Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Untuk apa menyangkal?...
Denting halus elevator pribadi memecah kesunyian sore di penthouse. Langkah kaki yang tergesa-gesa namun tegap bergema cepat di atas lantai marmer foyer. Ayden kembali lebih awal dari Singapura. Pria itu sengaja memajukan jadwal penerbangannya dan membatalkan sisa perundingan bisnis setelah panggilan teleponnya dengan Aisyah beberapa jam lalu meninggalkan prasangka yang mengusik ketenangannya.
"Mas Ayden? Lho, kok sudah pulang?" Bi Sumi setengah berlari dari arah dapur, terkejut melihat majikannya berdiri di ruang tengah dengan kemeja kancing atas yang sudah terbuka dan jas tersampir di lengan.
"Di mana Aisyah, Bi?" tanya Ayden tanpa basa-basi. Suaranya rendah, menyembunyikan ketergesaan yang tak biasa.
"Nyonya... Nyonya Aisyah dari tadi siang ada di dalam ruang kerja Mas Ayden," jawab Bi Sumi cemas. "Tadi Bibi sempat mengetuk pintu karena mendengar ada suara barang jatuh. Tapi Nyonya bilang tidak apa-apa dan minta jangan diganggu. Suaranya serak sekali, Mas..."
Tanpa menunggu Bi Sumi menyelesaikan kalimatnya, Ayden memutar tubuhnya. Langkah kakinya bergerak cepat menyusuri lorong temaram menuju sudut paling belakang penthouse.
Tepat di depan pintu kayu tebal ruang kerja pribadinya, Ayden berhenti sejenak. Ia meraih gagang pintu dan memutarnya. Pintu itu tidak terkunci.
Dengan dorongan pelan, pintu meluncur terbuka.
Aroma kayu cendana yang biasa menenangkan kini terasa pengap dan mencekik. Cahaya sore yang memudar dari balik jendela kaca raksasa melemparkan bayangan temaram di dalam ruangan. Dan di sana, di tengah remang malam yang mulai merayap, Ayden menyaksikan sebuah pemandangan yang seketika menghentikan aliran darah di nadinya.
Lukisan laut malam di dinding barat telah tergeser lebar. Pintu brankas baja hitamnya menganga terbuka.
Di lantai marmer yang dingin, Aisyah terduduk membisu. Lembaran-lembaran kertas bukti kejahatan keuangan, laporan audit rahasia, serta salinan akuisisi akuisisi berlogo perisai emas Dinantara Utama Group berserakan tak beraturan di sekeliling tubuhnya.
Suasana hening total. Hanya ada deru pendingin udara yang berembus konstan.
Ayden melangkah masuk perlahan. Suara sepatu kulitnya membentur marmer bagaikan ketukan lonceng kematian. Ia berdiri dua meter di depan Aisyah, menatap istrinya yang sama sekali tidak mendongak ataupun bergerak.
"Aku sudah menduga ada yang tidak beres dengan suaramu di telepon tadi," ucap Ayden. Suaranya mengalun pelan, namun tidak ada lagi getaran kehangatan yang biasa ia obral setiap pagi.
Aisyah tidak menjawab. Jemarinya yang memucat masih mengusir pinggiran lembar kertas audit di pangkuannya.
"Kau menemukan kombinasi brankas itu dari Bi Sumi, bukan?" tanya Ayden lagi, melipat kedua tangannya di dada. "Tanggal lahir ibuku. Sederhana, tapi cukup efektif untuk orang seperti yang sangat ingin tahu."
Aisyah perlahan mengangkat kepalanya. Pandangan mereka bertabrakan di udara yang membeku.
Detik itu juga, untuk pertama kalinya sejak hari pertama mereka bertemu di galeri seni bertahun-tahun lalu, topeng pria penyayang, suami teladan, dan pelindung yang hangat meluruh sepenuhnya dari wajah Ayden.
Tidak ada lagi binar mata yang memuja. Tidak ada lagi senyuman manis mengayomi yang mampu meluluhkan kebekuan hati. Yang tersisa di wajah tampan itu hanyalah raut dingin yang tajam, tanpa ampun, dan dipenuhi oleh keangkuhan yang mematikan. Pria di hadapannya kini adalah wujud murni dari seorang pemburu yang tak lagi merasa perlu menyembunyikan taringnya.
Ayden tidak mencoba menutup pintu brankas. Ia tidak mencoba merebut kembali kertas-kertas itu. Ia bahkan tidak membuang napas untuk menyusun kebohongan baru.
"Kau sudah membaca semuanya?" tanya Ayden datar, bibirnya perlahan mengukir sebuah senyuman—sebuah senyum sinis yang teramat mengerikan, memperlihatkan kepuasan yang tersembunyi di balik kekejaman. "Setiap lembar laporan audit? Setiap surat akuisisi beracun itu?"
"Jadi..." Aisyah akhirnya bersuara. Suaranya tidak lagi bergetar, tidak lagi histeris, dan tidak lagi diwarnai isakan tangis. Suara itu terdengar sangat kosong, hampa, bagaikan embusan angin malam di atas bukit pemakaman. "...semua ini nyata?"
Ayden terkekeh pelan—sebuah tawa kecil tanpa rasa humor yang bergema dingin di dinding-dinding ruangan. "Apakah stempel hukum dan tanda tanganku di kertas itu kurang jelas untukmu, Aisyah? Kau selalu pintar menilai laporan keuangan. Harus aku akui, kau butuh waktu lebih lama dari yang kubayangkan untuk menyadarinya."
"Kenapa kamu tidak menyangkalnya?" bisik Aisyah, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Ayden yang kini membeku bagaikan lautan es. "Kenapa kamu tidak bilang kalau ini semua hanya fitnah? Kenapa kamu tidak pura-pura bersumpah lagi di depanku seperti yang biasa kamu lakukan?"
Ayden melangkah satu sudut mendekat, berdiri menjulang tepat di atas Aisyah yang terduduk di lantai. Bayangannya yang besar menutupi seluruh tubuh wanita itu.
"Untuk apa aku menyangkal hal yang memang telah kuperjuangkan selama lima belas tahun hidupku?" sahut Ayden dingin, suaranya tenang tanpa nada penyesalan sedikit pun. "Panggung sandiwaranya sudah selesai, Aisyah. Tirai pertunjukan sudah ditutup saat kau membuka pintu brankas itu. Menyembunyikannya sekarang hanya akan membuang-buang waktuku yang berharga."
Aisyah menatap pria yang selama beberapa bulan ini memeluknya setiap malam, pria yang mencium keningnya sebelum tidur, pria yang mengucap ijab kabul dengan tegas di depan saksi dan Tuhan. Rasa mual merayapi tenggorokannya, namun matanya tetap kering tanpa setetes pun air mata. Mati rasa telah membentengi jiwanya dari histeria.
"Kamu..." Aisyah jeda sejenak, menatap bayangan Ayden dengan tatapan datar yang menusuk. "...kamu merancang kebangkrutan perusahaan Papaku dari awal? Kamu menyuntikkan utang beracun itu? Kamu memblokir pinjaman bank keluargaku hingga Papa serangan jantung dan meninggal dalam kehancuran?"
"Ya," jawab Ayden tanpa ragu, matanya berkilat penuh kemenangan yang mengerikan. "Aku yang menyusun setiap skema transaksi itu. Aku yang memastikan tidak ada satu pun investor yang mau mengulurkan tangan pada Dinantara Utama. Dan aku pula yang membeli seluruh aset sisa perusahaan papamu dengan harga seratus rupiah per lembar saham."
"Kenapa, Ayden?" tanya Aisyah, suaranya naik satu nada, menekankan pertanyaan yang kini menjadi benteng terakhir kewarasannya. "Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku? Kenapa kamu tega menghancurkan keluargaku sedemikian rupa?!"
"Kenapa?" ulang Ayden, senyum sinis di bibirnya makin melebar, namun matanya memancarkan kedalaman dendam yang membara di balik kebekuannya. "Kau benar-benar ingin tahu kenapa aku menghancurkan papamu? Kenapa aku mendekatimu? Dan kenapa aku menikahimu?"
Aisyah tidak bergeming. Ia tetap mendongak, menatap suaminya dengan mata yang mati rasa, menanti jawaban atas kehancuran seluruh hidupnya.
"Karena papamu..." Ayden membungkukkan tubuhnya sedikit, memangkas jarak wajah mereka hingga Aisyah bisa merasakan hembusan napas dingin suaminya. "...adalah pembunuh. Dan kau, Aisyah... kau adalah darah daging dari pria yang telah merenggut seluruh hidupku."
Ruangan itu mendadak tenggelam dalam keheningan yang mencekik saat kata-kata Ayden menggantung pekat di udara.