NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:44.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Waktu berjalan dengan cepat, hari yang selama ini menjadi bahan pembicaraan seluruh kampung akhirnya tiba, yaitu hari pernikahan Dara dan Gavin. Acara pernikahan diadakan di kediaman Juragan Darmawan. Agar warga di sana ikut merayakan kebahagiaan keluarga kaya itu.

Sejak matahari belum sepenuhnya muncul dari balik pegunungan, kediaman Juragan Darmawan telah dipenuhi kesibukan. Deretan mobil tamu mulai berdatangan silih berganti. Para pekerja perkebunan, kerabat keluarga, hingga warga desa memenuhi halaman rumah yang dihias dengan rangkaian bunga melati dan mawar putih.

Suara gamelan mengalun pelan, berpadu dengan percakapan para tamu yang tak henti-hentinya membahas pernikahan pewaris keluarga Juragan Darmawan.

Di salah satu kamar yang telah disulap menjadi ruang rias pengantin, Dara duduk diam di depan cermin besar. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. Telapak tangannya terasa dingin. Jantungnya pun berdegup lebih cepat daripada biasanya.

Sesekali Dara menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Pantulan dirinya di dalam cermin tampak begitu asing. Riasan lembut membuat wajahnya terlihat lebih bercahaya. Bibirnya dihiasi warna merah muda yang natural. Gaun pengantin berwarna putih gading membalut tubuhnya dengan anggun. Kilauan payet di sepanjang lengan memantulkan cahaya lampu hingga tampak berkilau.

Dara menatap pantulan dirinya cukup lama. Benarkah itu dirinya? Gadis yang sejak kecil terbiasa mengenakan pakaian sederhana yang lusuh, bekas sepupu atau orang lain. Hari ini ia akan menjadi seorang istri. Bunyi ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.

Seorang perias membuka pintu. Yang muncul bukan petugas acara, melainkan Tina dan Kiara. Keduanya melangkah masuk dengan senyum lebar.

Mereka mengenakan kebaya seragam keluarga pengantin dari kain yang tampak mewah. Riasan wajah mereka begitu sempurna. Perhiasan emas yang dipinjam khusus untuk hari itu sengaja dipakai agar terlihat lebih terpandang di hadapan para tamu.

Tatapan Kiara langsung berhenti pada Dara. Matanya mengamati gaun pengantin itu dari atas hingga ke bawah. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Sepupuku cantik juga, ya."

Nada suara Kiara terdengar manis, namun sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan ketulusan. Ia melangkah mengelilingi Dara perlahan. Ujung jarinya menyentuh kain gaun yang berkilau.

"Gaunnya bagus sekali." Kiara terkekeh pelan. "Kamu beruntung sekali bisa menikah dengan pria kaya."

Nada suara Kiara terdengar manis. Namun, sorot matanya dipenuhi ejekan. Tatapan itu seolah sedang menertawakan nasib Dara.

"Kalau bukan karena keluarga Juragan Darmawan mana mungkin orang sepertimu bisa memakai gaun semahal ini?" lanjut Kiara sambil mengangkat bahu.

Ruangan mendadak sunyi. Beberapa perias saling berpandangan. Mereka tahu ucapan itu bukan pujian. Melainkan sindiran yang dibungkus senyum.

Dara hanya menundukkan kepala. Ia memilih tidak menanggapi. Baginya, hari itu terlalu berharga untuk diisi dengan pertengkaran.

Namun, diamnya Dara justru membuat Tina merasa berada di atas angin. Wanita itu melangkah mendekat. Ia berdiri di samping putrinya, lalu memandang Dara melalui pantulan cermin.

"Hidup memang aneh. Kadang Tuhan mempertemukan dua orang dengan cara yang tidak pernah kita duga." Tina tersenyum tipis.

Kiara menoleh kepada ibunya. "Maksud Ibu?"

Tina sengaja melirik kaki kiri Dara yang sedikit lebih pendek. Lalu ia mengembuskan napas pelan.

