Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Unoccupied house
Suara knalpot racing motor sport kesayangan Leo membelah kesunyian malam di kompleks perumahan elit yang angkuh. Ia mematikan mesin tepat di depan gerbang besi menjulang tinggi yang terbuka otomatis. Rumah itu, sebuah mahakarya arsitektur modern dengan lampu-lampu pilar yang menyala temaram, berdiri megah bak istana—atau lebih tepatnya, sebuah museum dingin yang tak bernyawa.
Leo turun dari motornya, membuka helm full-face yang menyembunyikan wajah lelahnya, lalu menyisir rambutnya dengan jari. Ia adalah pemuda yang akrab dengan aspal, oli, dan deru mesin. Di luar sana, di sirkuit jalanan atau sekadar nongkrong bersama komunitas motornya, Leo adalah sosok yang disegani. Ia punya tawa, ia punya teman, dan ia punya dunianya sendiri.
Namun, begitu kakinya menginjak pelataran marmer rumah ini, topeng itu luruh seketika, berganti dengan kekosongan yang menyesakkan.
Ia mendorong pintu utama yang berat. Tidak ada suara televisi, tidak ada wangi masakan rumah, pun tidak ada sapaan hangat yang menanyakan, Sudah makan? yang sering ia dengar dari ibu teman-temannya.
Rumah itu luas, terlalu luas untuk penghuni yang bahkan enggan saling menyapa.
Leo berjalan menapaki anak tangga menuju lantai dua. Di ruang tengah, ia melihat ayahnya duduk di sofa panjang, terpaku pada layar laptop dengan kacamata bertengger di pangkal hidungnya. Ayahnya adalah seorang pria sukses, sosok yang dihormati di dunia bisnis, namun di mata Leo, beliau hanyalah orang asing yang berbagi atap. Sang Ayah tidak menoleh saat Leo lewat. Tidak ada tanya soal kuliah atau motor yang baru saja Leo modifikasi.
Komunikasi mereka selama ini hanya sebatas transferan bulanan yang masuk ke rekening, atau pesan singkat dingin yang berisi instruksi untuk tidak membuat kegaduhan.
Leo melangkah lebih jauh ke arah koridor menuju kamar ibunya. Pintu itu tertutup rapat. Dari celah bawah pintu, ia bisa melihat cahaya lampu yang masih menyala. Ibunya, seorang wanita sosialita yang selalu tampil sempurna di depan publik, menghabiskan waktunya di balik pintu itu—mungkin dengan ponselnya, atau dengan kesibukan dunianya sendiri.
Inilah rumahnya. Tempat yang seharusnya disebut Pulang namun, justru menjadi tempat di mana ia merasa paling kesepian.
Dahulu, Leo kecil punya mimpi sederhana. Ia membayangkan keluarga yang duduk bersama di meja makan, tertawa sambil membahas hari, atau sekadar berbagi cerita tentang apa yang mereka lalui. Ia ingin orang tuanya hadir di setiap perlombaan motornya, memberikan tepuk tangan, bukan sekadar mengirimkan supir untuk menjemputnya jika ia menang.
Namun, kenyataan menamparnya lebih keras daripada jatuh dari motor. Kedua orang tuanya tidak bercerai. Secara hukum, di atas kertas, mereka adalah pasangan suami istri yang utuh. Namun, di balik dinding rumah ini, mereka adalah dua orang asing yang terjebak dalam kesepakatan diam yang menyakitkan.
Mereka hidup masing-masing, berjalan di orbit yang tidak pernah bersinggungan. Komunikasi mereka putus total, seolah ada dinding kaca tebal yang tak kasat mata memisahkan meja makan, ruang tamu, hingga kamar tidur mereka.
Leo memasuki kamarnya, melempar jaket kulitnya ke lantai, lalu menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi.
Kenapa harus begini? batinnya.
