NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemasangan cctv : 28

Saniya cepat-cepat menghapus air mata di pipi, jangan sampai terlihat oleh Ardan. Ia melembutkan ekspresi, menarik sudut bibir menyuguhkan senyum lebar.

“Ibu tili, dimana yaaa?” tanyanya bernada dengan napas tersengal-sengal.

Pintu tidak terkunci, dan terbuka sedikit, didorong menggunakan perut yang dibusungkan. “O … lagi banyak pikilan ….”

Ardan berlari mendekat, dibelakangnya Suci mengikuti dengan menenteng kotak persegi transparan.

Saniya tertawa pelan, Ardan memang bisa mengembalikan suasana hati menjadi lebih baik. “Kenapa lari-lari? Gak takut apa jatuh, terus nanti perut bulat itu meletus?”

Hua hua hua …. Rambut pendeknya dikibaskan, hampir saja dia terjungkal dikarenakan menunduk sambil menggelengkan kepala.

“Aku tu mau bantu Colo-colo lahilkan bayinya,” katanya terbata-bata.

“Sus Suci dalam debu, kasih lihat sana ke ibu tili!” titahnya melupakan ajaran Saniya.

Saniya mengode Suci dengan gelengan pelan, dan sang pengasuh mengangguk.

Ardan berbalik ke belakang saat tidak melihat baby sitter belum juga memberikan kotak Kecoa.

“Bang Ardan melupakan sesuatu,” kata Suci lirih.

“Apa?!” mata bulat itu menyipit, cuping hidung naik ke atas.

Suci berbisik, suaranya nyaris tak terdengar. “Kata tolong.”

“Banyak kelja.” Ardan pun menghadap Saniya yang sabar menunggu.

“Sus Suci dalam debu, toooolong beli Colo-colo ke Ibu tili,” ujarnya berlebihan.

“Baik abang Ardan yang ganteng.”

“Aku tu kelen. Cuma Ibu tili yang boleh bilang ganteng,” protesnya tidak mau dipuji tampan oleh Suci.

Gadis berseragam kemeja warna navy dan celana longgar tersebut mengulum bibir, lalu menjawab antusias. “Iya bang Ardan keren.”

“Balu benel.” Jari jempol pendek, gemuknya teracung.

Suci meletakkan kotak kaca dari bahan plastik di lantai dekat kaki Saniya, lalu dia duduk di atas karpet lembut.

Ardan meluruhkan bokong, melipat kaki menjadi duduk bersila. “Dia mau lahilkan, nanti bayinya oek, oek kan, Ibu tili?”

Saniya memperhatikan hewan Kecoa yang sedang berjalan dengan kedua antena bergerak-gerak. “Abang Ardan tau dari mana kalau Coro nya mau melahirkan?”

“Dali pelut mau meletus. Lihat itu, besal sekali. Ih ngeli.” kedua bahunya naik turun sampai badan ikut bergoyang.

“Mungkin dia kekenyangan,” ucapnya singkat.

Penjelasan tanpa memenuhi rasa penasaran balita banyak bertanya, memiliki keingintahuan tinggi itu bukanlah cara jitu. “Dia mau lahilan.”

“Kecoa bukan beranak, tetapi bertelur, dan telurnya dibungkus dalam kantong khusus bernama ooteka, yang kemudian menetas menjadi nimfa atau nama lainnya kecoa muda. Paham, abang ganteng?” jelasnya dengan intonasi lembut.

Lirikan Ardan tertuju pada sang pengasuh, seolah ingin pamer jika dia baru saja dipuji tampan.

“Ndak ngelti.” Kepalanya menggeleng.

“Bukannya Kecoa ini jantan, berarti nggak bisa bertelur, Bang,” ia baru teringat informasi yang didapatkan dari suaminya.

Ekspresi antusias tiba-tiba meredup, Ardan berdiri dan langsung melompat ke kasur. “Aku tu mau punya cucu banyak-banyak.”

