NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

MARCO D'AMATO

Pintu tertutup di belakang Pietra.

Dan bersamanya, seakan udara ikut tersedot pergi.

Aku terdiam beberapa detik, mataku terpaku pada ruang kosong tempat ia berdiri sesaat tadi.

Meja itu masih menyimpan hangat kehadirannya. Atau mungkin cuma kepalaku yang mengarang hal-hal yang seharusnya bahkan tak kusadari.

"Ini sebuah kesalahan."

Suara Irina memecah keheningan.

Aku tak menjawab.

Aku memang tak mau menjawab.

Ia mulai berjalan mondar-mandir di ruangan, melempar map ke atas meja dengan tenaga berlebihan.

"Dia tak akan sanggup menutup satu kontrak pun," lanjutnya. "Dua puluh pemegang saham berpengalaman, penuntut, Marco. Orang-orang yang sudah bernegosiasi selama puluhan tahun. Gadis itu..."

Gadis.

Rahangku mengeras.

"Dia tak punya kewibawaan yang cukup, tak punya jam terbang di perusahaan, tak punya..."

Irina terus bicara.

Aku tak mendengarkan.

Pandanganku tersangkut di meja Pietra, di seberang ruangan. Tepat di tempat ia biasa duduk.

Beberapa menit lalu, aku berdiri terlalu dekat dengannya. Cukup dekat untuk merasakan.

Leher yang terbuka itu.

Kulit yang pucat.

Gerakan lambat dan tak sadar saat ia menyibakkan rambutnya, tanpa tahu efek yang ditimbulkannya padaku.

Aku memejamkan mata sesaat.

Aroma itu kembali menyergap dengan kuat. Manis. Lembut. Hangat. Tak mencolok. Tak murahan.

Sesuatu yang tak memohon perhatian ternyata cukup sekadar ada.

Aku menarik napas dalam-dalam, seolah bisa menyedot aroma itu kembali ke paru-paruku hanya lewat ingatan. Tubuhku merespons sebelum akal sehatku sempat ikut campur.

Sial.

"Marco!"

Irina meninggikan suara.

"Kau mendengarkanku, tidak?"

Aku membuka mata perlahan.

"Iya," dustaku.

Ia mendekat, berhenti tepat di depanku.

"Tidak," katanya, dingin. "Kau tak berkedip. Tak bereaksi. Tak membantah satu pun yang kukatakan."

Aku menyilangkan tangan, berusaha merebut kembali kendali.

"Pietra tidak buruk dalam bekerja," ujarku. "Kau tahu itu."

Irina tertawa, tanpa humor.

"Sekarang ini bukan soal pekerjaan. Sudah tercetak jelas di wajahmu bahwa dia tak bisa keluar dari kepalamu."

Hening.

Terlalu berbahaya untuk kubantah begitu saja.

"Kau tak pernah bersikap begini," lanjutnya. "Kau tak mendelegasikan rapat penting. Kau tak melindungi karyawan baru sampai sebegini. Dan kau jelas-jelas tak pernah menatap seseorang seolah—"

Ia berhenti di tengah kalimat.

"Seolah apa?" tanyaku, rendah.

Irina menatapku lekat.

"Seolah kau sedang berusaha mengingat sesuatu..."

Tubuhku menegang.

Sialan.

Ia melihatnya.

"Ada apa denganmu, Marco?" tanyanya, kini lebih menahan diri, hampir cemas. "Sejak kapan seorang sekretaris berubah jadi... ini?"

Sejak kapan seseorang masuk tanpa meminta izin, batinku.

Sejak kapan ada orang yang tak menunduk.

Sejak kapan ada orang yang berdiri terlalu dekat dan tak mundur.

Aku mengusap wajah, kembali menarik napas panjang.

"Pietra kompeten," kataku, tegas. "Dan dia akan membuktikannya di ruangan itu."

"Bagaimana kalau dia gagal?" Irina mendesak.

Aku bangkit perlahan, dengan wibawa penuh.

"Kalau begitu, kesalahannya ada padaku," jawabku. "Tapi itu tidak akan terjadi."

Irina mengamatiku beberapa detik, seolah berusaha mengenali lelaki yang berdiri di hadapannya.

"Kau terobsesi padanya," katanya akhirnya. "Dan itu akan membuatmu membayar mahal."

Mungkin itu benar.

Tapi ketika aku melangkah ke jendela, memandang kota di bawah sana, satu-satunya yang bisa kupikirkan adalah dia—duduk di meja rapat itu sekarang, mantap, penuh konsentrasi.

Caranya yang tak akan pernah menundukkan kepala.

Nada suaranya yang begitu yakin.

Leher yang terbuka tanpa maksud apa pun.

Aku memejamkan mata sekali lagi.

Menarik napas.

Kosong.

Aroma itu tak ada di sana.

Dan itu... membuatku jengkel lebih dari yang seharusnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!