Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Omongan di Persit
Nama Hartono baru muncul di layar Iwan ketika nama Arum kembali dikotori di depan umum.
Dua hari kemudian, Persit mengadakan pengajian dan pembagian jadwal kegiatan di aula kecil dekat koperasi. Bu Yanti mengajak Arum membantu menata konsumsi agar ia mengenal lebih banyak perempuan di asrama.
Arum datang membawa baki teh. Ia mengenakan baju sederhana warna hijau muda yang dijahitnya sendiri. Baru beberapa langkah masuk, ia mendengar suara yang sengaja dibuat cukup keras.
"Sekarang siapa saja bisa ikut kegiatan Persit, ya?"
Nunung duduk di dekat pintu bersama Bu Lastri. Ia sepupu Hartono dan sering membantu urusan koperasi meski bukan pengurus resmi.
Lastri mengaduk teh. "Kalau dekat dengan perwira, pintu mana pun terbuka."
Beberapa perempuan memandang Arum, lalu pura-pura sibuk.
Bu Yanti meletakkan kotak makanan. "Arum datang membantu saya. Ada masalah?"
"Tidak ada," jawab Nunung sambil tersenyum. "Saya cuma bertanya statusnya. Dia bukan istri prajurit, bukan keluarga, tapi selalu ada di acara asrama."
"Dia pekerja satuan dan warga lingkungan ini. Pengajian terbuka untuk perempuan asrama."
"Pekerja satuan atau penghuni rumah Mayor?"
Lastri menahan tawa di balik cangkir.
Arum meletakkan baki. "Saya bekerja siang di Blok C-3 dan malam tinggal bersama Bu Inah."
"Katanya," ujar Nunung. "Orang juga bilang kamu calon istri Mayor. Tapi asal-usulmu saja tidak jelas. Keluarga mana yang akan datang melamar atau menerima lamaran?"
Kalimat itu mengenai titik yang selama dua hari mengganggu Arum.
Ia melihat wajah ayahnya dalam ingatan yang kabur, selendang ibunya, dan nama Hartono yang belum ia tahu sedang muncul dalam arsip. Namun, di mata orang-orang ini, ia hanya gadis tanpa keluarga yang menempel pada seorang perwira.
"Ayah saya seorang prajurit," katanya.
Nunung mengangkat alis. "Kalau benar, kenapa tidak ada yang mengenal? Jangan membuat cerita setelah dekat dengan Danyon."
Bu Yanti berdiri. "Jaga ucapanmu."
"Saya tidak menuduh. Saya hanya bilang kita perlu hati-hati. Pangkat Mayor Bara bisa rusak kalau ada perempuan tidak jelas memakai namanya."
Lastri menambahkan, "Apalagi perjodohan Arum dengan Reyhan belum selesai. Orang bisa mengira Pak Mayor merebut calon istri anak bawahannya."
Bisik-bisik mulai bergerak.
Arum memegang tepi baki. "Keluarga Prasetyo mengusir saya dan menyatakan perjodohan selesai. Saya tidak pernah setuju menikah dengan siapa pun."
"Ada suratnya?" tanya Nunung.
Arum terdiam.
Senyum Nunung melebar. "Tidak ada, kan? Jadi siapa yang tahu kamu berkata benar?"
Bu Yanti menepuk meja. Cangkir bergetar. "Cukup. Kalau mau membahas status hukum seseorang, bawa bukti dan orang berwenang. Jangan menyamarkan fitnah sebagai pertanyaan."
Seorang pengurus Persit yang lebih tua ikut berdiri. "Kegiatan dimulai lima menit lagi. Tidak ada pembicaraan pribadi di ruangan ini. Bu Lastri, kamu sudah pernah membuat klarifikasi soal Arum. Jangan ulangi."
Wajah Lastri menegang. "Saya cuma mendengar dari Nunung."
"Dan saya mendengar dari keluarga sendiri," balas Nunung. "Kapten Hartono membesarkan dia. Beliau paling tahu tabiatnya."
Hubungan itu diucapkan begitu saja, tetapi Bu Yanti langsung menangkapnya. Ia menatap Nunung tajam. "Jadi omongan ini berasal dari keluarga Hartono?"
Nunung sadar telah bicara terlalu banyak. "Saya tidak bilang begitu."
"Semua orang mendengar."
Bu Yanti meminta pengurus mencatat ucapan tersebut dalam notulen kejadian sebelum acara dilanjutkan. Nunung protes bahwa obrolan perempuan tidak perlu dibesar-besarkan, tetapi tiga saksi menyatakan kalimatnya sama-sama mereka dengar.
