NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Tak Terduga

​Suara kokokan ayam jantan dari perkampungan padat di seberang sungai kecil terdengar sayup-sayup menembus udara pagi yang sejuk. Kabut tipis masih menyelimuti atap-atap seng rumah susun, memantulkan bias cahaya mentari pagi yang perlahan-lahan merangkak naik dari ufuk timur.

​Di teras belakang kamar nomor empat puluh dua, Rian duduk tenang di atas bangku kayu usang. Di hadapannya, secangkir teh hitam panas tanpa gula mengepulkan uap tipis yang perlahan buyar dihembus angin pagi. Kedua tangannya diletakkan di atas paha dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas, menyatu dalam ritme napas yang begitu teratur dan selaras dengan detak alam semesta.

​Di dalam tubuhnya, pusaran energi Qi berputar dalam orbit yang sangat halus, membersihkan sisa-sisa hambatan terakhir menuju transisi tingkat ketujuh kultivasi. Setiap sel tubuhnya terasa ringan, seolah-olah gravitasi bumi kehilangan cengkeramannya pada fisik pemuda berusia tujuh belas tahun itu.

​Kriek...

​Pintu kayu di belakang teras berderit pelan. Bi Inah melangkah keluar mengenakan daster kain bermotif bunga usang, membawa sebuah piring kecil berisi pisang goreng hangat yang baru saja diangkatnya dari wajan.

​"Rian, kau sudah bangun sepagi ini lagi, Nak?" sapa Bi Inah ramah, tersenyum tulus sambil meletakkan piring kecil itu di atas meja kayu kecil di sebelah cangkir teh Rian. "Bibi lihat setiap hari kau selalu menyempatkan diri duduk berjam-jam di teras ini sebelum berangkat ke sekolah. Apa kepalamu tidak penat memikirkan pelajaran yang rumit itu terus-menerus?"

​Rian membuka kedua matanya perlahan. Kilatan cahaya keemasan yang tajam menyala sesaat di manik matanya sebelum meredup kembali menjadi warna hitam legam yang menyimpan kedalaman tanpa batas. Ia menatap Bibi Inah dengan senyuman hangat yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain di luar sana.

​"Pelajaran sekolah sama sekali tidak membuat kepala saya penat, Bi," jawab Rian dengan suara yang tenang dan lembut. "Justru duduk di teras ini, mendengarkan suara angin pagi dan aliran air sungai, adalah cara terbaik untuk menjernihkan pikiran dari kebisingan dunia."

​Bi Inah menarik kursi kecil di sebelah Rian, lalu duduk sambil menghela napas ringan. Ia menatap wajah Rian lekat-lekat dengan pandangan penuh rasa kasih sayang seorang nenek.

​"Bibi tahu kau bukan anak remaja biasa, Rian," kata Bi Inah jujur, nada suaranya menyiratkan keheranan bercampur rasa bangga. "Sejak orang tuamu menitipkanmu di sini beberapa tahun lalu dengan pesan agar Bibi menjagamu, Bibi justru merasa kamulah yang lebih sering melindungi rumah susun ini dari berbagai masalah. Kemarin malam, beberapa tetangga membicarakan namamu karena menang lomba sains tingkat provinsi. Mereka bilang kau akan segera dikirim ke ibu kota untuk grand final nasional."

​Rian mengambil sepotong pisang goreng hangat dari piring, lalu menggigitnya kecil. "Prestasi itu hanyalah sebuah proses alami dari apa yang telah dikerjakan, Bi. Tidak ada yang terlalu istimewa."

​"Itu sifat rendah hatimu yang membuat Bibi kagum," balas Bi Inah tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. "Tapi ingat, Nak, setinggi apa pun kamu terbang nanti, jangan pernah lupakan tempat asalmu ini. Dan yang paling penting, jaga kesehatanmu. Jangan terlalu memforsir diri dengan riset-riset berat itu."

​"Baik, Bi. Saya akan selalu mengingat nasihat Bibi," ucap Rian patuh.

​Bibi Inah menepuk pundak Rian pelan sebelum berdiri dan berpamitan kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan rumah tangganya. Rian kembali menatap sisa teh di cangkirnya, menyadari bahwa kehangatan manusia seperti yang ditunjukkan oleh Bibi Inah adalah jangkar emosional yang menjaga keseimbangan eksistensinya di dunia fana ini.

​Dua jam kemudian, suasana di gerbang utama SMA Bina Bangsa tampak jauh lebih sibuk daripada biasanya. Sejumlah spanduk ucapan selamat berukuran besar bertuliskan 'Selamat & Sukses Kepada Rian dan Maya atas Keberhasilan Menjuarai Olimpiade Sains Regional' terpasang megah di atas dinding pagar sekolah, menarik perhatian setiap orang yang lalu-lalang di jalan raya depan sekolah.

