NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 DUA TAHUN KEMUDIAN - TOKO DASTER ONLINE JADI TOKO BENERAN

Dua tahun telah berlalu sejak epilog satu tahun kemudian di kontrakan cat hijau lima ratus ribu sebulan itu. Kini kalender menunjukkan Oktober dua ribu dua puluh delapan. Aisyah yang dulu lahir dua koma delapan kilo di Rumah Sakit Besar Jombang pada tanggal lima belas Oktober dua ribu dua puluh enam jam tujuh lewat lima belas pagi, kini sudah berusia dua tahun satu minggu. Bukan lagi bayi sembilan kilo yang hanya bisa bilang Ibu Bapak Kakak, tapi sudah menjadi balita sebelas kilo yang lari ke sana kemari di dalam kontrakan, yang sudah bisa bernyanyi balonku ada lima sampai habis, yang sudah bisa menghitung satu sampai sepuluh dengan suara cempreng, yang sudah bisa marah jika Salsa merebut boneka kain sobek peninggalan Wonorejo.

Salsa yang dulu tiga tahun lima bulan sekolah PAUD Melati bayar lima puluh ribu sebulan, kini sudah berusia empat tahun lima bulan dan sudah naik ke TK A di sekolah yang sama. Seragam merah putih PAUD sudah diganti seragam batik TK, tas pink kecil sudah diganti tas ransel pink besar bergambar kuda poni, sepatu hitam sudah diganti sepatu pink. Salsa yang dulu hanya bisa mengeja A B C dan mendapat bintang lima warna emas, kini sudah bisa membaca buku cerita kecil, sudah bisa menulis namanya sendiri Salsa Humaira Karim dengan huruf besar kecil, sudah bisa mengaji Iqro dua. Akte lahir baru Salsa Humaira Karim anak sah Arga dan Mira almarhumah yang dirawat Ibu Kirana sudah dilaminating dan disimpan di dalam map plastik biru bersama akte lahir Aisyah Humaira Karim dan buku nikah hijau KUA Jombang yang dulu hanya kertas HVS tipis.

Kontrakan cat hijau nomor empat yang dulu empat ratus ribu lalu lima ratus ribu, kini sudah enam ratus ribu sebulan karena pemilik kontrakan, Pak Haji Sulaiman, menaikkan harga lagi karena semua harga naik. Tapi kami tidak pindah. Karena di kontrakan inilah saksi bisu pengasinganku berakhir. Di kontrakan inilah dulu Pak Lurah kontrakan mau mengusirku minggu depan karena tidak punya buku nikah KUA. Di kontrakan inilah Mbah Sarti datang pertama kali naik angkot dua jam membawa ayam goreng dua potong dan amplop coklat mas kawin seratus ribu yang dikembalikan. Di kontrakan inilah akad KUA resmi dipersiapkan. Di kontrakan inilah Aisyah pertama kali dibawa pulang dari rumah sakit besar. Di kontrakan inilah Mbah Sarti yang dulu mengusirku dengan sapu lidi kini menggendong cicitnya sambil menyuapi bubur. Jadi meskipun enam ratus ribu, kami tetap bertahan.

Toko daster online ku yang dulu hanya live TikTok dua jam dari jam sembilan sampai jam sebelas dengan keuntungan seratus ribu sehari, kini sudah menjadi toko beneran. Bukan hanya online, tapi sudah punya lapak kecil di depan kontrakan. Lapak kayu ukuran dua kali satu meter yang dibuatkan Arga dari kayu bekas puskesmas yang dibongkar. Di lapak itu aku jualan daster bunga biru yang menjadi saksi aku diasingkan karena hamil duluan di rumah bocor Mbah Wiryo, daster bunga merah, daster bunga hijau, kerudung coklat seperti pemberian Bu Minah, kerudung hitam, kerudung pink, baju bayi biru harga tiga puluh lima ribu seperti yang dulu dilempar Rendo dengan kasar lewat pagar bambu, baju bayi pink, baju bayi kuning, dan sekarang tambahan baru mukena sobek yang sudah aku jahit kembali menjadi mukena baru. Sehari keuntungan sekarang bukan seratus ribu lagi, tapi dua ratus ribu sampai tiga ratus ribu. Cukup untuk bayar kontrakan enam ratus ribu, bayar sekolah TK Salsa seratus ribu, beli susu Salsa dan Aisyah seratus sepuluh ribu, beli beras, dan masih bisa nabung di celengan ayam tanah liat yang kini sudah ada dua, satu celengan ayam besar dan satu celengan ayam kecil milik Salsa.

