NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:103
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Malam yang Panjang

Aku menghabiskan sore di lantai kamar kos dengan punggung bersandar pada ranjang.

Perkataan Nadia terus berputar di kepalaku.

`Aku pacar Om Bram-mu.`

Jika itu bohong, aku hanya perlu bertanya. Satu jawaban dari Om Bram bisa menghancurkan semua ketakutan yang tumbuh sejak kemarin. Namun jika itu benar, aku akan mendengar penolakan untuk kedua kalinya, kali ini dengan nama perempuan lain sebagai alasan.

Dinda mengetuk pintu beberapa kali. Aku berpura-pura tidur sampai langkahnya menjauh.

Menjelang pukul sepuluh malam, aku akhirnya bangkit. Aku mencuci wajah, mengganti baju, lalu mengambil sebuah kunci lama dari kotak kecil di lemari.

Kunci Puri Cendana.

Om Bram tidak pernah memintanya kembali setelah aku pindah. Mungkin dia lupa. Mungkin dia ingin memberiku jalan pulang yang tidak perlu kupakai.

Aku memesan taksi daring sebelum keberanianku hilang.

Sepanjang perjalanan, aku menyusun satu pertanyaan sederhana.

`Apa Nadia benar pacar Om?`

Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada tangisan. Aku hanya ingin kebenaran.

Gerimis turun ketika mobil berhenti di depan Puri Cendana. Petugas keamanan mengenaliku dan membuka gerbang tanpa banyak bertanya. Lampu ruang tamu masih menyala, tetapi mobil Om Bram tidak terlihat dari sudut jalan karena biasanya diparkir di samping rumah.

Aku membuka pintu utama pelan-pelan.

Rumah itu berbau kayu, bunga melati dari taman belakang, dan sedikit aroma anggur yang asing. Rak sepatu di dekat pintu masih sama. Sandal rumah lamaku berada di sudut bawah, bersih seolah Mbok Nah tetap mencucinya meski aku tidak tinggal di sini.

Aku melepas sepatu dan mengenakan sandal itu.

Suara perempuan terdengar dari ruang tamu.

"Dulu kamu tidak sekaku ini, Bram."

Tubuhku berhenti.

Aku mengenali suara Nadia.

Jantungku berdetak begitu keras sampai aku takut mereka bisa mendengarnya. Aku melangkah mundur ke bagian lorong yang tidak terkena cahaya. Dari sana aku tidak bisa melihat sofa, hanya bayangan lampu di lantai dan ujung meja konsol.

"Sudah malam," suara Om Bram terdengar rendah. "Sebaiknya kamu pulang."

"Mobilku belum selesai. Lagi pula, hujan. Kamu tega mengusir teman lama?"

Ada bunyi gelas diletakkan. Setelah itu suara kain bergesekan dan sesuatu membentur meja kecil.

"Nadia."

"Tanganmu masih hangat. Aku kedinginan."

Napas tercekat di dadaku.

Aku seharusnya keluar. Aku seharusnya berdiri di depan mereka dan bertanya. Namun kakiku seperti tertanam di lantai.

Suara Nadia turun menjadi bisikan yang tidak bisa kutangkap. Lalu ada bunyi gerakan cepat, kaki kursi bergeser, dan napas seseorang yang berat.

"Cukup."

Satu kata itu terdengar tertahan.

Aku menutup mulut dengan telapak tangan.

Dalam kegelapan, pikiranku membuat gambar yang tidak bisa kulihat. Nadia merapat kepadanya. Om Bram membiarkannya. Mungkin kata `cukup` bukan penolakan, melainkan batas yang diucapkan setelah sesuatu telanjur terjadi.

Aku tidak sanggup menunggu satu detik lagi.

Aku berbalik terlalu cepat. Sandal rumahku menyenggol rak dan bergeser miring. Aku tidak berhenti untuk membenarkannya. Pintu kubuka, lalu kututup dengan tangan gemetar agar tidak membanting.

Begitu berada di luar gerbang, aku berlari.

Gerimis berubah menjadi hujan tipis. Jalan licin, napasku putus-putus, dan ikat rambutku terlepas entah di mana. Aku terus berlari sampai lampu rumah itu tidak terlihat lagi.

