Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.
Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.
Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.
Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.
Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
POV Mary Mendez
Aku selalu percaya bahwa beberapa pertanyaan akan mati tanpa jawaban.
Siapa orang tuaku?
Kenapa aku ditinggalkan?
Apakah pernah ada seseorang yang merindukanku?
Bertahun-tahun aku belajar hidup tanpa jawaban-jawaban itu.
Biara adalah rumahku.
Para suster adalah keluargaku.
Bárbara, Natália, dan Graziela adalah saudari-saudari di hatiku.
Lalu datanglah Dante.
Suamiku.
Cintaku.
Pelabuhan amanku.
Aku percaya hidupku akhirnya sudah damai.
Namun malam itu, saat Dante pulang ke rumah, aku langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Matanya serius.
Wajahnya memikul beban yang berusaha ia sembunyikan.
Begitu kami masuk ke kamar, ia menggenggam kedua tanganku.
Erat.
Seolah bersiap menahanku agar tidak terjatuh.
"Sayang... kita perlu bicara."
Jantungku berdegup kencang.
"Ada apa?"
Dante menarik napas dalam-dalam.
"Masa lalumu telah menemukanmu."
Rasa dingin menjalar ke sekujur tubuhku.
"Apa maksudmu?"
Ia menuntunku ke tempat tidur dan duduk di sisiku.
Lalu ia menceritakan semuanya.
Setiap detail.
Seorang gadis muda bernama Marion.
Kehamilan yang disembunyikan.
Persalinan yang sulit.
Kebohongan itu.
Peninggalan itu.
Kebenaran yang baru ditemukan bertahun-tahun kemudian.
Pencarian putus asa seorang ibu yang percaya telah kehilangan putrinya selamanya.
Dan akhirnya...
Kebenaran.
Ibuku masih hidup.
Dan ia sedang mencariku.
Air mataku mulai jatuh bahkan sebelum aku menyadarinya.
Hatiku terasa terlalu kecil untuk menampung begitu banyak emosi.
Amarah.
Luka.
Harapan.
Ketakutan.
Kerinduan pada seseorang yang bahkan tidak kukenal.
"Jadi... ia tidak meninggalkanku?" tanyaku dengan suara bergetar.
Dante menyeka air mata yang mengalir di pipiku.
"Tidak, sayang. Dari yang kami temukan, ia percaya kau sudah meninggal."
Kupejamkan mata.
Bertahun-tahun aku membayangkan seorang wanita kejam.
Ibu tanpa hati.
Seseorang yang tidak menginginkanku.
Kini aku tahu bahwa mungkin ia menderita sama besarnya denganku.
Mungkin lebih.
Karena aku tidak pernah tahu apa yang kuhilangkan.
Namun ia percaya telah kehilanganku selamanya.
Dante memelukku.
Dan dalam pelukan itu, aku runtuh.
Kutangiskan semua yang terpendam di dalam diriku.
Semua luka gadis kecil yang ditinggalkan.
Semua rasa tidak aman si yatim piatu.
Semua kekalutan wanita yang baru saja tahu bahwa kisah hidupnya adalah sebuah kebohongan.
Seolah itu belum cukup, Dante masih punya satu kebenaran lagi untuk kuketahui.
Sebuah kebenaran yang berbahaya.
"Ada hal lain."
Kuangkat kepalaku.
"Apa?"
Tatapannya menggelap.
"Ayah tirimu, Don Bellaggio."
Perutku mengejang.
"Ada apa dengannya?"
"Ia sedang menjalin aliansi."
"Aliansi?"
"Dengan musuh lama keluarga Herrera."
Darahku terasa membeku.
"Ya Tuhan..."
"Kami sedang menyelidiki semuanya. Kami belum tahu seberapa besar masalahnya, tapi ada indikasi mereka berniat memulai sengketa wilayah."
Mafia.
Bahkan setelah menikah, kata itu tetap membuatku takut.
Karena aku tahu persis apa artinya.
Kekerasan.
Pengkhianatan.
Perang.
Dante menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
"Tatap aku."
Aku menurut.
"Tidak akan terjadi apa-apa padamu."
