NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: tamat
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:883
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelombang Pembaharuan dari Maluku

Langkah ekspansi gerakan kemandirian Brajamukti tidak melambat sedikit pun setelah keberhasilan peluncuran Konsorsium Koperasi Mandiri Nusantara. Justru, penolakan tegas Mamat terhadap iming-iming dana monopoli satu triliun rupiah menjadi gaung moral yang sangat nyaring di kalangan masyarakat pesisir dan kepulauan.

Pagi itu, di pelabuhan Tual, Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, angin laut bertiup kencang membawa aroma garam dan minyak kelapa. Mamat, Darto, dan Bowo berdiri di dermaga kayu, memperhatikan kapal pendarat berukuran sedang yang sedang membongkar muatan.

Di atas dermaga, puluhan nelayan lokal dan perajin minyak kelapa murni (VCO) berkumpul dengan raut wajah berbinar. Di antara mereka, berdiri Kaka Semmy, seorang tokoh pemuda adat Kei yang menjadi penggerak utama kelompok nelayan setempat.

"Pak Eko, lihat itu!" seru Kaka Semmy seraya menunjuk ke arah kontainer-kontainer kecil yang dimuat ke dalam kapal. "Ini pengiriman VCO dan ikan asap asap kualitas ekspor pertama kami yang menggunakan sistem pencatatan transparan dari aplikasi alumni Akademi. Tidak ada lagi harga tengkulak kapal besar yang memotong lima puluh persen dari keringat kami!"

Mamat tersenyum hangat, menepuk bahu Kaka Semmy yang legam terbakar matahari. "Itu hasil kerja keras kalian sendiri, Kaka. Alumni kami di sini cuma membukakan jalurnya dan membantu merapikan manajemen pembukuannya."

Darto yang memegang buku catatan logistik mendekat. "Mat, dari pelabuhan Tual ini, produk rumput laut sama minyak kelapa binaan kita bakal langsung dikirim ke pelabuhan Surabaya tanpa lewat broker perantara di Ambon. Artinya, margin keuntungan bersih buat koperasi nelayan naik hampir tiga puluh lima persen!"

Bowo tertawa puas seraya menghembuskan napas lega. "Hahaha! Kalau tengkulak-tengkulak nakal di pelabuhan Ambon tahu sistem kita sudah sampai ke Kepulauan Kei, pasti pada gigit jari!"

Namun, di balik kegembiraan itu, Mamat menyadari bahwa wilayah kepulauan memiliki kerentanan yang berbeda dibanding wilayah daratan Jawa atau Sulawesi. Jalur logistik antarpulau sangat rentan dimanipulasi oleh spekulan bahan bakar dan penguasa armada kapal swasta.

"Kaka Semmy," kata Mamat dengan nada serius namun merangkul. "Sistem pencatatan digital ini baru langkah awal. Ujian sebenarnya adalah pas gelombang laut tinggi atau harga bahan bakar kapal melonjak. Koperasi harus punya dana cadangan energi dan sistem pergudangan yang kuat supaya tidak kembali meminjam modal pada lintah darat."

Kaka Semmy mengangguk mantap. "Siap, Pak Eko! Kami sudah menyisihkan sepuluh persen dari tiap transaksi ekspor untuk masuk ke Lumbung Modal Mandiri cabang Kei."

Dua minggu setelah kunjungan ke Maluku Tenggara, perjalanan kerja Mamat berlanjut ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di kota yang terbelah oleh aliran sungai-sungai besar ini, tim pendamping Brajamukti sedang mendampingi ratusan perajin anyaman rotan dan pedagang pasar terapung.

Namun, kedatangan Mamat kali ini disambut oleh situasi yang tidak kondusif. Di kantor sekretariat sementara Brajamukti cabang Banjarmasin, Darto dan Bowo tampak tegang berhadapan dengan dua pria berseragam klimis yang mengaku sebagai penyidik dari Dinas Perizinan dan Perdagangan Daerah.

