“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Reja bangkit sedikit, menatap Celin dengan intensitas yang mencekam.
"Inget, Celin. Sekali aja lo bikin gue kesel di rumah baru nanti, gue nggak perlu tangan gue sendiri buat hancurin mereka. Satu telepon ke orang-orang Papa, dan temen lo itu bakal kehilangan cafenya, sementara bokap lo... well, penjara bakal ngerasa kayak surga dibanding apa yang bakal gue lakuin ke dia."
Celin hanya bisa mengangguk pelan. Di dalam hatinya, ia sudah mengubur Celin yang berani dan tegas.
Demi orang-orang yang ia cintai, ia bersedia menjadi bayangan di rumah baru itu nanti—sebuah rumah yang ia tahu hanya akan menjadi saksi bisu dari siksaan fisik dan mental yang lebih berat dari sebelumnya.
Sabtu pagi tiba dengan suasana yang mencekam. Di dalam kamar luas itu, suasana jauh dari kata ceria layaknya pasangan yang hendak menempati rumah baru.
Tidak ada tawa, tidak ada rencana tentang dekorasi ruangan. Yang ada hanya suara resleting koper yang ditarik kasar dan langkah kaki Reja yang mondar-mandir dengan gusar.
Celin bergerak dalam diam. Ia melipat pakaiannya dengan rapi, memasukkannya ke dalam koper kecil yang tampak sangat kontras dengan deretan koper mewah bermerek milik Reja.
Sesekali ia meraba lehernya yang sengaja ia tutup dengan syal tipis meski cuaca sedang tidak terlalu dingin.
Reja melemparkan beberapa pasang sepatu mahalnya ke dalam koper tanpa peduli. Ia sesekali melirik Celin yang tampak sangat tenang, terlalu tenang sampai membuat Reja merasa terganggu.
"Nggak usah bawa baju-baju kusam lo itu," cetus Reja sambil menendang salah satu tumpukan baju Celin.
"Papa udah beliin baju-baju baru di sana. Gue nggak mau rumah baru gue kelihatan kumuh gara-gara barang-barang lo."
Celin tidak membantah. Ia hanya mengambil kembali baju yang ditendang Reja, melipatnya ulang, dan menyisihkannya. "Ini pemberian Ibu Kirei. Gue bakal tetep bawa."
Reja mendengus, namun ia tidak melanjutkan makiannya. Ia sedang malas berdebat karena sisa alkohol semalam masih membuat kepalanya berdenyut.
Di lobi mansion, Adrian dan Livia sudah menunggu untuk melepas mereka. Adrian tampak tersenyum puas, memegang pundak Reja dengan bangga.
Suasana di lobi mansion pagi itu sebenarnya sangat berisiko bagi Reja. Bau alkohol yang masih samar dan lingkaran hitam di bawah matanya adalah bukti nyata kenakalannya semalam.
Namun, Reja adalah pakar dalam hal bersandiwara di depan Papanya.
Sebelum turun ke lobi, Reja telah mengguyur wajahnya dengan air es, memakai parfum maskulin yang cukup kuat untuk menutupi sisa aroma alkohol, dan menggunakan tetes mata untuk menghilangkan rona merah di matanya.
"Ingat pesan Papa, Reja. Jaga Celin baik-baik. Belajarlah jadi laki-laki yang bertanggung jawab." Ucap Adrian tegas.
Reja hanya mengangguk malas. Matanya melirik ke arah ibunya yang tampak enggan melepaskannya tinggal bersama Celin.
Adrian menyipitkan mata saat melihat putranya tadi turun tangga dengan langkah yang sedikit terlalu kaku. "Reja, kamu keliatan pucat. Apa kamu kurang tidur semalam? Mata kamu juga tampak lelah."
Livia ikut mendekat, raut wajahnya penuh kecemasan. "Iya, Sayang. Kamu sakit? Mama tidak dengar kamu keluar kamar semalam, tapi wajahmu seperti orang yang tidak tidur."
Reja mengatur napasnya, lalu memasang wajah yang terlihat lelah namun bertanggung jawab. Ia melirik Celin sebentar—sebuah tatapan peringatan agar gadis itu tetap bungkam—lalu menatap ayahnya dengan tenang.
"Reja kurang tidur karena sibuk memindahkan beberapa file materi perusahaan yang Papa kasih kemarin ke laptop baru, Pa," bohong Reja dengan lancar.
"Reja mau mempelajarinya lebih dulu sebelum nanti masuk kantor. Reja gak mau mempermalukan Papa di depan staf lain nanti."
Mendengar alasan itu, raut wajah Adrian yang tadinya penuh selidik langsung berubah menjadi binar bangga. "Begitu? Baguslah kalau kamu punya inisiatif. Tapi ingat, kesehatan juga penting."
