Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Tujuan X Tekad Baja
Kepergian Chintya dan keluarganya ke Guangzhou pada Mei 1998 meninggalkan lubang yang menganga di hati Reza, juga di lanskap kota J. Toko kelontong Sinar Makmur yang tadinya selalu ramai kini beralih kepemilikan menjadi agen beras grosiran yang suasananya kaku dan membosankan. Tidak ada lagi tawa gadis tomboy yang mengejeknya, tidak ada lagi senyum dengan gigi gingsul yang selalu sukses membuat jantung Reza berdebar tak karuan.
Bulan-bulan pertama setelah kepergian Chintya, hidup Reza terasa seperti kaset kusut. Ia sering kedapatan melamun di lapangan tanah merah tempat Chintya dulu sering bermain bola, atau menggosok-gosok kelereng sakti pemberian gadis itu seolah benda bulat itu adalah lampu Aladin yang bisa mendatangkan jin dan mengabulkan permintaannya untuk memutar waktu. Sayangnya, jangankan jin, yang keluar dari lapangan tanah itu hanyalah omelan ibunya yang menyuruhnya pulang untuk mandi sore.
Namun, patah hati pertama ini tidak membuat Reza menjadi remaja emo yang meratapi nasib di pojokan kamar sambil mendengarkan lagu-lagu sedih. Sebaliknya, saat ia naik ke bangku SMA di awal tahun 2000-an, sebuah pencerahan turun layaknya kilat yang menyambar antena TV di rumahnya.
Suatu sore, saat Reza sedang menonton film Once Upon a Time in China yang dibintangi Jet Li di televisi, matanya tertuju pada pemandangan negeri tirai bambu yang megah (meski itu hanya set film). Tiba-tiba, sebuah tekad baja terbentuk di dalam dadanya yang kurus.
Kalau Chintya nggak bisa kembali ke kota J, maka gue yang akan nyusul dia ke Cina!
Itu adalah sebuah deklarasi perang. Perang melawan jarak, waktu, dan tentu saja, perang melawan isi dompet bapaknya.
---
Misi Mustahil: Antara Jalur Udara dan Jalur TKI
Deklarasi Reza terdengar sangat heroik di dalam kepalanya, tapi realitas menghantamnya lebih keras dari pukulan guru BP (Bimbingan Penyuluhan). Keluarga Reza bukanlah keluarga berada. Bapaknya adalah seorang pegawai tata usaha di kecamatan yang gajinya hanya cukup untuk makan dan membayar cicilan motor Astrea Grand, sementara ibunya membuka warung gado-gado kecil di depan rumah.
Suatu malam, usai makan malam dengan lauk tempe orek dan ikan asin, Reza dengan gagah berani mengutarakan niatnya.
"Pak, Bu. Lulus SMA nanti, Reza mau kuliah. Kalau bisa, kuliah yang ada hubungannya sama Cina, biar nanti Reza bisa berangkat ke sana."
Bapak yang sedang menyesap kopi hitamnya langsung tersedak. Ibu yang sedang menyapu remah-remah nasi di meja mendadak mematung.
"Kuliah? Ke Cina?" Bapak menaruh cangkirnya perlahan. "Za, kamu ini habis mabuk kecubung atau kebanyakan nonton film silat? Bapak ini bayar SPP SMA kamu saja kadang mesti ngutang koperasi. Lulus SMA, mending kamu langsung ngelamar kerja di pabrik garmen di ujung kota, atau ikut Oom Yanto jadi kernet truk antar provinsi. Lumayan, bisa langsung pegang duit."
"Tapi Pak, Reza punya janji yang harus ditepati," bantah Reza pelan namun keras kepala.
Ibu menghela napas panjang. "Janji sama siapa, Le? Sama anak Koh Aseng yang udah entah di mana rimbanya itu? Udahlah, sadar diri. Kita ini orang kecil. Ke Jakarta aja mabuk darat, ini sok-sokan mau ke Cina."