Dua petugas tersebut membawa seberkas surat peringatan resmi yang menyatakan bahwa kegiatan pengumpulan dana iuran Koperasi Anyaman Rotan Bina Mandiri yang didampingi Brajamukti diduga melanggar Peraturan Daerah tentang Pengimpunan Dana Masyarakat Tanpa Izin Lembaga Keuangan.

"Pak Eko Prasetyo..." kata ketua tim petugas itu dengan nada dingin seraya membetulkan posisi kacamata hitamnya. "Koperasi binaan Anda ini menarik iuran harian lima ribu rupiah dari pedagang rotan. Menurut pasal analisis kami, ini bisa dikategorikan sebagai penghimpunan dana ilegal jika tidak ada izin operasional perbankan."

Darto yang merawat seluruh berkas hukum yayasan langsung menyela tegas. "Bapak salah paham! Itu bukan dana simpanan perbankan atau investasi! Itu adalah simpanan pokok dan wajib anggota koperasi yang disahkan lewat Rapat Anggota Tahunan secara transparan!"

Mamat menepuk bahu Darto pelan, memberi isyarat agar sahabatnya itu mengendalikan emosi. Mamat duduk tenang di kursi kayu, menatap dua petugas tersebut dengan pandangan yang teduh.

"Bapak-Bapak yang hormati," buka Mamat santun. "Saya sangat menghargai tugas Anda sekalian dalam mengawasi keuangan daerah. Tapi mari kita bicara jujur dan terbuka. Siapa pengusaha atau asosiasi pedagang besar di kota ini yang merasa terganggu karena perajin rotan kecil sekarang punya koperasi sendiri dan tidak lagi membeli bahan baku rotan mahal dari mereka?"

Dua petugas itu seketika tertahan napasnya, raut wajah mereka berubah agak canggung!

Mamat menyunggingkan senyum tipisnya yang penuh perhitungan. Pengalamannya berhadapan dengan birokrasi nakal di berbagai daerah membuat Mamat langsung tahu bahwa surat peringatan ini adalah pesanan dari "pemain lama" industri rotan lokal yang merasa terancam oleh kemandirian warga.

"Saya kenal baik dengan Kepala Dinas Perdagangan Provinsi dan Kapolda Kalimantan Selatan," lanjut Mamat tenang seraya merogoh telepon selulernya. "Bagaimana kalau siang ini juga kita duduk bersama di kantor Dinas Provinsi untuk membedah seluruh dokumen hukum koperasi ini bersama para ahli hukum dari akademisi universitas setempat?"

Mendengar ketenangan Mamat dan jaringannya yang sah secara hukum nasional, ketua tim petugas tersebut langsung menarik kembali berkas peringatannya dengan senyum yang dipaksakan.

"Ah... tidak perlu sampai ke Kapolda, Pak Eko," jawab petugas itu dengan suara melunak. "Kami... kami cuma melakukan verifikasi lapangan biasa. Kalau dokumennya lengkap di tingkat provinsi, tentu tidak ada masalah."

Setelah kedua petugas itu pergi tergesa-gesa, Bowo menghempaskan napasnya kencang. "Jancuk! Di mana-mana selalu saja ada yang mencoba pakai jalur hukum buat menggembosi rakyat kecil!"

Mamat menatap ke luar jendela, memandangi perahu-perahu klotok yang melintas di aliran Sungai Martapura. "Itu hal biasa, Wo. Semakin besar gerakan kita, semakin banyak pihak yang merasa kenyamanannya terganggu. Makanya, alumni akademi kita tidak boleh cuma pintar mendampingi bisnis, tapi harus melek hukum dan punya integritas yang tidak bisa diintimidasi."

Dari Banjarmasin, Mamat menempuh perjalanan darat sejauh ratusan kilometer menuju pedalaman Dayak Meratus di kawasan Pegunungan Meratus. Di wilayah yang masih asri dan dikelilingi hutan lebat ini, terdapat kelompok masyarakat adat yang sedang berjuang mempertahankan tanah ulayat dan hasil hutan bukan kayu (seperti madu hutan dan damar) dari serbuan perusahaan perkebunan kelapa sawit skala besar.