Arga yang dulu satpam puskesmas gaji dua juta plus uang jaga malam dua ratus ribu, kini sudah menjadi kepala satpam puskesmas dengan gaji dua juta lima ratus ribu plus uang jaga malam tiga ratus ribu. Seragam satpam coklatnya sudah baru, peci hitamnya sudah baru, sepatunya sudah baru. Arga yang dulu kuli bangunan dengan kaos oblong hitam dan tangan kasar karena nyadap karet, kini sudah menjadi satpam yang dihormati pasien puskesmas. Setiap ada pasien hamil yang diasingkan karena hamil duluan seperti aku dulu, Arga selalu menceritakan kisahku, kisah Kirana yang diasingkan empat bulan di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah atap bocor tiga titik, makan telur dibagi dua, nikah siri kertas HVS tipis, diusir Pak Lurah kontrakan, sampai akhirnya nikah KUA resmi dan melahirkan selamat di rumah sakit besar. Banyak pasien yang kuat karena mendengar kisahku.

Mbah Sarti yang dulu berusia tujuh puluh satu tahun jalan pakai tongkat bambu, kini sudah tujuh puluh tiga tahun, jalannya makin pelan, keriputnya makin banyak, tapi senyumnya makin lebar. Mbah Sarti kini tinggal tidak lagi di rumah induk Wonorejo sendirian, tapi tinggal bergantian, seminggu di Wonorejo bersama Pak Karim dan Bu Minah, seminggu di kontrakan cat hijau bersama kami. Di kontrakan, Mbah Sarti bertugas menjaga Aisyah dan Salsa ketika aku live TikTok dan jaga lapak daster. Mbah Sarti yang dulu mengusirku karena hamil duluan dan membawa tiga ibu PKK dengan sapu lidi, yang dulu membanting panci alumunium sampai penyok ketika mendengar aku nikah siri tanpa izin, yang dulu mengatakan di mata desa aku masih perawan hamil haram, kini adalah buyut yang paling sayang kepada Salsa dan Aisyah. Setiap sore Mbah Sarti menyuapi Aisyah bubur ayam, membacakan cerita kancil untuk Salsa, dan mengajarkan mengaji.

Pak Karim dan Bu Minah juga masih sehat. Pak Karim yang dulu menjemputku dari rumah bocor dengan gerobak sapi karena takut kutukan Kembang Kantil yang membunuh Mira dua tahun lalu, kini sudah tidak lagi nyadap karet setiap hari, tapi menjadi penjaga kebun karet dengan gaji satu juta. Bu Minah yang dulu menitipkan Salsa kepadaku dengan alasan mau ke pasar Jombang, yang ternyata menitipkan cucu kandungnya sendiri, kini setiap minggu datang ke kontrakan membawa opor ayam kampung, sayur lodeh, dan pisang goreng. Rantang besar masih menjadi ciri khas Bu Minah.

Rendo, bapak kandung Aisyah yang dulu menghamiliku dan berkata belum tentu anakku, kabur ke Kalimantan, kembali dan mendobrak pagar bambu rumah bocor, melempar baju bayi biru tiga puluh lima ribu dengan kasar dan berkata kamu masih milikku, yang kemudian datang ke akad KUA resmi dengan kemeja putih bersih rambut gondrong dipotong pendek dan memberikan amplop putih berisi uang lima ratus ribu untuk beli susu, yang kemudian mengirim uang dua ratus ribu tiap bulan sebagai penebusan dosa, kini sudah tidak lagi mengirim uang dua ratus ribu. Bukan karena tidak mau, tapi karena Rendo sudah meninggal. Tiga bulan lalu Pak Karim mendapat telepon dari teman Rendo di Kalimantan, Rendo kecelakaan kerja tertimpa kayu balok di proyek bangunan. Rendo meninggal di tempat. Sebelum meninggal, Rendo berpesan kepada temannya untuk menyampaikan kepada Kirana di Jombang, maafkan aku, jaga Aisyah baik-baik, aku ikhlas Aisyah menjadi anak Arga bin Karim secara negara. Aku menangis mendengar kabar itu. Meskipun Rendo pernah menyakitiku, Rendo adalah bapak kandung Aisyah. Aku memaafkan Rendo. Baju bayi biru tiga puluh lima ribu yang dulu dilempar kasar kini aku simpan di dalam kotak kaca bersama foto Rendo kemeja putih.

Pagi ini jam delapan, ada tamu tak diundang datang ke lapak daster depan kontrakan cat hijau enam ratus ribu sebulan. Tamu itu adalah Bu Tati, ibu PKK yang dulu membawa tiga ibu PKK lain dengan sapu lidi untuk mengusirku dari rumah bocor karena hamil duluan dan nikah siri tanpa izin Mbah Sarti. Bu Tati yang dulu mengatakan di mata desa aku masih perawan hamil haram. Bu Tati kini datang dengan wajah malu, membawa tas plastik isi pisang.