Di ujung gang, lututku kehilangan tenaga. Aku berjongkok di sisi jalan, memeluk tubuh sendiri, lalu menangis sampai seluruh badanku gemetar.

Kali ini aku tidak bisa menahannya tetap sunyi.

Aku tidak tahu berapa lama berada di sana. Beberapa mobil lewat tanpa berhenti. Ketika ponselku mulai bergetar, nama Om Bram menyala di layar. Aku menatapnya sampai panggilan terputus, lalu datang lagi, dan lagi.

Aku mematikan layar tanpa menjawab.

Menjelang dini hari, aku berjalan tanpa tujuan sampai menemukan musala kecil yang terasnya masih terbuka. Aku duduk di anak tangga, menunggu hujan reda dan jalanan mulai diisi pedagang sayur. Tidak ada taksi yang kupesan karena aku takut lokasi ponselku bisa diketahui Om Bram.

Aku baru kembali ke kos menjelang azan Subuh. Mataku bengkak, bajuku lembap, dan ponsel terus bergetar di dalam tas.

Aku masuk tanpa menyalakan lampu, mengunci pintu, mengubah ponsel menjadi mode senyap, lalu melemparkannya ke dalam laci.

POV Bram

Beberapa jam sebelumnya, Nadia datang ke Puri Cendana saat Mbok Nah baru selesai menata makan malam.

Dia berdiri di depan pintu dengan rambut sedikit basah dan ponsel mati di tangannya.

"Mobilku mogok dua blok dari sini," katanya. "Baterai ponselku habis. Boleh pinjam telepon?"

Aku mempersilakannya masuk karena menolak orang dalam keadaan seperti itu tidak masuk akal. Dia menelepon layanan derek dari telepon rumah, berbicara singkat, lalu mengatakan petugas membutuhkan hampir dua jam.

"Saya bisa minta Fikri mengantarmu," kataku.

"Tidak perlu. Aku harus menunggu kunci mobil dibawa kembali." Nadia melihat meja makan. "Aku mengganggu makan malammu?"

Mbok Nah muncul dari dapur. "Makanannya cukup, Den Bram."

Aku tidak punya alasan sopan untuk menyuruh Nadia menunggu di teras. Jadi dia duduk di meja makan sebagai tamu.

Sepuluh menit kemudian, Nadia memanggil Mbok Nah ke dapur.

"Mbok, tadi saya melihat air mengalir di dekat pintu samping. Sepertinya pipa dapur bocor. Takutnya masuk ke panel listrik."

Mbok Nah memeriksa bagian bawah bak cuci, lalu pergi ke pos keamanan untuk memanggil petugas kompleks. Aku menawarkan agar satpam saja yang datang, tetapi Nadia berkata dia sudah melihat letak aliran dan bisa menjelaskan melalui Mbok Nah. Saat itu aku tidak memikirkan alasannya terlalu jauh.

Kami melanjutkan makan.

Nadia menemukan sebotol anggur di lemari pajangan, hadiah mitra bisnis yang tidak pernah kubuka. Dia meminta izin, lalu menuangkan sedikit ke gelasnya sendiri.

"Kamu tidak minum?" tanyanya.

"Besok saya bekerja."

"Satu gelas tidak akan mengubahmu menjadi pengangguran."

Aku menolak dua kali. Pada tawaran ketiga, aku menerima setengah gelas hanya agar pembicaraan berhenti. Pikiranku tetap pada ponsel di samping piring.

Tiga panggilan untuk Sekar hari itu tidak dijawab. Pesanku hanya menunjukkan terkirim. Dinda juga menjawab pendek bahwa Sekar sedang lelah dan tidak ingin ditemui.

"Kamu menunggu kabar?" tanya Nadia.

"Tidak."

"Kamu pembohong yang buruk malam ini."

Aku menaruh garpu. "Mobilmu kapan selesai?"

"Petugasnya akan menelepon ke sini."

Telepon rumah tidak pernah berbunyi.

