NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Di Balik Dua Nama

Mobil mewah itu melaju membelah jalanan ibu kota yang sibuk, membelah lautan cahaya lampu kendaraan yang tak kunjung padam, menuju gedung pencakar langit yang menjadi pusat kekaisaran bisnisnya — S Viandra Corporation.

Saat pintu lift pribadi terbuka di lantai teratas, suasana kantor yang biasanya hening seketika terasa lebih hidup. Langkah kaki para karyawan terdengar berirama di lorong luas, namun semuanya seketika menunduk hormat saat melihat sosok pemilik perusahaan melintas.

Vano berjalan tenang menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Matanya menatap lurus ke depan, wajahnya datar tanpa ekspresi yang bisa dibaca siapa pun — topeng dingin yang tak pernah ia lepaskan di hadapan dunia. Di antara puluhan orang yang bekerja di gedung ini, ada satu sosok yang tak ia kenal — meski setiap hari ia berjalan melewatinya, meski setiap malam ia mendengarkan suaranya dari balik layar.

Meloudy Tanuwirama — staf administrasi di divisi Keuangan — sedang duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan teliti. Pakaian kerjanya rapi, kemeja lengan panjang menutupi seluruh lengan kanannya, menyembunyikan tato yang hanya terlihat di video-video kanal YouTube-nya. Di siang hari, ia adalah karyawan biasa yang berjuang menafkahi keluarga dan melunasi utang ayahnya. Di malam hari, ia adalah Laudys — sosok yang menghibur jutaan orang, termasuk pria yang kini berjalan melewati lorong itu tanpa tahu siapa wanita di hadapannya.

Langkah kaki Vano terhenti tepat di samping mejanya.

Meloudy merasakan kehadiran seseorang. Ia mendongak perlahan — dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di hadapannya berdiri Tuan Vano, atasannya sendiri. Tatapannya tajam, dingin, dan langsung menatap ke arahnya tanpa tedeng aling-aling.

"Selamat pagi, Tuan Vano," ucapnya pelan, segera berdiri tegak dengan sopan, menunduk sedikit karena gugup.

Vano menatapnya sejenak — cepat, tajam, sekadar menilai kinerja bawahannya, tak lebih.

"Laporan keuangan kuartal ketiga divisi ini belum masuk ke meja saya. Padahal batas waktunya kemarin sore."

Suaranya rendah, tegas, tanpa nada bercanda. Meloudy menegang, wajahnya memucat.

"Maaf, Tuan… saya sedang menyelesaikannya. Sedikit ada kendala pada data, tapi akan saya selesaikan sebelum jam makan siang."

"Jam sepuluh," potong Vano singkat.

"Saya butuh itu sebelum rapat direksi. Jangan terlambat lagi, Nona Tanuwirama. Keterlambatan di sini tidak ditoleransi."

"Baik, Tuan. Saya mengerti. Maaf, Tuan."

Vano melangkah pergi tanpa menoleh lagi, punggungnya tegap dan berwibawa. Baginya, Meloudy hanyalah salah satu karyawan yang perlu ditegur agar pekerjaan selesai tepat waktu. Tak ada rasa kenal, tak ada bayangan bahwa wanita itu adalah sosok yang setiap malam ia dengarkan. Laudys adalah dunianya yang lain — dunia di balik layar, jauh dari kantor, jauh dari kenyataan. Ia tak pernah menyangka keduanya adalah satu dan orang yang sama.

Baru saja sosok Vano menghilang di ujung lorong, Delina — sahabat sekaligus rekan duduk di sebelah Meloudy — langsung mendekat, matanya masih terbelalak tak percaya. Ia menepuk pelan bahu Meloudy, suaranya berbisik tertahan.

"Ya Tuhan, Mel… Tuan Vano baru saja berhenti tepat di samping mejamu…" bisiknya, napasnya masih terasa berat karena terpesona sekaligus kaget.

"Dia… dia jauh lebih tampan secara langsung daripada yang orang-orang katakan. Tatapannya itu… sungguh membuat siapa pun tak berani bergerak."

Delina menggeleng pelan, menatap punggung atasan itu yang sudah menjauh, lalu kembali menatap sahabatnya.

"Dan dia bicara padamu… sungguh beruntung sekaligus menegangkan. Semoga kamu bisa menyelesaikan laporan itu tepat waktu ya."

Meloudy hanya mengangguk lemah, tangannya masih sedikit gemetar saat kembali menyentuh papan ketik.

"Iya, terima kasih, Del. Aku harus segera menyelesaikannya."