Di sebuah Lamin (rumah adat panggung panjang) yang megah di Desa Loksado, Mamat disambut oleh Tetua Adat Dayak Meratus, Damang Kepala Ketut.

Suasana malam di Lamin sangat khidmat. Api unggun menyala di tengah pekarangan, memancarkan cahaya jingga yang menerangi ukiran-ukiran kayu khas Dayak.

Damang Ketut, seorang pria sepuh dengan tato garis-garis tradisional di lengannya dan ikat kepala khas, menyodorkan mangkuk kayu berisi teh pasak bumi kepada Mamat.

"Anakku Eko..." kata Damang Ketut dengan suara dalam yang penuh kearifan. "Banyak orang dari kota datang ke hutan kami. Ada yang mau membeli tanah kami dengan harga murah, ada yang mau membawa mesin-mesin besar untuk merusak hutan. Tapi anak-anak muda dari Brajamukti yang datang bulan lalu... mereka tidak minta tanah kami."

Mamat meminum teh pasak bumi tersebut dengan takzim. "Apa yang dilakukan anak-anak muda kami di sini, Damang?"

"Mereka mengajari anak-anak kami cara mengemas madu hutan dengan botol kaca yang bersih," cerita Damang Ketut seraya tersenyum bangga. "Mereka membantu kami mendaftarkan sertifikat organik dan sertifikat halal. Sekarang, madu dari hutan Meratus bisa dijual ke toko-toko besar di Jakarta dengan nama masyarakat adat kami sendiri, tanpa perlu kami merusak satu pohon pun di hutan."

Mamat memandangi wajah-wajah pemuda adat Dayak yang duduk di sekitar Lamin. Binar mata mereka memancarkan rasa percaya diri yang tinggi—bukan lagi rasa minoritas yang sering dipinggirkan oleh kemajuan zaman.

"Damang," ucap Mamat tulus. "Hutan Meratus ini adalah benteng kehidupan. Tugas Brajamukti bukan untuk mengubah cara hidup masyarakat adat, melainkan membantu masyarakat adat agar punya kekuatan ekonomi yang sejajar dengan orang kota, sehingga tidak ada lagi yang bisa membodohi atau merebut tanah ulayat ini."

Damang Ketut berdiri, mengambil sebuah kalung dari taring beruang dan manik-manik kuno, lalu mengalungkannya ke leher Mamat sebagai simbol pengangkatan Mamat sebagai Saudara Kehormatan Adat Meratus.

Darto dan Bowo menyaksikan momen tersebut dengan rasa haru yang teramat dalam. Tiga pemuda yang dulu dianggap sampah masyarakat di lorong jalanan Jawa, kini diterima dengan rasa hormat tertinggi oleh tokoh-tokoh adat di pelosok Kalimantan.

Sementara gerakan lapangan Brajamukti semakin mengakar kuat di pulau-pulau luar Jawa, di Jakarta, konspirasi politik dan persaingan bisnis terselubung mulai membangun tembok perlawanan baru.

Di sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, sebuah rapat rahasia sedang berlangsung. Rapat tersebut dihadiri oleh beberapa petinggi asosiasi impor pangan, pemilik jaringan distribusi ritel raksasa, serta dua orang oknum politisi yang merasa terancam karena daerah pemilihan mereka tidak lagi bisa dibeli dengan bantuan sosial murah jelang pemilihan umum.

"Gerakan Brajamukti ini sudah melampaui batas!" seru seorang politisi seraya mengetuk meja kaca. "Mereka mengajari petani dan nelayan untuk membuat harga sendiri! Koperasi-koperasi binaan mereka sekarang menolak menjual hasil panen ke kartel-kartel kita! Kalau ini dibiarkan sampai tahun depan, kita bakal kehilangan kontrol atas pasokan beras, gula, dan kopi nasional!"

Seorang pengusaha perantara besar menimpali dengan raut muka gelap. "Si Mamat itu pintar. Dia tidak pernah mau memegang uang koperasi secara langsung, jadi kita tidak bisa menjebaknya pakai tuduhan korupsi atau penggelapan dana. Dia membagikan seluruh sistem manajemennya secara terbuka ke warga desa!"

