Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKARANGAN MONSTER
Pagi hari di Hutan Kelam disambut oleh pendar cahaya keemasan yang menembus sela-sela pepohonan purba. Di pekarangan rumah kayu dua lantai milik Kayy, suasana riuh dan penuh keajaiban sudah tercipta bahkan sebelum embun pagi sepenuhnya menguap.
Di samping rumah, Pohon Kehidupan Abadi menjulang gagah dengan dedaunan kristal yang memancarkan pendar cahaya hijau zamrud nan lembut. Di antara rimbunnya dahan-dahan suci tersebut, puluhan Peri Kecil Hutan (Sprites) berukuran sebesar jempol terbang berputar-putar riang. Masing-masing peri membawa kelopak bunga berkilau, meninggalkan jejak debu bintang yang berpendar keemasan di udara.
"Ayo tangkap Elena kalau bisa, Ignis!" seru Elena tertawa renyah, suaranya mengalun bening membelah udara pagi.
Bocah kecil berambut pirang itu tampak sedang berlarian melintasi rumput pekarangan yang hijau segar. Di belakangnya, Ignis—sang Naga Kuno Merah yang pernah menjadi mitos pemusnah peradaban—kini menyusut konyol menjadi sebesar kucing rumahan. Ignis mengepakkan sayap bersisik merahnya yang mungil, terbang rendah seraya sesekali menembakkan percikan api kecil dari mulutnya.
"Raaarrr! Aku adalah penguasa api neraka!" geram Ignis dengan suara melengking yang sama sekali tidak terdengar menakutkan, melainkan justru amat menggemaskan.
"Awas kena gaunmu, Elena," tegur Alya hangat dari teras rumah. Istri Kayy itu berdiri menyunggingkan senyum manis seraya menyiram tanaman bunga suci yang mekar sempurna diterpa sinar matahari.
Di sudut pekarangan dekat wortel emas raksasa setinggi dua meter, Shiro si Serigala Es raksasa sedang merebahkan tubuh besarnya di atas rumput. Bulu peraknya yang tebal dan berkilau dijadikan tempat mendarat yang empuk bagi belasan peri kecil. Shiro hanya mengibaskan ekornya pelan, menguap malas sambil menikmati udara hangat.
Tak jauh dari sana, Snow—sang Pegasus Putih bersayap perak yang baru saja diselamatkan kemarin—sedang berdiri anggun di samping Kereta Terbang Mewah buatan Kayy. Kuda suci itu mengunyah buah apel suci dengan raut wajah sangat puas, menikmati sapuan lembut pada surainya.
Sementara itu, sang kepala keluarga, Kayy, berdiri santai di tengah pekarangan. Dengan celemek kesayangannya yang terikat rapi di pinggang, pria berstatus MAX itu memegang sapu lidi, dengan tenang menyapu dedaunan kering yang gugur dari Pohon Kehidupan.
Di saat yang bersamaan, dari balik semak-semak tebal di batas Hutan Kelam, muncul sosok yang sudah tidak asing lagi.
Dia adalah Arthur, Pahlawan Utama Kerajaan Manusia. Pahlawan legendaris berzirah emas berkilau dan berpedang pusaka Kerajaan itu sedang melakukan patroli rutin di perbatasan hutan. Keramahan dan kehangatan keluarga Kayy di kunjungan-kunjungan sebelumnya membuat Arthur berniat mampir sebentar untuk sekadar melepas lelah, mengobrol santai, dan menikmati cangkir teh kelapa hangat buatan Kayy.
Namun, begitu kakinya melangkah melewati batas garis pekarangan, seluruh pergerakan Arthur membeku seketika.
CRASH!
Tumpukan dokumen patroli penting dan berkas laporan kerajaan yang berada di dalam dekapan lengan zirah Arthur meluncur bebas, berserakan begitu saja di atas tanah.
Mata sang Pahlawan Kerajaan membelalak lebar hingga bola matanya serasa ingin melompat keluar. Rahang bawahnya jatuh drastis hingga mulutnya menganga lebar. Lidahnya serasa mendadak kelu, terikat kaku oleh rasa syok yang menghantam mentalnya bagaikan pukulan godam raksasa!
Arthur menggosok-gosok matanya dengan sarung tangan besinya berkali-kali. Ia memejamkan mata erat-erat, menggelengkan kepala sekuat tenaga, lalu membukanya kembali. Tapi pemandangan absurd itu tidak kunjung hilang.
"A-Aku... aku cuma tidak lama dari sini..." gumam Arthur dengan suara gemetaran hebat. Nada suaranya naik dua oktaf, terdengar amat melengking dan tidak berwibawa sama sekali bagi seorang pahlawan legendaris.
Arthur memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut pening luar biasa. Bola matanya bergerak liar memindai setiap sudut pekarangan yang kini bertransformasi menjadi habitat makhluk-makhluk paling tidak masuk akal di dunia.
"T-Tunggu dulu! Demi Mahkota Raja... Pohon raksasa berkilau apa itu di samping rumah?!" pekik Arthur histeris, jarinya yang gemetaran menunjuk ke arah Pohon Kehidupan Abadi. "Pohon Kehidupan?! Pohon suci yang cuma ada di dalam legenda suku Elf ribuan tahun lalu?! Dan... demi dewa sihir, peri-peri hutan legendaris itu kenapa malah beterbangan santai seperti lalat musim panas?!"
Sebelum mental Arthur sempat memproses eksistensi pohon suci tersebut, perhatian sang Pahlawan teralihkan oleh suara letupan api kecil di udara.
FWOOSH!
Arthur menoleh mendongak, dan matanya menyaksikan Ignis sedang terbang mengejar Elena. Aura magis murni yang terpancar dari tubuh kecil naga itu membuat zirah emas Arthur bergetar hebat melantunkan sinyal bahaya.
"I-ITU..." Suara Arthur tercekat di tenggorokan. "Bukannya Naga Kuno Merah (Ancient Red Dragon) yang tercatat dalam buku sejarah Kerajaan?! Naga bencana alam yang dalam sejarah butuh sepuluh ordo ksatria sihir cuma untuk menyegelnya?! Kenapa... KENAPA UKURANNYA MENYUSUT JADI SEBESAR KADAL HIAS DAN DIPERLAKUKAN SEPERTI BONEKA TERBANG?!"
Ignis yang mendengar teriakan Arthur sempat menoleh sejenak ke arah sang Pahlawan. Naga purba mungil itu melipat kedua tangannya di dada, melayang pasrah seraya menatap Arthur dengan pandangan penuh simpati, seolah memberi isyarat gaib: Jangan tatap aku seperti itu, Pahlawan. Aku juga korban kepasrahan atas aura pria bercelemek itu.
Syok Arthur belum berakhir. Pandangannya bergeser lagi ke sudut pekarangan dekat kereta kayu berukiran sulur emas.
Di sana, seekor kuda bersayap perak yang anggun sedang berdiri dengan tenang. Aura kesucian murni yang memancar dari Pegasus tersebut membuat pedang pusaka emas di pinggang Arthur bergetar merendah, menunjukkan sikap hormat secara alami.
"P-PEGASUS PUTIH ABADI?!" jerit Arthur, matanya hampir melompat dari rongganya. "Kuda suci legendaris yang bahkan Raja Kerajaan Manusia pun tidak bisa menyentuhnya... kenapa malah dipasangi tali penarik kereta kayu?! Kereta kayu untuk apa itu?! Kereta belanja pasar?!"
BRUK!
Lutut sang Pahlawan Kerajaan Manusia itu mendadak lemas tanpa tulang. Arthur jatuh terduduk di atas rumput pekarangan. Pedang pusaka kebanggaannya tergeletak konyol di samping dokumennya yang berserakan.
"Kayy!" teriak Arthur akhirnya seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangan, tampak benar-benar putus asa menghadapi kenyataan. "Kemarin baru Serigala Es raksasa sama wortel suci dua meter! Sekarang kamu nambah Pohon Kehidupan, peri hutan, Naga Kuno pemusnah benua, sama Pegasus penarik kereta belanja pasar?! Kamu ini sebenarnya mau bikin negara baru, mau menaklukkan dunia, atau bagaimana?!"
Elena yang mendengar suara teriakan familiar itu langsung menghentikan larinya. Bocah kecil itu menyunggingkan senyum lebar nan polos, berlari kecil menghampiri Arthur yang sedang terkulai lemas di rumput.
"Halo Paman Pahlawan!" seru Elena riang dengan nada suara yang begitu gembira. "Lihat, Elena punya banyak teman baru! Ini Ignis si kadal terbang yang suka sembur api, ini Snow si kuda sayap yang suka makan apel, terus semalam Elena juga main sama peri-peri bintang di rumah pohon!"
Arthur mendongak kaku, menatap wajah polos Elena yang berdiri di hadapannya. Sang Pahlawan Kerajaan menghela napas panjang yang tersendat-sendat, memegangi dadanya yang terasa makin sesak.
"Paman Pahlawan... pening sekali, Elena..." bisik Arthur pasrah, matanya menatap kosong ke langit. "Logika dan kesehatan mental Paman rasanya sudah terbang melayang ke awan."
Alya melangkah mendekat ke pinggir teras, menyunggingkan senyum hangat yang ramah dan menenangkan. "Selamat pagi, Arthur. Ayo bangun dulu, tidak usah duduk di atas tanah begitu. Nanti zirahnya kotor."
"Selamat pagi, Lady Alya..." jawab Arthur lemah seraya membungkuk hormat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri pahlawannya sambil berdiri dengan kaki yang masih agak gemetaran.
Kayy menyandarkan sapu lidahnya di batang Pohon Kehidupan, lalu berjalan mendekat dengan raut wajah santai tanpa beban sedikit pun, seolah-olah penambahan naga Kuno dan Pegasus di pekarangannya hanyalah hal biasa seperti membeli ayam ternak baru.
"Ah, Arthur. Selamat pagi," sapa Kayy santai seraya menepuk bahu sang Pahlawan. "Kebetulan sekali kamu datang pagi ini. Kemarin waktu kami pulang dari pasar kota, Pegasus ini menempel terus dan ingin ikut pulang. Sekalian peri-peri kecil ini juga baru pindah ke pohon samping rumah semalam. Pekarangan jadi sedikit lebih ramai dari biasanya."
Arthur menatap Kayy dengan tatapan tak percaya yang mendalam. "Sedikit lebih ramai?!" batin Arthur berteriak histeris di dalam hatinya. "Ini bukan ramai biasa, Kayy! Ini sudah seperti markas gabungan penguasa bencana mitologi!"
Namun, melihat raut wajah Kayy yang begitu ramah dan tulus, Arthur hanya bisa menghela napas pasrah untuk kesekian kalinya. Sang Pahlawan membungkuk pelan, memungut tumpukan dokumen patrolinya yang berserakan di tanah satu per satu.
"Kamu benar-benar luar biasa, Kayy..." ucap Arthur dengan senyum kaku yang memaksakan diri. "Setiap kali aku datang ke sini, aku selalu merasa gelar Pahlawan Utama Kerajaan milikku ini cuma sekadar pajangan tak berguna."
Kayy tertawa kecil, menepuk-nepuk punggung Arthur dengan akrab. "Jangan berkata begitu, Arthur. Kamu kan pahlawan yang menjaga kedamaian orang banyak. Sudah, ayo masuk ke dalam. Pagi ini saya baru saja memetik daun teh sihir segar dan menyeduh teh kelapa hangat. Kebetulan Alya juga baru selesai membuat kue pai apel dari pekarangan."
Mendengar kata "teh hangat" dan "pai apel", mata Arthur mendadak berbinar kembali. Rasa lelah, pening, dan syok mental yang menghantamnya sejak tadi seketika menguap begitu saja, digantikan oleh selera makan yang membuncah. Bagaimanapun juga, masakan dan minuman buatan keluarga Kayy adalah kenikmatan tiada tara yang tak bisa ditolak oleh siapapun di benua ini.
"Teh hangat dan pai apel..." bisik Arthur seraya menyapu sisa debu di zirahnya. "Baiklah! Kalau begitu, aku tidak akan menolak!"
Elena tertawa gembira melihat Paman Pahlawannya kembali bersemangat. Bocah kecil itu langsung menarik tangan Arthur menuju teras rumah, diikuti oleh Ignis yang melayang santai di atas mereka dan para peri kecil yang menari-nari menuntun jalan.
Arthur melangkah masuk ke dalam rumah kayu dua lantai itu dengan perasaan campuran antara pasrah dan terkagum-kagum. Sang Pahlawan Kerajaan Manusia itu akhirnya benar-benar menerima satu kenyataan mutlak: Di pekarangan dan rumah Kayy ini, seluruh hukum logika, batas kekuatan, dan gengsi dunia tidak akan pernah berlaku.