Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALASAN YANG HAMPIR TERLUPAKAN (1)
Pagi itu, nama Dahayu Nayanika Arutala dengan nomor pendaftaran 730123 terpampang jelas di layar laptop. Ia sudah membacanya lebih dari sepuluh kali, tetapi jantungnya masih berdegup masih tak percaya seolah tulisan itu dapat berubah kapan saja.
SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SMA PERGURUAN TA.
Naya menahan napas. Telunjuknya menyusuri barisan huruf tersebut, memastikan tidak ada kesalahan pada nama ataupun nomor pendaftarannya. Setelah yakin bahwa pengumuman itu benar-benar ditujukan kepadanya, ia langsung berdiri dari kursi sambil membawa laptop-nya.
“Mama!” teriaknya.
Suara sandal Naya beradu cepat dengan lantai ketika ia berlari keluar kamarnya yang berada di lantai dua menuju tempat Mamanya berada di lantai satu. Hampir saja bahunya menabrak kusen pintu karena terlalu bersemangat. Ia menemukan Mamanya sedang sibuk memotong sayuran di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
“Mama, aku masuk!”
Pisau di tangan Mamanya berhenti bergerak. “Masuk apa?”
“SMA Perguruan TA! Aku diterima!”
Mata wanita paruh baya namun tak menghilangkan kecantikannya itu membesar. Sesaat kemudian, senyum bangga memenuhi wajahnya. Ia meletakkan pisau, mencuci tangan dengan cepat, lalu memeluk Naya erat.
“Akhirnya perjuanganmu selama ini terbayar juga, Nak.” Ucap Mamanya. “Kita harus segera mengabari Papamu yang sedang dinas di Jepang dan Kakakmu atas keberhasilanmu masuk ke SMA Perguruan TA.”
“Iya Ma.”
Naya mengangguk di bahu Mamanya. Matanya terasa panas. Selama hampir satu tahun, ia mengikuti berbagai bimbingan belajar, mengerjakan latihan soal lebih keras hingga tengah malam, dan mengurangi waktu latihan renangnya demi dapat masuk ke sekolah tersebut karena ia tahu SMA Perguruan TA bukanlah sekolah biasa. Sekolah itu dikenal sebagai salah satu sekolah terbaik di kota mereka, baik dalam bidang akademis maupun non akademis.
Gedungnya luas, fasilitasnya lengkap, dan para alumninya banyak diterima di universitas ternama baik dalam negeri maupun luar negeri. Sekolah itu juga terkenal dengan klub basketnya yang hampir selalu masuk babak final pada kompetisi antar sekolah.
Bagi kebanyakan orang, alasan-alasan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikan SMA Perguruan TA sebagai sekolah impian. Naya pun selalu mengatakan hal yang sama ketika ditanya mengapa ia ingin bersekolah di sana. TA adalah singkatan dari Talent Association yang berarti merujuk pada perkumpulan yang menaungi para bakat (talent) yaitu siswa-siswi pilihan yang lolos dan siap dididik disana dengan kurikulum internasionalnya. Fasilitasnya bagus. Prestasinya banyak. Lingkungannya mendukung dan ada klub renangnya juga yang akan tetap menjadi salah satu tujuan utamanya.
Akan tetapi, ada satu alasan kecil yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Sebuah alasan yang perlahan telah ia lupakan. Sosok seorang kakak senior yang pernah ditemuinya tanpa sengaja dua kali.
Saat itu, kakaknya, Reksa, mengikuti pertandingan basket persahabatan melawan klub basket SMA Perguruan TA. Pertandingan berlangsung pada sore hari di gedung olahraga milik sekolah tersebut.
Naya tidak begitu menyukai basket. Ia hanya memahami bahwa bola harus dimasukkan ke dalam keranjang lawan dan tim dengan perolehan angka paling banyak akan menang. Istilah seperti rebound, assist, defense atau three-point terdengar seperti bahasa asing di telinganya. Bahkan ketika Kakaknya yang pecinta basket akut menjelaskan tentang permainan itu pun tidak ada yang masuk sama sekali ke dalam pikirannya. Maklum saja, dunia otak kanannya adalah tentang berenang dengan berbagai tekniknya dan akan dilanjutkannya ketika SMA nanti serta tumpukan buku berukuran tebal dengan segala isinya.
