NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjuangan seorang ayah

Gedung pencakar langit Wijaya Group berdiri megah di pusat bisnis ibu kota. Di lantai teratas, suasana ruang rapat direksi terasa cukup hangat. Adrian Wijaya duduk di kursi utamanya, memimpin diskusi intensif bersama para direksi dan kepala divisi pengembangan bisnis.

Di atas layar proyektor, terpampang peta wilayah pedesaan strategis yang terletak tepat di perbatasan dua provinsi. Bentang alamnya begitu mempesona, diapit perbukitan hijau, aliran sungai jernih, dan udara segar yang belum tersentuh polusi.

"Proyek ekowisata ini memiliki potensi yang sangat luar biasa, Pak Adrian," papar salah satu direktur operasional. "Posisinya sangat strategis karena berada di tengah-tengah dua provinsi utama. Namun, kendala terbesar kita saat ini adalah pembebasan lahan warga."

Adrian menopang dagunya, menatap slide peta tersebut dengan saksama. "Apa kendala utamanya?"

"Masyarakat di desa itu sangat terikat dengan tanah warisan leluhur mereka," lanjut direktur tersebut. "Sebagian besar warga enggan menjual tanahnya meski kita sudah menawarkan harga di atas rata-rata pasar. Mereka takut kehilangan mata pencaharian dan identitas desa mereka."

Adrian mengangguk paham. "Jangan pakai cara paksa atau manipulasi harga. Kita butuh pendekatan sosial yang lebih humanis. Buat program kemitraan di mana warga lokal tetap dilibatkan sebagai pemilik saham minoritas atau tenaga kerja utama. Saya tidak mau pembangunan ekowisata ini justru menyengsarakan warga lokal."

"Baik, pak. Kami akan merevisi proposal pendekatannya," sahut para direksi seraya mencatat arahan tersebut.

Setelah rapat panjang itu selesai dan para direksi membubarkan diri, Adrian kembali ke ruang kerjanya. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Pikirannya mendadak teralih pada putri kecilnya, Luna.

Pagi tadi, sebelum ia berangkat ke kantor, Luna kembali menolak disentuh oleh pengasuhnya. Anak perempuan berusia enam tahun itu kembali mengurung diri di dalam kamar. Sudah empat tahun berlalu sejak kematian istrinya saat Luna berusia dua tahun, dan selama itu pula Adrian belum berhasil mengobati rasa kesepian putrinya.

Bagas, asisten pribadinya, melangkah masuk ke ruangan seraya membawa laporan harian. "Pak Adrian, Sus Siska baru saja mengajukan pengunduran diri siang ini. Beliau tidak sanggup menghadapi sikap Nona Luna yang terus mengurung diri."

Adrian mengepalkan tangannya di atas meja. "Pengasuh ketiga dalam satu bulan ini... Apakah tidak ada satu pun orang di kota ini yang bisa memenangkan hati anak enam tahun?"

Di tengah helaan napas beratnya, benak Adrian mendadak melayang ke sebuah ingatan beberapa waktu lalu. Momen saat Luna sempat tersesat dan hilang dari jangkauan pengawal. Waktu itu, Adrian menemukan Luna sedang bersama seorang wanita asing berpenampilan sederhana bernama Maya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Adrian melihat ekspresi yang berbeda dari raut wajah putrinya. Luna yang biasanya dingin, tertutup, dan menolak disentuh siapapun, justru tampak begitu nyaman, tenang, bahkan memperlihatkan binar mata hangat saat berinteraksi dengan Maya. Tatapan dan kelembutan wanita itu seolah punya sihir tersendiri yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan Luna dalam sekejap.

Adrian menatap Bagas dengan tatapan tajam dan serius.

"Bagas," panggil Adrian mendadak.

"Iya, Pak?"

"Cari tahu keberadaan wanita yang waktu itu membantu Luna saat tersesat. Cari informasi tentang dia sampai dapat. Alamatnya, kegiatannya, semuanya."

Bagas sedikit terkejut, namun dengan cepat mengangguk patuh. "Baik, Pak. Saya akan segera mengerahkan tim untuk melacak keberadaan Nona Maya."

"Satu lagi," tambah Adrian seraya menatap foto kecil Luna di sudut mejanya. "Saya akan membawa Luna ikut serta saat peninjauan langsung lokasi calon proyek ekowisata di desa akhir pekan nanti. Udara segar di sana mungkin bisa membantu menenangkan emosinya."

"Siap, Pak. Semua kebutuhan peninjauan lapangan dan akomodasi Nona Luna akan saya siapkan," jawab Bagas mantap.

Sepeninggal Bagas dari ruangan, Adrian bersandar di kursi kerjanya, menatap keluar jendela kaca raksasa. Ada setitik harapan di hatinya, harapan agar pencarian keberadaan Maya bisa membuahkan hasil, demi senyuman putri kecilnya yang telah lama hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!