NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Halusinasi Pasca Koma

Sensasi dingin di ruangan itu makin menjadi-jadi, merayap dari telapak kaki hingga ke tengkuk Rhea. Dinginnya menusuk tulang, sama sekali tidak mirip dengan hembusan AC rumah sakit biasa. Rhea memegang lehernya yang kamu, matanya terkunci pada pintu kamar rawat VIP yang baru saja terdorong pelan.

Gagang pintu kayu itu memutar tanpa suara. Klekk!

Pintu terbuka sedikit, menyisakan celah sempit yang remang-remang. Namun, tidak ada siapa-siapa di balik pintu itu. Lorong rumah sakit di luar tampak sepi.

Ibu dan Zora masih sibuk menenangkan diri di samping ranjang, sama sekali tidak menyadari perubahan atmosfer yang ganjil ini.

"Rhea, minum dulu sedikit ya, Nak? Ibu ambilkan air hangat," bisik Ibu lembut, menyapu sisa air mata di pipinya sambil meraih gelas dengan tangan bergetar.

Rhea belum sempat mengangguk saat matanya mendadak menangkap sesuatu. Dari celah pintu yang terbuka, sebuah bayangan hitam tebal merembes masuk.

Bayangan itu membumbung pelan, lalu membentuk wujud tinggi kurus dengan pakaian pasien yang bersimbah darah di bagian dada. Wajahnya sosok itu samar, tertutup rambut panjang yang lebat dan berantakan. Sosok itu melayang tipis beberapa sentimeter di atas lantai keramik, bergerak mengambang di ambang pintu tanpa suara langkah kaki sedikit pun.

Rhe tersedak udaranya sendiri. Tubuhnya kaki seketika. "I...ibu.."

"Kenapa, Nak? Ada yang sakit lagi?" Ibu panik, membungkuk dan memegang dari Rhea.

"Rhea, lu kenapa? Muka lu pucat banget." Zora ikut mengusap lengan Rhea yang mendadak dingin bagai es batu.

Jantung Rhea berdegup liat. Dada Rhea naik turun tidak teratur. Mesin pemantau detak jantung di sebelah kiri ranjangnya mendadak berbunyi nyaring dan cepat.

Sosok berdarah itu makin membungkukkan tubuhnya. Dari balik rambutnya yang berantakan, dua mata merah menyala menatap lurus ke arah Rhea. Sosok itu melayang perlahan mendekati ranjang, memangkas jarak secara tidak wajar.

"Pergi! Pergi!" Rhea menjerit histeris. Dia menarik selimut hingga menutupi seluruh dadanya, mendorong tubuhnya mundur implusif sampai membentur sandaran ranjang besi.

"Rhea! Kamu kenapa, Nak?" Ibu histeris, berusaha memegang bahu Rhea yang berguncang hebat.

"Ibu, ada orang di depan pintu itu. Tolong usir dia Ibu." jerit Rhea dengan suara serak. Tangannya yang gemetaran menunjuk ke arah pintu.

Zora menoleh ke pintu dengan wajah panik dan bingung. "Nggak ada siapa-siapa disana, Rhea! Cuma pintu itu terbuka sedikit karena kena angin."

"Ada, Ra. Dia ada disitu lagi ngelihatin gue!"

Sosok itu semakin menunduk, merayap di udara. Rhea menutup matanya rapat-rapar memakai kedua tangan, menangis histeris. Mesin jantung berbunyi makin gila, memekakkan nada bahaya.

Tepat saat itu, pintu kamar rawat terdorong lebar dan menabrak sosok hitam itu hingga menghambur bagai asap. seorang dokter pria berjas putih masuk tergesa-gesa bersama dua orang perawat.

"Ada apa ini. Pasien baru saja sadar."

Dokter dengan sigap memeriksa monitor, lalu dengan cepat menyuntikkan cairan obat penenang ke dalam selang infus Rhea. Dalam hitungan detik, sensasi hangat menjalar di pembuluh darahnya.

Tubuh Rhea yang tegang perlahan melunak. Suara berdengung di kepalanya memudar seiring pandangannya yang kembali melambat dan sayu. Sebelum kesadarannya tertidur kembali akibat obat penenang, bayangan hitam di sudut ruangan perlahan menghilang sepenuhnya.