Namun, Reksa terus memaksanya datang.
“Sekali-kali dukung kakakmu sendiri kek,” kata Reksa pagi itu di meja makan hanya berdua dengan Naya. Mereka sudah terbiasa tumbuh berdua mengingat kesibukan orang tuanya yang jarang ada di rumah bahkan di hari Sabtu seperti saat ini. “Masa setiap aku tanding, kamu cuma bilang semangat lewat chat?”
“Aku ada latihan renang.” Naya yang selesai menyiapkan tiga porsi sandwich toast untuk mereka sarapan dan membawanya ke meja makan yang telah tersedia empat buah telur rebus dan dua gelas susu putih. Mengapa tiga porsi, sudah tentu dua porsi untuk kakaknya yang atlet basket itu.
“Bohong. Hari Sabtu mana ada latihan renang setelah setiap pulang sekolah kamu mengikuti aktivitasnya.” Reksa menerima dua porsi sandwich toast dari adiknya. “Makasih untuk sarapannya.”
“Aku harus belajar untuk ujian masuk SMA Kakakku sayang. Aku beda denganmu yang tanpa belajar selalu bisa menorehkan prestasi dan mendapatkan beasiswa tanpa harus bersusah payah berjuang sepertiku.” Naya duduk berhadap-hadapan dengan Reksa kemudian ikut menikmati sarapannya. “Sama-sama.”
“Lebih bohong lagi. Papa dan Mama tidak seegois itu memaksakan anak-anaknya untuk masuk SMA yang prestisius hanya demi dipamerkan kepada banyak orang.”
Pada akhirnya Naya menyerah dengan perdebatan yang selalu dimenangkan oleh Kakaknya itu. Dia hanya malas sebenarnya dengan keramaian, tapi mungkin kali ini tidak ada salahnya datang sekalian melihat-lihat sekolah incarannya itu.
“Baiklah,” Hela napas Naya. “Tapi nanti berangkatnya Kakak duluan saja, aku menyusul dan akan datang pada saat menjelang pertandingan. Kakak tahulah alasannya. Menunggu persiapan Kak Reksa dan teman-teman Kakak nanti malah jadi seperti obat nyamuk seperti sebelumnya.”
Reksa tertawa mendengar ucapan Naya. Sebenarnya ia tak mau memaksa adiknya itu ikut hadir di pertandingan persahabatan sekolahnya melawan SMA Perguruan TA. Namun karena orang tuanya sedang dinas keluar kota, membuat dirinya tak tega meninggalkan adik semata wayangnya itu di rumah sendirian tenggelam dalam buku-buku pelajaran yang akhir-akhir ini meminta perhatian lebih untuk persiapan tes masuk SMA sebentar lagi. Adiknya itu butuh pemandangan baru selain tumpukan buku-buku itu. Ia kakak yang baik kan?
“Okay!”
***
Sialnya, ojek online yang ia tumpangi berhenti cukup jauh dari sekolah tempat Kakaknya akan melakukan tanding karena ternyata abang ojek nya belum pernah memasuki Kawasan Sekolah Perguruan TA yang sangat luas itu karena terdiri dari tingkat SD, SMP, dan SMA sehingga ia terpaksa harus berjalan melewati beberapa pertokoan sebelum menemukan halte kecil yang berada di seberang gerbang SMA Perguruan TA.
Apa dirinya mendapat teguran dari Yang Maha Kuasa ya karena niatnya yang setengah hati menghadiri laga tanding basket kakaknya sehingga harus berjalan cukup jauh menuju gerbang utama SMA Perguruan TA?
Ketika sampai di halte, tak sengaja ia melihat seorang lelaki dengan bola bundar oranye-nya duduk sendirian di bangku halte. Lelaki itu mengenakan jaket berwarna biru tua dengan lambang SMA Perguruan TA pada bagian dada. Sebuah tas olahraga diletakkan di sebelahnya. Rambutnya sedikit berantakan, seperti baru saja berlari. Ia menunduk sambil memutar-mutar bola basket di tangannya.