“Ibu tili kapan beli adek bayinya?” permintaan telah dijanjikan, kembali ditagih.

Saniya mundur ke belakang, merasa terhibur menonton anak sambungnya berguling-guling diatas kasur yang seprei nya menjadi kusut, bantal berantakan. “Tunggu Papi gak sibuk dulu, Abang.”

“Mau nya sekalang! Nanti Colo nya bosan ndak punya teman, telus stles gimana?” Ardan menutupi wajahnya dengan bantal.

“Nanti kita sembuhin dia kalau sampai stres,” hibur Saniya.

Heuh — “Tipu-tipu.” Bantal dilempar, dan dia duduk bersila. “Tolong bukain!”

Saniya merasa senang, Ardan ingat mengatakan kata tolong.

“Sini, tangan Tante gak sampai,” ia tiru kalimat sering menjadi jargon balita mencebik itu.

Tidak berjalan maupun merangkak, tetapi Ardan berbaring terlentang — tumit kaki menekan kasur dan badannya bergerak maju.

“Udah sampai ini.” Dia malas duduk, hanya mengulurkan tangan ke atas kepala.

Kaos longgar dari bahan nyaman dipakai balita, ditarik keluar lewat atas. Saniya sedikit merasa heran, Ardan suka sekali tak mengenakan baju padahal rumah ini dilengkapi AC yang hampir 24 jam menyala.

“Bilang apa Abang?” Ditahannya tangan balita berperut padat itu.

“Telima kasih, Ibu tiliiiii,” ucapnya sengaja seolah menggoda, mengetes kesabaran.

Namun Saniya tidak merasa kesal, malah gemas ketika Ardan duduk — perutnya berlipat-lipat.

“Itu perut, kira-kira isinya apa ya?”

“Eek,” jawabnya cepat, asal.

Suci duduk gelisah, takut dianggap tidak pernah mengajari Ardan, padahal rambutnya sampai rontok memikirkan cara supaya anak asuhnya mau menurut.

Saniya yang gemas, meremas pelan lipatan perut Ardan.

“Ibu tili geli, nanti aku pipis … nah, langsung cull.” Wajahnya memerah, dan suaranya mengejan.

“Astaga, Abang!” Saniya memekik, Ardan benar-benar penguji kesabaran orang.

“Abang sudah besar, belajar gak pakai pampers ya? Malu loh, masa masih pipis di popok,” bujuk Saniya berbaring miring sambil mengusap kepala Ardan.

“Malas.” Matanya memejam, tidak menepis tangan halus itu.

Terdengar suara pintu kamar diketuk, lalu mbak Juraida masuk, melaporkan kalau teknisi cctv sudah datang.

Saniya bangun, dia ingin memanfaatkan waktu libur ini dengan menggali informasi tentang kesukaan suami dan kedua anak sambungnya.

“Kita ke kamar Ardan saja, Mbak. Tolong ajak juga bi Lilik, banyak yang mau saya tanyakan. Petugas pemasangan cctv biar ditemani mang Suip dan lek Lawi.”

“Baik, Bu.” Mbak Juraida pamit keluar dari dalam kamar.

Suci kembali menjinjing Kecoa dalam kotak, lalu mengambil baju Ardan yang tadi dilepaskan.

“Ibu tili, aku mau gendong. Ini pegel.” Kepalan tangan meninju kasur, beralasan lelah biar dibopong.

“Biar Mbak saja yang menggendong, ya?” Suci teringat pesan dari sang tuan. Jika Ardan minta gendong ke nyonya, maka jangan diizinkan.

“Ndak mau,” jurus andalannya yakni, menangis kencang sudah siap dikeluarkan.

“Tante gandeng saja ya, biar keren,” bujuknya. Bukannya enggan membopong, tetapi berat badan Ardan tidaklah ringan.

“Oke lah kalau begitu,” jawabnya bernada.

Saniya bahagia sekali, pelan-pelan Ardan mau dekat dengannya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan masuk ke kamar bernuansa warna biru dengan plafon lukisan langit cerah berawan putih.

