Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : UJIAN KECIL UNTUK HERO
Setelah berpamitan kepada Diana dan tunangannya, Laura mengikuti Hero menuju mobil. Namun, pikirannya masih tertuju pada percakapan mereka tadi. Perkataan tunangan Diana tentang Hero terus terngiang di kepalanya, terutama ketika pria itu mengatakan bahwa ia meragukan Hero benar-benar menjadikan Laura sebagai mempelainya.
Laura sendiri sebenarnya masih memiliki pertanyaan yang sama. Semua yang terjadi dalam hidupnya terasa begitu cepat. Baru beberapa waktu lalu dia bahkan tidak mengenal Hero, tetapi sekarang pria itu sudah begitu dekat dengannya dan selalu mengatakan bahwa Laura adalah mempelainya.
Begitu sampai di mobil, Hero membukakan pintu untuk Laura. Setelah Laura masuk, Hero ikut masuk dari sisi lainnya. Namun, bukannya duduk di samping Laura, dia langsung menarik tubuh Laura perlahan hingga berada di pangkuannya.
Laura yang tidak menyangka hal itu langsung menatap Hero dengan wajah bingung. “Hero, kenapa aku malah dipangku seperti ini? Aku bisa duduk sendiri.”
Hero tersenyum kecil sambil merapikan posisi Laura agar lebih nyaman. Tangannya kemudian melingkar di pinggang Laura dengan santai. “Aku tahu kamu bisa duduk sendiri. Aku hanya ingin dekat denganmu selama perjalanan pulang.”
Laura menghela napas pelan. “Kamu ini memang aneh, dari tadi tidak mau melepaskan aku.”
“Memangnya aku harus melepaskanmu?” balas Hero sambil menatap wajah Laura.
Laura tidak langsung menjawab dia hanya menggeleng kecil, lalu bersandar di dada Hero. Meskipun masih merasa sedikit canggung, anehnya dia mulai terbiasa dengan perlakuan pria tersebut.
Mobil pun mulai bergerak meninggalkan rumah Diana.
Beberapa menit berlalu dalam suasana yang tenang. Laura masih memikirkan percakapan sebelumnya sampai akhirnya dia mengangkat wajah dan menatap Hero.
“Hero, tadi tunangan Diana mengatakan sesuatu tentangmu,” ujar Laura pelan. Nada suaranya terdengar ragu karena dia masih memikirkan perkataan tersebut.
Hero yang sejak tadi mengusap rambut Laura langsung menundukkan wajahnya. “Apa yang dia katakan?”
“Katanya dia sering melihatmu di beberapa pertemuan bisnis. Menurutnya, kamu sangat dingin kepada para wanita yang mencoba mendekatimu.” Laura berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan tatapan penasaran, “Dia bahkan meragukan kalau kamu benar-benar menjadikanku mempelai.”
Hero tidak terlihat marah dia justru tersenyum tipis sambil memperhatikan wajah Laura.
“Lalu setelah mendengar perkataannya, apa yang kamu pikirkan?” tanyanya.
Laura terdiam beberapa saat. Jarinya tanpa sadar memainkan ujung jas Hero sebelum akhirnya dia menjawab dengan jujur, “Aku juga masih bingung. Semuanya terjadi terlalu cepat. Aku bertemu denganmu secara tidak sengaja, kemudian kamu mengatakan aku adalah mempelaimu. Sampai sekarang aku masih sering bertanya-tanya apakah semua ini benar-benar nyata.”
Hero mendengarkan tanpa menyela. Setelah Laura selesai berbicara, tangannya bergerak perlahan mengusap kepala Laura dengan hati-hati, menghindari bagian yang masih terluka.
“Aku tahu kamu masih sulit mempercayainya,” ujar Hero dengan suara lembut. “Tapi aku tidak pernah mengatakan sesuatu seperti itu hanya untuk bermain-main. Sejak pertama kali melihatmu malam itu, aku sudah memutuskan untuk melindungimu.”
