"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Arka dan Nara tidak ada di sekolah.
Alya menerima telepon itu pukul dua siang, saat ia sedang menulis laporan kecelakaan latihan. Suara guru kelas terdengar panik, tetapi berusaha sopan.
"Dokter Alya, maaf sekali. Tadi ada perempuan yang datang membawa surat izin jemput."
Pena Alya jatuh.
"Perempuan siapa?"
"Katanya tante anak-anak. Namanya Siska."
Dunia di sekitar Alya mengecil.
"Anak-anak saya di mana?"
"Kami kira..."
"Saya tanya anak-anak saya di mana?"
Ruang dokter mendadak sunyi. Nadia yang sedang membuka berkas di sofa langsung berdiri.
Guru itu mulai menangis. "Kami sedang cek CCTV. Suratnya ada tanda tangan..."
Alya memutus telepon.
Tangannya gemetar. Ia mencoba menelepon nomor sekolah lagi, lalu nomor sopir antar-jemput, lalu ponsel kecil yang selalu ia masukkan ke tas Arka.
Tidak aktif.
Nadia mendekat. "Ly."
"Siska menjemput mereka."
Wajah Nadia berubah. "Kita lapor polisi."
"Tunggu."
"Tidak ada tunggu untuk anak hilang."
Ponsel Alya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkat.
Suara Raka masuk, tenang seperti lima tahun lalu.
"Kamu masih cepat panik kalau soal anak-anak."
Alya hampir tidak bisa bernapas. "Di mana mereka?"
"Aman. Untuk sekarang."
"Raka, kalau kamu sentuh mereka..."
"Jangan mengancam. Kamu bukan di posisi itu."
Nadia memberi isyarat agar Alya menyalakan pengeras suara. Alya menekan tombol.
"Apa maumu?" tanya Alya.
"Datang ke Hotel Marunda, kamar 607. Sendiri. Jangan bawa Damar. Jangan bawa polisi. Jangan bawa teman pengacaramu."
Nadia membeku.
Alya menatapnya.
"Bukti bahwa mereka aman."
Raka tertawa kecil. Lalu suara Nara terdengar jauh.
"Mama?"
Alya menutup mulut.
"Nara! Mama di sini. Kamu sama siapa?"
Telepon langsung diambil kembali.
"Satu jam," kata Raka. "Kalau kamu terlambat, mereka akan tahu siapa ayah mereka dari orang yang salah."
Sambungan putus.
Alya mengambil tas.
Nadia menahan lengannya. "Kamu tidak pergi sendiri."
"Dia punya anak-anak."
"Karena itu jangan bodoh."
"Nadia, lepas."
"Tidak."
Alya menatapnya dengan mata basah. "Kalau itu Arka dan Nara mati karena aku terlalu lama berpikir, kamu mau tanggung?"
Nadia tersentak.
Alya menggunakan satu detik itu untuk menarik lengannya dan keluar.
Di parkiran, ia hampir menabrak Damar.
Pria itu baru turun dari mobil taktis, masih memakai seragam lapangan. Rendra di belakangnya membawa map CCTV sekolah.
"Aku baru dapat kabar," kata Damar.
Alya mundur satu langkah. "Jangan ikut."
"Anak-anak hilang."
"Bukan urusanmu."
Kalimat itu keluar seperti pisau.
Damar menerimanya, tetapi tidak mundur.
"Aku tahu kau takut. Tapi sekarang bukan waktunya melindungi rahasia."
"Aku bilang jangan ikut."
"Raka yang menelepon?"
Alya terdiam.
Mata Damar mengeras.
"Di mana?"
"Aku tidak akan memberitahumu."
"Alya."
"Kalau kamu ikut, mereka bisa terluka."
Damar mendekat setengah langkah, lalu berhenti sendiri. "Aku tidak akan muncul di depannya. Tapi aku tidak akan membiarkan kau masuk perangkap tanpa perlindungan."
"Kamu selalu berpikir semua bisa diatur dengan perlindungan."
"Tidak. Lima tahun lalu aku terlambat melindungimu. Hari ini aku tidak mau terlambat lagi."
Alya menggigit bibir sampai perih.
Rendra berbicara pelan. "Kami bisa ikuti dari jarak jauh. Tanpa seragam. Tanpa sirene. Polisi juga bisa masuk belakangan kalau lokasi anak-anak jelas."
"Tidak ada polisi," kata Alya.
"Baik," jawab Damar. "Tidak ada polisi sampai kau minta."
Alya menatapnya. "Kamu janji?"
"Aku janji."
Ia tahu janji dari Damar tidak mudah diberikan.
Dan itu justru membuatnya lebih takut.
Di Hotel Marunda, Alya masuk sendirian. Lobi hotel bisnis itu dingin, berbau pewangi ruangan, dan terlalu terang. Ia naik lift ke lantai enam dengan tangan dingin.
Kamar 607 tidak terkunci.
Di dalam, Raka duduk di sofa. Tidak ada anak-anak.
Alya berhenti di pintu.
"Mereka di mana?"
"Dekat."
"Aku mau lihat."
"Duduk dulu."
"Tidak."
Raka tersenyum. "Kamu masih keras kepala. Dulu aku suka itu."
"Aku tidak datang untuk dengar nostalgia."
Raka melemparkan sebuah amplop ke meja. "Kamu datang untuk ini."
Alya tidak mengambilnya.
"Isinya akta lahir anak-anak yang belum pernah dilihat Damar. Data rumah sakit tempat kamu melahirkan. Nama dokter yang membantu. Foto saat kamu membawa bayi keluar dari klinik."
Tubuh Alya kaku.
"Kamu pikir lima tahun cukup untuk hilang?" tanya Raka. "Karsa menemukan orang lebih jauh dari Jakarta."
"Apa hubungan anak-anak dengan kalian?"
"Darah."
"Mereka bukan milikmu."
"Bukan. Tapi mereka bisa jadi alat tawar."
Pintu kamar mandi terbuka.
Nara keluar dengan mata merah, memeluk boneka kecil. Arka berdiri di belakangnya, wajah pucat tapi berusaha tenang.
"Mama," bisik Nara.
Alya berlari.
Ia memeluk mereka begitu kuat sampai Arka mengeluh pelan.
"Sakit, Ma."
"Maaf. Maaf."
Raka berdiri. "Sekarang dengar. Kamu akan pergi lagi. Bawa anak-anak. Jangan biarkan Damar mendekat. Kalau dia terus menggali Karsa, bukan hanya kamu yang..."
Jendela kamar diketuk dari luar.
Raka menoleh.
Di gedung seberang, cahaya laser merah kecil jatuh di dadanya.
Wajahnya berubah.
Alya menarik anak-anak ke belakang.
Pintu kamar didobrak.
Damar masuk tanpa seragam, pistol terarah ke bawah, wajahnya dingin.
"Jauhkan tanganmu dari keluargaku."
Raka mengangkat alis. "Keluarga? Cepat sekali."
Damar tidak terpancing. "Rendra."
Rendra masuk dari belakang, langsung memeriksa kamar mandi dan balkon. Dua orang timnya mengamankan koridor. Nadia menyusul dengan wajah nyaris putih, tetapi ia tetap merekam dengan ponsel.
Raka tertawa pelan. "Kalian semua dramatis. Anak-anak baik-baik saja."
"Karena belum sempat kau apa-apakan," kata Nadia.
"Pengacara selalu suka kalimat besar."
Alya menutup telinga Nara dengan satu tangan. Arka berdiri di depannya seperti perisai kecil. Damar melihat itu dan sesuatu di wajahnya retak.
"Arka," kata Alya pelan, "ke belakang Mama."
"Aku jaga Nara."
"Mama yang jaga kalian."
"Mama gemetar."
Alya tidak bisa berkata apa-apa.
Damar menatap anak itu. "Dengar Mama."
Arka menoleh kepadanya. "Kamu siapa?"
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada makian Raka.
Damar menjawab setelah satu detik terlalu lama. "Orang yang akan bantu Mama kalian."
"Mama bilang jangan percaya orang asing."
"Mama benar."
Raka bertepuk tangan pelan. "Anak pintar."
Damar menatapnya. "Satu kata lagi tentang anakku, kau tidak keluar berdiri."
Alya menoleh cepat.
Anakku.
Damar sendiri tampak baru sadar kata itu keluar. Namun ia tidak menariknya kembali.
Raka melihat celah itu dan tersenyum. "Jadi kamu sudah menebak. Bagus. Karsa juga menebak lebih dulu."
Rendra memborgol tangan Raka. "Cukup."
"Kau kira borgol ini berarti sesuatu?" Raka berbisik saat melewati Damar. "Kamu tentara. Kamu tahu sistem bisa dibeli di bagian yang paling sunyi."
"Aku tahu," jawab Damar. "Makanya aku tidak percaya sistem saja."
Setelah Raka dibawa keluar, Alya tetap memeluk anak-anak di lantai. Damar melepas jaketnya dan meletakkannya di punggung Nara. Nara memegang kain itu dengan jari kecil.
"Mama," katanya, "aku mau pulang."
"Kita pulang."
"Om itu ikut?"
Alya menatap Damar.
Ia ingin berkata tidak.
Tapi koridor hotel terasa penuh mata yang tidak dikenal. Surat palsu sekolah masih ada di meja. Raka masih bisa tersenyum bahkan saat diborgol.
"Dia ikut dari belakang," kata Alya akhirnya. "Tidak satu mobil."
Damar mengangguk. Ia menerima batas itu seperti menerima perintah.
Di lift turun, Nara memeluk leher Alya dan tertidur karena lelah menangis. Arka berdiri di samping Nadia. Saat pintu lift terbuka, ia menoleh ke Damar yang berdiri beberapa langkah di belakang.
"Kamu benar bisa cari orang jahat?"
"Aku akan coba."
"Jangan coba saja."
Damar menatapnya.
Arka berkata pelan, "Mama selalu coba. Mama capek."
Damar tidak menemukan jawaban.
Malam itu, ketika mobil mereka meninggalkan hotel, Raka duduk di kendaraan lain dengan kepala menunduk. Tidak ada yang melihat senyum kecil di wajahnya.
Ia sudah gagal membawa Alya pergi.
Tapi ia berhasil membuat Damar menyebut kata anakku.
Mulai sekarang, semua orang akan bergerak lebih cepat.
Di mobil lain, Alya duduk di antara Arka dan Nara. Nara tertidur dengan pipi basah. Arka tetap terjaga, memegang tangan ibunya.
"Mama," katanya pelan, "kalau Om Damar keluarga, kenapa Mama takut?"
Alya menatap jalan gelap di depan.
"Karena keluarga juga bisa terluka."
Arka berpikir lama.
"Kalau begitu jangan sendirian."
Alya menoleh. Anak itu tidak melihatnya. Ia menatap jendela dengan wajah kecil yang terlalu serius.
"Mama selalu bilang aku harus jaga Nara. Tapi siapa yang jaga Mama?"
Alya tidak sanggup menjawab.