Dunia luar mengenalnya sebagai Leo si anak motor yang tangguh, yang sering memacu kuda besinya di tengah malam untuk mencari adrenalin. Padahal, yang ia cari hanyalah pelarian. Ia lari dari keheningan rumah ini. Ia lari dari tatapan kosong kedua orang tuanya yang seolah berkata bahwa kehadirannya di dunia ini hanyalah sebuah kewajiban yang harus dijalani, bukan sebuah anugerah yang dirayakan.
Di atas meja belajarnya, ada sebuah bingkai foto usang. Foto keluarga saat ia berusia lima tahun. Di sana, ayahnya merangkul bahu ibunya, dan ibunya tersenyum manis ke arah kamera sambil menggendong Leo. Itu adalah satu-satunya bukti bahwa mereka pernah benar-benar ada, sebagai sebuah keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu, senyum itu memudar, digantikan oleh kesibukan, ambisi, dan ego yang membuat jarak di antara mereka semakin lebar.
Leo beranjak ke balkon kamarnya, menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya menari di udara malam yang dingin. Dari atas sini, ia bisa melihat mobil ayahnya terparkir rapi, dan di sudut lain, mobil ibunya yang juga tak kalah elegannya. Mereka punya segalanya secara materi. Rumah ini punya segalanya untuk disebut mewah. Namun, rumah ini tidak punya jiwa.
Leo mematikan rokoknya, lalu menghela napas panjang. Ia tahu, esok pagi, rutinitas yang sama akan terulang. Ayahnya akan berangkat kerja sebelum Leo bangun, ibunya akan pergi ke arisan atau acara sosialita lainnya, dan mereka akan kembali bertemu di rumah pada malam hari dengan kesibukan yang masing-masing pula. Tidak ada makan malam keluarga, tidak ada perdebatan seru, tidak ada pelukan saat hari terasa berat.
Rumah itu adalah sebuah penjara emas. Leo adalah narapidana yang dibiarkan bebas, namun tidak pernah mendapatkan kunci untuk kehangatan yang ia idamkan.
Ia kembali merebahkan tubuh, menutup mata rapat-rapat. Dalam gelapnya kamar, ia berusaha membangun dunianya sendiri—dunia di mana mesin motornya menderu lebih kencang daripada kesunyian yang memekakkan telinga di rumah ini. Bagi Leo, pulang ke rumah bukanlah tentang melepas penat dalam pelukan keluarga, melainkan tentang bagaimana ia harus berdamai dengan kesendirian yang menunggunya di balik pintu yang terkunci.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Leo tidur dengan harapan kosong. Ia berharap esok hari, saat ia membuka mata, rumah ini akan berubah menjadi rumah yang sesungguhnya. Namun, ia tahu, harapan itu hanyalah mimpi yang akan menguap begitu matahari terbit, saat ia kembali turun ke bawah dan hanya menemukan kebisuan yang sama di meja makan yang panjang dan megah itu.
Di rumah ini, Leo memiliki semuanya. Namun, di rumah ini pula, ia kehilangan segalanya.
...----------------...
Suasana di rumah Oma Aera terasa kontras seratus delapan puluh derajat dengan apa yang dirasakan Leo di kediamannya yang dingin. Di ruang keluarga yang hangat, aroma teh melati dan kue kering buatan Oma menyeruak, memenuhi setiap sudut ruangan.
Aera duduk di atas karpet bulu, bersandar pada lutut Oma yang mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang. Tawa kecil sesekali pecah, menghalau dinginnya malam yang mulai larut.
"Jadi, bagaimana hari pertama kuliahmu, Sayang? Tidak terlalu melelahkan, bukan?" tanya Oma dengan tatapan teduh, matanya yang mulai menua tampak berbinar penuh perhatian.
Aera tersenyum lebar, matanya menyipit bahagia. "Seru sekali, Oma! Awalnya Aera sempat gugup, tapi ternyata ada Leo. Oma ingat, kan, Leo? Orang yang Aera ceritakan waktu itu? Dia yang menolong Aera saat... saat keadaan Aera sedang sulit-sulitnya, bahkan memberiku tempat tinggal sementara."
Oma mengangguk mantap, tangannya berhenti mengusap rambut Aera sejenak, lalu beralih menggenggam jemari cucunya itu. "Oma ingat betul. Pemuda itu penolong, ya? Syukurlah kalau kalian kuliah di tempat yang sama. Sepertinya doa Oma tidak sia-sia saat bersikeras memasukkanmu ke kampus itu. Setidaknya, kamu punya seseorang yang bisa dipercaya di sana."
"Leo itu baik banget, Oma. Walaupun dia anak motor yang kelihatannya cuek dan dingin, ternyata dia sangat perhatian," lanjut Aera bersemangat. Ia menceritakan bagaimana Leo membantunya beradaptasi dengan jadwal kuliah yang padat.
Bagi Aera, sosok Leo bukan sekadar teman baru, Leo adalah jangkar yang menahan Aera agar tidak hanyut dalam trauma masa lalu. Namun, saat Aera menceritakan tentang pertemuannya dengan kawan-kawan baru, raut wajahnya berubah. Ia teringat kejadian sore tadi. Sebuah bayangan kelam yang sempat membuat hatinya sesak, namun berakhir dengan kemenangan kecil yang tak terduga.
"Oma..." suara Aera sedikit merendah, namun tetap tegas. "Tadi sore, Aera bertemu Belva di sebuah kafe."
Mendengar nama ibu tirinya itu disebut, tangan Oma yang tadinya tenang perlahan mengeras. Ia menarik napas dalam, berusaha menjaga ketenangan. "Belva? Apa dia mengganggumu lagi?"
Aera mengangguk pelan, lalu mulai menuturkan kejadian sore itu. "Awalnya, dia langsung menghampiri mejaku dan mulai menghina. Dia bicara keras-keras, seolah ingin semua orang di kafe itu tahu kalau dia benci padaku. Dia mengejek penampilanku, mengejek keputusanku kuliah, bahkan menyinggung soal warisan yang dulu dia rebut. Benar-benar di depan umum, Oma. Dia ingin membuatku malu."
Oma tampak geram, namun ia membiarkan Aera melanjutkan ceritanya.
"Tapi, Aera sudah tidak selemah dulu. Saat dia merasa berada di atas angin, Aera tidak lagi menangis. Aera justru mengeluarkan ponsel, menunjukkan bukti rekaman dan beberapa dokumen yang sudah Aera kumpulkan sejak lama—bukti tentang bagaimana dia selama ini memanipulasi keuangan dan perilaku buruknya yang lain," jelas Aera.
Aera terdiam sejenak, mengingat wajah Belva saat itu. "Oma harus lihat ekspresinya. Begitu layar ponsel itu Aera hadapkan ke wajahnya, dia langsung terdiam. Wajahnya yang tadi merah karena marah berubah pucat pasi. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Lidahnya seolah kelu, dan dia buru-buru pergi dari sana saat sadar bahwa Aera punya kartu as yang bisa menghancurkannya jika aku mau."
Oma menghela napas panjang, lalu tersenyum getir namun bangga. "Kamu tumbuh jadi wanita yang kuat, Aera. Kamu tidak perlu membalas dengan cara yang sama rendah dengannya. Cukup tunjukkan bahwa kamu punya harga diri yang tidak bisa dia injak lagi."
Di malam itu, sementara Leo sedang bergelut dengan kesepian di rumah mewahnya yang bisu, Aera menemukan kekuatannya kembali di bawah pelukan Oma. Dua dunia yang berbeda, dua nasib yang saling bersinggungan—satu mencari hangat, satu lagi tengah belajar bagaimana caranya melindungi diri dari api yang pernah membakarnya.
Keesokan harinya, suasana kampus menjadi jembatan bagi dua dunia yang berbeda itu. Leo datang dengan motor sport-nya, memarkirkannya di sudut parkiran yang biasa, dengan langkah gontai yang masih membawa sisa-sisa sesak dari rumahnya.
Sementara Aera, dengan semangat yang baru setelah malam penuh dukungan dari Oma, melangkah masuk ke gerbang kampus dengan kepala tegak.
Saat Aera berjalan menyusuri koridor, ia melihat sosok Leo sedang duduk di bangku taman depan fakultas. Kali ini, Leo tidak dikelilingi teman-temannya. Ia duduk sendirian, menatap kosong ke arah deretan pepohonan, jaket kulitnya tergeletak di sampingnya. Bahunya tampak turun, memikul beban yang lebih berat dari biasanya.
Aera tahu, itu adalah tatapan yang sama dengan tatapan yang ia temukan saat pertama kali bertemu dengan pemuda itu—tatapan seseorang yang merasa sendiri di tengah keramaian.
Tanpa ragu, Aera melangkah mendekat. Ia membeli dua botol kopi dingin dari mesin penjual otomatis sebelum akhirnya berhenti tepat di depan Leo.
"Terlalu pagi untuk terlihat sesedih itu, Leo," sapa Aera lembut, menyodorkan satu botol kopi ke hadapan Leo.
Leo tersentak kecil, lalu mendongak. Ia melihat Aera yang tersenyum tulus, bukan senyum kasihan, melainkan senyum yang menawarkan pertemanan. Leo menerima kopi itu, jemarinya yang dingin bersentuhan sejenak dengan tangan Aera yang hangat.
"Baru saja aku berpikir kalau duniaku sedang berhenti berputar," gumam Leo dengan suara serak, lalu menarik napas panjang. "Ada apa? Tumben sekali kamu menghampiriku lebih dulu."
Aera duduk di samping Leo, memberi jarak yang nyaman. "Tadi malam, aku baru saja menghadapi badai yang paling buruk dalam hidupku. Tapi, setelah itu, aku merasa lebih ringan. Aku belajar bahwa terkadang, kita hanya butuh seseorang untuk tahu bahwa kita tidak sendirian."
Leo menoleh, menatap Aera dalam-dalam. Ia melihat kilatan keberanian di mata gadis itu—keberanian yang baru saja memenangkan pertempuran melawan Belva.
"Kau bicara soal ibu tirimu?" tanya Leo, yang entah bagaimana, sudah mendengar kabar tersebut dari desas-desus atau mungkin karena ia memang memperhatikan Aera lebih dari yang ia sadari.
Aera mengangguk. "Dia mencoba menghancurkanku di depan umum. Tapi, dia lupa bahwa aku bukan lagi Aera yang menangis di pojokan rumah. Aku memegang bukti, dan dia ketakutan."
Leo tertawa getir, tawa yang terdengar sangat langka. "Hebat. Kamu punya keberanian untuk melawan, Aera. Aku? Aku bahkan tidak punya keberanian untuk sekadar menatap mata kedua orang tuaku dan bertanya kenapa rumah kami terasa seperti kuburan."
Aera menatap Leo, kali ini dengan empati yang mendalam. "Leo, mungkin kita tidak bisa memilih keluarga yang kita punya. Tapi kita bisa memilih siapa yang akan menjadi keluarga kita selanjutnya. Kamu pernah memberiku rumah saat aku tidak punya tempat untuk pulang. Sekarang, izinkan aku menjadi orang yang mendengarkanmu saat kamu merasa tidak punya tempat untuk bicara."
Kalimat itu sederhana, namun bagi Leo, itu adalah sesuatu yang sudah lama ia rindukan. Di tengah kemewahan yang palsu di rumahnya, ia selalu merasa sebagai orang luar. Namun di sini, di bawah teduhnya pohon kampus, di samping gadis yang berani melawan ibu tirinya, Leo merasa ia akhirnya menemukan seseorang yang mengerti bahwa di balik mesin motor dan jaket kulit, ada seorang pemuda yang hanya ingin dipeluk dan didengar.
"Terima kasih, Aera," bisik Leo tulus.