"Kirana, Nduk, Bu Tati minta maaf ya Nduk, dulu Bu Tati ikut mengusir Nduk dari rumah bocor Mbah Wiryo. Bu Tati tidak tahu cerita sebenarnya. Sekarang Bu Tati tahu Nduk sudah jadi orang sukses, punya toko daster, punya dua anak cantik, punya suami satpam kepala. Bu Tati mau beli daster bunga biru yang dulu Nduk pakai waktu hamil empat bulan itu, Nduk, buat anak Bu Tati yang juga hamil duluan dan diasingkan keluarganya," kata Bu Tati dengan suara pelan dan menunduk.

Aku yang sedang menyuapi Aisyah bubur di lapak, melihat Bu Tati, tidak dendam lagi. Aku mengambil daster bunga biru yang menjadi saksi bisu pengasinganku, daster yang sobek di ketiak sudah aku jahit rapi, daster yang warnanya sudah pudar tapi masih layak pakai, daster pembawa berkah, dan memberikannya kepada Bu Tati secara gratis.

"Bu Tati, tidak usah beli, Bu. Ambil saja gratis, Bu. Daster ini saksi aku diasingkan karena hamil duluan dua tahun lalu di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah atap bocor tiga titik bau kemenyan kutukan Kembang Kantil, makan telur dibagi dua sama Salsa, nikah siri kertas HVS tipis, diusir Pak Lurah kontrakan karena tidak punya buku nikah KUA. Sekarang daster ini saksi aku jadi Ibu dua anak, punya toko, punya buku nikah hijau. Semoga anak Bu Tati yang hamil duluan juga kuat seperti aku dulu, Bu."

Bu Tati menangis menerima daster gratis itu dan memelukku. Pelukan pertama Bu Tati setelah dua tahun mengusirku.

Sore jam empat, setelah Bu Tati pulang membawa daster bunga biru gratis, aku duduk di lantai semen kontrakan yang bersih bersama Salsa TK A dan Aisyah dua tahun satu minggu dan Arga kepala satpam dan Mbah Sarti tujuh puluh tiga tahun.

Di dinding kontrakan masih ada foto keluarga besar berbingkai kayu, tapi kini bertambah foto baru, foto lapak daster kayu dua kali satu meter di depan kontrakan dengan tulisan besar TOKO DASTER KIRANA - DARI DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN MENJADI JURAGAN DASTER.

Malam jam delapan, hujan turun deras lagi seperti dua tahun lalu di rumah bocor dan seperti satu tahun lalu di kontrakan cat hijau lima ratus ribu. Genteng kontrakan tidak bocor, tidak ada suara tet tet tet air jatuh ke panci alumunium penyok. Kami makan malam berlima di dalam kontrakan petak enam ratus ribu: aku, Arga kepala satpam, Salsa TK A, Aisyah dua tahun satu minggu, dan Mbah Sarti tujuh puluh tiga tahun yang menginap seminggu di kontrakan. Lauk opor ayam kampung Bu Minah, telur dadar dua butir dibagi lima, nasi banyak wangi, sambal terasi.

Jam sembilan malam, Salsa dan Aisyah tidur di kasur tipis yang kini sudah kasur baru tebal, memeluk boneka kain sobek yang sudah dicuci bersih dan boneka baru beruang coklat hadiah dari Pak Karim. Aku dan Arga dan Mbah Sarti duduk di lantai semen melihat lapak daster kayu di depan kontrakan yang lampunya masih menyala.

"Kir, dulu kamu diasingkan karena hamil duluan di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah, sekarang kamu punya toko daster kayu di depan kontrakan kota. Hebat kamu, Kir," kata Mbah Sarti sambil mengelus kepala Aisyah yang tidur.

Aku mengangguk, menggenggam tangan Arga kepala satpam dan tangan keriput Mbah Sarti tujuh puluh tiga tahun.

Dari diasingkan karena hamil duluan dua tahun enam bulan lalu di rumah bocor Mbah Wiryo, sekarang menjadi juragan daster di kontrakan kota enam ratus ribu sebulan tidak bocor, memiliki lapak kayu dua kali satu meter, untung dua ratus ribu sehari, memiliki dua anak perempuan cantik Salsa TK A dan Aisyah dua tahun satu minggu, memiliki suami kepala satpam gaji dua juta lima ratus ribu, memiliki Mbah Sarti yang dulu mengusir sekarang menjaga cucu, dan memiliki Bu Tati yang dulu mengusir kini meminta maaf dan menjadi pelanggan.

Judul Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan telah berubah menjadi Aku Yang Dulu Diasingkan Kini Menjadi Juragan Daster Di Kontrakan Kota.

Dan itu cukup untuk malam ini dan untuk selamanya.

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!