Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Awal Masalah
"Saya terima nikah dan kawinnya Amora Dania Atmojo binti Fulan dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."
Lafaz akad itu mengalun mantap dari bibir Atharazka Bagaskara. Tidak ada jeda, tidak ada keraguan sedikit pun. Begitu kalimat terakhir selesai diucapkan, para saksi langsung menyatakan akad tersebut sah.
Suasana yang semula dipenuhi ketegangan berubah menjadi haru. Beberapa tamu mengembuskan napas lega, sementara ucapan syukur mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Amora hanya mampu menundukkan kepala. Jemarinya yang sejak tadi saling menggenggam perlahan mengendur, tetapi debaran di dadanya justru semakin tak terkendali.
Dalam hitungan detik, kehidupannya berubah sepenuhnya. Kini ia resmi menyandang status sebagai istri Atharazka Bagaskara.
Seandainya waktu bisa diputar kembali, Amora sendiri tidak pernah membayangkan akan berada di posisi itu.
Semua berawal beberapa jam sebelum akad berlangsung.
Calon pengantin yang seharusnya duduk di tempatnya bukanlah dirinya, melainkan Jelita Arumi Atmojo, kakak yang selama ini dipersiapkan untuk menikah dengan keluarga Bagaskara sebagai bagian dari kesepakatan kedua keluarga.
Namun tak seorang pun berhasil menemukan Jelita.
Teleponnya tidak aktif, keberadaannya pun tidak diketahui. Ia menghilang begitu saja menjelang hari pernikahan.
Kejadian itu membuat seluruh keluarga Atmojo dilanda kepanikan. Di saat yang sama, para tamu undangan telah berdatangan, keluarga Bagaskara juga sudah hadir, sementara pembatalan akad hanya akan memperburuk keadaan D'Endra Group yang sedang berada di ujung tanduk.
Dalam situasi yang nyaris tanpa jalan keluar itulah Danendra Atmojo mengetuk pintu kamar Amora.
Saat melihat wajah ayah angkatnya, Amora langsung mengetahui ada sesuatu yang tidak beres.
Sorot mata pria itu dipenuhi kecemasan, jauh berbeda dari biasanya. Dengan suara yang bergetar, Danendra menjelaskan semuanya.
Ia tidak memerintah, ia juga tidak memaksa. Sebaliknya, ia memohon.
"Ayah nggak punya siapa-siapa lagi yang bisa dimintai tolong, Amora."
Kalimat itu masih terngiang jelas di telinga Amora hingga sekarang.
Permintaan tersebut terasa begitu berat.
Menggantikan kakaknya menjadi pengantin bukanlah sesuatu yang pernah terlintas dalam benaknya. Terlebih lagi, laki-laki yang akan dinikahinya adalah Atharazka Bagaskara, Wakil Direktur Askara Group yang selama ini dikenal memiliki reputasi buruk dalam urusan percintaan.
Namun ketika melihat Danendra dan Fina Atmojo yang hampir kehilangan harapan, hati Amora perlahan luluh.
Keluarga itulah yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang sejak kecil. Mereka tidak pernah membuatnya merasa berbeda meski dirinya bukan anak kandung. Sudah berkali-kali mereka menjadi tempatnya bersandar.
Maka untuk pertama kalinya, Amora ingin menjadi orang yang menguatkan mereka.
"Aku akan melakukannya, Yah."
Jawaban itu keluar dengan suara pelan, tetapi penuh keyakinan.
"Kalau ini bisa menjaga keluarga kita dan menyelamatkan D'Endra Group, aku bersedia menggantikan Kak Jelita."
Keputusan itu akhirnya membawanya hingga ke kursi akad.
Dan kini, setelah ijab kabul dinyatakan sah, Amora menyadari bahwa tidak ada lagi jalan untuk kembali. Takdir yang semula diperuntukkan bagi orang lain, kini sepenuhnya menjadi miliknya.
.
Malam Sebelum Akad
Jam digital di lorong rumah menunjukkan pukul 23.25.
Di tangan Amora terdapat sebuah baki berisi semangkuk spaghetti bolognese yang masih mengepulkan uap hangat serta segelas matcha latte favorit sang kakak. Sejak sore tadi, Jelita sama sekali tidak menyentuh makanan, sehingga Amora memutuskan memasak sendiri dengan harapan bisa sedikit memperbaiki suasana hati kakaknya.
Ia berhenti tepat di depan pintu kamar.
Tok... tok... tok...
"Kak Jeli, ini aku."
Amora mengetuk sekali lagi sambil tersenyum tipis, meski kecemasan jelas tergambar di wajahnya.
"Aku bawain makanan kesukaan Kakak. Tolong buka pintunya sebentar."
Tidak ada jawaban. Amora menunggu beberapa detik, berharap suara langkah kaki segera terdengar dari dalam. Namun yang menyambutnya hanyalah kesunyian.
Ia mencoba mengetuk lebih pelan.
"Kak... jangan diabaikan, ya. Walaupun Kakak nggak lapar, minum matcha-nya aja dulu."
Tetap tidak ada sahutan.
Amora mulai mengernyit.
Seharian ini Jelita memang mengurung diri setelah kembali berselisih pendapat dengan Danendra Atmojo. Pembicaraan mereka mengenai rencana pernikahan dengan Atharazka Bagaskara kembali berakhir tanpa titik temu.
Sebagai adik, Amora memahami kedua belah pihak.
Ia mengerti alasan ayah mereka yang berusaha menyelamatkan D'Endra Group, tetapi ia juga memahami luka yang dirasakan Jelita karena dipaksa meninggalkan laki-laki yang dicintainya, Dani Ardianto.
Karena itulah Amora terus mencoba menemani kakaknya, walaupun hanya dari balik pintu kamar.
Biasanya, setiap kali dipanggil, Jelita akan menjawab singkat, meski hanya mengatakan ingin sendiri.
Namun malam ini berbeda.
Tidak ada suara dan tidak ada tanda-tanda sebuah gerakan. Tidak ada juga anda bahwa kamar itu berpenghuni.
Perasaan Amora mulai tidak tenang.
Ia mendekatkan wajahnya ke daun pintu.
"Kak Jeli...?"
Masih sunyi.
Tangannya perlahan memutar gagang pintu.
Klik.
Terkunci.
Jantung Amora berdetak lebih cepat. Ia kembali mengetuk, kali ini sedikit lebih keras.
"Kak! Tolong jawab aku. Jangan bikin aku khawatir."
Tetap nihil.
Rasa gelisah yang semula hanya berupa firasat kini berubah menjadi kepanikan. Berbagai kemungkinan buruk mulai memenuhi pikirannya.
Tanpa membuang waktu, Amora meletakkan baki berisi makanan di atas meja kecil yang berada di samping lorong. Spaghetti yang dimasaknya dengan penuh perhatian kini dibiarkan begitu saja karena ada hal yang jauh lebih penting.
Ia segera berlari menuju kamar orang tuanya.
"Ayah! Mama!"
Suara Amora terdengar terburu-buru. Ia bahkan lupa mengetuk pintu karena pikirannya hanya dipenuhi satu pertanyaan.
Bagaimana jika Jelita melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya?
Malam yang seharusnya menjadi malam terakhir sebelum akad justru dipenuhi kecemasan. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa beberapa jam kemudian, hilangnya Jelita akan mengubah seluruh rencana pernikahan yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