Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Rencana Naya
Pintu depan yang tertutup rapat meninggalkan hening yang cukup panjang di area dapur. Naya masih mematung di kursinya, memegang serbet dengan kedua tangan yang sedikit gemetaran. Pipi dan telinganya terasa panas bukan main.
“Dasar Pak Arka... orangnya datar, tapi kalau ngomong suka bikin senewen!” gumam Naya kesal pada udara kosong, meski tak bisa menahan senyum tipis yang mendadak muncul.
Ia cepat-cepat menghabiskan sarapannya, membereskan piring kotor, dan mencuci semua peralatan dapur hingga mengkilap. Suasana rumah terasa jauh lebih tenang sekarang, namun pikiran Naya terus melayang pada ucapan Arka.
Perhatian kecil pria itu, mulai dari melarang naik ojek online, meminjamkan sopir, hingga usapan di sudut bibirnya tadi berhasil membuat dada Naya berdebar kencang tanpa alasan yang jelas.
Menjelang pukul dua belas siang, Naya selesai bersiap-siap. Ia mengenakan kemeja putih kasual yang rapi dipadu dengan celana kain warna krem.
Rambutnya diikat rapi ke belakang. Setelah memeriksa berkas-berkas konsep gala amal dari Oma Soraya dalam tasnya, suara klakson mobil terdengar dari arah luar pagar.
Naya melangkah keluar dan mendapati sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir rapi. Pak Dudung, sopir pribadi kepercayaan keluarga Arka, langsung turun dan membukakan pintu untuknya dengan sangat sopan.
“Selamat siang, Ibu Naya. Pak Arka meminta saya mendampingi Ibu hari ini,” kata Pak Dudung ramah.
Naya tersenyum canggung saat disapa dengan sebutan 'Ibu'.
“Siang, Pak Dudung. Panggil Naya saja tidak apa-apa, Pak... saya belum terbiasa.”
Pak Dudung terkekeh pelan sembari menyetir menyusuri jalanan kota.
“Aduh, tidak berani saya, Bu. Pak Arka mewanti-wanti sekali tadi pagi. Katanya saya harus memastikan Bu Naya sampai di lokasi tepat waktu dan pulang dengan aman.”
Naya menggigit bibir bawahnya, berpaling menatap kaca jendela untuk menyembunyikan rasa hangat yang kembali menyusup ke dadanya. Arka benar-benar memperhatikan detail kecil yang bahkan tidak Naya minta.
Sesampainya di sebuah kafe bergaya modern di kawasan Senopati, Naya langsung disambut oleh perwakilan dari vendor dekorasi dan catering.
Pertemuan berjalan lancar. Naya mencatat setiap masukan, menawar beberapa harga paket agar sesuai dengan anggaran yayasan Oma Soraya, dan memeriksa pilihan menu yang ditawarkan. Kegigihan dan ketelitian Naya membuat perwakilan vendor terkesan, meski Naya sendiri masih merasa awam dalam mengurus acara besar.
*
*
Setelah menyelesaikan urusannya dengan pihak vendor, Naya meminta Pak Dudung mengantarnya ke sebuah kafe yang berjarak tak jauh dari perkantoran tempat Andrea bekerja. Di sanalah Andrea, sahabat karib Naya sudah menunggu di salah satu sudut kafe dengan secangkir es kopi di mejanya.
“Naya! Di sini!” panggil Andrea seraya melambaikan tangan saat melihat sosok sahabatnya melangkah masuk.
Naya tersenyum lega lalu duduk di hadapan Andrea. “Maaf ya, Andrea, sudah menunggu lama. Tadi urusan dengan vendor catering agak memakan waktu.”
“Tidak apa-apa, Naya. Jam istirahat aku juga masih agak panjang,” jawab Andrea santai.
“bagaimana perkembangan persiapan acara gala amalnya? Lancar?” sambung Andrea.
“Sejauh ini lancar. Semua konsep dan anggaran dari Oma Soraya sudah disetujui pihak vendor,” jelas Naya. Ia menghela napas pelan, mengumpulkan keberanian sebelum mengalihkan topik ke tujuan utamanya menemui Andrea.
Naya memajukan duduknya sedikit dan menatap Andrea serius. “Sebenarnya... selain mau cerita soal acara gala amal, ada hal penting lain yang mau aku tanyakan sama kamu.”
