NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:983
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Jantung yang Menggantung di Ujung Nafas

Hujan deras malam itu turun seperti ribuan jarum es yang menghujam bumi tanpa ampun. Angin kencang menderu-deru, merobohkan baliho-baliho besar di jalan protokol dan mengubah gang-gang sempit di bantaran rel kereta api menjadi lautan lumpur yang pekat. Di tengah amukan cuaca yang begitu kejam, Juwita berjalan terhuyung-huyung sambil memapah tubuh ibunya yang nyaris kehilangan kesadaran.

Tidak ada satu pun taksi yang mau berhenti untuk mereka. Penampilan Juwita yang basah kuyup, seragam sekolah yang kotor oleh lumpur, serta kondisi Dara yang pucat pasi membuat para pengemudi kendaraan melaju kencang, enggan direpotkan oleh orang miskin yang sekarat. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Juwita merangkul pinggang ibunya erat-erat, membimbing langkah wanita paruh baya itu menembus gelapnya malam menuju gubuk reot mereka.

Setibanya di depan pintu triplek yang hampir copot, Juwita mendorongnya tergesa-gesa. Begitu mereka masuk, bau lembab dan udara dingin langsung menyergap. Juwita segera membaringkan Dara di atas kasur tipis yang posisinya langsung berada di bawah titik atap yang bocor. Air hujan menetes deras, membasahi lantai semen. Juwita buru-buru menggeser kasur itu sedikit ke sudut, lalu menyelimuti tubuh ibunya dengan satu-satunya kain sarung tebal yang mereka miliki.

Namun, pemandangan di hadapannya membuat darah Juwita mendadak berhenti mengalir.

Dara terbaring dengan dada yang naik turun secara tidak teratur. Bibir wanita itu membiru, matanya terpejam rapat, dan yang paling mengerikan—selang oksigen kecil yang biasa membantu pernapasannya kini sudah terlepas dan kosong. Tabung oksigen kecil sewaan dari klinik telah habis, dan tidak ada lagi sisa cadangan.

"Ibu... Ibu, buka mata, Bu!" jerit Juwita histeris, menjatuhkan dirinya bersimpuh di samping ranjang. Ia meraih tangan ibunya, mengguncangnya pelan dengan air mata yang bercampur dengan air hujan di wajahnya. "Ibu, kita sudah di rumah... Ibu bertahanlah sebentar, ya?"

Dara perlahan membuka matanya yang sayu. Sorot mata wanita itu sudah sangat redup, bagaikan nyala lilin terakhir ditiup angin kencang. Dengan susah payah, Dara mengangkat tangan kanannya yang kurus kering, menyentuh pipi putrinya yang basah. Suaranya keluar sangat parau, nyaris tak terdengar tertelan oleh deru air hujan di atap seng.

"N-Nduk... anakku..." bisik Dara lemah. "Jangan... jangan menangisi Ibu lagi... Ibu sudah... sudah lelah..."

"Nggak! Ibu nggak boleh ngomong gitu!" isak Juwita meraung-raung, mendekap tangan ibunya ke pipinya sendiri. "Ibu harus sembuh! Juwita udah janji bakal bikin Ibu hidup senang! Juwita bakal kuliah tinggi, kita nggak akan hidup susah lagi, Bu! Tolong... jangan tinggalkan Juwita sendirian di dunia ini..."

"Dengarkan... Ibu..." napas Dara tersengal-sengal mengerikan, dadanya bergemuruh hebat seolah kekurangan pasokan udara segar. "Hidup ini... memang tidak adil bagi kita... tapi... tapi kamu harus tetap berjalan dengan kepala tegak... Jangan biarkan... mereka meremahkan harga dirimu..."

"Ibuuu!" tangisan Juwita pecah merobek kesunyian malam, suaranya kalah keras oleh suara petir yang menyambar di luar sana.

Kepanikan yang luar biasa mencengkeram dada Juwita. Ia menoleh ke sekeliling ruangan yang gelap dan sempit. Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada uang, tidak ada obat, tidak ada tabung oksigen, dan tidak ada tetangga yang bisa dimintai tolong pada jam sepuluh malam di tengah badai sebesar ini. Dunia benar-benar menutup seluruh pintu pertolongan bagi mereka.

Dalam titik keputusasaan yang paling gelap sepanjang hidupnya, Juwita merasa seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang sedang merenggut satu-satunya harta berharga yang ia miliki di dunia ini: ibunya.

Juwita tidak bisa tinggal diam. Ia tidak mau berpangku tangan melihat ibunya mati perlahan di hadapannya.