Penolakan itu pahit, tapi Reza tahu orang tuanya bersikap realistis. Malam itu, di kamarnya yang sempit, Reza membuat perhitungan matematis tentang masa depannya. Karena meminta uang pada orang tua adalah hal yang mustahil, hanya ada dua cara bagi anak kampung miskin sepertinya untuk bisa menginjakkan kaki di luar negeri.
Pertama, menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Opsi ini cukup masuk akal. Ia bisa mendaftar lewat agen, dikirim ke Hongkong atau Taiwan (dekat-dekat dengan Cina), dan mungkin bisa menyeberang mencari Chintya. Tapi bayangan menjadi kuli bangunan di negeri antah berantah, atau apes-apesnya dikejar-kejar anjing majikan seperti cerita-cerita seram yang sering tayang di acara berita kriminal televisi, membuat Reza bergidik ngeri. "Masa gue nyamperin Chintya pakai baju lusuh habis ngaduk semen? Nggak elit banget," gumamnya.
Opsi kedua, dan satu-satunya pilihan yang bermartabat: Beasiswa.
Reza harus masuk ke universitas negeri ternama, mengambil jurusan yang bisa membawanya ke luar negeri (Sastra Mandarin atau Hubungan Internasional), lalu berburu beasiswa pertukaran pelajar. Kedengarannya mudah diucapkan, tapi bagi Reza yang nilai rapor fisikanya selalu bertengger di angka 5 dan 6, itu sama saja dengan menyuruh seekor ayam untuk belajar breakdance.
---
Metamorfosis Si Kuli Buku
Sejak malam itu, Reza mengubah dirinya. Rambut belah tengah ala Jimmy Lin-nya ia pangkas rapi. Kaus oblong bandelnya ia ganti dengan kemeja lungsuran. Ia sadar, cinta butuh modal, dan modalnya saat ini hanyalah keringat dan otak.
Siang hari, Reza belajar di sekolah seperti kesetanan. Ia yang dulunya hobi tidur di barisan belakang saat jam pelajaran Matematika, kini duduk paling depan, mencatat setiap rumus sampai matanya juling. Teman-teman satu gengnya, Ucup dan Andi, sampai merasa ngeri melihat perubahan ekstrem tersebut.
"Za, lo kesurupan penunggu ruang lab biologi ya?" tanya Ucup saat melihat Reza melahap buku kumpulan soal UMPTN tebal di kantin, sementara yang lain sibuk menggoda siswi kelas satu.
"Gue lagi memantaskan diri buat masa depan, Cup. Kalian main aja sana, jangan ganggu konsentrasi pangeran yang lagi merakit jembatan ke negeri seberang," balas Reza tanpa mengalihkan pandangan dari buku.
Namun, belajar saja tidak cukup. Reza butuh uang untuk membeli buku-buku latihan soal, mendaftar bimbingan belajar (meski hanya paket yang paling murah), dan menabung untuk biaya pendaftaran kuliah nanti. Karena tidak mau merepotkan orang tuanya, Reza memutuskan untuk bekerja sambilan.
Di awal tahun 2000-an, bisnis Warnet (Warung Internet) mulai menjamur. Reza melamar menjadi operator Warnet "Galaxy Net" yang buka 24 jam. Gajinya tidak seberapa, tapi keuntungannya luar biasa: Akses internet gratis.
Di sela-sela melayani pelanggan yang sering ngomel karena billing tiba-tiba putus atau mouse-nya macet karena trackball-nya kotor, Reza berselancar di dunia maya. Menggunakan mesin pencari Yahoo! yang saat itu masih merajai, Reza mencoba melacak jejak Chintya. Ia membuka aplikasi mIRC, masuk ke berbagai channel internasional, mengetik nama "Chintya", "Toko Sinar Makmur", hingga "Guangzhou".
"ASL PLS?" (Age, Sex, Location, Please?) begitu sapaan khas era itu yang sering Reza kirimkan ke orang-orang tak dikenal yang profilnya berbau-bau Tiongkok. Harapannya, ada satu dari jutaan pengguna internet itu yang mengenal Chintya.
