Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Surat Tanpa Nama & Bayang Masa Lalu
Matahari pagi baru saja menyelinap di antara dedaunan, namun kediaman itu sudah tidak tenang. Seorang utusan istana datang membawa pesan tertulis, wajahnya serius, suaranya rendah namun tegas saat menyerahkan surat itu kepada A-Mei. Meiying melihatnya dari kejauhan, berdiri di ambang pintu kamarnya, merasakan ada sesuatu yang tak beres.
Tak lama kemudian, A-Mei datang ke kamarnya, wajahnya pucat, tangannya gemetar memegang selembar kertas yang dilipat rapi.
"Nyonya..." suaranya nyaris tak terdengar. "Ada laporan... dikirimkan ke istana. Isinya menyatakan bahwa Nyonya bukanlah Rouran yang sesungguhnya."
Darah seakan membeku di tubuh Meiying. Ia mundur selangkah, lututnya lemas. "Apa... apa yang dikatakan?"
"Surat itu tidak bertanda nama," lanjut A-Mei, matanya penuh belas kasihan sekaligus takut. "Tapi isinya rinci. Menyebutkan perbedaan wajah, kebiasaan, cara bicara... Jenderal sedang membacanya sekarang di ruang kerja. Ia memanggil Nyonya."
Meiying menelan ludah yang terasa pahit. Ia tahu siapa yang melakukannya — Nona Su. Tidak ada orang lain yang begitu membenci kehadirannya, yang begitu ingin melihatnya hancur.
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Terima kasih sudah memberi tahu, A-Mei. Saya akan menemui Jenderal sekarang."
Langkah kakinya berat menuju sayap barat. Koridor di sini lebih gelap, lebih sepi, dikelilingi bayangan pepohonan rimbun yang menutupi cahaya matahari. Setiap langkah terasa seperti menuju penghakiman. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan, bagaimana membela diri, atau apakah kebohongannya sudah berakhir di detik ini.
Di depan pintu ruang kerja, ia berhenti, menata napas, lalu mengetuk pelan.
"Masuk," suara Wei Chen terdengar rendah, tak bisa dibaca emosinya.
Meiying mendorong pintu terbuka perlahan. Ruangan itu luas, dipenuhi rak buku tinggi yang menjulang hingga ke langit-langit. Di tengahnya, di balik meja kayu hitam yang besar, Wei Chen duduk tegak, surat itu tergeletak di hadapannya. Ia menatap ke arah jendela, punggungnya kaku, seakan sedang bergumul dengan sesuatu yang berat.
"Jenderal..." panggilnya pelan.
Ia berbalik perlahan, menatapnya. Matanya tidak marah — setidaknya bukan amarah yang meledak-ledak — melainkan penuh tanya yang dalam, menyakitkan.
"Kau tahu mengapa kau dipanggil ke sini?" tanyanya, suaranya rendah dan berat.
Meiying mengangguk pelan. "A-Mei memberi tahu saya."
Wei Chen menunjuk surat itu dengan ujung jarinya. "Penulisnya menuliskan hal-hal yang tidak bisa disangkal. Bahwa kau tidak sama dengan Rouran yang pernah dilihat orang-orang. Bahwa kau tidak tahu hal-hal yang seharusnya kauketahui. Bahwa kau... mungkin orang lain."
Ia berhenti, menatapnya lekat-lekat, seakan ingin membaca kebenaran langsung di matanya.
"Kau tahu apa artinya jika ini terbukti benar, Meiying?"
Nama itu meluncur dari bibirnya begitu pelan, begitu lembut, seakan ia sendiri tak bermaksud mengucapkannya. Meiying tertegun — ia tidak pernah menyebutkan namanya kepada siapa pun di sini.
"Anda... tahu nama saya?" suaranya bergetar.
Wei Chen menghela napas panjang, berdiri, berjalan perlahan mendekatinya. "Saya menyelidiki keluargamu. Sejak awal saya curiga. Rouran digambarkan gadis yang riang, suka berpesta, pandai bicara. Sedangkan kau... kau pendiam, lembut, dan berani membela orang lain. Kau berbeda."
Meiying menunduk, air mata tak kuasa ditahan lagi jatuh di pipinya. "Maafkan saya, Jenderal... Saya tidak bermaksud menipu Anda. Tapi Ayah terancam, keluarga saya bisa hancur..."
Ia menceritakan semuanya — perpisahan dengan keluarganya, kaburnya Rouran, ketakutan ibunya, keputusannya untuk menggantikan sepupunya. Ia bercerita dengan suara yang terputus-putus, tanpa menyembunyikan apa pun, siap menerima hukuman apa pun yang datang.
Ketika ia selesai, keheningan menyelimuti ruangan itu cukup lama. Wei Chen berdiri diam, menatapnya, wajahnya sulit dibaca.
"Jadi kau rela mengorbankan dirimu demi keluargamu?" tanyanya pelan.
"Saya tidak menyebutnya pengorbanan," jawab Meiying, menyeka air matanya. "Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seseorang untuk orang yang dicintainya."
Wei Chen menatapnya, dan perlahan tatapan tajamnya melunak. "Kau tahu... saya pernah berpikir semua orang yang mendekat ke sini hanya menginginkan kekuasaan atau perlindungan. Tapi kau... kau datang bukan untuk dirimu sendiri."
Ia berjalan kembali ke meja, meraih surat itu, lalu merobeknya menjadi bagian-bagian kecil.
"Surat ini tidak akan sampai ke kaisar," ucapnya tegas. "Saya akan menanganinya."
Meiying menatapnya tak percaya. "Mengapa... Anda melakukan ini?"
Wei Chen terdiam sejenak, lalu menatap lurus ke matanya. "Karena... selama ini, hanya kau yang memperlakukan saya seperti manusia, bukan seperti senjata atau ancaman. Dan saya tidak bisa membiarkan orang yang tulus seperti kau hancur hanya karena kesetiaanmu pada keluargamu."
Ia berhenti, seakan menyadari apa yang baru saja ia katakan, lalu berbalik sedikit. "Tapi ini belum berakhir. Penulis surat itu akan mencoba lagi. Kita harus berhati-hati."
Siang harinya, Meiying berjalan perlahan di perpustakaan kediaman, tempat yang tenang dan sepi, berusaha menenangkan hatinya. Di antara tumpukan gulungan kuno, ia menemukan sebuah buku harian lama, sampulnya kulit sudah mengelupas. Ia tak bermaksud membacanya, namun halaman yang terbuka menarik perhatiannya.
Tulisan tangan itu halus namun goyah, seakan ditulis dengan tangan yang gemetar:
"Ia pulang dari perbatasan bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai orang yang telah kehilangan separuh jiwanya. Ia tidak bicara, tidak tersenyum, menatap semua orang dengan curiga. Kesedihannya menelan dirinya sendiri."
Meiying menutup buku itu perlahan, menyadari sesuatu yang mendalam. Wei Chen tidak dingin tanpa alasan. Di balik tembok itu ada luka yang belum sembuh, kesedihan yang ia sembunyikan di balik sikap tegasnya.
Saat ia hendak meletakkan buku itu, suara langkah kaki terdengar di pintu. Wei Chen berdiri di sana, menatap buku di tangan Meiying, wajahnya pucat seketika.
"Siapa yang mengizinkanmu menyentuhnya?" suaranya tajam, berbeda dari tadi.
"Saya tidak bermaksud mengintip..." Meiying melangkah mundur, takut. "Halaman itu terbuka sendiri..."
Wei Chen berjalan mendekat, merampas buku itu dari tangannya, menutupnya rapat-rapat. "Ini urusan pribadi. Jangan pernah menyentuhnya lagi."
Namun di balik kemarahannya, Meiying melihat sesuatu yang lain — ketakutan. Ia takut rahasianya diketahui, takut kelemahannya dilihat orang lain.
"Saya mengerti," jawabnya pelan, tak melawan. "Dan saya tidak akan bertanya. Tapi... jika ada sesuatu yang membebani hati, berbagi bisa meringankannya. Anda tidak harus memikulnya sendirian."
Wei Chen menatapnya, bibirnya terkatup rapat. Ia ingin berkata sesuatu, namun akhirnya hanya berbalik. "Kembali ke kamarmu."
Meiying pergi, namun hatinya tidak sedih. Ia tahu — di balik ketegasan itu, ada hati yang terluka, dan perlahan ia mulai memahami mengapa ia begitu dingin.
