NovelToon NovelToon
DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: R. AL

Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.

Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.

Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."

Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.

Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: KELVIN JR AKHIRNYA PULANG

Luna bilang, "Coba putar suara mesin NICU yang kemarin. Arga Jr kangen suara mesin. Dia lahir dan besar seminggu di sana. Rumah terlalu sepi buat dia."

Ide gila, tapi kami coba. Arga putar suara mesin NICU dari Youtube. Bunyi bip bip bip pelan.

Ajaib. Arga Jr diam. Langsung diam. Tidur. Seperti di inkubator lagi. Karena dia memang bayi NICU yang baru pulang.

Di seberang, Luna juga putar suara yang sama untuk Kelvin Jr. Dari dalam inkubator, Kelvin Jr yang tadi agak rewel, juga tidur lagi setelah dengar suara mesin dan lihat foto kakaknya.

Dua tempat berbeda, rumah dan NICU, dua bayi dengan satu suara yang sama, tidur bareng dengan jarak jauh.

Dua detak yang dulu ada di dalam, sekarang ada di luar, satu di rumah, satu di NICU, tapi tidurnya bareng lagi seperti dulu di dalam rahim, sinkron.

Itu akhir Bab 34. Malam pertama Arga Jr pulang, dia tidur karena suara mesin NICU. Kelvin Jr di NICU tidur juga karena suara yang sama dan foto kakaknya.

Dan besok paginya itu adalah hari ini. Bab 35. Hari yang dari Bab 32 kami tunggu. Hari dimana dua-duanya pulang.

Pagi di rumah, Arga Jr sudah seminggu di rumah. Seminggu jadi bayi rumah. Minumnya sudah kuat, tidurnya sudah tidak perlu suara mesin lagi, dia sudah kenal bau rumah, bau Mama, bau Papa.

Pagi di NICU, Kelvin Jr sudah seminggu ditinggal kakaknya pulang duluan. Seminggu ditemenin Luna terus. Luna yang janji jaga seperti anak sendiri, dia tepati. Tidur di sofa NICU, gendong kangguru tiap hari, putar suara mesin yang sama biar Kelvin Jr tidak kangen kakaknya.

Pagi itu, suster masuk ke ruang kangguru dengan senyum yang beda lagi. Senyum yang sama seperti waktu bilang Arga Jr boleh pulang.

Suster lihat Luna yang gendong Kelvin Jr. Suster bilang, "Bu Luna, hari ini giliran Kelvin Jr."

Hari ini giliran Kelvin Jr. Kalimat yang kami tunggu dari Bab 32, dari saat rebutan siapa boleh digendong duluan, siapa boleh pulang duluan, siapa dapat warisan duluan.

Luna langsung nangis. Nangis pelan biar tidak bangunkan Kelvin Jr yang lagi tidur di dadanya. Bayi sekecil botol minum yang dulu kulitnya merah transparan, mata tertutup, sekarang kulitnya sudah agak pink, matanya sudah mau buka sedikit, napasnya kuat, minumnya kuat.

Luna telepon aku. Aku lagi di rumah susui Arga Mahendra Putra.

"Luna, kenapa?" tanyaku.

Luna bilang dengan suara serak nangis, "Sinta, Kelvin Jr boleh pulang hari ini. Hari ini. Dokter bilang suhu stabil seminggu, minum kuat, berat naik. Dia siap. Adiknya siap nyusul kakaknya pulang."

Aku langsung nangis. Arga yang gendong Arga Jr di sebelah juga nangis. Opa dan Oma yang lagi di dapur masak bubur untuk Arga Jr juga nangis.

Opa bilang, "Opa Oma bangga. Dua-duanya cucu Opa. Akhirnya dua-duanya pulang."

Kami berempat langsung ke NICU. Bawa baju putih yang Oma siapkan seminggu lalu. Baju putih untuk Kelvin Jr, pasangan baju biru langit untuk Arga Jr. Dua baju bordir nama lengkap, Arga Mahendra Putra dan Kelvin Mahendra Putra, yang Oma siapkan waktu masih rebutan warisan.

Di NICU, dokter kasih kertas pulang kedua. Kertas yang sama seperti kertas Arga Jr, tapi nama beda. Kelvin Mahendra Putra. Anak dari mendiang Kelvin, cucu angkat Opa tapi tetap cucu Opa karena ibunya Sinta rahim petarung.

Dokter bilang, "Selamat ya Bu Sinta. Dua pejuang sudah lulus NICU. Dua-duanya kuat. Yang besar pulang duluan karena siap duluan, yang kecil pulang belakangan karena dia pejuang ketuban pecah duluan yang butuh waktu lebih lama. Dua-duanya pejuang, tidak ada yang lebih kuat, karena kuat itu bukan soal besar kecil, tapi soal mau hidup."

Aku gendong Kelvin Jr dari inkubator terakhir kalinya. Terakhir kalinya lihat monitor, terakhir kalinya cium bau alkohol dan susu, terakhir kalinya cuci tangan sampai siku pakai baju steril.

Kelvin Jr yang lebih kecil, yang dulu nangisnya pelan tapi lama, hari ini nangisnya kencang. Kencang seperti kakaknya waktu pertama pulang. Seperti tahu dia mau pulang, mau ketemu kakaknya.

Aku bisik, "Nak, kita pulang ya. Mama bawa pulang. Tante Luna yang jaga kamu seminggu, sekarang Mama bawa pulang. Kakak sudah tunggu di rumah. Kakak Arga Mahendra Putra sudah seminggu nunggu adiknya."