Hari-hari berlalu, dan setiap kali Vano berjalan melewati mejanya, ia selalu memberinya perintah singkat, teguran, atau pertanyaan tentang pekerjaan — selalu tegas, selalu profesional, tak pernah sekalipun menunjukkan kelembutan. Baginya, Meloudy hanyalah bawahan. Laudys adalah orang lain. Dua dunia yang terpisah, dua nama yang berbeda, dan ia tak pernah menghubungkan keduanya.

Dan suatu sore, saat kantor mulai sepi, Vano berjalan keluar dari ruang kerjanya dan berhenti tepat di meja Meloudy. Gadis itu sedang membereskan berkas, tak menyadari kehadirannya sampai suara berat itu terdengar.

"Meloudy."

Ia tersentak, mendongak dengan terkejut, segera berdiri.

"Ya, Tuan? Ada yang kurang tepat dengan laporannya?"

Vano menatapnya lekat-lekat, lalu menunjuk lengan kanannya yang tertutup rapat — sekadar bertanya, tanpa tahu apa yang tersembunyi di baliknya.

"Kau selalu memakai lengan panjang, bahkan saat ruangan ini cukup panas," ucapnya datar, tanpa nada bercanda.

"Apakah itu peraturan khusus yang kau buat sendiri? Penampilan harus rapi, tapi tidak perlu berlebihan."

Meloudy meremas ujung lengan kemejanya erat-erat, jantungnya berdebar kencang.

"Bukan, Tuan. Saya hanya… terbiasa. Tidak ada alasan khusus."

Vano diam sejenak, menatapnya tajam seolah menilai apakah jawaban itu jujur. Namun ia tak menekannya lebih jauh.

"Baiklah," ucapnya singkat, dingin dan tegas.

"Selesaikan pekerjaanmu dan pulanglah. Jangan lembur tanpa izin. Besok saya butuh kondisi mu yang prima."

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya cepat dan mantap. Meloudy kembali duduk, napasnya terhembus panjang — lega namun bingung. Tatapan pria itu begitu tajam, seolah ingin mengetahui sesuatu, tapi sikapnya tetap dingin, tetap tegas, tetap seperti atasan yang menjaga jarak.

**

Di dalam ruang kerjanya yang luas dan sunyi, Vano duduk kembali di kursi kulitnya, lalu tanpa sadar meraih ponselnya. Notifikasi muncul di layar — satu judul yang membuat napasnya tertahan seketika.

Update: Laudys — Reaksi Melodi Gitar [Avenged Sevenfold: Nightmare]

N—nightmare...!

Ia tertegun. Matanya membelalak perlahan, tak percaya melihat judul itu. Nightmare — lagu candu favorit nya dengan melodi rumit yang pernah di ciptakan menurutnya, lagu yang pernah menjadi pelipur lara di masa-masa kebosanan nya. Tanpa menunda sedetik pun, ia segera berdiri.

"Reino," panggilnya melalui interkom, suaranya mendesak namun rendah.

"Jangan ganggu aku selama satu jam ke depan. Tidak ada panggilan, tidak ada yang boleh masuk."

"Baik, Tuan Vano," jawab Reino dari luar, tanpa bertanya.

^^^Bersambung...^^^

1
ginevra
iya, terima aja.... biar jadi jariah si vano
ginevra
aku takut kalau sang ibu malah diambil duluan sama authornya 🥹🥹
ginevra
awww ... terharu aku tuh 🥹🥹... melodi emang anak yang manis
ginevra
itu pas melodi melipat bajunya .. ingat ingat donk
ginevra
ternyata udah fans lama ini mah....
ginevra
cuma nampilin tangan aja loh... udah buat Vano terpana .. hebat kamu melodi mehehe
Nona Cloe
wuohhh mulai serius nih, ada apa?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
itu kan rencanamu. tapi rencana author seharusnya ga begitu. betul ga?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
wah wah, berharga di hatimu ya😄
My_Lucia
aduh... 🫣 melody di jadiin fantasi
My_Lucia
kasian banget sih... kerja capek-capek tapi gak bisa menikmatinya
Myz Pena
benar2 membuatmu terkesan ya vanno sampai hati mu susah melupakan suasana dengan meloudy walau hanya sebentar 🤭
Myz Pena
kehadiran vano bisa saling melengkapi dengan meloudy 👍
Myz Pena
ya harusnya pulang nggak usah lama2 kecuali vano udah demen pada meloudy 🤭
Myz Pena
yuhuuu vano udah muali terdekteksi ada rasa pada meloudy 🤣
Myz Pena
ya ibu mu benar ,, di cocok jadi calon suami mu di masa depan lagi pula dia adalah fans sejatimu meloudy 🤣
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
gila sih si vano. kok aku ngeri ya.
ah cowok kan emang begitu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
duh ternyata si vano begitu ya🤧
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dia di dekat kamu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
pengemar melody lain nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!