Pernah suatu kali ia chatting dengan seseorang bernama 'Dragon_Guangzhou'.
Reza: "Hi, do you know someone named Chintya from Indonesia?"
Dragon_Guangzhou: "No. But I can sell you cheap DVD player, want?"
Reza mendengus kesal dan langsung menutup window chat tersebut. Bertahun-tahun berlalu, jejak Chintya benar-benar hilang ditelan bumi. Tidak ada Facebook, Twitter, atau Instagram yang bisa memberinya jalan pintas. Terkadang, rasa putus asa itu datang menyergap. Di tengah malam yang dingin saat menjaga warnet, ditemani suara dengungan CPU dan asap rokok pelanggan, Reza mengeluarkan kelereng pusaka dari sakunya.
"Lo di mana sih, Chin? Jangan-jangan lo di sana udah nikah sama bintang film silat? Atau lo udah ganti nama jadi Ling Ling?" gumam Reza pada kelereng itu.
Meski tanpa kepastian, tanpa selembar foto baru, dan tanpa secarik surat pun, janji di hatinya tidak pernah padam. Kelereng kecil baret-baret itu adalah sauh yang menahannya agar tidak menyerah. Kata yang belum sempat terucap harus disampaikan secara langsung, tepat di depan wajah gadis itu.
---
Hari Penentuan dan Air Mata Orang Tua
Tahun 2003, masa-masa SMA berakhir. Ujian akhir nasional dilewati Reza dengan nilai yang cukup memuaskan. Namun, pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai: SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).
Reza nekat memilih dua jurusan di universitas paling top di Indonesia (Universitas Indonesia). Pilihan pertama: Sastra Cina. Pilihan kedua: Ilmu Hubungan Internasional. Ketika ia menyerahkan formulir pendaftaran, guru bimbingan konselingnya menatapnya dengan tatapan setengah kasihan.
"Reza, kamu yakin nggak mau pilih universitas di kota kita saja sebagai cadangan? Persaingannya ketat lho di sana," kata Bu Guru dengan nada lembut.
"Saya cuma punya satu tujuan, Bu. Kalau nggak dapat yang ini, saya terpaksa jadi TKI ke Hongkong," jawab Reza mantap, membuat gurunya memijat pelipis.
Bulan-bulan menunggu pengumuman adalah neraka. Reza menghabiskan waktunya bekerja dobel shift di warnet demi menabung biaya keberangkatan kalau-kalau ia diterima. Bapaknya sudah tidak pernah lagi menyinggung soal pabrik garmen, diam-diam beliau melihat betapa kerasnya usaha sang anak. Ibunya bahkan sering menyelipkan telur rebus ekstra di piring makan Reza.
Hingga tibalah hari pengumuman itu. Koran hari itu ludes terjual sejak pagi buta. Reza berlari ke loper koran di perempatan dengan napas memburu. Jari telunjuknya yang gemetar menelusuri deretan angka kecil-kecil yang tercetak di halaman tengah koran. Ribuan nomor pendaftaran yang menjadi hakim masa depan anak muda se-Indonesia.
011-234-556... bukan.
011-234-567... bukan.
011-234-578...
Napas Reza terhenti. Ia mengucek matanya berulang kali. Nomor itu ada di sana. Tercetak jelas dengan tinta hitam. LULUS - SASTRA CINA - UNIVERSITAS INDONESIA.
Reza tidak peduli pada pandangan orang-orang di sekitarnya. Ia berteriak kegirangan, melompat-lompat di pinggir jalan seperti orang kesurupan jaran kepang, lalu berlari sekencang-kencangnya pulang ke rumah.
"Bapak! Ibu! Reza lulus, Pak! Reza jadi mahasiswa!" teriaknya sambil menerobos pintu rumah.
Bapak yang baru pulang dari kantor kelurahan menjatuhkan tasnya. Ibu yang sedang mengulek bumbu gado-gado langsung mencuci tangannya dan berlari ke ruang tamu. Saat Reza menunjukkan koran yang sudah lecek itu, air mata yang selama ini ditahan oleh keluarga kecil itu akhirnya tumpah.
