NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 — Lonceng di Ladang Gandum

Fajar di Desa Elar selalu berbau tanah basah dan asap kayu bakar.

Ardan sudah berada di ladang sebelum matahari benar-benar naik.

Tangannya yang kapalan menggenggam sabit tua peninggalan ayahnya, gagangnya licin oleh keringat puluhan tahun.

Ia memotong gandum dengan gerakan pelan dan teratur, seperti orang yang tidak pernah terburu-buru karena tahu hidupnya tidak akan ke mana-mana.

Dan ia baik-baik saja dengan itu.

"Ardan! Kau tidur di ladang lagi?"

Ia menoleh.

Tobin, sahabat masa kecilnya, berjalan menyusuri pematang sambil mengunyah sepotong roti keras.

Rambut cokelatnya berantakan, dan senyumnya lebar seperti biasa.

"Aku sampai lebih awal," jawab Ardan.

"Kau selalu sampai lebih awal. Itu sebabnya Bibi Marla bilang kau anak paling membosankan di Elar."

"Dia bilang begitu?"

"Dia bilang kau anak paling *baik* di Elar. Tapi aku tahu maksudnya." Tobin tertawa dan menyodorkan separuh rotinya.

Ardan menerimanya. Roti itu keras dan agak asam, tapi ia memakannya dengan lahap.

Di kejauhan, atap-atap jerami desa mulai mengepulkan asap.

Suara ayam bersahutan.

Seorang anak kecil berlari mengejar kambing yang lepas.

Pagi yang biasa.

Pagi yang, kelak, akan Ardan ingat lebih jelas daripada hari mana pun dalam hidupnya.

---

Menjelang siang, cuaca mulai panas. Ardan mengikat gandum menjadi berkas-berkas rapi dan menumpuknya di pinggir ladang.

Adik perempuannya, Nira, datang membawa kendi air.

Usianya sepuluh tahun, dan ia berjalan dengan dagu terangkat, seolah membawa harta kerajaan.

"Ibu bilang jangan lupa minum," katanya serius.

"Ibu bilang begitu setiap hari."

"Karena kau selalu lupa." Nira menyerahkan kendi itu, lalu duduk di atas tumpukan gandum tanpa diminta.

"Kak, kau dengar kabar dari pasar kemarin?"

"Kabar apa?"

"Katanya pasukan Kekaisaran mengumpul di perbatasan. Pak Dorn bilang mereka membakar sebuah benteng."

Ardan berhenti sejenak. Ia sudah mendengar desas-desus itu.

Semua orang di Elar membicarakannya sejak dua minggu lalu, dengan suara rendah dan mata yang sering melirik ke arah barat.

Tapi desa mereka kecil, terletak jauh di lembah, dan tidak ada apa pun di sini yang layak direbut siapa pun.

"Itu urusan para bangsawan," katanya akhirnya.

"Kita hanya petani, Nira. Tidak ada yang mau menyerang petani."

"Tapi kalau mereka datang?"

Ardan menatap adiknya.

Mata gadis itu bulat dan jernih, mata yang belum tahu betapa banyak hal buruk yang bisa terjadi di dunia.

"Kalau mereka datang," katanya pelan, "aku akan menjagamu."

Nira tersenyum puas, seakan itu janji paling pasti di dunia.

Ia meloncat turun dan berlari pulang, kepang rambutnya berayun.

Ardan memandangi punggungnya sampai hilang di balik pagar.

Ia tidak tahu bahwa itu terakhir kalinya ia melihat adiknya berlari dengan riang.

---

Sore hari, seluruh keluarga berkumpul di rumah kecil mereka. Ibu memasak sup kentang dengan sedikit daging asin, sesuatu yang jarang mereka nikmati.

Ayah duduk di kursi kayunya, mengasah pisau sambil bersenandung lagu lama yang nadanya selalu sumbang.

"Tahun ini panen bagus," kata Ayah.

"Kalau harga gandum tidak jatuh, kita bisa membeli seekor sapi."

"Kau bilang begitu tiap tahun," sahut Ibu tanpa menoleh dari panci.

"Dan suatu tahun aku pasti benar."

Ardan tersenyum kecil mendengar mereka. Percakapan itu sudah ia dengar ratusan kali, dan ia tidak pernah bosan.

Ada kehangatan dalam hal-hal kecil yang berulang.

Ia baru menyadarinya kelak, ketika semuanya sudah hilang.

Setelah makan, Ayah memanggilnya keluar ke beranda.

Langit sudah jingga keunguan. Jangkrik mulai berbunyi.

"Kau tahu, Nak," kata Ayah sambil menatap ladang mereka, "aku tidak pernah punya banyak untuk diwariskan padamu. Hanya tanah ini dan sabit itu."

"Itu cukup, Ayah."

"Kau memang anak yang mudah puas." Ayah menepuk bahunya. Tangannya besar dan berat, hangat oleh sisa kerja seharian.