Naya tidak terlalu memperhatikannya. Ia sibuk membuka pesan dari Reksa yang terus bertanya mengenai keberadaannya.
Ketika hendak menyeberang, Naya melangkah tanpa melihat lampu lalu lintas penyeberangan dari halte menuju gerbang SMA Perguruan TA sehingga tanpa sadar sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah kanan.
“Hei!”
Seseorang menarik bagian belakang tasnya.
Tubuh Naya terhuyung ke belakang tepat saat sepeda motor itu melintas di hadapannya. Angin dari kendaraan tersebut menyapu wajahnya. Ia membeku, sementara jantungnya berdetak begitu keras.
“Kalau menyeberang itu lihat jalan, bukan lihat layar ponsel.”
Suara itu terdengar tenang, tetapi tegas. Naya menoleh. Lelaki berseragam olahraga yang tadi sekilas dilihatnya sedang duduk di halte. Satu tangan lelaki itu masih memegang tali tas Naya.
“Aku… aku nggak lihat,” gumam Naya. “Maaf…”
Lelaki itu melepaskan tangannya, kemudian berdiri di sisi jalan. Setelah lampu berubah merah, ia memberi isyarat agar Naya mengikutinya menyeberang.
“Kamu mau ke SMA Perguruan TA?” tanyanya.
Jawab Naya dengan anggukan.
“Nonton pertandingan basket?”
“Iya. Kakakku tanding.”
“Dari sekolah mana?”
Naya menyebutkan nama sekolah Reksa. “SMA Garuda.”
Lelaki itu tersenyum kecil. “Berarti hari ini kita lawan.”
Naya baru menyadari bahwa lelaki tersebut merupakan salah satu anggota klub basket SMA Perguruan TA.
“Kakak pemain basket?”
“Kadang-kadang.” Lelaki itu mengangkat bahu cuek.
Jawaban itu terdengar sederhana. Tidak ada nada membanggakan diri, meskipun dari postur tubuh dan seragam yang dikenakannya, Naya dapat menebak bahwa lelaki tersebut bukan sekadar pemain cadangan.
Mereka berjalan sampai ke gerbang sekolah. Sebelum berpisah, lelaki itu menunjuk gedung olahraga yang berada di bagian belakang kompleks.
“Ngomong-ngomong, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya lelaki itu. “Kok aku merasa familiar ya dengan dirimu?”
Naya mengernyitkan dahinya dan berhenti sejenak mengamati sosok disampingnya itu sambil berusaha memanggil memorinya yang sudah cukup banyak diisi oleh berbagai rumus dan hapalan persiapan ujian masuk SMA.
“Ah, aku ingat, kamu Kakak senior yang waktu itu kutemui di halte dekat sekolah SMP-ku pada saat menunggu jemputan.”
“Bingo!” lelaki itu menjentikan jarinya kearah Naya. “Ini pertemuan kedua kita.”
“Pertemuan yang terlalu kebetulan kayaknya Kak sampai dua kali seperti ini,” Naya menggaruk-garukkan pipinya yang tidak gatal karena bingung dengan situasi yang serba kebetulan.
“Mungkin.” Lelaki itu mengangkat kedua bahunya cuek namun tetap fokus ketika melihat ruang ganti sudah di depan matanya. “Gedung olahraganya lurus, nanti belok kanan setelah perpustakaan.”
“Terima kasih, Kak.”
“Lain kali jangan hampir mati cuma karena balas pesan.”
Naya mengerucutkan bibir. “Aku nggak hampir mati.”