Bapak memeluk Reza erat-erat, suaranya bergetar hebat. "Maafkan Bapak yang pernah meremehkan mimpimu, Le. Bapak bangga. Biar Bapak jual motor Astrea itu besok buat ongkos kamu ke Jakarta dan bayar masuk kuliah. Kamu harus sukses, kejar mimpimu ke Cina sana!"
Malam itu adalah malam paling membahagiakan dalam hidup Reza. Selangkah lagi. Hanya tinggal selangkah besar lagi.
---
Dunia Baru dan Teman yang (Tidak) Normal
Jakarta menyambut Reza dengan udara panasnya yang menampar wajah dan kemacetan yang membuat kepala pusing. Dengan koper butut warisan bapaknya dan tekad yang menyala-nyala, Reza memulai kehidupan kampusnya.
Hari pertama Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya adalah kekacauan yang terstruktur. Mahasiswa baru disuruh memakai topi dari bola plastik yang dibelah dua (seperti halnya Ospek pada zaman itu), dan dikalungi papan nama dari kardus mi instan bekas.
Reza duduk bersila di lapangan yang terik, berusaha menyembunyikan wajahnya dari panitia kating (kakak tingkat) yang sedang mencari mangsa untuk dibentak. Di sebelahnya, duduk seorang mahasiswa bertubuh gempal, berkulit gelap, dengan rambut keriting yang disisir klimis ke belakang. Papan namanya bertuliskan nama yang panjang dan gagah: 'Poltak Hasibuan'.
"Ssst... woi, kawan," bisik mahasiswa bernama Poltak itu sambil menyikut rusuk Reza. Aksen Bataknya terdengar sangat kental.
Reza menoleh dengan waspada. "Apaan?"
"Kau ambil Sastra Cina juga?" tanya Poltak.
Reza mengangguk. "Iya. Kenapa emangnya?"
Poltak mendesah panjang, menatap langit Jakarta dengan pandangan menerawang yang dramatis. "Kacau kali lah hidupku. Asli, kacau!"
"Kacau gimana?" Reza mulai penasaran, sedikit melupakan ketegangannya.
"Aku ini aslinya mau masuk Hukum, biar bisa jadi pengacara garang macam Bang Hotman. Tapi entah kenapa pas ngisi formulir SPMB silang-silang itu, mataku agak siwer, kawan! Meleset aku nyilang kodenya. Kulihat di koran pengumuman, Lulus! Senang kali aku! Tapi pas kubaca ulang... Sastra Cina! Bah! Cemana pula aku ini, wajah sangar preman terminal, marga Hasibuan, tapi disuruh nyanyi lagu Hao Xiang Hao Xiang?!"
Reza tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak hingga perutnya kram, sama sekali mengabaikan panitia Ospek yang kini menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Hei, kalian berdua yang di belakang! Maju ke depan! Siapa yang suruh kalian ketawa-ketawa hah?!" bentak seorang kating berwajah garang sambil menunjuk Reza dan Poltak.
Keduanya saling bertatapan, lalu dengan pasrah berdiri dan berjalan ke depan barisan. Meski harus dihukum merayap di tanah dan menyanyikan Mars Universitas sambil disoraki ratusan mahasiswa lain, Reza merasa hatinya sangat ringan.
Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, di antara orang-orang baru dan rintangan yang baru saja dimulai, Reza menggenggam kelereng di dalam saku celananya. Ia tahu, perjalanannya menuju Guangzhou masih panjang. Ia masih harus menaklukkan huruf-huruf Hanzi yang rumit, mencari beasiswa internasional, dan mengumpulkan uang.
Namun melihat Poltak yang sedang menyanyikan lagu daerah Batak dengan logat dipaksakan beraksen Mandarin di sampingnya, Reza yakin, perjalanan gilanya mengejar cinta pertama ke negeri Cina ini tidak akan sepi dan membosankan.
Tunggu gue, Chin. Satu benua lagi, gue pasti sampai.