Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 Orang yang Mengikuti
Lian Yue dan Han Zheng baru tiba di rumah ketika matahari mulai condong ke barat. Keranjang bambu yang mereka bawa penuh dengan buah beri.
Sebagian besar berwarna ungu tua.
Namun di bagian paling bawah, masih ada beberapa buah jingga kemerahan yang dipetik Han Zheng.
Lian Yue melihatnya sekilas. "Kau masih membawanya?"
Han Zheng mengangkat keranjang. "Sayang kalau dibuang."
"Itu buah mentah."
"Masih bisa dimakan, kan?"
Lian Yue menghela napas.n"Bisa."
Han Zheng tersenyum puas. "Berarti tidak salah."
Lian Yue menatapnya beberapa detik. Kemudian ia menggeleng. "Sudahlah."
Mereka membawa hasil hutan itu ke dapur. Nyonya Han yang sedang memilah tanaman obat langsung mendongak.
"Kalian dari mana?"
"Bagian barat gunung," jawab Han Zheng.
Nyonya Han melihat keranjang mereka. "Banyak sekali."
"Menemukan buah beri," kata Han Zheng.
Ia mengambil satu buah dan menunjukkannya.nNyonya Han mengangguk.
"Bagus. Bisa dibuat manisan."
Han Zheng langsung menoleh kepada Lian Yue."Dengar?"
Lian Yue tersenyum. "Ya."
"Berarti aku benar mengambilnya."
"Kau hanya benar soal buah yang matang."
Han Zheng terdiam. Nyonya Han yang mendengar percakapan itu tertawa kecil.
"Kalian berdua semakin aneh."
Lian Yue tidak menjawab. Ia hanya membawa sebagian buah ke dalam rumah. Namun begitu memasuki kamar, senyum di wajahnya menghilang.
Kotak kayu yang ditemukan di bawah pohon tadi masih berada di dalam keranjang. Lian Yue mengeluarkannya. Ia meletakkannya di atas meja.
Kotak itu terlihat sangat biasa.
Tidak ada ukiran selain simbol kecil di bagian bawah.Tidak ada tulisan.
Tidak ada benda lain di dalamnya.
Namun Lian Yue tahu, benda yang tampak kosong terkadang justru menyimpan informasi paling penting.
Ia mengambil surat tua dari laci. Kemudian meletakkannya di samping kotak.
Simbol pada keduanya sama. Setengah lingkaran. Tiga garis pendek.
Lian Yue memperhatikan keduanya cukup lama.
Delapan tahun.
Selama delapan tahun simbol itu mungkin terus berpindah tangan.
Dan sekarang, simbol tersebut muncul tepat di dekat tempat tinggalnya.
"Kebetulan?"
Lian Yue menggeleng.
"Tidak mungkin."
Ia menutup mata. Ingatan lama kembali muncul. Rumah keluarga Xian. Gerbang besar. Suara langkah kaki. Orang-orang yang berlari.
Kemudian api. Lian Yue membuka mata.
Tidak.
Ia tidak boleh terlalu percaya pada ingatan tubuh ini. Ingatan bukan selalu kebenaran.
Kadang ingatan hanya menyimpan apa yang seseorang lihat.
Bukan apa yang sebenarnya terjadi. Lian Yue mengambil kain dan membungkus kotak tersebut. Ia kemudian menyimpannya di bawah tempat tidur.
Tidak ada seorang pun yang boleh tahu.
Setidaknya untuk sementara.
---
Malam datang perlahan. Keluarga Han makan malam seperti biasa.
Nasi.
Sayuran.
Sedikit daging kering. Dan buah beri yang dimasak dengan gula. Han Zheng mencicipinya. Matanya langsung berbinar.
"Enak."
Lian Yue tersenyum. "Kan?"
Han Zheng mengambil satu suapan lagi.
"Lebih enak daripada yang mentah."
"Itu karena kau akhirnya belajar membedakan buah matang."
Han Zheng mengangguk serius.
"Aku belajar."
Tuan Han yang duduk di seberang mereka bertanya, "Besok kalian mau ke gunung lagi?"
Lian Yue hendak menjawab, tetapi Han Zheng lebih dahulu berbicara.
"Kalau tidak ada pekerjaan di ladang."
Tuan Han mengangguk. "Jangan terlalu sering ke gunung."
"Kenapa?"
"Belakangan banyak orang asing."
Suasana meja makan berubah sedikit.
Lian Yue mengangkat wajah. "Ayah melihat mereka?"
"Beberapa."
Tuan Han meletakkan sumpitnya. "Mereka bukan orang desa."
"Iya," jawab Han Zheng. "Mereka pedagang."
Tuan Han menggeleng.
"Pedagang biasanya melihat barang."
Ia menatap mereka.
"Orang-orang itu lebih banyak melihat orang."
Lian Yue terdiam.
Nyonya Han ikut menimpali.
"Beberapa hari lalu aku melihat dua orang bertanya tentang keluarga Han."
Tangan Lian Yue berhenti.
"Menanyakan apa?"
"Mereka bertanya apakah ada orang baru yang tinggal di desa."
Han Zheng mengerutkan kening.
"Orang baru?"
Nyonya Han mengangguk.
"Ya."
"Siapa yang mereka maksud?"
"Tidak tahu."
Lian Yue menundukkan kepala.
Ia tidak mengatakan apa pun. Tetapi pikirannya sudah bekerja. Pedagang dari Kota Lin'an. Utusan keluarga Xian. Orang-orang yang mencari batu merah.