"Tadi malam Reja juga sempat pusing, mungkin karena stres memikirkan tanggung jawab baru, jadi Reja minum obat tidur dosis ringan yang ada di kotak obat. Makanya sekarang agak teler dikit," tambah Reja untuk menjelaskan gerakannya yang agak sempoyongan.
Livia mengelus lengan Reja. "Duh, jangan terlalu dipaksakan, Nak. Celin, kamu harus bantu Reja ya, jangan buat dia makin stres."
Celin hanya bisa menelan ludah pahit. Ia melihat betapa lihainya Reja membalikkan fakta. Di depan orang tuanya, Reja tampak seperti anak yang berdedikasi, padahal semalam pria itu baru saja hampir mencekiknya sebelum pergi mabuk-mabukan.
"Ma, Reja pergi dulu," ucapnya singkat.
Adrian beralih ke Celin, menatapnya dengan penuh kebapakan. "Celin, kalau ada apa-apa, kalau Reja nakal atau membuatmu susah, langsung telepon Papa, ya? Jangan sungkan."
Celin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Iya, Pa. Terima kasih."
Reja yang melihat interaksi itu langsung menyambar kunci mobilnya. "Udah kan dramanya? Ayo berangkat."
Mobil SUV mewah itu membelah jalanan kota yang cukup padat. Di balik kemudi, Reja mengenakan kacamata hitam, wajahnya terlihat tegang dan tangannya sesekali mengetuk setir dengan tidak sabar.
Di sampingnya, Celin hanya terdiam, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Pikirannya melayang jauh ke percakapan singkat namun mendalam dengan Adrian di sudut ruang tengah, sesaat sebelum mereka berangkat tadi.
"Celin..." Adrian memegang tangan Celin dengan genggaman yang terasa berat oleh harapan. "Papa tahu ini tidak adil untukmu. Menikahkanmu dengan anak seperti Reja adalah beban besar. Tapi Papa sudah kehabisan cara."
Celin teringat bagaimana gurat lelah di wajah pria perkasa itu tampak begitu nyata.
"Reja itu liar. Dia pernah memukul orang asing di jalan hanya karena pengaruh alkohol sampai orang itu koma. Dia sering pulang pagi tanpa kabar, entah di klub mana dia menghabiskan uangnya. Yang paling menyakitkan, dia pernah menjadikan salah satu mobil koleksi Papa sebagai taruhan balap liar... dan dia kalah."
Adrian menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Puncaknya, dia pernah mendekam di sel penjara karena aksi motor sport-nya yang membahayakan lalu lintas. Nama keluarga kita hampir hancur. Papa titipkan dia padamu, Celin. Tolong... bantu dia berubah. Papa percaya hanya kamu yang punya kekuatan untuk menghadapi keras kepalanya."
Celin memejamkan matanya rapat-rapat. "Gimana bisa Celin mengubahnya, Pa?" batinnya miris. Sedangkan untuk bernapas di sampingnya saja aku sudah ketakutan.
Reja melirik Celin dari balik kacamata hitamnya. Ia menyadari kegelisahan gadis itu. "Kenapa lo? Muka lo makin pucat. Masih kepikiran sandiwara 'anak berbakti' gue di depan Papa tadi?"
Celin tidak menoleh, ia tetap menatap ke luar jendela. "Papa cerita semuanya. Tentang balapan motor, taruhan mobil, sampai... sel penjara."
Mendengar kata penjara, Reja mendadak menginjak rem dengan cukup keras karena lampu merah, membuat tubuh Celin terdorong ke depan.
Reja melepaskan kacamata hitamnya, menatap Celin dengan sorot mata yang penuh kebencian dan rahasia yang kelam.
"Ooh, jadi Papa udah buka kartu?" Reja terkekeh sinis, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya di dalam ruang mobil yang sempit.
"Bagus kalau lo udah tahu. Jadi lo nggak perlu berekspektasi kalau gue ini cowok baik-baik."
Reja mendekatkan tubuhnya ke arah Celin, tangannya mencengkeram erat sandaran kursi gadis itu. "Papa bilang apa lagi? Dia minta lo jadi malaikat penyelamat gue? Dia minta lo ngerubah gue jadi anak manis kesayangannya?"
Celin memberanikan diri menatap mata Reja. "Papa cuma punya harapan, Reja. Harapan yang mungkin nggak akan pernah bisa lo hargai."
"Harapan itu sampah!" Reja membentak, suaranya menggelegar di dalam mobil. "Jangan pernah coba-coba mainin peran istri yang baik yang mau ngerubah gue. Sekali lo coba-coba ikut campur urusan hidup gue atau ceramahin gue, gue pastiin lo bakal nyesel pernah kenal sama yang namanya Bagaskara."
Bersambung...