“Kalau aku telat narik tasmu satu detik, mungkin sekarang kamu sudah menjadi alasan pertandingan kami ditunda.” Lelaki itu tertawa, lalu berlari menuju ruang ganti. Naya hanya mampu menatap punggungnya dengan kesal sekaligus malu kemudian berjalan menuju tempat yang diberi petunjuk tadi sekaligus melihat-lihat lingkungan sekolah penuh talenta itu hingga akhirnya ia duduk di bagian tribun dekat barisan Reksa dan timnya. Ia melambaikan tangan kearah Reksa untuk memastikan bahwa ia telah selamat sampai di gedung olahraga pertandingan basket dan memenuhi janjinya untuk hadir mendukung kakaknya bertanding dan dibalas dengan senyuman dan acungan jempol karena telah memenuhi janji datang dan akan mentraktirnya makan malam di luar setelah selesai pertandingan nanti.
***
Ketika pertandingan dimulai, Naya yang sudah lama tidak pernah hadir mengikuti euphoria pertandangan basket SMA berubah menjadi takjub penuh kekaguman. Bukan karena permainan dari Reksa beserta timnya namun kearah lelaki yang mengenakan nomor punggung empat dari SMA Perguruan TA. Lelaki yang ditemuinya tak sengaja untuk kedua kalinya sekaligus penyelamatnya dari kecelakaan motor ketika menuju kesini.
Ia bermain cepat, tetapi tidak terlihat mendominasi dan serakah. Ia beberapa kali memberikan bola kepada rekan setimnya meskipun memiliki kesempatan mencetak angka sendiri. Ketika salah satu pemain lawan terjatuh, ia menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan.
Ia juga tidak berlebihan ketika berhasil mencetak angka. Tidak berteriak. Tidak memukul dada. Tidak memamerkan kemenangan kepada penonton meskipun banyak pendukungnya yang berteriak histeris ketika lelaki itu berhasil mencetak skor untuk timnya.
Dan pada saat timnya memenangkan pertandingan dengan selisih tipis, ia justru menghampiri Reksa dan pemain lawan lainnya untuk berjabat tangan.
Naya menganggapnya berbeda dari pemain-pemain populer yang sering dilihatnya di media sosial. Lelaki itu tampak tenang, sederhana, dan tidak terpengaruh oleh sorakan penonton.
Dalam perjalanan pulang menuju tempat makan yang dijanjikan Reksa menggunakan taksi online, Naya memberanikan diri bertanya kepada Kakaknya itu.
“Kak, pemain nomor empat dari SMA Perguruan TA itu siapa?”
Reksa meliriknya curiga. “Kenapa?”
“Cuma tanya.”
“Namanya Nara.”
“Nara siapa?”
“Wah, katanya cuma tanya.” Ledek Reksa.
“Ya sudah kalau tidak mau menjawab.” Naya melihat kedua tangannya mencebik sedikit kesal dan langsung menghadap jendela mobil taksi untuk menyembunyikan wajahnya.
“Nama lengkapnya Narain Shankara Naradipta, saingan utamaku selama ini di pertandingan basket SMA.”
“Oo…”
“Sudah nih tanggapannya ‘Oo’ saja?” Tanya Reksa.
“Issh, kan memang hanya mau bertanya saja, nggak usah ngide aneh-aneh deh Kak.” Protes Naya.
Sejak hari itu, nama SMA Perguruan TA semakin membulatkan tekadnya setelah hampir dipatahkan semangatnya oleh kedua orang tuanya yang terlalu khawatir jika dirinya gagal. Naya semakin mencari informasi mengenai sekolah tersebut, awalnya hanya klub renang incarannya, lalu berlanjut ke prestasi akademis, kegiatan organisasi, fasilitas laboratorium, perpustakaan, hingga program beasiswanya dan sekarang berlanjut mencari tahu tentang klub basket.
Ia bahkan sempat mengikuti akun media sosial klub basket sekolah itu. Sesekali, wajah Nara muncul dalam unggahan pertandingan. Namun, semakin sibuk menghadapi ujian akhir dan seleksi masuk sekolah, semakin jarang Naya mengingatnya. Kepalanya hanya berisi bagaimana ia lulus SMP dengan baik dan diterima di SMA incarannya.
Lelaki di halte itu dan pemain basket itu perlahan berubah menjadi fragmen kecil dalam ingatannya. Sampai akhirnya Naya diterima di SMA Perguruan TA.
***