NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Konferensi pers digelar di aula Hotel Majestic, tempat yang sama di mana beberapa hari lalu berlangsung gala amal. Tetapi kali ini tak ada bunga, tak ada orkestra. Yang ada hanya mikrofon, kamera, wartawan dengan buku catatan, dan fotografer dengan lensa raksasa.

Maya berdandan lebih cermat dari biasanya. Gaun biru laut, potongan klasik, anggun tetapi tenang. Perhiasan yang sederhana. Rambut tergerai, sedikit bergelombang. Ia tampak bagai seorang ibu negara, bukan istri seorang mafioso.

Bara menunggunya di lobi hotel, setelan abu-abu, dasi biru, tanpa cela. Ia menatap Maya dari atas ke bawah dengan intensitas yang kini tak lagi menciutkan nyalinya.

"Kamu sempurna," katanya.

"Aku tahu," jawab Maya, dan kali ini itu bukan kesombongan. Itu sekadar pernyataan fakta.

Mereka melangkah bersama ke atas panggung. Kamera membingkai gambar itu: lelaki berkuasa dan perempuan cantik, bergandengan tangan, menatap dunia dengan kepala tegak.

Bara bicara lebih dulu. Suaranya berat, tenang, suara orang yang terbiasa memberi perintah.

"Selamat pagi. Terima kasih sudah hadir. Saya ingin meluruskan desas-desus yang beredar beberapa jam terakhir soal insiden di kediaman saya. Memang benar telah terjadi pelanggaran keamanan. Orang-orang tak berwenang mencoba masuk ke properti saya. Mereka ditangkap oleh tim keamanan saya dan diserahkan kepada pihak berwajib. Tak ada yang terluka. Tak ada kekerasan. Istri dan keluarga saya dalam keadaan aman."

Pertanyaan-pertanyaan pun tak menunggu lama.

"Pak Prakoso, siapa dalang di balik serangan itu?"

"Saya tidak tahu. Pihak berwajib masih menyelidiki."

"Nyonya Prakoso, bagaimana perasaan Anda setelah kejadian ini?"

Maya mendekatkan diri ke mikrofon. Suaranya terdengar jernih, tegas, tanpa sedikit pun getar.

"Saya merasa aman. Suami saya telah melakukan segala yang mungkin untuk melindungi saya dan keluarga saya. Saya bersyukur. Dan saya tidak takut."

"Nyonya Prakoso, benarkah ayah Anda, Bramantyo Adiwangsa, kini tinggal di mansion?"

"Benar. Ayah saya bersama kami. Beliau sedang bekerja sama dengan pihak berwenang dalam penyelidikan atas tuduhan yang dijatuhkan kepadanya secara tidak adil. Kami yakin tak lama lagi akan terbukti bahwa beliau tak bersalah."

"Pak Prakoso, apa hubungan Anda dengan penyelidikan atas Pak Adiwangsa?"

Bara menatap langsung ke arah kamera. Tatapan kelabunya yang dingin menghunjam lensa bagai belati.

"Istri saya meminta saya membantu ayahnya. Maka saya lakukan. Tak ada lagi yang perlu saya sampaikan."

Konferensi berlanjut selama dua puluh menit berikutnya. Pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu, jawaban-jawaban yang terukur. Tatapan penuh pengertian antara Maya dan Bara yang ditafsirkan para wartawan sebagai tanda pernikahan yang bahagia. Tak seorang pun tahu bahwa tatapan-tatapan itu telah dilatih, bahwa senyum-senyum itu diperhitungkan, bahwa setiap kata telah diasah semalam sebelumnya di perpustakaan mansion.

Tetapi pada akhirnya, ketika kamera dipadamkan dan para wartawan bubar, Maya merasakan sesuatu yang ganjil.

Bukan kelelahan.

Bukan kelegaan.

Melainkan kebanggaan.

Ia telah berakting. Ia telah berbohong. Ia telah memanipulasi pers. Dan ia melakukannya dengan baik. Lebih baik dari yang ia duga. Mungkin, pikirnya, ia tak jauh berbeda dari Bara juga.

* * *

Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang ke mansion, Maya menyandarkan diri ke kursi dan memejamkan mata.

"Berjalan lancar," katanya.

"Ya," jawab Bara. "Sangat lancar."

Hening.

"Bara."

"Ya."