Simbol misterius. Dan sekarang, orang asing yang bertanya tentang penghuni desa.
Semua ini semakin sulit dianggap kebetulan.
Han Zheng tampaknya menyadari perubahan wajah istrinya.
"Istriku."
"Hm?"
"Jangan terlalu dipikirkan."
Lian Yue menatapnya.
Han Zheng mengambil sumpit.
"Kalau memang ada masalah, kita pikirkan bersama."
Kalimat sederhana itu membuat Lian Yue diam.
Kemudian ia mengangguk.
"Baik."
---
Malam semakin larut. Satu per satu anggota keluarga Han masuk kamar. Lian Yue belum tidur. Ia duduk di dekat jendela.
Lampu minyak menyala kecil. Tangannya memegang cangkir teh. Tatapannya mengarah ke halaman. Semuanya tampak normal.
Pagar bambu.
Pohon jujube.
Tumpukan kayu bakar.
Kandang ayam.
Tidak ada apa-apa.
Namun Lian Yue merasa sedang diperhatikan.
Perasaan itu sudah muncul sejak mereka meninggalkan hutan. Awalnya ia mengira hanya karena terlalu banyak berpikir.
Tetapi semakin malam, perasaan itu tidak hilang.
Lian Yue membuka jendela sedikit. Angin malam masuk.
Daun pohon jujube bergerak. Tidak ada siapa-siapa. Ia menutup jendela.
Kemudian suara kecil terdengar.
[Manusia.]
Lian Yue menoleh. Seekor burung hantu bertengger di atap.
"Ada apa?"
Burung itu memandang ke arah hutan.
[Sejak kalian pulang, ada seseorang berdiri di luar desa.]
Lian Yue langsung berdiri.
"Di mana?"
[Di dekat jalan lama.]
"Sendirian?"
Burung hantu mengangguk.
[Ya.]
"Seperti apa?"
Burung itu tampak berpikir.
[Manusia biasa.]
Lian Yue menghela napas.
"Semua manusia terlihat biasa bagimu."
Burung hantu berkedip.
[Benar juga.]
Lian Yue hampir tertawa.
Namun kemudian burung itu melanjutkan.
[Tapi dia tidak takut.]
"Takut pada apa?"
[Hutan.]
Lian Yue terdiam.
Kebanyakan penduduk desa menghindari jalan lama pada malam hari. Jalan tersebut terlalu dekat dengan hutan. Banyak cerita aneh beredar tentang tempat itu.
Tetapi orang tersebut berdiri di sana sendirian. Tidak menyalakan lentera. Tidak membuat api.
Hanya berdiri.
"Sejak kapan?"
[Sejak matahari hampir hilang.]
Lian Yue berjalan mendekati pintu.
Namun sebelum membuka pintu, ia berhenti.
Tidak.
Kalau orang itu memang mengawasinya, keluar sekarang hanya akan memberitahu bahwa ia menyadarinya.
Lian Yue kembali ke jendela.
"Apakah dia masih di sana?"
[Masih.]
"Awasi dia."
Burung hantu mengangguk.
Lian Yue menutup tirai. Kemudian ia duduk kembali. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Seseorang benar-benar sedang mengawasinya.
Pertanyaannya...
apakah orang itu datang karena keluarga Xian?
Atau karena batu merah?
Atau karena dirinya sendiri?
---
Beberapa saat kemudian, rumah keluarga Han benar-benar sunyi. Lian Yue akhirnya mematikan lampu.
Namun ia tidak tidur. Ia berbaring sambil memikirkan berbagai kemungkinan.
Kemudian terdengar suara sangat pelan dari luar.
Krek.
Lian Yue membuka mata.
Suara langkah.
Seseorang berjalan di halaman. Ia tidak bergerak. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu. Lian Yue meraih pisau kecil yang biasa digunakannya untuk memotong tanaman.
Tidak ada ketukan.
Tidak ada suara.
Hanya keheningan.
Beberapa detik kemudian...
langkah tersebut menjauh.
Lian Yue menunggu cukup lama.
Baru setelah suara itu benar-benar hilang, ia bangkit. Ia membuka pintu sedikit.
Halaman kosong.
Tetapi di depan pintu terdapat sesuatu. Sebuah benda kecil. Lian Yue berjongkok dan mengambilnya. Sebuah buah beri.
Bukan buah yang mereka petik di hutan barat. Buah itu berwarna merah tua. Di atasnya terdapat satu tetes cairan hitam.
Lian Yue menatap benda tersebut.
Kemudian ia melihat ke arah jalan. Tidak ada siapa-siapa. Namun di kejauhan, seekor burung gagak terbang melintas.
[Dia pergi.]
Lian Yue bertanya,
"Ke mana?"
Burung itu berputar sekali di udara.
[Ke arah timur.]
Lian Yue menggenggam buah itu.
Arah timur.
Bukit Timur.
Tempat mata air berubah merah. Tempat batu merah ditemukan. Tempat semua kejadian aneh bermula. Lian Yue kembali masuk ke rumah. Ia tidak tidur malam itu.
Karena untuk pertama kalinya, seseorang tidak lagi sekadar mencari dirinya. Seseorang mulai meninggalkan pesan.
Dan Lian Yue tidak tahu apakah pesan itu merupakan peringatan, atau sebuah undangan.
semangaat thor
atau mungkin masih terpendam😌😌🤔🤔
di otak saya🤣🤣
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah