Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Li Qiang merasa sangat tersinggung melihat ketenangan Yang Zhen yang tidak masuk akal ini. Ia membuang ludah ke tanah dan memberi isyarat kepada ketiga anak buahnya.
"Hajar dia sampai setengah sekarat, tapi biarkan kakinya, karena itu bagianku!" perintah Li Qiang kejam.
Ketiga preman itu langsung berlari menerjang Yang Zhen secara bersamaan. Mereka melayangkan pukulan keras yang dialiri Qi kasar ke arah wajah dan perut Yang Zhen.
"Jangan, Yang Zhen! Lari!" teriak Wang Hao panik sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
Wush.
Yang Zhen hanya menggeser kakinya setengah langkah ke kanan dengan gerakan yang sangat mengalir. Pukulan preman pertama meleset dan hanya mengenai angin kosong.
Dalam hitungan sepersekian detik, Yang Zhen memusatkan Qi dari Dantiannya menuju telapak tangan kanannya. Uap air di gang yang lembab itu langsung berkumpul dan membalut kepalan tangannya bagaikan sarung tinju transparan.
"Teknik Pukulan Arus Deras." gumam Yang Zhen pelan.
Bugh!
Tinju Yang Zhen mendarat telak di dada preman pertama dengan kecepatan kilat. Aliran air bertekanan tinggi menembus pertahanan Qi preman itu dengan sangat mudah.
Krak.
Suara tulang rusuk yang patah terdengar sangat nyaring. Preman itu terpental ke belakang sejauh tiga meter dan menabrak dinding bata hingga memuntahkan darah segar.
Dua preman lainnya langsung menghentikan langkah mereka karena syok berat. Mereka tidak percaya melihat rekan mereka yang berada di Tingkat Dua dikalahkan dalam satu pukulan.
"Apa yang kalian tunggu, cepat serang dia!" bentak Li Qiang yang mulai panik.
Kedua preman itu kembali menerjang dengan raut wajah putus asa. Kali ini mereka menyerang dari sisi kiri dan kanan untuk menjepit pergerakan Yang Zhen.
Namun bagi Yang Zhen yang memiliki pengalaman tempur puluhan tahun, serangan mereka terlihat selambat kura-kura. Ia menundukkan tubuhnya untuk menghindari tendangan tinggi dari kiri.
Brak!
Yang Zhen memutar tubuhnya dan menyapu kaki kedua preman itu sekaligus dengan menggunakan elemen air di kakinya. Keduanya jatuh terjengkang membentur tanah berbatu dengan sangat keras hingga tak sadarkan diri.
Gang sempit itu kembali sunyi menyisakan rintihan kesakitan dari ketiga preman yang terkapar di tanah. Wang Hao membuka matanya dan rahangnya nyaris jatuh ke tanah melihat pemandangan tersebut.
Li Qiang menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajahnya yang penuh bekas luka.
"Ini tidak mungkin." batin Li Qiang ketakutan. "Informasinya mengatakan dia hanya berada di Tingkat Satu, tapi tenaga pukulannya tadi setidaknya setara dengan Tingkat Tiga!"
Yang Zhen berjalan perlahan mendekati Li Qiang dengan tatapan mata yang sangat dingin. Kepalan tangannya masih dibalut oleh lapisan air yang berputar cepat.
"Sekarang giliranmu, anjing peliharaan Zhao Wei." ucap Yang Zhen santai.
Li Qiang menggeram marah untuk menutupi rasa takutnya. Ia menyalurkan seluruh Qi Tingkat Empat miliknya ke dalam belati di tangannya hingga memancarkan cahaya redup.
"Jangan sombong dulu, bocah!" teriak Li Qiang sambil melompat dan menusukkan belatinya ke arah leher Yang Zhen.
Trang.
Belati baja itu berhenti tepat dua sentimeter di depan leher Yang Zhen. Tangan kiri Yang Zhen menahan bilah belati itu hanya dengan menggunakan dua jari yang terbungkus elemen air yang sangat padat.
Mata Li Qiang terbelalak sempurna karena belatinya tidak bisa menembus pertahanan air tersebut sedikit pun. Ia mencoba menarik belatinya, namun jari Yang Zhen menjepitnya sekuat rahang naga.
"Terlalu lemah." ucap Yang Zhen datar.
Crak!
Yang Zhen mematahkan belati baja itu dengan jentikan jarinya. Sebelum Li Qiang sempat bereaksi, tinju kanan Yang Zhen yang berlapis pusaran air menghantam telak ulu hatinya.
Bugh!
Mulut Li Qiang terbuka lebar menyemburkan darah segar bercampur asam lambung. Tubuh kekarnya terangkat ke udara sejenak sebelum jatuh tersungkur di depan kaki Yang Zhen.
Li Qiang memegangi perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk oleh badai. Ia memuntahkan darah berulang kali dan tidak bisa berdiri lagi.
Yang Zhen berjongkok di sebelah wajah Li Qiang dan menjambak rambutnya dengan kasar. Ia menatap lurus ke dalam mata preman itu yang kini dipenuhi kengerian absolut.
"Sampaikan pesanku pada majikanmu, Zhao Wei." bisik Yang Zhen dengan nada mengancam. "Jika dia berani menggangguku lagi, aku sendiri yang akan datang untuk mematahkan lehernya."
Yang Zhen melepaskan jambakannya dan membiarkan kepala Li Qiang membentur tanah. Ia lalu membersihkan tangannya dari debu dan berbalik menghampiri Wang Hao yang masih mematung.
"Ayo pulang, Hao." ajak Yang Zhen seolah tidak terjadi apa-apa barusan. "Makanan murahan tadi ternyata tidak cukup memberiku tenaga."
Wang Hao hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan kaku. Ia mengikuti langkah Yang Zhen keluar dari gang tersebut sambil sesekali menengok ke belakang dengan rasa ngeri.
"Aku butuh pil pengumpul Qi tingkat tinggi untuk menstabilkan elemen air ini." batin Yang Zhen sambil berjalan di bawah cahaya bulan. "Besok, aku harus pergi ke Asosiasi Alkemis untuk memeras sedikit uang dari mereka."