Laura mengangkat wajahnya dan menatap mata Hero. “Tapi kenapa harus aku? Kita bahkan baru bertemu malam itu.”
Hero terdiam sebentar. Tatapannya menjadi lebih lembut sebelum dia menjawab, “Aku sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Yang aku tahu, ketika melihatmu malam itu, aku tidak sanggup membiarkanmu sendirian dalam keadaan seperti itu.”
Laura menundukkan wajahnya. Jawaban Hero tidak benar-benar menjawab semua pertanyaannya, tetapi entah kenapa perkataan itu membuat hatinya terasa sedikit hangat.
Laura kemudian teringat sesuatu Kalau Hero memang benar-benar serius, seharusnya tidak sulit untuk menguji sedikit kesungguhannya.
Laura mengangkat wajahnya lagi, kali ini dengan senyum kecil yang membuat Hero langsung memperhatikannya.
“Hero.” gumam Laura.
“Hm?” sahut Hero sambil menunggu.
“Aku ingin mampir ke toko es krim sebelum pulang.” kata Laura untuk menguji Hero.
Hero bahkan tidak membutuhkan waktu untuk berpikir. “Baik. Kita mampir.”
Laura sampai berkedip karena tidak menyangka jawabannya akan secepat itu, dia kemudian bertanya lagi, “Kamu tidak mau bertanya dulu toko mana? Bagaimana kalau tempatnya jauh?”
“Tidak masalah. Kalau kamu ingin es krim, kita cari toko yang masih buka atau tidak kita beli sekalian toko nya agar kamu bisa makan es krim sepuas.” kata Hero dengan tenang ke arah Laura.
Laura menahan senyum rupanya Hero benar-benar tidak keberatan dan sampai harus membeli toko nya sekalian itu terlalu kelewat kalau hanya untuk menguji Hero.
“Kalau aku ingin memilih sendiri rasanya?” tanyanya lagi, sengaja mencari alasan untuk melihat seberapa jauh Hero akan menuruti keinginannya.
Hero justru tersenyum melihat tingkah Laura. “Pilih saja sesukamu, Aku akan menunggu dan jika perlu kita beli tokonya sekalian.”
Laura akhirnya tertawa kecil. “Kamu ternyata gampang sekali dibujuk dan untuk beli tokonya itu terlalu banyak hero.”
“Kalau yang meminta kamu, mungkin aku memang tidak bisa menolak,” jawab Hero santai.
Laura yang mendengar jawaban itu langsung terdiam. dia tidak menyangka Hero bisa mengatakan sesuatu yang begitu manis tanpa terlihat malu sedikit pun.
Dari kursi depan, Valen yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. dia sudah lama mengenal Hero, tetapi melihat atasannya berubah seperti ini setiap kali bersama Laura tetap saja membuatnya merasa heran.
“Tuan, ada toko es krim tidak jauh dari sini,” ujar Valen sambil memperhatikan jalan. “Kalau kita belok di persimpangan berikutnya, kita bisa sampai dalam beberapa menit.”
“Belok ke sana,” jawab Hero.
“Baik, Tuan.” jawab Valen.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah toko es krim yang masih cukup ramai. Lampu toko masih menyala terang dan beberapa pelanggan terlihat duduk menikmati makanan mereka.
Hero turun lebih dahulu, kemudian berjalan ke sisi Laura dan membukakan pintu.
“Hati-hati,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Laura menerima tangan tersebut dan turun dari mobil. Baru saja dia berdiri, Hero langsung menggenggam tangannya.
Laura menatap tangan mereka yang saling bertaut, lalu melihat Hero dengan sedikit heran. “Kenapa pegang tanganku?”
Hero menjawab santai, “Karena aku ingin.”
Laura tertawa kecil. “Aku tidak akan lari.”