Rhea terbangun lagi saat sinar matahari siang menerobos masuk lewat celah gorden, membuat kamar VIP itu terasa hangat dan jauh lebih manusiawi.

Ibunya tertidur terlelap di sofa panjang dengan selimut tebal melingkupi tubuh tuanya. Sementara itu, Zora duduk di kursi samping ranjang, sibuk mengusap layar tabletnya dengan raut wajah serius.

Mendengar desisan pelan dari bibir Rhea, Zora langsung menengadah dan mematikan layar tabletnya.

"Rhe, lu udah tenang sekarang?" bisik Zora pelan, melirik ke arah Ibunya Rhea agar tidak membangunkan wanita paruh baya itu.

Rhea mengangguk lemah. Tenggorokannya tidak sakit lagi setelah Zora membantunya minum beberapa teguk air hangat lewat sedotan.

"Tadi gue ngelihat hal yang aneh dan nggak masuk akal, Ra."

Zora menghela napas panjang, merapatkan kursinya ke ranjang Rhea. "Dokter bilang itu efek ilusi trauma pasca koma. Benturan di kepala lu pas kecelakaan kemaren lumayan parah, Rhe. Otak lu masih menyesuaikan diri. Lu tadi histeris banget, kasihan Ibu lu sampe lemes ketakutan gitu."

Rhea memejamkan mata. Ilusi? Efek trauma otak? Rhea ingin sekali percaya kalau itu cuma mimpi buruk akibat efek samping obat penenang. Tapi rasa dingin yang menusuk tadi malam itu terasa terlalu nyata untuk sekedar halusinasi biasa.

"Tapi ngomong-ngomong ya, Rhe." Zora memiringkan rubuhnua, suaranya berubah setengah berbisik. "Soal kecelakaan lu. Penabrak itu..."

Rhea menoleh lambat. "Penabrak gue. Emang kenapa?"

"Iya, laki-laki yang nabrak lu malam itu. Gue juga nggak kenal dia siapa. Tapi dia langsung bawa lu ke rumah sakit ini, dan nanggung seluruh biaya pengobatan lu dari hari pertama sampai hari ini tanpa protes sedikit pun."

Jantung Rhea berdegup pelan. Dia teringat sekilas bayangan samar laki-laki berkas navy yang berlutut di sampingnya sore itu di tengah hujan deras. Wajahnya tegas, tajam dan memancarkan rasa bersalah yang amat dalam.

"Kira-kira dia siapa ya, Ra?" tanya Rhea.

Zora merogoh tas tangannya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama elegan berbahan kertas tebak warna hitam dengan cetakan huruf emas. Zora menyerahkannya ke jemari Rhea. "Dia rutin datang tiap hari cuman buat nanya perkembangan kondisi lu ke dokter. Tapi dia nggak pernah mau masuk kalau ada Ibu lu. Namanya ini..."

Rhea membaca tulisan yang terukir di atas kertas tebal itu, Rayven Mahesa, Associates Law Firm.

Mata Rhea menyipit membaca nama asing itu. "Rayven Mahesa. Dia seorang pengacara?"

"Sepertinya memang pengacara," jawab Zora. "Gue sempat stalking dikit, biro hukumnya lumayan besar. Tapi itu, dia kelihatan merasa bersalah banget sama kejadian kecelakaan hari itu."

Belum sempat Rhea merespon, pintu kamar rawat tiba-tiba di ketuk dua kali dengan jeda yang amat teratur.

Pintu bergeser terbuka. Laki-laki dalam kartu nama itu berdiri di sana. Rayven mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulingkan rapi hingga ke siku, membawa sekat bunga lili putih segar. Matanya yang tajam dan menatap Rhea penuh keraguan.

"Permisi. Saya tadi dihubungi dokter yang bertanggungjawab katanya pasien yang saya bawa hari itu sudah siuman." suara Rayven yang dalam membelah keheningan kamar. "Sebelumnya saya minta maaf. Saya orang yang tidak sengaja menabrak kamu sore itu."

Rhea menahan napas. Suara berat itu memantul di dinding kamar rawat yang mendadak terasa semakin sempit. Seketika matanya terkunci pada buket lili putih di tangan laki-laki itu, bunga favoritnya meski ia yakin Rayven cuma kebetulan membelinya.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!