Andrea yang merasakan perubahan nada suara Naya ikut membetulkan posisi duduknya. “Soal apa, Nay? Sepertinya serius sekali.”
“Di kantor kamu... kira-kira sedang ada lowongan pekerjaan atau tidak?” tanya Naya pelan namun penuh harap. “Posisi apa saja, asal sesuai dengan kualifikasi aku. Staf administrasi, HRD, atau bagian umum juga tidak apa-apa.”
Andrea tampak sangat terkejut.
“Lho, Naya? Kamu kan sudah menikah dengan Pak Arka, berita kalian bahkan sudah tersebar di mana-mana! Bukannya posisi kamu di rumah keluarga besar itu sudah sangat terjamin? Kenapa kamu masih harus pusing mencari pekerjaan?”
Naya tersenyum tipis, ada raut gelisah yang tertangkap di matanya. Pernikahan mereka terjadi bukan karena saling cinta, dan berita di media justru membuat posisinya makin serba salah.
Ia tahu pernikahan ini hanyalah ikatan di atas kertas yang bersifat sementara. Ia tidak bisa terus-menerus menggantungkan hidup pada Arka, apalagi tinggal di bawah satu atap yang sama dengan pria itu justru makin mengacaukan perasaan dan pikirannya setiap hari.
“Aku hanya harus realistis, Andrea. Status pernikahan ini tidak mengubah kenyataan kalau aku harus punya kemandirian sendiri. Aku harus mulai mencari pegangan karir yang pasti untuk masa depan aku sendiri. Aku tidak bisa selamanya bergantung pada nama besar Pak Arka,” tutur Naya jujur.
Andrea menatap sahabatnya dengan pandangan penuh simpati. Ia tahu betul betapa mandirinya Naya dan bagaimana wanita itu tidak ingin memanfaatkan status barunya sebagai istri seorang Arka Dirgantara.
“Aku paham, Nay,” angguk Andrea pelan.
“Kebetulan sekali, minggu lalu divisi HRD di kantor aku baru saja membuka lowongan untuk posisi Administrative Officer. Tugasnya mengurus dokumen, jadwal operasional, dan laporan harian. Aku pikir kualifikasinya sangat cocok untuk kamu.”
Mata Naya langsung berbinar mendengar kabar itu. “Beneran, Ndre? Persyaratannya apa saja?”
“Nanti setelah kembali ke kantor, aku langsung minta berkas kualifikasinya ke bagian HRD lalu aku kirimkan ke kamu,” ujar Andrea mantap.
“Kamu siapkan saja CV terbaru kamu. Supaya nanti berkasnya bisa langsung aku titipkan ke manajer HRD lewat jalur internal.”
“Terima kasih banyak ya, Ndre! Kamu benar-benar sangat membantu aku,” ucap Naya lega, seolah satu beban besar di pundaknya baru saja terangkat.
Andrea tersenyum tipis melihat binar lega yang terpancar di wajah Naya, walau ia tak bisa memungkiri ada raut cemas yang masih tertinggal di sana.
“Sama-sama, Nay. Kita kan sudah bersahabat dari zaman kuliah, sudah kewajiban aku buat bantu kamu. Lagipula, kualifikasi kamu itu bagus. Pengalaman kamu sebelum menikah juga sangat cukup buat mengisi posisi ini.”
“Tapi, Ndre...” Naya menggigit bibir bawahnya, ragu-ragu.
“Proses rekrutmennya berapa lama, ya? Apa nanti ada wawancara langsung juga?”
“Biasanya untuk jalur rujukan internal seperti ini, prosesnya bisa lebih cepat. Kalau berkas kamu lolos seleksi administrasi minggu ini, kemungkinan minggu depan sudah dipanggil interview,” jelas Andrea. Ia lalu menatap Naya lebih dalam sembari memajukan tubuhnya.
“Tapi, Nay... kamu yakin Pak Arka bakal mengizinkan kamu kerja? Maksud aku, dia kan pengusaha berpengaruh. Jangan sampai niat kamu ini malah bikin masalah baru di antara kalian.”
Naya menghela napas panjang, mengaduk minumannya yang mulai mencair.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak