NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Duda Pengacara

Menikah Dengan Duda Pengacara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ulfa Zahra

"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gadis kecil

Angin sore berhembus menerbangkan dedaunan yang berguguran di jalan. Angin sore kali ini terasa dingin daripada angin biasanya. Mungkin karena hujan akan turun, apalagi awan-awan hitam terlihat berat seperti ingin jatuh kepermukaan bumi.

Seorang gadis muda yang memiliki rambut sebahu melewati trotoar. Langkah kakinya terus melewati jalan beraspal, bahkan dia tidak menghiraukan setiap suara kendaraan yang melewatinya.

Gadis yang sedang berjalan kaki itu, tidak lain adalah Azkia. Azkia dikenal sebagai gadis yang sangat rutin berjalan kaki, dari kampus sampai ke rumahnya. Bukan karena dia tidak mampu untuk menaiki kendaraan beroda dua maupun roda empat. Hanya saja dia malas untuk menaiki kendaraan, apalagi saat sore hari.

Karena menurut Azkia menaiki kendaraan saat sore hari, sama saja membuang-buang waktunya. Apalagi kalian tau sendiri seberapa macetnya kota Jakarta saat jam pulang kerja.

Orang bisa saja menghabiskan waktu mereka selama satu jam di jalan hanya untuk mengantri di tengah kemacetan panjang. Sungguh, Azkia sangat tidak suka membuang-buang waktunya hanya untuk hal sepele, makanya dia memilih untuk berjalan kaki.

Langkah Azkia harus terhenti, saat dia mendengar suara yang sepertinya sedang menangis.

Huuuuaaa

"Apakah ibunya tidak bisa menjaga anaknya, sampai dia membiarkannya menangis kencang seperti itu?" Gumam Azkia mendengar suara itu."Biarkan saja Kia. Itu urusan ibunya, bukan urusanmu. Sebaiknya kamu lanjutkan saja perjalananmu, karena sebentar lagi akan turun hujan." Ucap Azkia yang mencoba untuk mengabaikan, dan kembali melanjutkan langkahnya. Tapi langkah itu lagi-lagi harus terhenti saat mendengar suara itu semakin kencang.

Bagaimanapun, Azkia tidak memiliki hati untuk meninggalkan tempat itu. Apalagi pikirannya terus tertuju pada suara tangis yang membuatnya merasa kasihan.

"Sebaiknya aku memeriksanya, daripada aku kepikiran sampai di rumah." Azkia mengikuti hatinya untuk berhenti dan memeriksa. Siapa tau orang tua dari anak itu tidak bisa mendiamkan dan membiarkannya menangis kencang.

Azkia mencari tau asal dari suara tangisan itu. Sampai dia melihat gang kecil yang terlihat gelap dan kotor. Tapi bukan itu yang membuat Azkia menatap gang kecil itu. Melainkan dia melihat seorang gadis kecil yang sedang berdiri sambil menangis. Gadis kecil itu terlihat sendirian dan tidak ada orang lain disampingnya.

"Siapa yang meninggalkan gadis kecil ini disini?" Gumam Azkia bingung. Karena kasihan. Azkia melangkah mendekati gadis kecil itu, lalu membungkuk dengan melipat kakinya menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu, yang terlihat menyedihkan.

Huuaaa.

"Hay gadis manis, kenapa kamu bisa berada disini? terus dimana ibumu? Apakah kamu tersesat?" Tanya Azkia mengambil tubuh kecil itu lalu menggendongnya.

Gadis kecil itu yang sepertinya merespon pertanyaan Azkia, menghentikan tangisnya. Lalu dia menatap Azkia dengan mata yang sembab.

Azkia yang melihat mata sembab itu, merasa lucu. Karena terlihat menggemaskan saat mata yang terlihat basah itu menatap ke arahnya.

"Kamu terlihat menggemaskan saat diam seperti ini gadis manis." Ucap Azkia sambil tersenyum."Kenapa kamu bisa berada disini? Dimana orang tuamu?"

Gadis kecil itu merespon pertanyaan Azkia dengan cara memeluk lehernya. Seperti mencari perlindungan di sana, gadis kecil itu juga menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Azkia.

"Unda?" Lirih gadis kecil itu, membuat Azkia terkejut mendengar panggilan Bunda untuknya.

"Apa nggak salah nih bocah memanggilku dengan panggilan, bunda?" Batin Azkia tampak kebingungan saat mendengar panggilan itu. Walaupun kurang jelas, tapi Azkia masih bisa mengartikannya dengan baik kalau gadis kecil itu memanggilnya dengan panggilan bunda.

"Unda, tangan tingaltan kifa, kifa tatut unda." Lirih gadis kecil itu semakin memeluk tubuh Azkia dengan erat.

Gadis kecil itu memeluk Azkia dengan erat, seperti takut kehilangannya. Belum selesai keterkejutannya, lantaran di panggil bunda oleh gadis kecil yang tidak sengaja dia temui. Tapi keterkejutannya semakin menjadi saat mendengar perkataan gadis kecil itu.

Sungguh sore ini adalah sore membingungkan untuknya.

Azkia sedikit melonggarkan pelukannya, agar bisa menatap gadis kecil itu kembali." Gadis manis, kenapa kamu memanggilku bunda?" Gadis kecil itu hanya diam tidak merespon pertanyaan Azkia." Gadis manis, jangan memanggilku bunda, tapi panggilannya kakak. Karena aku bukan bunda mu!" Ucap Azkia dengan lembut menatap gadis kecil itu, yang sama-sama menatapnya.

"Tapi kata kak Fata, unda itu, undanya kifa dan kak Fata." Jawab gadis kecil dengan polosnya.

"Kak Fata? Siapa dia, Apakah kakakmu?" Gadis kecil, yang belum Azkia ketahui namanya, hanya mengangguk." Kenapa perkataan gadis kecil ini, semakin membuatku bingung. Siapa gadis kecil ini? lalu kenapa dia memanggil ku bunda? dan siapa Fata? Emangnya ada hubungan apa aku dengan gadis kecil ini?" Batin Azkia bertanya-tanya

"Sudah, lupakan ucapan gadis kecil ini. Mending sekarang, aku tanyakan nama dan kenapa dia bisa sampai disini." Gumam Azkia." Gadis manis. Kakak belum tau siapa nama kamu?" Tanya Azkia dengan lembut sambil melangkah kecil meninggalkan gang kecil itu.

"Kifa unda, nama ade kifa." Azkia mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban gadis kecil itu, Karena nama yang gadis kecil itu sebutkan tidak terlalu jelas.

"Kifa?"

"No, unda. Nama ade kifa." Sungguh bahasa yang membuat Azkia susah untuk memahaminya.

"Lalu kalau bukan, kifa. Nama mu siapa…hmm?" Karena masih bingung, Azkia masih saja bertanya tentang namanya, yang membuat gadis kecil itu cemberut.

"Unda, Nama ade, kifa. K,h,i,l,f,a. Kifa." Ucap gadis kecil itu kembali, sambil mengulang namanya dengan cara mengejanya, tidak lupa dengan wajah yang cemberutnya.

"Khilfa? Apakah, namamu Khilfa?" Gadis kecil itu mengangguk dengan tersenyum. Artinya tebakan Azkia betul tentang nama gadis kecil, yang ternyata bernama Khilfa.

"Nama yang cantik, sama seperti orangnya." Ucap Azkia." Terus, kenapa Kilfa bisa ada disini? Lalu ayah dan ibunya Kilfa ada dimana?" Tanya Azkia sambil menurunkan tubuh kecil itu di atas trotoar.

"Papa, sedan kelja unda. Kalau ibu na, kifa, ya unda." Jawab Khilfa.

"Bunda? Apa nggak salah nih anak manggil aku bunda lagi, sedangkan aku baru saja mengenalnya." Batin Azkia." Khilfa, sayang. Jangan panggil kakak dengan panggilan bunda, tapi manggilnya kakak! Karena kakak bukan bunda mu, apa khilfa mengerti!"

"No, unda. Unda, tetap, unda na Kifa, butan kaka." Jawab Khilfa, yang sepertinya tetap kekeh dengan panggilannya." Tapi, talau unda tidak suka denan pandilan Kifa, ya tidak apa-apa." Lirih khilfa dengan mata yang sudah berebun.

"Baiklah-baiklah, khilfa boleh memanggil kakak dengan panggilan bunda! Tapi khilfa jangan nangis ya!" Ucap Azkia yang memilih mengalah daripada melihat gadis kecil itu kembali menangis, seperti tadi."Huh, gadis kecil ini terlalu pintar ya, sampai-sampai dia berani mengancamku dengan cara menangis." Gumam Azkia, saat melihat senyuman gadis kecil itu kembali terbit.

"Emm…Khilfa tau ngga rumah khilfa ada dimana? Nanti kakak anterin Khilfa pulang."

"Luma, Kifa jauh unda. ada di cana." Jawab Khilfa sambil menunjuk ke arah jalan.

"Terus kalau rumah Khilfa jauh, kenapa Khilfa bisa ada disini? Lalu Khilfa kesini naik apa dan sama siapa?"

“Hmmm…Tadi Khilfa dalam kaki sendili unda, tapi tidat tau kenapa Kifa bisa ada dicini." Jelas Khilfa dengan wajah polosnya.

"Khilfa kesini sendiri? Jalan kaki?." Khilfa menganggukan kepalanya." Ya, tuhan. Terbuat dari apa gadis kecil ini, sampai-sampai dia berani jalan sendiri di jalan raya tanpa pengawasan orang tuanya. Benar-benar orang tua yang tidak bertanggung jawab, membiarkan anaknya keluar tanpa pengawasan." Gumam Azkia, yang merasa geram dengan orang tua Khilfa yang tidak becus menjaga anaknya, dan membiarkan gadis kecil itu pergi keluar, tanpa pengawasan.

Untung saja tidak terjadi sesuatu kepada gadis kecil itu, kalau tidak. Entah apa yang akan terjadi. Sungguh Azkia ingin memarahi kedua orang tua Khilfa, karena tidak becus menjaganya.

"Khilfa. Khilfa masih tau ngga jalan rumah Khilfa ada dimana?" Khilfa menggeleng kepalanya, tanda kalau dia tidak tau.

"Kifa tidat tau unda, coalna kifa lupa dalan dimana tadi." Jawaban gadis kecil itu membuat Azkia menghembuskan nafasnya. Karena dia harus mengantar gadis kecil ini pulang, mengingat sekarang sudah hampir malam, dan sebentar lagi akan turun hujan.

"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus membawanya pulang? Tidak-tidak, kalau aku sampai membawa nya pulang, yang ada aku di tunduh penculik lagi sama orang tua gadis kecil ini, karena membawanya pulang, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Tapi kalau aku tinggalkan gadis kecil ini disini, kasian dia. Aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya." Gumam Azkia, yang terlihat kebingungan menatap gadis kecil itu. Sangking bingungnya, otaknya sampai tidak bisa berpikir sekarang.

"Ya tuhan, Khilva!!" Suara seseorang, membuat Azkia menoleh kebelakang, dan dia bisa melihat kalau ada wanita paruh baya bersama dengan pria tinggi berstelan rapi, sedang melangkah kearah mereka dengan sedikit berlari.

"Oma, uncl." Khilfa terlihat tersenyum. Kaki kecil, yang tadi hanya berdiri saja, langsung berlari kearah kedua orang itu, yang sedang melangkah kearah mereka.

"Oma? uncl?" Terlihat kalau Azkia masih kebingungan melihat kedatangan kedua orang itu, yang di panggil Oma dan juga uncl, oleh Khilfa.

"Ya tuhan cucu, oma." Wanita paruh baya itu langsung menyambut cucu nya, lalu memeluknya dengan erat. Bahkan Azkia bisa melihat, kalau wajah penuh kekhawatiran tadi berubah." Kamu kenapa bisa sampai disini dek. Oma tadi cariin."

"Hihihi, maaf Oma. Tadi Kifa kelual tanpa kasih tau oma dulu." Ucap Khilva dengan tersenyum menggemaskan.

" Lain kali jangan gitu dek, Oma khawatir. Untung Oma bisa temukan kamu, kalau tidak pasti Oma bakal di marahin, Opa."

" Iya, Oma. Kifa dandi keluar na, nanti nomon sama Oma." Jawab Khilfa." Oma, Kifa udah ketemu cama unda."

" Bunda?" Ucap kedua orang itu yang tampak kebingungan.

" Iya Oma, uncl. Kifa uda ketemu cama unda." Khilfa melepaskan pelukannya, lalu melihat kearah Azkia." Itu, unda na Kifa, Oma." Khilfa menarik tangan Oma nya itu dengan sedikit paksaan, untuk pergi kearah Azkia, sedangkan pria tadi hanya mengikuti langkah keduanya.

" Oma, ini unda na Kifa dan kak Fata. Unda na Kifa cantik kan?"

Wanita paruh baya itu, tersenyum saat melihat Azkia dengan jelas dihadapannya. Ternyata orang yang menemukan cucunya adalah gadis cantik." Apakah anda orang yang menemukan cucu saya?"

" Iya nyonya, saya orang yang menemukan cucu nyonya tadi." Jawab Azkia dengan canggung saat wanita paruh baya itu tersenyum kepadanya.

Azkia bukan gadis yang gampang berkenalan dengan orang, makanya setiap ada orang yang mengenalnya pasti dia akan merasa canggung seperti sekarang. Apalagi Azkia dikenal sebagai gadis yang tidak banyak bicara, bahkan susah untuk didekati, kalau sudah sama orang asing.