Sore itu, Nona Su datang berkunjung.
Ia tiba dengan kereta indah, diiringi dua pelayan, wajahnya tersenyum sinis saat melangkah masuk ke halaman kediaman. Saat Meiying menyambutnya di ruang tamu, ia tidak duduk, melainkan berjalan berkeliling, menatap tajam ke arah Meiying.
"Surat itu dikirim kemarin," ucapnya pelan begitu pelayan pergi, tanpa berusaha menyembunyikan. "Kenapa belum ada kabar dari istana?"
Meiying berdiri tegak, menatapnya tenang. "Jenderal sudah membacanya. Dan ia memutuskan tidak melaporkannya."
Wajah Nona Su memerah. "Kau membujuknya? Kau memanfaatkan kelemahannya?"
"Saya tidak memanfaatkan siapa pun," jawab Meiying mantap. "Jenderal tahu kebenaran. Dan ia memahami alasan saya."
Nona Su melangkah mendekat, suaranya meninggi. "Kau pikir kau bisa tinggal di sini selamanya? Kau bukan Rouran! Kau bukan siapa-siapa! Aku akan membuktikannya kepada semua orang!"
"Kau boleh mencoba," suara Wei Chen terdengar dari pintu. Ia berdiri di sana, tatapannya tajam dan menakutkan. "Tapi ingat — setiap kebohongan yang kau sebar, akan kembali kepadamu sendiri. Aku sudah menyelidiki siapa yang menulis surat itu. Dan aku tahu siapa yang mengirimnya."
Nona Su mundur, wajahnya pucat. "Jenderal... saya hanya..."
"Cukup," potongnya tegas. "Kau boleh pergi sekarang. Dan jangan pernah kembali ke kediaman ini lagi."
Nona Su menatap mereka berdua, menyadari tak ada yang bisa dilakukannya lagi, lalu berbalik pergi dengan langkah tergesa-gesa, penuh kemarahan sekaligus malu.
Ruangan kembali hening. Wei Chen menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Meiying. "Ia tidak akan mengganggumu lagi."
"Terima kasih, Jenderal," jawabnya pelan.
Ia menatapnya, lalu perlahan mengulurkan tangannya — menyentuh ujung jari Meiying dengan lembut, seakan takut ia akan lari. "Kau memanggilku Wei Chen saja. Tidak perlu 'Jenderal' terus-menerus."
Meiying menatapnya, jantungnya berdegup pelan namun hangat. "Baik... Wei Chen."
Nama itu terasa asing di lidahnya, namun terdengar begitu akrab di telinganya.
Malam itu, Meiying duduk di jendela kamarnya, menatap bulan yang bersinar terang. Pintu terbuka pelan. Wei Chen berdiri di sana, membawa selembar kain tenunan halus.
"Ini milik ibuku," ucapnya pelan, menyerahkan benda itu. "Ia menenunnya sendiri. Katanya... untuk istri yang tulus."
Meiying menerimanya dengan hati-hati. Kain itu hangat, bermotif bunga krisan, lembut dan indah.
"Mengapa Anda memberikannya kepada saya?" tanyanya pelan.
Wei Chen menatapnya, dan untuk pertama kalinya, sudut bibirnya terangkat sedikit — bukan senyum lebar, namun cukup untuk mengubah seluruh wajahnya.
"Karena kau layak menerimanya," jawabnya lembut. "Dan... karena kau bukan sekadar pengantin pengganti bagiku lagi."
Ia berhenti, seakan menyadari berat kata-katanya, lalu menunduk sedikit. "Istirahatlah, Meiying. Besok ada hal lain yang harus kita hadapi — bersama-sama."
Ia pergi, meninggalkan Meiying memegang kain itu erat di dadanya, tersenyum tanpa sadar, hatinya terasa penuh untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah.
Di luar, angin malam berhembus lembut, membawa bau bunga krisan yang harum. Dan di kediaman yang dulu terasa dingin dan sepi itu, perlahan tumbuh sesuatu yang baru — rapuh, belum pasti, namun nyata: awal dari ikatan yang bukan ditulis oleh kaisar, melainkan oleh ketulusan hati.