"Ibu tunggu sebentar... sebentar saja!" ucap Juwita dengan napas memburu. Ia bangkit berdiri, menyeka air matanya dengan kasar, lalu berbalik hendak menerobos keluar gubuk di tengah badai untuk mencari bantuan ke klinik terdekat atau meminta belas kasihan siapa saja di jalanan.

Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, pintu triplek itu tiba-tiba diketuk dengan kencang dari luar.

Tok! Tok! Tok!

Juwita tersentak. Dengan jantung berdegup kencang, ia membuka pintu tersebut dengan cepat. Di tengah terpaan angin dan hujan yang lebat, berdirilah Mak Ijah. Wanita tua renta itu tampak basah kuyup seluruh tubuhnya, mengenakan jas hujan plastik tipis berwarna merah yang sudah robek di sana-sini, dan di tangan kanannya, wanita tua itu menyeret sebuah tabung oksigen kecil portabel berukuran sedang.

"Mak Ijah?!" seru Juwita tak percaya.

"Astagfirullah, Nduk! Mak tadi dengar dari tetangga sebelah kalau ibumu diusir paksa dari klinik waktu hujan-hujan begini!" teriak Mak Ijah di tengah suara gemuruh hujan, napas wanita tua itu megap-megap karena kelelahan berlari dari ujung gang. "Mak langsung lari ke tempat penyewaan alat medis langganan pemulung di ujung kampung. Untung pemiliknya kenal sama Mak dan mau kasih utang tabung oksigen ini!"

Juwita merasa seolah tersambar petir kelegaan yang luar biasa. Air matanya kembali tumpah, kali ini air mata haru yang teramat dalam. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Juwita mengambil tabung oksigen itu dari tangan Mak Ijah, menariknya masuk ke dalam gubuk, dan memasang masker oksigen ke wajah ibunya dengan cekatan.

"Mak... terima kasih... terima kasih banyak, Mak..." isak Juwita sambil memeluk tubuh Mak Ijah yang basah kuyup.

"Udah, jangan ngomong dulu, Nduk! Cepat urus ibumu!" titah Mak Ijah tegas, langsung ikut berlutut di samping ranjang Dara, membantu memijat kaki wanita paruh baya itu yang mulai kaku karena kedinginan.

Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Juwita terus memegang erat tangan ibunya, membisikkan doa-doa tanpa henti. Perlahan-lahan, suara napas Dara yang tadinya terputus-putus mulai berangsur-angsur teratur kembali. Warna kebiruan di bibirnya berangsur memudar, digantikan oleh warna pucat biasa. Dara tertidur dalam kelelahan yang luar biasa, namun detak jantungnya kembali stabil.

Melihat ibunya melewati masa kritis malam itu, Juwita terduduk lemas di lantai semen yang basah. Ia menyandarkan kepalanya pada tepi tempat tidur, membiarkan tubuhnya yang menggigil kedinginan terabaikan. Pikirannya melayang jauh menembus dinding-dinding reyot gubuk tersebut.

Ia tahu, tabung oksigen dari Mak Ijah ini hanya bersifat sementara. Biaya sewa alat, obat-obatan lanjutan, serta kebutuhan hidup esok hari tetap menjadi tembok raksasa yang menghadang di hadapannya. Riko Aditama dan orang-orang kaya di sekolah itu mungkin berpikir bahwa mereka telah berhasil memojokkan Juwita ke dalam jurang kematian sosial dan finansial. Mereka pikir dengan membekukan dana hibah dan mengusir ibunya, mereka bisa mematahkan semangat seorang gadis SMA.

Namun, di dalam kegelapan malam yang ditemani suara deru kereta api dan tetesan air hujan di atap seng, Juwita mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang merah bengkak akibat menangis kini memancarkan kembali kilau bara api yang menyala-nyala—lebih terang, lebih tajam, dan jauh lebih mematikan dari sebelumnya.

Ia mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.

Kalian boleh merampas uangku, sumpah Juwita di dalam hatinya dengan suara yang bergema penuh keyakinan. Kalian boleh menutup setiap pintu dan mencoba menguburku hidup-hidup. Tapi selama aku masih bernapas, dan selama otakku masih bisa berpikir untuk melawan... aku bersumpah, aku tidak akan pernah berlutut di hadapan kalian. Aku akan bangkit, dan aku akan meruntuhkan seluruh kekaisaran busuk kalian sampai ke akar-akarnya.

Malam itu, di bawah atap yang bocor dan badai yang belum reda, Juwita menolak untuk kalah. Perjuangan hidupnya baru saja memasuki babak yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!