Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan yang Manis Sebelum Badai
Waktu bergulir seperti aliran sungai yang tenang, membawa Valerie dan Carlo ke dalam fase hubungan yang paling membahagiakan. Enam bulan sejak perayaan kelulusan semester enam dan pernyataan cinta resmi di kedai ramen, jalinan asmara mereka tumbuh menjadi begitu manis dan penuh dengan romantisme yang matang. Di samping Carlo, Valerie benar-benar menemukan definisi dari kata 'diinginkan' dan 'dicintai' tanpa syarat.
Carlo adalah antitesis sempurna dari masa lalu Valerie yang kaku. Jika dulu bersama Dean, Valerie harus selalu mengalah dan menekan sifat ekspresifnya demi menjaga efisiensi duniakorporat sang CEO, maka bersama Carlo, seluruh warnanya dibiarkan menyala terang. Carlo tidak pernah menganggap sifat blak-blakan Valerie sebagai drama kekanak-kanakan. Sebaliknya, pria itu memuja setiap tawa lepas, setiap celotehan berisik, bahkan setiap cemberut manja yang Valerie tunjukkan.
Pagi itu, langit di atas kawasan apartemen Valerie tampak bersih dan cerah. Valerie baru saja menyelesaikan ritual mandi paginya ketika bel pintu unit studio nomor 1502 berbunyi dengan ketukan yang ritmis. Begitu pintu dibuka, sosok Carlo sudah berdiri di sana dengan senyum sehangat mentari pagi yang biasa ia pamerkan.
Pria itu tidak lagi mengenakan jaket denim lamanya; hari ini dia tampak begitu gagah dengan kemeja kasual berwarna biru muda yang lengannya digulung hingga siku, membawa dua kotak wadah sarapan hangat dan sebuket kecil bunga daisy putih segar di tangan kirinya.
"Selamat pagi, Kekasihku. Sudah siap untuk memulai hari yang melelahkan di laboratorium?" sapa Carlo dengan nada suara yang penuh romantisme, langsung melangkah masuk setelah mengecup kening Valerie dengan kelembutan yang menyengat.
Valerie tertawa renyah, sebuah tawa ekspresif yang memancarkan kebahagiaan sejati seutuhnya. Dia menerima buket bunga daisy itu, menghirup aromanya yang segar sebelum menaruhnya di dalam vas kaca di atas meja makan kecilnya. "Pagi, Kak Carlo. Kakak ini selalu saja berlebihan setiap pagi. Kita kan cuma mau ke kampus, bukan mau pergi kencan formal."
"Bagi pria yang harus mengantre satu tahun penuh hanya untuk mendapatkan jawaban 'iya' dari mulutmu, setiap detik bersamamu adalah kencan formal yang berharga, Val," goda Carlo, seraya menata bubur ayam hangat dan memotong beberapa buah segar di atas piring untuk sarapan mereka bersama.
Mereka duduk berhadapan di meja makan kecil dekat jendela apartemen yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian lantai lima belas. Sepanjang sarapan, suasana dipenuhi oleh obrolan riang dan tawa lepas. Carlo menceritakan tentang kelucuan dosen pembimbing skripsinya yang pelupa, sementara Valerie mendengarkan dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.
Gestur-gestur kecil penuh inisiatif seperti inilah yang terus dilakukan Carlo secara konsisten. Dia tidak pernah menunggu Valerie meminta; dia selalu tahu kapan Valerie butuh kopi dingin di sela-sela praktikum biokimia, dia selalu tahu kapan harus menggenggam jemari Valerie di depan duniakah kampus untuk memberikan rasa aman, dan dia selalu tahu cara menenangkan Valerie saat gadis itu sesekali merindukan perhatian orang tuanya di rumah. Hubungan mereka berjalan begitu manis, kontras 180 derajat dengan hubungan kaku dan mekanis yang dulu Valerie jalani bersama robot es bernama Dean.
Siang harinya, suasana di halaman kampus gedung fakultas biologi tampak ramai oleh hilir mudik mahasiswa tingkat akhir yang sedang mempersiapkan berkas wisuda. Valerie berjalan beriringan bersama Tiara menuju perpustakaan pusat kampus [local]. Di pergelangan tangan kiri Valerie, gelang perak minimalis dengan gantungan daisy pemberian Carlo berkilat indah tersiram cahaya matahari siang.
Tiara melirik gelang tersebut, lalu menatap wajah sahabatnya yang tampak begitu berseri-seri. "Val, aku benar-benar senang melihatmu yang sekarang. Kamu kelihatan jauh lebih hidup, jauh lebih bahagia dibanding setahun lalu."
Valerie menyentuh gelang daisies di tangannya dengan seulas senyuman manis yang penuh rasa syukur mendalam. "Ini semua berkat Kak Carlo, Ra. Dia mengajarkanku banyak hal tentang bagaimana rasanya dihargai sebagai seorang wanita. Bersamanya, aku tidak perlu merasa bersalah hanya karena aku menangis atau cemburu. Dia selalu ada untuk memvalidasi perasaanku."