"Kalau begitu, serang lewat regulasi!" tegas sang oknum politisi. "Kita dorong Rencana Undang-Undang Pengawasan Lembaga Kemitraan Masyarakat di DPR! Kita buat aturan bahwa seluruh lembaga pendampingan swasta wajib mendaftar di bawah pengawasan kementerian yang bisa kita kontrol, dan setiap dana bantuan modal wajib disetorkan ke bank-bank konsorsium kita!"

Rencana licik itu dirancang untuk mencekik ruang gerak Brajamukti melalui jalur hukum nasional yang tampak resmi di atas kertas. Mereka berniat mematikan independensi gerakan pendampingan rakyat dengan cara membirokrasi dan membatasi akses dana Lumbung Modal Mandiri.

Kabar tentang draf Rencana Undang-Undang yang berpotensi membatasi independensi koperasi dan lembaga pendampingan rakyat itu sampai ke telinga Mamat saat ia baru saja mendarat kembali di Bali.

Di ruang rapat utama Brajamukti Center Umalas, seluruh koordinator regional dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua berkumpul melalui jaringan konferensi video.

Darto membacakan poin-poin pasal krusial dalam draf RUU tersebut yang berpotensi mematikan ribuan koperasi skala kecil di daerah.

"Mat," kata Darto dengan raut muka cemas. "Kalau pasal-pasal ini disahkan di DPR, seluruh Lumbung Modal Mandiri kita harus menghentikan penyaluran modal tanpa bunga ke petani, dan setiap koperasi binaan wajib membayar biaya sertifikasi tahunan yang sangat mahal ke lembaga penilai swasta."

Bowo mengepalkan tangannya di meja. "Ini jelas-jelas pesanan dari kartel-kartel besar yang sakit hati karena kita potong rantai permainan mereka!"

Namun, berbeda dengan masa lalunya yang emosional atau reaktif, Mamat menanggapi ancaman regulasi ini dengan ketenangan seorang negarawan sejati. Ia berdiri di hadapan layar besar konferensi video, memandangi wajah ratusan koordinator alumni di seluruh Indonesia.

"Adik-adikku dan seluruh rekan pendamping di seluruh Nusantara..." panggil Mamat, suaranya tenang, dalam, dan mengalun penuh wibawa yang menggetarkan dada. "Kartel-kartel di Jakarta itu panik karena mereka melihat kita semakin bersatu. Mereka menyangka mereka bisa mematikan gerakan ini dengan selembar kertas undang-undang."

Mamat melangkah mendekati layar.

"Mereka lupa satu hal," tegas Mamat dengan mata yang memancarkan pencerahan murni. "Gerakan Brajamukti ini bukan milik Mamatya, bukan milik Darto, dan bukan milik gedung di Umalas ini. Gerakan ini adalah milik jutaan petani, nelayan, dan perajin kecil yang sudah merasakan indahnya hidup mandiri tanpa ditipu."

Mamat lalu menyampaikan instruksi strategisnya.

"Kita tidak akan melakukan demonstrasi anarkis," perintah Mamat. "Minggu depan, kita minta seluruh lima ribu koperasi binaan kita di seluruh Indonesia untuk mengirimkan surat resmi, hasil audit keuangan mandiri yang bersih, serta sampel produk-produk terbaik mereka langsung ke meja kerja lima ratus anggota DPR di Jakarta! Biarkan para wakil rakyat itu melihat dengan mata kepala mereka sendiri: apakah gerakan ini merugikan negara, atau justru sedang menyelamatkan piring nasi rakyat Indonesia!"

Gagasan tangkas dan elegan dari Mamat itu seketika disambut dengan sorak-sorai semangat dari seluruh koordinator regional dari Sabang sampai Merauke!

Mamat memandangi dua sahabat sehidup-sematinya, Darto dan Bowo, yang tersenyum bangga di sampingnya. Serangan sebesar apa pun dari para penguasa modal tidak akan pernah sanggup merubuhkan benteng kebenaran yang dibangun di atas keringat, kejujuran, dan persatuan murni seluruh rakyat Nusantara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!