"Soal tatapan-tatapan tadi. Soal senyum-senyum itu. Soal kita bergandengan tangan. Apa semua itu memang dilatih?"

Bara lama tak menjawab.

"Ya," katanya akhirnya.

"Semuanya?"

Hening lagi. Kali ini lebih panjang.

"Tidak," ia mengaku. "Tidak semuanya."

Maya membuka matanya dan menatapnya. Bara sedang memandang ke luar jendela, wajahnya tampak dari samping, tetapi Maya sempat menangkap gerak kecil di rahangnya, ketegangan di bahunya.

"Bagian mana yang tidak dilatih?" tanyanya.

Bara menoleh ke arahnya. Kedua matanya yang kelabu, yang biasanya begitu dingin, kini menyimpan kilau yang aneh.

"Saat wartawan itu bertanya kenapa aku membantu ayahmu. Aku bilang karena kamu yang memintaku. Itu benar. Tetapi aku tidak mengatakan bagian yang lain."

"Bagian yang mana?"

Bara menatapnya sesaat yang panjang. Lalu, dengan gerak yang tampak menguras tenaga besar, ia berkata:

"Bahwa seandainya kamu memintanya, aku akan melakukan apa pun. Bukan cuma membantunya. Apa pun."

Maya merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.

"Kenapa?"

"Karena kamu memohon bantuan lewat matamu bahkan sebelum kamu mengucapkan sepatah kata pun. Malam itu, di jalanan, ketika kita pertama kali bertemu. Kamu ketakutan, hancur, putus asa. Tetapi kamu tidak menyerah. Kamu tidak menangis. Kamu tidak memelas. Kamu menatap mataku dan memohon bantuan lewat pandanganmu. Dan aku... aku tidak bisa berkata tidak."

Maya kehabisan kata-kata.

Bara Prakoso, sang mafioso, sang pembunuh, lelaki dingin yang penuh perhitungan, baru saja mengakui sesuatu yang bahkan ia sendiri tak sepenuhnya pahami.

"Aku tidak tahu ini apa," katanya, menunjuk ke arah mereka berdua. "Aku tidak tahu apakah ini karena perjanjian, atau kebiasaan, atau rasa takut. Tetapi aku tahu aku tak ingin apa pun yang buruk menimpamu. Aku tahu aku lebih memilih menghadapi pamanmu seribu kali daripada melihatmu menangis lagi. Dan itu tidak kulatih. Itu keluar begitu saja."

Maya tak menjawab. Ia tak tahu harus berkata apa.

Alih-alih berbicara, ia melakukan sesuatu yang beberapa hari lalu terasa mustahil. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Bara. Jemari Bara yang panjang dan penuh kapalan mengatup di sekeliling jemarinya dengan kelembutan yang bertolak belakang dengan semua yang Maya ketahui tentangnya.

Mobil terus melaju menuju mansion.

Tak satu pun dari mereka melepaskan genggaman itu.

* * *

Malam itu, saat mereka makan malam dalam diam—Bramantyo, Bara, dan Maya, satu-satunya tiga orang di meja raksasa itu—Bramantyo melontarkan sebuah komentar yang membekukan darah Maya.

"Mahendra akan membalas," katanya sambil memotong sepotong daging dengan presisi seorang ahli bedah. "Dia bukan tipe yang diam saja setelah dipukul. Konferensi pers itu akan menyakitinya. Dia akan merasa kehilangan kendali. Dan ketika Mahendra merasa kehilangan kendali, dia berbuat sesuatu yang bodoh."

Bara mengangguk.

"Aku tahu. Karena itu aku memperketat keamanan. Karena itu kita tak keluar tanpa pengawal. Karena itu Anda tak boleh meninggalkan mansion tanpa memberi tahu."

"Lalu dia?" tanya Maya. "Apa yang akan dia lakukan?"

Bara menatapnya. Di kedua matanya yang kelabu dan dingin, tersimpan sebuah janji yang tak terucap.

"Menunggu. Dan begitu dia melakukan kesalahan pertamanya, aku akan menghantamnya bagai palu godam."

Maya menatap ayahnya. Ia menatap Bara. Ia merasa terperangkap di antara dua dunia, di antara dua lelaki, di antara dua cara memaknai kesetiaan dan balas dendam.

Tetapi ia sudah tidak takut lagi.

Tidak sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!