NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Bulan purnama bersinar terang di langit kota, beradu dengan gumpalan awan hitam yang perlahan mengikis cahayanya. Angin malam berhembus dingin, menusuk kulit. Di dalam gang sempit itu, dua orang masih saling menodongkan senjata, mengunci tatapan satu sama lain.

“Kau ingin membunuhku?” tanya Gilang dingin, menatap lurus ke dalam manik mata Bella.

“Awalnya bukan itu rencanaku. Tapi sekarang, aku tergoda melakukannya,” jawab Bella tanpa ragu.

Gilang mengangguk pelan. “Jika kau tidak mau membunuhku, turunkan pisaumu dan mari kita bicara.”

“Kenapa tidak kau duluan yang menurunkan pistolmu?” tantang Bella.

Gilang kembali mengangguk. “Baiklah. Bagaimana kalau hitungan ketiga kita turunkan bersama-sama?”

Sepakat dengan keputusannya sendiri, Gilang mulai berhitung.

“Satu.”

“Dua.”

“Tiga.”

Begitu hitungan ketiga usai, suasana mendadak senyap. Keduanya tetap bergeming, tak ada satu pun yang menurunkan senjata.

Gilang menghela napas panjang. “Kau tidak percaya padaku?”

“Aku menanyakan hal yang sama,” balas Bella tajam.

Keduanya terjebak dalam rasa saling curiga. Gilang mengira wanita di hadapannya adalah bawahan Ichikawa sekaligus seorang pembunuh bayaran.

“Kau pembunuh bayaran, ya?” tanya Gilang memastikan.

“Selama ini kau pasti hidup dengan licik karena terus mencemaskan nyawamu,” sahut Bella, mengalihkan pertanyaan.

“Kita hidup di masa itu,” ujar Gilang datar.

Gilang memang selalu mencemaskan nyawanya. Baru kemarin ia disiksa di ruang penyiksaan, belum lagi intaian mata-mata di setiap sudut. Kegagalan menjalankan perintah dari Ichikawa hanya berarti satu hal: kematian.

“Kita tidak bisa hidup tanpa berbuat jahat. Bisa mati tanpa alasan jelas walau tidak bersalah,” lanjut Gilang dengan nada santai.

Pria itu perlahan menjauhkan moncong pistol dari kening Bella, lalu memasukkannya ke dalam saku jas. Bella memperhatikan setiap gerakannya. Gilang kemudian mengangkat kedua tangan sejajar bahu sambil menggeleng kecil.

Melihat itu, Bella ikut menurunkan pisau dari leher Gilang. Ia membungkuk, menyelipkan senjata tajam itu ke dalam sepatu boot-nya, lalu kembali berdiri menatap Gilang.

“Apa yang kamu mau dariku?” tanya Gilang.

“Aku dengar kau sumber info utama Jayakarta,” ujar Bella.

“Pasti kau juga mendengar hargaku bergantung pada informasi itu. Dari tingkat tinggi sampai rendah, harganya bervariasi,” sahut Gilang memberi tahu.

Bella menatap Gilang dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Aku sedang mencari seseorang. Dia orang Jepang.”

“Pekerjaannya?”

“Seniman,” jawab Bella singkat.

Gilang melirik ke kiri sejenak. “Jika bukan tentara atau pejabat, berarti info tingkat rendah. Sayangnya aku tidak berurusan dengan info semacam itu. Selain melelahkan, imbalannya kecil.”

“Namanya Sachimoto,” potong Bella tanpa memedulikan penolakan Gilang.

Gilang menggelengkan kepala. “Tidak tahu.”

“Usianya sekitar pertengahan tiga puluhan,” tambah Bella lagi.

“Entahlah,” ujar Gilang, kembali menggeleng.

“Dia sepertinya tidak fasih dengan dialek Nusantara. Mungkin belum lama datang dari Jepang,” seru Bella terus melengkapi ciri-ciri seniman itu. Namun, Gilang tampak benar-benar tidak tahu-menahu.

“Aku sungguh tidak tahu,” tegas Gilang seraya merentangkan tangan dan menggeleng pasrah.

Bella menatapnya nanar. Ia menundukkan kepala, menghela napas berat yang terasa sarat beban. “Aku mencari ibuku yang hilang sepuluh tahun lalu.”

Mendengar pengakuan itu, pemikiran picik melintas di kepala Gilang. Ia berspekulasi bahwa ibu Bella telah berselingkuh dengan Sachimoto, sebuah pemikiran yang sebenarnya sangat tidak sopan untuk diutarakan.

“Oh, jadi ibumu selingkuh dengan Sachimoto?” tanya Gilang tanpa beban.

Bella tertegun. “Apa?”

“Sepuluh tahun itu waktu yang cukup lama. Ibumu mungkin sudah punya keluarga baru. Bukankah lebih baik tidak dicari lagi?” ucap Gilang menyuarakan isi kepalanya.

Plak!

Sebuah tamparan keras melayang tepat di wajah Gilang. Pipi pria itu terasa panas membakar. Bella menatapnya dengan napas memburu.

“Dasar brengsek!” maki Bella murka. Ia tak terima ibunya dituduh berselingkuh begitu saja.

“Dari ucapanmu, ternyata kau bukan sumber info utama Jayakarta,” desak Bella mendekat dengan alis bertaut tajam. “Kau itu sampah utamanya.”

Gilang hanya terdiam dan menghela napas. “Aku tidak akan menyangkal. Terlahir seperti sampah dan menjalani hidup yang ulet tapi tidak berguna... itu memang benar.”

Mata Bella berkaca-kaca menahan emosi yang membuncah. “Jaga mulutmu. Asal bicara bisa membuatmu terbunuh,” bisiknya pelan sebelum berbalik melangkah pergi.

“Siapa namamu?” panggil Gilang, penasaran.

Bella menghentikan langkahnya membelakangi Gilang. Ia memungut topinya yang sempat terjatuh saat perkelahian tadi, lalu mengibas kotorannya. Wanita itu berbalik, melangkah melewati Gilang begitu saja. Namun, tiba-tiba Gilang bersuara saat mereka berpapasan.

“Matamu sangat indah,” puji Gilang.

Lagi-lagi Bella menghentikan langkah. Raut wajahnya berubah makin sengit. Ia membalikkan badan, maju memangkas jarak hingga berada tepat di hadapan Gilang.

“Kau melecehkanku?” geram Bella.

Gilang menatapnya dalam diam dengan sorot mata yang sulit dibaca.

“Haruskah aku lubangi matamu itu?” bisik Bella penuh ancaman.

Gilang memiringkan kepala, lalu mengangguk pelan. “Aku senang bertemu denganmu.”

“Dasar gila!” maki Bella tak percaya. Namun, sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk ukiran tipis dengan mata yang berbinar. Ia berbalik dan benar-benar melangkah pergi.

“Sampai jumpa!” seru Gilang dari belakang.

Bella tidak lagi menghiraukan panggilan itu dan terus berjalan menembus kegelapan malam.

Gilang menatap bayangan Bella yang kian menjauh, lalu mengalihkan pandangannya ke tanah. “Dia mencari Sachimoto?” gumamnya pada diri sendiri.

“Sachimoto...” ulang Gilang, berusaha menggali ingatannya.

Setetes bercak darah tampak menghiasi wajahnya. Gilang mengernyit merasakan perih, lalu menyapu keningnya perlahan. Ia pun berbalik meninggalkan gang sunyi itu, sementara jauh di belakangan, samar-samar kuncup bunga sakura tampak mulai bermekaran di balik kegelapan.

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!