“Aku tahu,” jawab Hero sambil tersenyum. “Tapi aku tetap ingin menggenggam tanganmu.”
Laura tidak bisa membantah lagi. dia akhirnya membiarkan Hero menggenggam tangannya dan berjalan bersama menuju toko.
Begitu mereka masuk, suasana di dalam toko perlahan berubah. Beberapa orang yang sedang mengobrol mulai menoleh, sementara sebagian lainnya diam-diam memperhatikan Hero.
Bukan hanya karena penampilannya yang begitu berwibawa, tetapi juga karena pria itu datang bersama seorang wanita dan tidak melepaskan tangannya sedikit pun.
Laura mulai menyadari tatapan tersebut. Langkahnya perlahan melambat, sementara wajahnya terlihat sedikit canggung.
“Kenapa semua orang melihat kita?” bisiknya.
Hero menoleh kepadanya. “Biarkan saja.”
“Tapi mereka terus melihat.” gumam Laura Dengan suara pelan.
Hero menggenggam tangan Laura sedikit lebih erat. “Kalau begitu, jangan lihat mereka. Lihat aku saja.”
Laura menatap Hero dan tanpa sadar tersenyum kecil. “Kamu bisa saja bicara seperti itu.”
“Memangnya salah?” tanya Hero dengan sedikit menggoda Laura.
“Tidak,” jawab Laura sambil menahan senyum. “Aku hanya belum terbiasa.”
Hero kemudian sedikit mendekat kepadanya. “Kalau begitu, mulai sekarang biasakan.”
Laura mengerutkan kening. “Biasakan apa?”
“Berjalan di sampingku tanpa perlu memikirkan tatapan orang lain.” jelas Hero.
Perkataan itu membuat Laura terdiam dia kemudian kembali berjalan bersama Hero menuju meja pemesanan.
Sesampainya di depan kasir, Hero menoleh kepada Laura. “Pilih yang kamu mau.”
Laura melihat daftar menu dengan serius. “Aku mau cokelat.”
Hero mengangguk. “Baik.”
Laura kemudian menunjuk menu lainnya. “Yang stroberi juga kelihatannya enak. Kalau aku pesan dua, boleh?”
Hero tersenyum kecil. “Kenapa bertanya? Pesan saja.”
“Kalau nanti tidak habis?” tanya Laura.
“Aku yang habiskan.” jawab hero dengan tenang.
Laura tertawa pelan. “Kamu selalu punya jawaban.”
“Karena aku tidak ingin kamu memikirkan hal-hal kecil seperti itu.” kata Hero.
Setelah memesan es krim, mereka memilih meja di sudut ruangan. Hero tetap menggenggam tangan Laura sampai mereka duduk.
Laura melihat sekeliling sekali lagi. Beberapa orang masih memperhatikan mereka, membuatnya kembali merasa sedikit malu.
Hero yang menyadarinya langsung mengusap punggung tangan Laura dengan ibu jarinya.
“Masih canggung?” tanyanya.
Laura mengangguk kecil. “Sedikit. Aku tidak terbiasa diperhatikan sebanyak ini.”
Hero menatapnya dengan tenang. “Kalau begitu, dengarkan aku. Kamu tidak perlu merasa malu hanya karena berada di sampingku.”
Laura terdiam mendengar perkataan itu.
Hero kemudian tersenyum tipis. “Aku justru ingin semua orang tahu bahwa kamu bersamaku.”
Jantung Laura berdetak sedikit lebih cepat. dia menundukkan wajahnya sambil memainkan ujung lengan bajunya. Dalam hati, Laura mulai menyadari bahwa mungkin tunangan Diana memang salah.
Hero bukan hanya sedang bermain-main dengannya.pria itu benar-benar menganggapnya penting.
Dan tanpa Laura sadari, ujian kecil yang tadi dia berikan justru membuat dirinya semakin sulit menyangkal satu hal. Hero benar-benar serius menjadikannya sebagai mempelai.