Setelah makan, Nadia berpindah ke ruang tamu tanpa diminta. Aku menelepon layanan derek dari nomor yang tersimpan di daftar panggilan. Petugas mengatakan mobil sudah berhasil dinyalakan dan salah satu staf mereka sedang membawanya ke depan rumah.

Aku menatap Nadia. "Masalahmu sudah selesai."

Dia tersenyum sambil mengangkat gelas. "Kamu benar-benar ingin aku pergi secepat itu?"

"Sudah malam. Sebaiknya kamu pulang."

"Mobilku belum selesai. Lagi pula, hujan. Kamu tega mengusir teman lama?"

Aku meletakkan gelas air di meja. "Jangan membuat keadaan terdengar berbeda dari kenyataan."

"Kenyataannya kita pernah bahagia."

"Kita pernah nyaman. Itu tidak sama."

Nadia berdiri dan mendekat. "Dulu kamu tidak sekaku ini, Bram."

"Dulu saya tidak tahu bahwa membiarkan orang berharap bisa lebih kejam daripada menolak."

Dia mengulurkan tangan dan melingkarkannya pada lenganku.

"Nadia."

"Tanganmu masih hangat. Aku kedinginan."

Aku melepaskan tangannya. Nadia kehilangan keseimbangan sesaat dan menyentuh meja kecil. Sebelum aku sempat mundur, dia kembali mendekat, wajahnya nyaris menyentuh bahuku.

Aku memegang kedua bahunya dan mendorongnya setengah langkah menjauh.

"Cukup, Nadia. Aku tidak pernah menganggapmu lebih dari masa lalu."

Wajahnya menegang.

"Ada perempuan lain."

"Itu bukan urusanmu."

"Anak angkatmu?"

Jemariku langsung terlepas dari bahunya.

"Jangan bawa Sekar ke dalam percakapan ini."

Nadia tertawa pendek, tetapi tidak ada kehangatan di dalamnya. "Aku hanya menebak. Gunawan bilang kalian sedang bertengkar. Semua orang bisa melihat cara kamu memeriksa ponsel."

"Apa pun yang kamu dengar, jangan mendekatinya."

"Kenapa? Takut dia tahu kamu bisa memilih perempuan yang lebih sesuai?"

Aku mengambil tas Nadia dari kursi dan menyerahkannya kepadanya. "Mobilmu sudah datang."

Dia menatapku beberapa detik, lalu merebut tasnya.

"Suatu hari kamu akan sadar bahwa rasa bersalah bukan cinta, Bram."

"Dan kamu harus sadar bahwa masa lalu bukan janji."

Aku mengantarnya sampai mobil, memastikan dia masuk, lalu meminta petugas keamanan mencatat nomor kendaraannya. Ketika kembali ke dalam, rumah terasa terlalu sunyi.

Mbok Nah belum kembali. Petugas keamanan menelepon dan mengatakan tidak ada pipa bocor. Mereka justru mencari sumber air dari talang hujan.

Aku hendak mematikan lampu ketika melihat sandal di dekat rak.

Sandal Sekar.

Yang kanan berada di tempat biasa. Yang kiri miring dan setengah keluar dari rak, seperti dilepas tergesa-gesa. Sepatunya tidak ada.

Darah di wajahku terasa surut.

Aku membuka pintu dan berlari ke gerbang.

"Pak, Sekar datang?" tanyaku kepada petugas.

"Iya, Pak Bram. Sekitar dua puluh menit lalu. Bukannya Non Sekar masih di dalam?"

"Dia keluar lewat mana?"

Petugas itu menunjuk ke jalan. "Baru beberapa menit. Jalan kaki."

Aku berlari menyusuri gang tanpa mengambil payung. Hujan membuat kemejaku menempel di punggung. Aku memanggil namanya, memeriksa halte dan tikungan, lalu menelepon berkali-kali.

Tidak ada jawaban.

Di dekat pagar tanaman, sesuatu berwarna hitam tersangkut pada ranting. Ikat rambut kain yang sering dipakai Sekar.

Aku mengambilnya dan berdiri di tengah gang yang kosong. Napasku masih berat, telapak tanganku menggenggam ikat rambut itu terlalu kuat.

Aku mendongak, menarik napas panjang, lalu menutup mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!