​Ketika Rian melangkah turun dari angkutan umum di depan gerbang, beberapa siswa kelas sepuluh dan sebelas yang kebetulan baru tiba langsung menoleh ke arahnya. Bisik-bisik kekaguman terdengar bersahut-sahutan di antara mereka.

​"Hei, lihat! Itu Rian... anak beasiswa yang kemarin membungkam Profesor Iskandar di stan pameran sains!" bisik seorang siswa berambut belah tengah kepada temannya.

"Hebat sekali ya? Kudengar dia langsung ditarik oleh Kusuma Group untuk memegang proyek riset independen bernilai miliaran rupiah."

​Rian berjalan tenang melewati kerumunan siswa tersebut tanpa memedulikan tatapan kagum atau bisikan-bisikan di sekitarnya. Langkah kakinya tetap terukur, memancarkan wibawa alami yang membuat siapa pun yang berpapasan dengan dirinya merasa segan untuk sekadar menyapa secara sembarangan.

​Begitu ia tiba di ambang pintu kelas 11-B, Maya langsung bangkit dari bangkunya dan berjalan cepat menghampiri Rian dengan senyuman cerah di wajahnya.

​"Pagi, Rian!" sapa Maya antusias. "Kau lihat spanduk besar di depan gerbang tadi? Pak Darma sengaja menyuruh staf tata usaha memasangnya pagi-pagi sekali agar seluruh sekolah tahu bahwa delegasi kita berhasil membawa pulang trofi kemenangan."

​Rian meletakkan tas ranselnya di atas meja, lalu duduk dengan tenang. "Spanduk itu hanya simbol formalitas institusi, Maya. Yang terpenting bukan pengakuan luar, melainkan substansi pemahaman sains yang telah kita buktikan."

​Maya mendengus pelan, menarik kursi di depan meja Rian dan duduk menghadap ke arah pemuda itu. "Kau ini... selalu saja merespons pujian dengan sudut pandang yang sangat datar. Padahal orang-orang di luar sana sedang heboh membicarakanmu. Bahkan tadi pagi, kepala sekolah memanggilku ke ruangannya hanya untuk menanyakan jadwal keberangkatan kita ke ibu kota."

​Sebelum Rian sempat menjawab, suara derap langkah kaki formal terdengar mendekat ke arah pintu kelas. Seorang staf administrasi sekolah berjas hitam berdiri di ambang pintu, mengetuk daun pintu pelan lalu memindai pandangannya ke dalam ruangan.

​"Apakah benar siswa bernama Rian ada di kelas ini?" tanya staf administrasi tersebut dengan nada suara yang cukup keras.

​Seluruh isi kelas mendadak terdiam. Semua mata langsung tertuju pada Rian.

​Rian perlahan berdiri dari kursinya, menatap staf tersebut dengan tenang. "Saya Rian. Ada urusan apa?"

​Staf administrasi itu berjalan mendekati meja Rian, lalu menyerahkan sebuah amplop tebal berlogo resmi berlapis emas dengan stempel merah berlabel Undangan Khusus Eksekutif.

​"Surat ini dikirimkan langsung oleh Sekretariat Eksekutif Kusuma Group," kata staf itu dengan nada penuh hormat. "Direktur Utama Hartawan Kusuma meminta Anda untuk hadir di ruang rapat utama Kusuma Tower sore ini jam empat sepuluhnya, sebelum persiapan keberangkatan grand final nasional minggu depan."

​Rian menerima amplop tersebut, lalu mengangguk singkat. "Sampaikan kepada Sekretariat Eksekutif bahwa saya akan hadir tepat waktu."

​"Baik, Tuan Rian. Terima kasih," ujar staf itu membungkuk hormat sebentar sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kelas.

​Maya memandangi amplop di tangan Rian dengan kening berkerut penasaran. "Undangan khusus eksekutif dari Direktur Hartawan sendiri? Rian, apa kira-kira yang ingin dibahas beliau secara mendadak menjelang keberangkatan kita ke ibu kota?"

​Rian membuka amplop tersebut sekilas, membaca baris demi baris teks undangan digital yang tertera di dalamnya. "Kita akan segera mengetahuinya nanti sore, Maya. Yang pasti, pertemuan ini berkaitan dengan finalisasi protokol keamanan laboratorium riset pusat."

​Tepat pukul empat sore lewat sepuluh menit, mobil sedan mewah hitam jemputan khusus dari Kusuma Group berhenti dengan mulus di pelataran parkir basement Kusuma Tower. Rian melangkah keluar dari dalam mobil, disambut oleh seorang pengawal pribadi berjas rapi yang langsung mengantarnya menuju lift khusus eksekutif menuju lantai empat belas.