"Tuhan itu Maha Adil. Yang satu diuji pada pendengarannya dan yang satu diuji pada kakinya. Jadi sama-sama saling melengkapi."

Kiara langsung menutup mulutnya, menahan tawa. "Ibu, jujur sekali! Jadinya kan kasihan sama pasangan calon pengantin," ucapnya sengaja dibuat cukup keras agar Dara mendengar. "Kalau dipikir-pikir, mereka memang cocok, ya?"

Tina menganggukkan kepala perlahan. "Begitulah. Kita tidak boleh mengeluh pada takdir. Semoga saja pernikahan mereka langgeng, jangan sampai terjadi perceraian."

Kalimat itu terdengar halus. Namun, setiap katanya menusuk lebih dalam daripada penghinaan terang-terangan.

Dada Dara terasa sesak. Jemarinya perlahan menggenggam ujung gaun pengantin yang dikenakannya. Ia sudah terbiasa dihina dan diremehkan oleh mereka. Namun, hari ini adalah hari pernikahannya, justru orang yang melukai hatinya adalah yang selama ini ia panggil Bibi.

Dara menutup mata sejenak. Mengatur napasnya. Ketika kembali membuka mata, tatapannya tertuju pada Tina melalui cermin.

"Bibi," panggil Dara suaranya terdengar pelan, namun cukup jelas memenuhi ruangan.

Tina mengangkat dagunya. "Ada apa?"

Dara menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat wajahnya. Lalu, ia tersenyum tipis.

"Yang Bibi katakan benar. Kakiku memang tidak sempurna. Aku juga tidak pernah meminta mengalami kecelakaan itu."

Ruangan kembali hening. Semua orang memperhatikan Dara.

"Tapi, aku merasa bersyukur."

Tina mengernyit. "Bersyukur?"

Dara mengangguk pelan. "Iya. Kekurangan ini mengajariku banyak hal."

Kiara dan Tina saling melirik. Mereka tidak menyangka kalau Dara akan bicara seperti itu. Lalu, keduanya menyeringai dengan niat mengejek.

"Mengajariku untuk tidak mudah menghakimi orang. Mengajariku menghargai setiap manusia." Tatapan Dara perlahan beralih kepada Tina. "Karena setiap orang membawa ujian hidupnya masing-masing."

Senyum di wajah Tina mulai memudar. Sementara Dara tersenyum tulus. Lalu, ia melanjutkan dengan nada yang tetap lembut.

"Den Gavin memang tidak dapat mendengar sebaik orang lain. Dan aku tidak dapat berjalan sebaik orang lain. Tapi, itu tidak mengurangi nilai kami sebagai manusia."

Kalimat itu membuat beberapa orang di sana tanpa sadar menahan napas. Salah seorang perias sampai berkaca-kaca karena terharu.

Dara kembali menatap bibinya. "Justru yang paling menakutkan bukanlah kekurangan pada tubuh. Melainkan ketika hati mulai merasa lebih tinggi daripada orang lain."

Seolah ada sesuatu yang menghantam dada Tina. Wajahnya langsung berubah. Ia mengepalkan tangan.

"Ka-kamu ... berani sekali mengajariku!"

Dara menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang.

"Aku tidak sedang mengajari Bibi. Aku hanya berharap mulai hari ini, tidak ada lagi yang merendahkan Den Gavin maupun diriku hanya karena kekurangan yang kami miliki." Nada suara Dara tetap selembut tadi.

Seketika ruangan dipenuhi keheningan. Beberapa perias saling berpandangan. Mereka tidak menyangka gadis yang sejak tadi tampak begitu pendiam mampu menjaga martabatnya tanpa meninggikan suara.

Tina sendiri sudah tidak mampu menyembunyikan amarahnya. "Ka-mu! Baru mau jadi istri orang kaya, mulutmu mulai berani."

Tina mengepalkan tangan. Wajahnya memerah menahan amarah. "Dasar—"

Belum sempat Tina melanjutkan ucapannya suara ketukan di pintu kembali terdengar dari luar.

Seorang wanita berpakaian rapi membuka pintu sambil tersenyum hangat. "Permisi. Pengantin wanita sudah siap?"