"Kalau memang hanya pertanyaan biasa, kamu tidak perlu takut dicatat," kata pengurus.
Lastri meraih tas, hendak pergi. Pengurus menahannya. "Duduk sampai acara selesai. Kalau keluar sekarang, orang akan mengira kamu datang hanya untuk menyebar cerita."
Lastri kembali duduk dengan wajah merah. Arum melihat semuanya. Kali ini, fitnah tidak menguap begitu saja setelah melukai orang. Ada tanggal, tempat, saksi, dan nama yang ditulis di atas kertas.
Pengurus meminta keduanya duduk terpisah. Acara dimulai, tetapi Arum sulit mengikuti. Setiap kali seseorang membuka ponsel, ia takut namanya sedang dikirim ke grup lain.
Setelah acara, ia membantu membersihkan gelas tanpa bicara. Bu Yanti mengambil kain dari tangannya.
"Cukup. Kita pulang."
Di Blok C-3, Arum akhirnya duduk di dapur dan menceritakan semuanya. Bu Yanti membuat teh jahe, lalu mendorong cangkir hangat ke depannya.
"Kamu tadi sudah bicara benar," kata Bu Yanti. "Tapi kamu tidak harus membuktikan seluruh hidupmu di depan orang yang sengaja tidak mau percaya."
"Mereka benar soal satu hal. Saya tidak punya surat pembatalan."
"Perjodohan bukan rantai. Kamu sudah dewasa dan tidak setuju. Itu cukup untuk menolak. Untuk dokumen, kita urus lewat jalur yang benar."
"Kalau nama Pak Mayor rusak karena saya?"
"Bara sendiri yang memilih berdiri di sampingmu. Jangan ambil haknya memilih hanya karena kamu takut."
Air mata Arum jatuh ke punggung tangan. "Saya lelah setiap orang bertanya saya anak siapa."
Bu Yanti pindah duduk di sampingnya dan merangkul bahu Arum. "Kalau belum ada jawaban, bilang saja namamu Sekar Arum Wijaya. Itu sudah cukup."
Pintu depan terbuka.
Bara masuk dengan seragam lengkap. Ia baru kembali dari markas ketika menerima pesan Bu Yanti tentang keributan Persit. Tatapannya jatuh pada mata Arum yang merah.
"Siapa yang membuatmu menangis?"
Arum cepat menghapus air mata. "Tidak apa-apa."
"Bohongmu buruk."
Bu Yanti berdiri. "Lastri dan Nunung menyebut asal-usul Arum tidak jelas, menuduh dia menggoda perwira, dan membawa perjodohan lama sebagai bahan omongan. Pengurus sudah menghentikan, tapi semua orang mendengar."
Bara meletakkan topi dinas di meja. Gerakannya sangat pelan.
"Nunung bilang dari mana dia mendapat cerita?"
"Katanya keluarga Hartono."
Mata Bara berubah dingin. Potongan rencana mulai tersusun. Hartono takut pada arsip, Reyhan hendak pulang, lalu kerabatnya menyebarkan perjodohan dan tuduhan moral.
"Aku akan bicara dengan pengurus Persit dan Pak Yusuf," katanya.
Arum berdiri. "Jangan buat keributan karena saya."
Bara mendekat. "Lihat aku."
Arum mengangkat wajah.
"Siapa pun yang menghina orangku akan menjawab dengan bukti di depan orang yang sama. Bukan dengan pukulan, bukan dengan ancaman kosong. Dengan fakta."
"Kalau faktanya saya memang tidak punya keluarga?"
"Kamu punya nama. Kamu punya hak. Dan kamu punya aku berdiri di sampingmu sampai semuanya jelas."
Ia menoleh pada Bu Yanti. "Besok, minta pengurus kumpulkan saksi yang mendengar. Jangan ada pesan dihapus."
"Baik."
Bara mengambil ponsel dan menghubungi Iwan.
"Cari sumber omongan Nunung. Mulai malam ini. Siapa pun yang berani menghina orangku, aku mau namanya tercatat."
Di ujung sambungan, Iwan menjawab siap.
Arum memandang punggung Bara. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya menunggu dilindungi.
Ia meraih ponselnya sendiri dan mengirim pesan kepada pengurus Persit, meminta salinan notulen serta daftar orang yang hadir.
Besok, fitnah itu tidak akan dijawab dengan air mata.