"Tapi jangan biarkan orang memanfaatkan kebaikanmu. Dunia ini tidak selalu ramah pada orang yang percaya begitu saja."

"Kenapa Ayah tiba-tiba bicara begitu?"

Ayah tidak langsung menjawab. Matanya menatap jauh ke barat, tempat langit mulai gelap.

"Entahlah. Perasaan tua saja."

Mereka duduk dalam diam sampai bintang pertama muncul.

---

Malam turun.

Ardan berbaring di loteng kecil beratap rendah, menatap balok-balok kayu yang sudah ia hafal setiap retaknya.

Dari bawah terdengar suara Ibu menidurkan Nira dengan dongeng tentang pahlawan dan naga.

Ardan mendengarkan, setengah mengantuk.

Dalam dongeng itu, pahlawan selalu menang.

Pahlawan selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Pahlawan tidak pernah takut.

Ardan tidak pernah membayangkan dirinya menjadi pahlawan.

Ia hanya ingin panen yang baik, keluarga yang sehat, dan hari-hari yang tenang.

Itu saja.

Apakah itu terlalu banyak?

Matanya mulai berat. Angin malam berhembus lewat celah jendela, membawa bau gandum dan tanah.

Lalu, di antara kantuk dan sadar, ia mendengar sesuatu.

Sangat jauh. Sangat samar.

*Dong.*

Ardan membuka mata.

*Dong. Dong.*

Ia bangkit duduk.

Jantungnya berdegup tanpa ia tahu alasannya.

Suara itu datang dari menara kecil di tengah desa, lonceng tua yang hanya dibunyikan untuk tiga hal: kebakaran, banjir, atau kematian kepala desa.

Tidak pernah untuk perang.

*Dong. Dong. Dong. Dong.*

Kali ini bunyinya cepat dan panik, seperti orang yang menariknya dengan seluruh tenaga.

Di bawah, Ayah sudah berdiri.

Ia menatap ke atas, ke arah Ardan, dan wajahnya yang biasanya tenang kini pucat.

"Ardan," katanya. "Turun. Sekarang."

Dari jendela loteng, Ardan melihat cahaya oranye di ujung barat desa.

Bukan fajar.

Api.

Ardan menuruni tangga loteng dengan dua langkah sekaligus dan hampir terjatuh di anak tangga terakhir.

Rumah kecil itu sudah berubah.

Ibu berdiri di tengah ruangan dengan Nira dalam pelukannya, gadis kecil itu masih setengah tertidur dan menggosok matanya.

Ayah sedang menarik papan lantai di dekat perapian, tempat ia menyembunyikan sebuah karung kecil berisi koin perak, tabungan mereka selama bertahun-tahun.

"Ada apa, Ayah?" tanya Ardan. Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri, tipis dan tinggi.

"Pasukan," jawab Ayah singkat. Ia menyelipkan karung itu ke dalam mantelnya.

"Aku melihat mereka dari ladang barat sore tadi. Kupikir hanya pengintai. Aku salah."

"Kau *tahu*?" Suara Ibu bergetar. "Kau tahu dan tidak bilang apa-apa?"

"Aku tidak mau membuat kalian takut tanpa alasan." Ayah menutup mata sejenak, lalu membukanya lagi. Kali ini ada sesuatu yang keras di sana, sesuatu yang belum pernah Ardan lihat.

"Dengarkan aku baik-baik. Kita keluar lewat pintu belakang. Kita ke hutan di timur, ke sumur tua di balik bukit. Semua orang tahu tempat itu, tapi tidak ada yang mau ke sana malam-malam. Kita bersembunyi di sana sampai pagi."

"Bagaimana dengan rumah?" tanya Nira pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Ayah mengambil sabit tua dari dinding dan menyodorkannya pada Ardan.

Untuk sesaat, Ardan hanya menatap benda itu.

Ia sudah memegangnya ribuan kali, tetapi tidak pernah seperti ini.

"Bawa itu."

"Ayah, aku tidak—"

"Bawa."

Ardan menerimanya. Gagang kayu itu terasa dingin.

---

Di luar, malam sudah kehilangan wujudnya.

Langit di sebelah barat merah menyala.

Asap tebal bergulung, dan di bawahnya terdengar suara yang tidak pernah Ardan bayangkan bisa keluar dari tenggorokan manusia.

Jeritan.

Bukan satu, tetapi puluhan, saling menindih.

Dentang logam beradu.

Derap kuda.

Teriakan dalam bahasa yang tidak ia kenal.

Orang-orang berhamburan dari rumah mereka. Beberapa masih memakai pakaian tidur.

Seorang perempuan menggendong bayi dan berlari tanpa alas kaki.

Pak Dorn, si pedagang, menarik gerobaknya yang penuh barang, padahal semua orang tahu gerobak itu akan menahan laju mereka.