Bibi, mbak Juraida, Suci, seperti sedang ditanyai oleh seorang wartawan. Mereka dengan senang hati berbagi informasi tentang kebiasaan pak Yarash, Tatiana, dan terakhir Ardan.

Saniya tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mencatat di buku agenda yang sudah dibawa dari kamar utama.

Ardan dibiarkan minum susu seraya nonton kartun kesukaannya. Dia berbaring di tempat tidur berbentuk mobil-mobilan.

***

Empat hari telah berlalu, dan akhir pekan terlewati begitu saja.

Yarash masih sibuk mengurus mengekspor seafood hasil dari budidaya usahanya. Dia belum bisa memenuhi janji pergi bersama istri dan anaknya untuk membeli hewan peliharaan yang diminta oleh Ardan.

Selama rumah sudah dipasang cctv, sikap Tatiana jauh lebih beradab meski sorot mata tetap menatap tidak suka ke ibu tiri.

Pada siang hari — bel sekolah berbunyi, guru bahasa isyarat keluar dari kelas tempatnya mengajar.

Saniya bercanda ria bersama para murid yang manja ke dirinya, dan dia tidak pernah mengeluh, malah bersyukur dicintai demikian besar oleh jiwa-jiwa penuh kasih.

“Niya ….”

Otomatis langkah kakinya terhenti, dan wajah yang tadi menunduk mulai terangkat.

Kerinduan yang coba ditekan, dialihkan, bahkan diusir dengan cara kejam, kembali hadir dengan perasaan jauh lebih kuat.

.

.

Bersambung.

Kakak … ini nama IG aku, ya. Yu_Cublik.

Udah tak ganti biar gampang nyarinya 🫣😁

Sebenernya pengen buat nama Mak_Cublik, tapi kudu nunggu 14 hari lagi 😂

Terima kasih 😉

1
Leni Novita
knp tdk dibuat jera si tati itu sesekali,
ulimayla
luar biasa
Ayu Btfl
ini ada gak ada lanjutan besarnya tatiana sama ardankah thor ? huhu gak rela lepas sama cerita inii
Leni Novita
begitu dong, jgn selalu mau di injak2
Y.S Meliana
mas yarash,,, aku padamuu 😅
Y.S Meliana
alhamdulillah mas yarash udh denger langsung
it's me
@cublik
cerita yg br dihapus ya kak?
Y.S Meliana
jeng jeng, mas yarash kah yg dtng 🙄
Y.S Meliana
hiih tak unyeng semua kalian 😒😒😒🤨🤨🤨
Farah Restu Oktaria
alurnya ceritanya bagus
Sari Hastuti
y tamat,, ga ada lanjutannya kisah ardan gitu🤭
Ciebungsu Bungadesa Ygtrsendir
💜💜💜🌹🌹🌹🌹🌹😍😍😍
Ciebungsu Bungadesa Ygtrsendir
Mak cublik aku teh mau nanya, cerita yg baru di hapus apa bagai mana ,aku bolak balik di lihat kok kaga ada🙏🙏
Ayesha
penuh hikmah membaca novel ini...
kita yg di beri sehat dan keluarga yg menyayangi wajib selalu bersyukur pada Allah....
Cublik: Terima kasih🙏
total 1 replies
Kapten Rajo Devi
ibu c Fahmi sering ngejek Saniya cacat, sekarang di yg buntung..
sekarang c Zia mau kawin juga sama yg cacat, karma is REAL
Y.S Meliana
iyyyuuuwh... ga punya adab nih emang si Tita 😒
Kapten Rajo Devi
di rusak emaknya sendiri
Kapten Rajo Devi
koq aku ikut meringis ya Thor, kebayang sakit nya Saniya
Y.S Meliana
istighfar dr awal aku mah 🙄
Y.S Meliana
kasih mi, kasih Tita senam jantung yg paling hotttt 😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!