" Terimakasih nona, saya tidak tau kalau tidak ada anda tadi, apa yang akan terjadi pada cucu saya. Terimakasih sudah menemukannya, dan menjaga cucu saya." Ucap wanita paruh baya itu tersenyum.

" Tidak apa nyonya, Saya juga kebetulan lewat disini tadi, dan kebetulan melihatnya sedang menangis." Jawab Azkia." Maaf, nyonya. Tolong awasi gadis kecil ini dengan baik. Karena diluar terlalu berbahaya untuknya, apalagi kita tidak tau kapan bahaya itu datang."

Azkia tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu. Tapi mengingat Khilfa menangis dan mengingat cerita gadis kecil itu, membuat Azkia mengatakan apa yang ingin dia katakan sebelumnya. Sebenarnya perkataan Azkia tadi, khusus untuk kedua orang tua Khilva. Tapi yang datang mencari gadis kecil itu bukan orang tuanya, melainkan Oma dan uncl nya, maka perkataan Azkia tadi, dia keluarkan ke wanita paruh baya itu .

Wanita paruh baya itu, bukannya marah, saat mendengar perkataan Azkia. Tapi dia malah tersenyum." Terimakasih sudah mengingatkan saya nona, saya akan menjaga cucu saya dengan lebih baik lagi, agar kejadian seperti ini tidak kembali terulang."

Azkia merasa lega saat mendengar jawaban wanita paruh itu." Baiklah, karena Khilfa sudah bertemu dengan Oma nya, saya ijin duluan nyonya, kerena sebentar lagi akan turun hujan." Ijin Azkia yang merasakan tetesan hujan mulai berjatuhan.

" Nona, karena sudah hujan, bagaimana kalau putra saya mengantarkan anda pulang." Tawar wanita paruh baya itu.

" Tidak usah nyonya, terimakasih. Saya bisa naik angkot, dan kebetulan rumah saya tidak terlalu jauh." Tolak Azkia." Khilfa, kakak duluan ya. Mari nyonya, tuan." Azkia menghentikan taksi yang kebetulan lewat disitu.

" Unda, unda tenapa tidalin Kifa?" Gadis kecil itu yang melihat Azkia ingin menaiki taksi, langsung berlari kearahnya." Unda danan tindalin Kifa." Lirih khilfa yang kini sudah menagis.

" Khilva, nanti lagi ya, Ini udah hujan. Kapan-kapan kita ketemu lagi sama kakak." Wanita baya itu mencoba untuk menenangkan cucu nya itu, yang tidak mengijinkan Azkia untuk pergi.

" No, Oma. Kifa mau na cama unda.. hiksss." Azkia yang melihat gadis kecil itu menangis, merasa tidak tega. Rasanya dia ingin mendiamkan gadis kecil itu, Tapi supir taksi yang berada didalam mobil menyuruhnya untuk cepat-cepat masuk, karena kendaraan banyak yang membunyikan klakson di belakang sana.

" Maaf Khilfa, kakak duluan. Mari nyonya." Azkia langsung menaiki taksi itu. Dengan pelan, taksi itu mulai berjalan meninggalkan tempat dimana sekarang Khilva sedang menangis.

" Maaf gadis kecil. Tapi kalau takdir masih mengijinkan kita untuk bertemu lagi. Maka kita akan di pertemuan kembali. Kamu gadis kecil yang cantik dan pintar. Melihat usiamu yang masih di bilang balita, kamu begitu sangat pintar menjawab setiap pertanyaan ku tadi." Batin Azkia tersenyum. Azkia menoleh, untuk melihat kearah belakang, dan samar-samar, dia masih bisa melihat, kalau ada yang menggendong gadis kecil itu. Tapi bukan pria yang tadi di panggil uncl, melainkan pria yang lain.

Bersambung….

1
Lisa
Arkanza benar² org yg aneh..
Lisa
👍👍 Azkia..semangat yaa 💪
Lisa
Setuju Kak..Azkia harus bersikap tegas terhadap Arkanza..
Ulfa Zahra: okey kak
total 1 replies
Sak
jangan mau kalah Azkia. lanjutkan Thor
Ulfa Zahra: siap kak
total 1 replies
Lisa
😊😊👍 biar kapok tuh si Arkanza
Sak
Nggak apa-apa Vatha masih ada bunda mu di rumah..
Lisa
Kasihan banget y Vatha..punya papa model kyk gitu 🤭
Ulfa Zahra: harus banyak banyak sabar kak
total 1 replies
Lisa
Kasihan 2 anak itu..moga aj papanya mau membuka hatinya utk wanita lain.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!