur karena ketakutan.
Binar abu-abu keperakan di matanya tidak meredup. Sebaliknya, getaran horor psikologis perlahan menguar dari tubuh kurusnya. Ren mengepalkan tangannya, merasakan sebuah dinding tak terlihat di dalam jiwanya baru saja retak dan runtuh.
Dia tidak lagi berada di titik terendah. Detik ini, di tengah parit yang kotor dan bersimbah darah, Ren resmi menapakkan kaki di tingkat **Level 1 — Survivor**. Dan seluruh makhluk di semesta ini belum menyadari, bahwa sang Nol telah mulai belajar cara menjatuhkan mereka.