Jatuh dari puncak kejayaan menjadi lelucon sekota dalam semalam, nasib Ye Xuan tampaknya telah berakhir. Namun, keputusasaan itu justru menjadi kunci pembuka rahasia kuno yang tertidur di dalam sebuah liontin tua. Di bawah bimbingan jiwa naga kuno, Ye Xuan mempelajari rahasia kultivasi yang menyimpang dari hukum langit. Dari turnamen kota kecil hingga medan perang antar benua, Ye Xuan menelan setiap rintangan dan kesengsaraan ilahi. Dunia menganggapnya sampah, namun ia akan membuktikan bahwa dirinya adalah penguasa sejati yang akan membelah surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Beban Kekuatan dan Batas Sang Naga
Udara di Puncak Utama Sekte Awan Azure terasa sejuk, namun di dalam ruang latihan bawah tanah Paviliun Angin Musim Gugur, suhunya panas bagaikan di dalam tungku pandai besi.
Ye Xuan berdiri di tengah ruangan berlapis batu obsidian formasi. Tangannya menggenggam erat gagang Tombak Besi Hitam raksasa. Keringat sebesar biji jagung mengalir deras membasahi tubuhnya yang bertelanjang dada, menetes ke lantai dan langsung menguap karena hawa panas yang memancar dari kulitnya.
Ia terengah-engah. Napasnya berat dan memburu.
Baru beberapa jam yang lalu, ia mengalahkan pengikut Zhao Feng hanya dengan tekanan angin dari ayunan senjatanya. Ia merasa berada di puncak dunia. Namun sekarang, realitas yang pahit baru saja menampar kesombongannya.
"Hmph! Apakah kau sudah sadar sekarang, Bocah?" Suara Master Naga terdengar sinis di dalam lautan spiritual Ye Xuan. "Kau pikir memiliki kekuatan fisik seratus ribu kati membuatmu tak tertandingi? Kau saat ini tak lebih dari seorang balita yang memegang palu godam. Kau bisa menghancurkan semut dengan mudah, tapi saat kau mencoba memukul musuh yang lincah, palu itu hanya akan menghancurkan kakimu sendiri!"
Ye Xuan menggertakkan giginya. Ia menatap telapak tangannya yang kini lecet dan berdarah. Bahkan kulit Tulang Emas Primordial-nya robek karena gesekan brutal dengan gagang tombak.
Beberapa saat yang lalu, Master Naga mewariskan jurus Tebasan Pemecah Bintang—sebuah teknik bela diri yang dirancang khusus untuk pengguna senjata berat dan fisik naga. Teknik itu membutuhkan penyatuan absolut antara otot, aliran Qi Emas, dan momentum senjata.
Ye Xuan mengira ia bisa langsung menguasainya. Ia mencoba mengayunkan tombak seberat sembilan puluh ribu kati itu dengan kecepatan penuh, memaksakan Qi Pembentukan Fondasi-nya meledak secara bersamaan.
Hasilnya?
Daya tolak balik (rebound) dari inersia senjata itu begitu mengerikan hingga otot lengannya nyaris robek, persendian bahunya berderak seolah mau lepas, dan ia kehilangan keseimbangan hingga terlempar menabrak dinding obsidian ruang latihannya sendiri.
"Inersia dari senjata seberat ini... benar-benar gila," gumam Ye Xuan serak. Ia memuntahkan seteguk darah hitam.
"Tentu saja gila!" bentak Master Naga. "Kau melompat dari Kondensasi Qi Tingkat 8 langsung ke Pembentukan Fondasi Awal dalam semalam dengan memakan Darah Gagak Emas. Tubuhmu membesar kekuatannya, tapi kendali mental dan kestabilan fondasi-mu tertinggal jauh di belakang!"
Master Naga melanjutkan, suaranya kini sedikit lebih serius. "Kau memiliki tenaga seratus ribu kati, tapi kau hanya bisa menggunakan lima puluh persen dari kekuatan itu secara efektif karena kau tidak tahu cara menyalurkannya. Jika kau berhadapan dengan Zhao Feng sekarang—yang telah berada di Pembentukan Fondasi Akhir selama bertahun-tahun dan memiliki kontrol Qi yang sempurna—dia tidak akan beradu kekuatan murni denganmu. Dia akan menggunakan kelincahannya untuk membuatmu kelelahan, lalu memotong lehermu saat ototmu kram!"
Kata-kata itu setajam pedang es, menusuk langsung ke kesombongan Ye Xuan.
Ia menutup matanya. Master Naga benar. Peningkatan kekuatannya terlalu cepat. Ia mabuk oleh ilusi kekuatan absolut setelah membantai musuh-musuhnya dengan mudah. Namun, mereka yang ia bunuh hanyalah kultivator tingkat rendah atau orang-orang yang meremehkannya.
Di saat bersamaan, Ye Xuan merasakan hawa panas yang familiar dan menyakitkan bergejolak di dalam dadanya.