Tiara mengangguk setuju, namun di sudut hatinya, ada secercah kilat ketidaknyamanan yang samar ketika teringat akan kakak kandungnya sendiri. Sudah berbulan-bulan Dean mengurung diri dalam penyesalan bisu yang pekat di dalam ruang kerja CEO-nya, memantau kebahagiaan Valerie dari kejauhan melalui laporan-laporan kaku yang Tiara berikan. Tiara tahu Dean telah menerima karmanya dengan sangat adil, namun melihat Valerie yang telah benar-benar menutup buku masa lalunya bersama Carlo membuat Tiara sadar bahwa jalan pulang bagi kakaknya telah tertutup rapat-rapat untuk selamanya.
"Oh ya, Val... Kak Carlo sudah pernah bercerita tentang orang tuanya padamu?" tanya Tiara tiba-tiba, mencoba menguji batasan informasi yang Valerie miliki tentang latar belakang keluarga elite Carlo.
Valerie sedikit tertegun, langkah kakinya melambat sejenak di selasar koridor. "Belum terlalu banyak, Ra. Kak Carlo cuma bilang kalau Papanya punya bisnis properti dan investasi yang cukup besar di Jakarta, dan belakangan ini Papanya sering menyuruhnya datang ke pertemuan keluarga. Tapi Kak Carlo selalu menolak atau mengalihkan pembicaraan kalau aku tanya lebih dalam. Kenapa memangnya, Ra?"
"Ah... nggak apa-apa, Val. Aku cuma bertanya saja," bohong Tiara, buru-buru mengalihkan pandangannya ke mading kampus untuk menyembunyikan kecemasannya. Sebagai bagian dari lingkaran elite Jakarta, Tiara sempat mendengar selentingan kabar burung di antara teman-teman ibunya mengenai rencana aliansi bisnis besar antara Dirgantara Group dan Wijaya Group. Tiara berdoa dalam hati agar kabar burung itu tidak melibatkan nama Carlo, karena dia tidak sanggup melihat Valerie harus dihancurkan kembali oleh badai duniakah orang dewasa untuk kedua kalinya.
Malam harinya, sebagai penutup hari Jumat yang indah, Carlo mengajak Valerie untuk menikmati makan malam di sebuah kedai atap terbuka (rooftop) kecil bernuansa estetik di kawasan Jakarta Selatan. Di bawah siraman cahaya lampu-lampu gantung yang hangat dan angin malam yang berembus sepoi-sepoi, mereka duduk berdampingan menatap gemerlap lampu kota yang memukau.
Carlo menatap lekat-lekat wajah Valerie yang sedang asyik menikmati es krim vanilanya. Rasa cinta yang teramat sangat besar membubung di dada Carlo, namun di balik binar matanya yang hangat, terdapat sebuah bayang-bayang kecemasan yang pekat yang terus dia sembunyikan rapat-rapat selama berminggu-minggu ini.
Pertengkaran hebatnya dengan sang ayah, Dirgantara, di rumah utama Menteng mengenai penolakan perjodohan bersama Sarah kian hari kian meruncing. Ayahnya bahkan sudah mulai mengancam akan membekukan seluruh rekening operasional kuliahnya jika dia menolak untuk menghadiri acara makan malam formal keluarga besar Wijaya minggu depan. Namun, setiap kali Carlo melihat senyuman manis dan tawa lepas di wajah Valerie malam ini, tekad bulatnya untuk menentang perjodohan itu kembali mengeras bagai batu karang.
"Valerie," panggil Carlo lembut, suaranya merosot ke nada yang lebih rendah dan sarat akan kesungguhan mutlak.
Valerie menoleh, menurunkan sendok es krimnya. "Ya, Kak Carlo?"
Carlo mengulurkan tangan kanannya, menggenggam jemari Valerie di atas meja dengan sangat erat, seolah-olah dia takut gadis di hadapannya ini akan menghilang jika dia melepaskan genggamannya sedikit saja. "Apa pun yang terjadi di masa depan nanti... tolong tetap percaya padaku, ya? Tetap percaya kalau perasaanku padamu tidak akan pernah berubah oleh badai apa pun. Aku akan selalu menjadi garda terdepan yang menjaga dan mempertahankan hubungan kita."
Valerie tersenyum manis, membalas genggaman tangan Carlo dengan kehangatan tulus yang menenangkan dada pria itu. "Tentu saja aku percaya padamu, Kak. Kamu sudah membuktikannya selama satu tahun penuh pendekatan sabarmu dulu. Aku tidak akan pernah meragukan ketulusanmu."
Carlo tersenyum lega, mengecup punggung tangan Valerie dengan kelembutan yang pekat di bawah kesaksian malam yang sunyi. Mereka melangkah meninggalkan kedai atap terbuka tersebut dengan hati yang dipenuhi oleh kebahagiaan manis yang mendalam, berjalan beriringan menuju mobil untuk pulang ke apartemen, tanpa menyadari bahwa jarum jam takdir telah mulai berputar menuju hari esok—hari di mana keluarga Carlo dan Sarah akan mengeksekusi rencana jebakan licik di acara makan malam keluarga besar Wijaya, menjadi awal dari sebuah badai pengkhianatan tak sengaja yang akan meruntuhkan seluruh kebahagiaan manis mereka hingga hancur berkeping-keping dalam satu malam terkutuk.