Seluruh perhatian orang di ruangan itu langsung beralih kepadanya.

"Waktu akad nikah sudah tiba."

Salah seorang perias segera berdiri. "Pengantinnya sudah siap."

Wanita dari tim penyelenggara acara itu menganggukkan kepala. "Kalau begitu, mari kita antar mempelai wanita."

Dara perlahan berdiri. Gaun putihnya menjuntai anggun menyapu lantai. Sebelum melangkah keluar, ia sempat menoleh kepada Tina. Tidak ada senyum kemenangan atau tatapan merendahkan. Ia hanya menundukkan kepala dengan hormat.

"Permisi, aku mau lewat, Bi."

Sikap itu justru membuat dada Tina semakin panas. Ia merasa kalah. Bukan karena kata-kata Dara. Melainkan karena gadis yang selama ini dianggap lemah ternyata mampu menjaga harga dirinya tanpa kehilangan kesopanannya.

Di halaman rumah, para tamu telah memenuhi kursi-kursi yang disediakan. Bisik-bisik mulai terdengar ketika prosesi akad dimulai. Puncaknya terjadi saat penghulu menyebutkan mahar yang dipersiapkan untuk Dara.

"Satu miliar rupiah, dibayar tunai."

Suasana mendadak sunyi. Beberapa tamu sampai membelalakkan mata.

"Astaga, satu miliar?!" ucap salah seorang wanita yang merupakan tamu undangan, terkejut.

"Seumur hidup baru kali ini aku mendengar mahar sebesar itu," kata tamu yang lainnya.

"Juragan Darmawan benar-benar memuliakan menantunya," sahut wanita tua, pemetik daun teh.

Bisik-bisik kekaguman menyebar ke seluruh penjuru halaman.

Sementara di barisan keluarga pengantin wanita, senyum Rama dan Tina semakin sulit disembunyikan. Sorot mata mereka dipenuhi kepuasan. Bagi sebagian orang, mahar itu adalah simbol penghormatan. Namun, bagi Rama dan Tina uang itu sudah berubah menjadi bayangan harta yang sejak lama mereka impikan.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
astagaahhhb
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
apa2an itu
Sribundanya Gifran
lanjut
Risma Hye Chan
sudah aku ksih vote yaa kak aku bacanya sampe nangis
Ummee
Dara dan Gavin poloosss sekaliii, ya Allah lucunya...
Ummee
suruh bulan madu aja Ma...
Aditya hp/ bunda Lia
rasain kau anak lampir berasa jadi korban padahal kamu penjahatnya
Ita rahmawati
mantab dara,, orang seperti Kiara SM ortunya emang harus dikasih faham walaupun GK akan berubah sih tp segknya mereka harus dibantah biar GK makin makin 😏
Ita rahmawati
ucul bgt sih mereka berdua 🤣🤣
Ita rahmawati
payah lah kalo masih sm2 polos mah,,harusnya lgsg tubruk kan 🤣🤣
Mutaharotin Rotin
gitu Dara,balas ucapan Kiara biar tau rasa 👍👍👍
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut 🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹
Risma Hye Chan
lucu banget mrka brdua sumpah wkwkwk
Nar Sih
istri kecil mu yg polos pinter kan ,jdi kmu bnr,,beruntung dan pilihan jodoh yg tepat untuk mu gavin👍🥰
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰🥰
Nar Sih
hahaha😂😂kencan ala internet sedang di mulai
Sugiharti Rusli
semoga cakrawala berpikir kamu semakin bertambah dengan melihat siapa Dara sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
kamu benar Vin, kamu ga salah pilih istri, karena di balik kepolosan dan sifat sederhana Dara, dia pribadi yang kuat dan pantang menyerah oleh keadaan,,,
Nar Sih
psngn yg bnr,,bikin ngakak ,gavin dan dara yg sama,,msih polos
Sugiharti Rusli
jadi sebetulnya sejak kecil Dara sudah struggle sendiri, dan mereka hanya mendampingi kan sebagai orang dewasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!