Sisa-sisa energi liar dari Darah Gagak Emas yang belum sepenuhnya ia cerna mulai memberontak akibat fluktuasi Qi-nya yang tidak stabil selama latihan tadi. Rasa sakit seperti dibakar dari dalam membuat Ye Xuan jatuh terduduk bersila.
"Sial... efek sampingnya muncul lagi," desis Ye Xuan, segera menjalankan Sutra Naga Pelahap Langit untuk menekan gejolak api emas di meridiannya. Butuh waktu satu jam penuh bermeditasi dalam penderitaan sebelum api itu kembali jinak.
Setelah napasnya stabil, Ye Xuan membuka matanya. Tidak ada lagi kilatan kesombongan yang membabi buta di sana. Matanya kini sedalam dan setenang sumur kuno.
"Aku terlalu rakus," ucap Ye Xuan pelan. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati Tombak Besi Hitam yang tergeletak di lantai.
Kali ini, ia tidak mencoba menggunakan teknik Tebasan Pemecah Bintang. Ia bahkan tidak menggunakan Dragon Qi-nya.
Ia mengangkat tombak raksasa itu hanya menggunakan kekuatan otot murni.
Ia memajukan kaki kirinya, merendahkan kuda-kudanya, dan perlahan menarik napas panjang. Kemudian, ia mengayunkan tombak itu ke depan.
Wush...
Bukan tebasan sonik yang meledak-ledak. Hanya sebuah ayunan lambat yang sangat terkontrol. Ia merasakan bagaimana berat tombak itu menarik bahunya, bagaimana otot punggungnya menegang untuk menahan beban, dan bagaimana kakinya mencengkeram lantai agar tidak goyah.
Satu ayunan.
Lalu ia menariknya kembali. Dan mengayunkannya lagi.
Dua ayunan.
Tiga ayunan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Master Naga sedikit terkejut. Ia mengira Ye Xuan akan memaksakan diri mempelajari jurus tingkat tinggi itu.
"Membangun fondasi ulang," jawab Ye Xuan datar, keringat kembali bercucuran di tubuhnya. "Seperti yang kau katakan. Aku adalah balita yang memegang palu godam. Maka, aku harus belajar cara mengangkat palu ini tanpa melukai diriku sendiri sebelum aku mencoba menghancurkan bintang."
Empat ayunan. Sepuluh ayunan. Seratus ayunan.
Di dalam ruang bawah tanah yang pengap itu, sang jenius monster yang baru saja mengguncang seluruh Sekte Awan Azure mengesampingkan segala teknik dewa dan sihirnya. Ia kembali menjadi layaknya seorang pemula yang bodoh, mengulangi satu gerakan tebasan dasar berulang kali.
Setiap kali ototnya menjerit karena kelelahan, ia tidak menggunakan Qi untuk menyembuhkannya. Ia membiarkan serat-serat ototnya sobek secara alami, lalu sembuh dengan sendirinya agar terbiasa dengan beban yang tidak manusiawi tersebut.
Tiga hari kemudian.
Ye Xuan belum keluar dari Paviliun Angin Musim Gugur sama sekali. Ia telah melakukan lebih dari sepuluh ribu ayunan dasar setiap harinya.
Di hari ketiga, gerakan Ye Xuan tidak lagi lambat dan canggung. Ayunan tombaknya kini mulus bagaikan aliran air, namun menyimpan tekanan mematikan yang tersembunyi. Ia tidak lagi terhuyung saat mengayunkan senjata sembilan puluh ribu kati itu. Senjata berat tersebut akhirnya terasa seperti perpanjangan dari lengannya sendiri.
TRANG!
Ye Xuan menancapkan ujung tumpul tombak raksasa itu ke lantai obsidian, lalu menghela napas panjang. Keringat kotor berwarna kehitaman keluar dari pori-porinya—sisa-sisa ketidakstabilan fondasinya telah sepenuhnya dibersihkan melalui latihan fisik ekstrem.
Kultivasinya tidak naik. Ia tetap berada di Alam Pembentukan Fondasi Awal. Kekuatan fisiknya juga tidak bertambah, tetap seratus ribu kati.
Namun, jika Ye Xuan tiga hari yang lalu bertarung dengan Ye Xuan hari ini, Ye Xuan yang sekarang bisa membunuh "dirinya yang lama" hanya dalam tiga jurus pertukaran! Kontrol adalah kunci yang mengubah tenaga mentah menjadi kekuatan tempur sejati.
"Turnamen Inti Sekte tinggal tiga minggu lagi," Ye Xuan menyeka keringat di wajahnya, menatap ke arah pintu keluar ruang latihan dengan pandangan tajam. "Zhao Feng... tunggu sampai saat itu tiba. Akan kutunjukkan padamu apa arti dari keputusasaan yang tidak bisa dihindari oleh trik apa pun."