"Dante..."
"Aku berjanji."
Tatapannya kokoh.
Penuh tekad.
Tatapan seorang pria yang akan menghadapi seluruh dunia demi aku.
Dan pada saat itu, aku percaya.
Keesokan harinya aku terbangun dalam keadaan lelah secara emosional.
Pikiranku bagai gulungan benang yang mustahil diurai.
Lalu Consuelo melakukan hal yang paling ia kuasai.
Merawat kami. Ia mengantarku ke biara.
Ketika tiba di biara, aku melihat Ibu Kepala Biara. Ia menyambutku dengan pelukan erat.
Salah satu pelukan yang membuat luka apa pun terasa lebih kecil.
Lalu aku memberanikan diri dan menceritakan seluruh kisahnya.
"Putriku, kau perlu beristirahat."
"Aku tidak bisa berhenti berpikir."
"Justru karena itu."
Ia mengelus rambutku.
Seperti yang ia lakukan waktu aku masih kecil.
"Luangkan hari ini untuk dirimu sendiri."
"Ibu..."
"Tanpa bantahan."
Aku tersenyum di sela air mata.
Ia tetap sama.
Kokoh.
Penuh kasih.
Tak tergoyahkan.
Kuhabiskan sisa hari itu di biara.
Berjalan menyusuri taman-taman.
Mengunjungi tempat-tempat aku tumbuh besar.
Bangku tempat aku dulu suka membaca.
Kapel tempat aku memanjatkan doa.
Koridor tempat aku berkali-kali berlari bersama teman-temanku.
Dan tak sedetik pun aku sendirian.
Bárbara tetap di sisiku bagai pengawal emosionalku yang sejati.
Natália membuatku tertawa ketika aku hampir menangis.
Graziela menggenggam tanganku setiap kali keheningan terasa terlalu berat.
Seperti yang kami lakukan sejak kecil.
Seperti yang selalu kami lakukan.
Duduk di bawah pohon tua di taman, kutatap teman-temanku.
Saudari-saudariku.
Keluargaku.
Dan aku menyadari sesuatu yang penting.
Mungkin aku baru saja menemukan ibuku.
Namun aku tidak pernah tanpa keluarga.
Karena Tuhan sudah menempatkan satu keluarga di jalanku jauh sebelumnya.
Sementara itu, jauh dari biara, para pria Herrera tenggelam dalam masalah mereka sendiri.
Rômulo memimpin rapat-rapat strategis.
Kevin menganalisis laporan keuangan.
Giovanni mengawasi operasi dan jalur-jalur.
Pietro memantau pergerakan mencurigakan para rival.
Dan Dante...
Suamiku.
Dante-ku tercinta.
Meski dikelilingi tanggung jawab, panggilan telepon, dan keputusan-keputusan berbahaya, tak pernah lewat satu jam pun tanpa ia mengirimiku pesan.
Sebuah panggilan.
Sepatah kata sayang.
Sebuah tanda bahwa aku tetap menjadi prioritasnya.
Malam itu, ketika ia pulang, ia menemukanku di beranda.
Menatap bintang-bintang.
Ia memelukku dari belakang.
Mencium rambutku.
Dan menyandarkan dagunya di bahuku.
"Sudah lebih baik?"
Aku tersenyum tipis.
"Sedikit."
"Sedikit pun sudah merupakan awal."
Kami menautkan jemari.
Dalam diam.
Hanya menikmati kehadiran satu sama lain.
Karena kadang cinta tidak butuh jawaban.
Tidak butuh janji.
Tidak butuh kata-kata.
Kadang ia hanya berada di sana.
Kokoh.
Konstan.
Bagai mercusuar di tengah badai.
Dan pada saat itu, ketika dunia seolah bersiap menghadapi perang baru, aku menemukan satu kebenaran sederhana.
Tidak peduli apa yang akan terjadi.
Tidak peduli siapa yang muncul dari masa laluku.
Aku tidak lagi sendirian.
Aku adalah Mary Herrera.
Dan aku memiliki keluarga yang siap menghadapi badai apa pun di sisiku.