"Jangan melihat ke belakang," bisik Ayah. Ia menggenggam tangan Ibu, dan Ibu menggenggam tangan Nira. Ardan berlari di belakang mereka, sabit di tangan, napas memburu.

Mereka baru sampai di ujung jalan setapak ketika kuda-kuda itu muncul.

Datangnya dari sebelah kiri, menerobos kabut asap, tiga penunggang berzirah gelap dengan obor di tangan.

Kuda mereka terlalu besar untuk ukuran kuda desa.

Di dada zirah mereka terukir lambang burung hitam bersayap terbentang.

Ravharn.

"Lari!" teriak Ayah.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Orang-orang yang berlari di depan mereka terdorong ke segala arah.

Ardan merasakan seseorang menabraknya dari samping, lalu bahunya membentur dinding pagar. Sabitnya terlepas dan jatuh ke tanah.

Ketika ia mengangkat kepala, Ayah dan Ibu sudah tidak ada di tempat mereka tadi.

"Ayah?" Ia berdiri, goyah. "Ibu? *Nira*?"

Kerumunan bergerak seperti arus sungai, membawanya menjauh dari arah yang ia inginkan.

Ia mendorong, menyikut, berteriak. Suaranya tenggelam dalam kekacauan.

Di kejauhan, di antara kepala-kepala yang berlari, ia sempat melihat kepang rambut kecil yang berayun. Hanya sesaat.

"NIRA!"

Kepang itu menghilang di balik kepulan asap.

---

Ardan tidak tahu berapa lama ia mencari.

Mungkin sepuluh menit. Mungkin satu jam.

Waktu tidak lagi bekerja seperti biasa.

Ia berlari dari gang ke gang, memanggil nama-nama, melewati rumah-rumah yang mulai runtuh terbakar.

Ia melewati rumah Bibi Marla. Atapnya sudah habis dimakan api, dan di ambang pintu terbaring sesuatu yang tidak ia berani lihat lebih lama.

Ia menutup mulut dan terus berlari.

Ia menemukan sabitnya kembali di dekat pagar, tergeletak di antara jejak sepatu bot. Ia memungutnya tanpa berpikir.

Jari-jarinya gemetar begitu hebat sampai hampir tidak bisa menggenggam.

"Ardan!"

Suara itu membuat jantungnya melompat. Ia berbalik dengan harapan yang hampir menyakitkan.

Bukan Ayah. Bukan Ibu.

Tobin berlari ke arahnya dengan wajah hitam oleh jelaga, darah mengalir dari pelipisnya.

Senyum lebar yang biasa menghiasi wajah itu sudah lenyap sepenuhnya.

"Kau melihat keluargaku?" Suara Tobin patah. "Ayahku, adikku, mereka tidak ada di rumah, aku tidak—"

"Aku juga mencari keluargaku."

Mereka saling menatap. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, tidak ada satu pun lelucon yang bisa diucapkan.

"Hutan timur," kata Ardan akhirnya. "Ayahku bilang sumur tua. Mungkin mereka ke sana."

Tobin mengangguk cepat, seperti orang yang menerima satu-satunya harapan yang tersisa. "Ayo."

Mereka berlari berdampingan menyusuri jalan belakang, menghindari jalan utama yang kini penuh cahaya obor dan bayangan-bayangan bersenjata.

Api di kanan kiri membuat kulit Ardan terasa panas dan ketakutan membuat perutnya dingin, dua sensasi yang bertabrakan di dalam tubuhnya.

Di ujung gang, mereka melihat tepi hutan. Gelap dan tenang, seperti dunia lain.

Hampir sampai.

"Berhenti!"

Suara itu datang dari belakang mereka, dalam bahasa mereka sendiri tetapi dengan logat asing yang berat. Ardan dan Tobin membeku.

Seorang prajurit berdiri di mulut gang, siluetnya hitam di depan cahaya api.

Zirahnya bernoda.

Di tangannya tergenggam pedang yang berkilat merah, dan Ardan tidak ingin memikirkan warna apa yang menempel di sana.

"Anak-anak," kata prajurit itu, hampir terdengar lelah. "Letakkan senjata kalian."

Ardan menyadari bahwa ia masih memegang sabit.

Tangannya mengeras di gagangnya, dan ia tidak tahu apakah itu keberanian atau hanya tubuhnya yang menolak melepaskan satu-satunya benda yang terasa nyata.

"Ardan," bisik Tobin, "lepaskan saja."

Prajurit itu melangkah maju. Satu langkah. Dua.

Di belakangnya, sesuatu di jantung desa meledak, mungkin lumbung, mungkin gudang minyak.

Cahaya putih menyapu gang. Untuk sesaat Ardan bisa melihat wajah prajurit itu dengan jelas.

Ia masih muda. Tidak jauh lebih tua darinya.

Dan matanya sama sekali tidak kosong. Mata itu ketakutan, sama seperti mata Ardan.

Itulah yang paling membuat Ardan tidak bisa bernapas.

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!