​Suasana di lantai empat belas terasa begitu hening dan eksklusif. Ketika pintu lift bergeser terbuka, Wijaya—kepala divisi pengembangan teknologi dan riset—sudah berdiri di depan pintu ruang rapat menanti kedatangan Rian.

​"Selamat sore, Tuan Rian," sapa Wijaya ramah sambil menjabat tangan Rian sekilas dengan penuh rasa hormat. "Mari silakan masuk. Direktur Hartawan dan tamu khusus kita sudah menunggu di dalam."

​Rian mengangguk tenang, lalu melangkah masuk ke dalam ruang rapat eksekutif yang dikelilingi dinding kaca panorama kota. Di ujung meja rapat utama, Hartawan Kusuma duduk berdampingan dengan seorang pria paruh baya berjas abu-abu terang yang mengenakan lencana kehormatan akademi sains nasional di kerah jasnya.

​Melihat kehadiran Rian, Hartawan langsung berdiri dan menyambut remaja itu dengan senyuman lebar.

​"Rian! Selamat datang kembali di markas besar kami," sapa Hartawan hangat, lalu menunjuk ke arah pria di sebelah kanannya. "Rian, kenalkan, ini adalah Profesor Wiratman—Kepala Dewan Pengawas Riset dan Teknologi Nasional yang sengaja datang langsung dari ibu kota untuk menemui penemu muda berbakat seperti dirimu."

​Profesor Wiratman berdiri, mengulurkan tangannya dengan sorot mata penuh kekaguman yang terpancar jelas di balik kacamata birunya. Ia menatap Rian dari atas ke bawah, seolah tidak percaya bahwa pemuda di hadapannya adalah otak di balik algoritma konversi energi revolusioner yang sedang menggemparkan dunia industri.

​"Luar biasa..." ucap Profesor Wiratman bersuara parau penuh wibawa saat menjabat tangan Rian. "Aku sudah menelaah laporan simulasi proyekmu selama tiga hari berturut-turut, Rian. Cara pandangmu terhadap dinamika non-linear termodinamika adalah angin segar yang sudah ditunggu-tunggu oleh dunia sains negeri ini selama berpuluh-puluh tahun."

​"Terima kasih atas apresiasinya, Profesor Wiratman," jawab Rian tenang, membalas jabat tangan itu dengan mantap dan terukur. "Sains berkembang bukan karena rumitnya teori, melainkan seberapa jujur kita memahami hukum dasar alam."

​Profesor Wiratman tertegun mendengar kalimat filosofis itu. Ia tertawa renyah, lalu menoleh ke arah Hartawan Kusuma. "Hartawan, kau benar-benar menemukan permata langka di sekolah menengah pinggiran kota. Anak ini memiliki kedalaman mental dan wawasan yang jauh melampaui para profesor doktor di universitas."

​Hartawan tersenyum bangga, lalu mempersilakan Rian duduk di kursi utama.

​"Alasan utama kami mengundangmu sore ini, Rian," kata Hartawan mulai serius, melipat kedua tangannya di atas meja, "bukan sekadar merayakan kemenanganmu di tingkat regional, melainkan mempersiapkan seluruh dokumen dan protokol perlindungan hukum bagi laboratorium riset independen yang akan kitaresmikan di ibu kota segera setelah grand final nasional minggu depan."

​Wijaya membuka map tebal berisi lembaran biru rancangan arsitektur dan izin operasional khusus, lalu menyerahkannya kepada Rian.

​Rian membuka lembar demi lembar dokumen tersebut. Melalui Mata Dewa Pengamat, kesadarannya memindai setiap klausul hukum dan spesifikasi fasilitas dengan kecepatan kilat. Setelah memastikan semuanya sempurna dan tidak ada celah ancaman dari pihak luar seperti kelompok Bramasta sebelumnya, Rian mengangguk pelan.

​"Dokumen ini disusun dengan sangat rapi dan transparan," ucap Rian tenang. "Saya menyetujui seluruh ketentuan operasional laboratorium riset tersebut."

​Hartawan menghela napas lega, senyuman puas mengembang di wajahnya. "Bagus! Dengan restu dari Profesor Wiratman dan dukungan penuh Kusuma Group, aku pastikan tidak ada satu pun kekuatan birokrasi korup yang bisa menghalangi langkahmu menuju puncak."

​Di dalam rongga dadanya, Rian merasakan putaran inti energi Qi bergetar selaras dengan detak semesta, menandakan bahwa transisi kesadaran tingkat ketujuhnya telah sempurna menyatu. Di dunia fana ini, bidak-bidak catur kekuasaan dan sains telah tersusun rapi di tangannya; dan babak penentuan di ibu kota pada pekan depan akan menjadi panggung mutlak bagi kebangkitan sang kultivator agung.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!