Luna ikut gendong dari belakang. Luna bisik ke Kelvin Jr, "Tante ikut pulang ya. Tante janji jaga kamu sampai besar seperti janji tante ke Papa kamu dulu. Sekarang janji itu tante tepati di rumah, bukan di NICU lagi."

Siang itu, pertama kalinya setelah hampir dua bulan mimpi buruk keguguran, ketuban pecah dini, lahiran dua bayi beda ayah, NICU, rebutan warisan, rebutan siapa pulang duluan, akhirnya...

Dua bayi di satu mobil. Arga Jr di gendongan Arga, Kelvin Jr di gendongan aku dan Luna. Dua kursi bayi yang Opa beli seminggu lalu, akhirnya terisi dua-duanya.

Di jalan pulang, dua-duanya tidur. Tidak perlu suara mesin NICU lagi. Karena mereka sudah dengar suara mesin mobil, suara jalan, suara Mama dan Papa ngobrol. Suara rumah.

Sampai rumah, Oma sudah siapkan satu ranjang besar. Bukan dua boks bayi terpisah, tapi satu ranjang besar untuk dua bayi. Ranjang yang dulu Opa bilang untuk cucu Opa, dua-duanya cucu Opa.

Kami taruh Arga Mahendra Putra dan Kelvin Mahendra Putra di ranjang itu bareng. Pertama kalinya.

Yang terjadi... tidak seperti yang kami bayangkan akan berantem atau rebutan.

Arga Jr yang lebih besar, yang sudah seminggu jadi penguasa rumah, yang nangis kencang, begitu lihat Kelvin Jr di sebelahnya, dia diam. Dia lihat adiknya. Adik yang dulu satu rahim, satu detak sinkron, lalu pisah satu di rumah satu di NICU, sekarang satu ranjang lagi.

Kelvin Jr yang lebih kecil, yang baru pulang, yang masih bau NICU, begitu lihat kakaknya di sebelahnya, dia juga diam. Dia cari tangan kakaknya. Tangan kecil cari tangan kecil.

Dua tangan kecil ketemu. Pegangan. Pegangan pertama di luar rahim. Dulu di dalam rahim mereka tendang-tendangan, sekarang di luar rahim mereka pegangan tangan.

Aku nangis. Luna nangis. Arga nangis. Opa Oma nangis.

Aku foto. Foto yang sama seperti foto Bab 31 yang Luna kirim ke grup keluarga, tapi kali ini bukan foto polaroid di dada, bukan foto di inkubator, tapi foto di ranjang rumah. Dua bayi pegangan tangan, tidur tanpa selang, tanpa mesin, tanpa inkubator.

Captionnya aku tulis di grup keluarga: "Dua ayah. Dua bayi. Satu rahim petarung yang sudah berhasil. Dua nama Mahendra Putra. Hari ini dua-duanya pulang. Hari ini pelukan tanpa selang beneran."

Opa balas cepat: "Opa Oma bangga. Dua-duanya cucu Opa. Akhirnya satu ranjang. Rahim petarung tidak kalah, pelukan petarung tidak kalah."

Malam pertama dua-duanya di rumah. Malam yang dari Bab 32 kami mimpikan. Tidak ada suara mesin NICU dari Youtube lagi. Tidak ada suster masuk tengah malam bilang ada demam.

Hanya ada suara dua bayi napas bareng. Sinkron lagi. Seperti dulu di dalam rahim, detak sinkron, sekarang napas sinkron.

Aku, di tengah ranjang, perut kosong tidak ada tendangan lagi, tapi dada penuh dua bayi. Arga di sebelah kiri peluk Arga Mahendra Putra, Luna di sebelah kanan peluk Kelvin Mahendra Putra, aku di tengah peluk dua-duanya.

Perjuangan belum selesai. Ini baru Bab 35. Masih ada belasan bab lagi sampai mereka besar, sampai mereka sekolah, sampai mereka tahu cerita dua ayah mereka yang dulu musuh lalu sahabat.

Tapi untuk malam ini, malam pertama dua-duanya pulang, aku bisa tidur tanpa mimpi buruk keguguran selamanya. Karena dua-duanya sudah di rumah. Sudah selamat. Sudah pegangan tangan. Karena warisan sudah adil dibagi dua. Karena nama lengkap sudah ada, Arga Mahendra Putra dan Kelvin Mahendra Putra. Karena Opa Oma bangga dua-duanya cucu Opa.

Rahim petarung tidak kalah. Pelukan petarung tidak kalah. Sekarang pelukan tanpa selang, tanpa mesin, tanpa inkubator, pelukan rumah.

Dan besok pagi, aku tidak perlu bolak-balik rumah dan NICU lagi. Besok pagi, aku akan bangun dan dua-duanya ada di sebelah. Akan susui dua-duanya bareng. Akan gendong dua-duanya bareng. Sampai hari dimana aku bisa cerita ke mereka, nak, kalian lahir dari satu rahim petarung yang sudah berhasil, dua ayah yang akhirnya tidak berantem lagi karena cinta Mama dibagi dua adil.

Dua ayah. Dua bayi. Satu rahim petarung yang sudah berhasil. Dua nama Mahendra Putra. Satu ranjang tanpa selang. Dan satu keluarga yang akhirnya pulang semua.

1
Fiya
boleh tidak jangan taruk aku ini aku taruk terus nama aja ngk enak di baca tolong diubah yah🙏
Renjana
lanjutkan terus kak😊
mampir juga di karyaku yah😊
Aina Senja
keren kk😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!