NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Belanja Berdua

Sabtu pukul enam sore, Sekar menemukan Narendra menunggu di depan supermarket bawah gedung dengan kotak peralatan.

"Mas bawa bengkel?"

"Mejamu butuh pertolongan serius."

Mereka mengambil troli. Narendra memilih ikan segar untuk dikukus, lalu diam-diam memasukkan keripik, biskuit, dan dendeng ke dalam keranjang.

Ia memeriksa mata ikan, insang, dan tekstur daging dengan keseriusan yang membuat Sekar heran.

"Mas bisa pilih ikan?"

"Saya tanya koki rumah tadi siang."

"Ada koki rumah?"

Narendra cepat memperbaiki, "Koki di rumah Eyang."

Sekar mengangguk. Nyaris saja satu lapis kehidupan aslinya terbuka hanya karena ikan.

Di lorong bumbu, Narendra mengambil saus impor. Sekar mengembalikannya dan memilih merek lokal dengan harga sepertiga.

"Rasanya sama setelah dimasak," katanya.

Narendra tidak berdebat. Ia justru memotret botol itu agar bisa membelinya lagi. Mereka membandingkan telur, memilih tomat, dan berdebat kecil soal jumlah cabai. Sekar ingin dua belas. Narendra hanya sanggup tiga.

"Lambung Mas manja."

"Lidah kamu yang kejam."

Sekar tertawa begitu lepas hingga dua pengunjung menoleh.

"Itu semua punya siapa?"

"Persediaan."

"Mas bilang lambung nggak kuat pedas."

"Buat kamu."

Sekar menunduk agar Narendra tidak melihat senyumnya.

Di bagian sayur, ia mengangkat seikat daun ketumbar. "Mas Nara, suka ini nggak?"

Narendra berhenti mendorong troli.

"Kenapa?"

"Nggak apa-apa."

Telinganya memerah. Sekar pura-pura tidak melihat.

Narendra membayar sebelum Sekar sempat mengeluarkan dompet. Ia hanya mengizinkan Sekar membayar ikan, lalu membawa dua kantong sendiri.

"Kita bagi dua," protes Sekar.

"Saya yang minta numpang makan. Bahan dari saya."

"Tapi aku juga makan."

"Kalau begitu, lain kali kamu bayar."

Kesepakatan itu membuat Sekar berhenti berdebat. Narendra tidak memakai uang untuk menunjukkan kuasa. Ia memberi jalan agar Sekar tetap bisa membalas dengan caranya sendiri.

Kasir menyerahkan struk dan kupon. Narendra memberikan kupon kepada seorang ibu dengan anak kecil di antrean belakang karena tidak akan dipakai. Sekar melihat tindakan itu, kecil dan tanpa pertunjukan, lalu diam-diam menambahkan satu hal pada penilaiannya: pria ini tidak hanya sopan ketika sedang mendekatinya.

"Aku bisa angkat satu."

"Masa kamu angkat berat sementara aku jalan kosong?"

Di eskalator seberang, Bu Darsih melihat mereka berjalan berdampingan. Sahabat lama Eyang itu mengangkat ponsel, memotret punggung keduanya, lalu mengirimkannya.

Kayaknya ada kabar baik nih.

Eyang membalas dengan emoji tersenyum.

Bu Darsih memperbesar foto, memastikan pria tinggi yang membawa dua kantong itu memang Narendra. Ia lalu menelepon Eyang.

"Cucumu belanja sayur, Kusuma. Selama ini ke pasar saja tidak pernah."

"Jangan ganggu mereka."

"Aku cuma lihat dari jauh. Perempuannya cantik."

"Lebih penting, hatinya baik."

"Kapan dikenalkan?"

"Kalau Narendra tidak membuatnya kabur dulu."

Kedua perempuan tua itu tertawa, sementara Sekar dan Narendra sama sekali tidak menyadari punggung mereka sudah menjadi bahan rapat keluarga tidak resmi.

***

Di unit Sekar, Narendra menemukan sandal abu-abu yang pas dengan kakinya.

"Ini buat saya?"

"Buat tamu. Kebetulan ukurannya sama."

Narendra tidak mempermasalahkan kata `kebetulan`. Ia menggulung lengan, membawa papan ke balkon, dan membongkar semua bracket yang terpasang terbalik.

Sekar memasak sambil beberapa kali melihat dari pintu. Narendra bekerja teliti, menggunakan waterpass sebelum mengebor, menutup lantai dengan kain, dan mengumpulkan debu agar tidak menyebar.

Rak pertama berdiri lurus. Ia memasang sukulen serta buku pola tanpa diminta. Setelah itu meja kerja dirakit ulang sampai keempat kakinya sama tinggi.

Narendra juga memperbaiki engsel lemari yang longgar, menutup dua lubang salah dengan dempul, dan memasang lampu kerja pada ketinggian yang tidak membuat bayangan tangan jatuh ke kain.

"Mas tahu soal pencahayaan juga?"

"Saya lihat kamu memindahkan lampu tiga kali minggu lalu."

Sekar terdiam. Ia tidak sadar Narendra memperhatikan hal sekecil itu.

Saat bor menyala, Sekar menahan papan dari sisi lain. Tangan mereka beberapa kali berdekatan pada baut yang sama. Narendra selalu mundur lebih dulu, memberi ruang, tetapi napasnya berubah setiap kali aroma sampo Sekar mendekat.

Setelah semua selesai, Sekar menaruh kotak benang berdasarkan warna. Narendra membantu menyusun buku dari ukuran terbesar. Mereka bergerak mengitari meja seperti sudah sering bekerja bersama.

Ruangan yang tadinya hanya kamar kosong kini benar-benar menjadi studio kecil.

"Bayarannya apa?" tanya Narendra.

"Makan malam."

"Saya terima."

"Coba," katanya.

Sekar menekan permukaan meja. Kokoh.

"Mas sebenarnya kerja apa?"

"Urus bisnis keluarga."

"Kenapa bisa rakit meja?"

"Bisnis keluarga tidak melarang orang memegang obeng."

Sekar tertawa dan kembali ke dapur.

Makan malam terdiri dari ikan kukus, iga saus asam manis, telur tomat, dan tumis sayur. Narendra memandang meja seolah sedang menghadiri jamuan penting.

"Kebanyakan," kata Sekar.

"Saya habiskan."

Mereka makan sambil membahas desain ungu muda. Narendra menyebut Mama tidak suka kerah terlalu tinggi. Sekar mencatatnya di ponsel.

"Mama Mas orangnya seperti apa?"

Narendra membutuhkan waktu untuk menjawab. "Tegas. Suka hal yang rapi."

"Dekat sama Mas?"

"Tidak terlalu. Saya lebih dekat dengan Eyang."

Sekar tidak menggali. Ia menceritakan Bu Laksmi sebagai gantinya, bagaimana gurunya mengajarkan pola pertama dan memaksanya mengulang jahitan selama tiga malam karena garis bahu miring.

"Galak juga," kata Narendra.

"Karena beliau tahu aku bisa lebih baik. Di rumah, kalau hasil kerjaku bagus, yang ditanya cuma komisinya berapa."

Narendra meletakkan sendok. "Sekarang nggak ada yang boleh ambil komisi itu."

"Iya."

"Kalau mereka datang?"

"Satpam tidak akan izinkan naik."

"Kalau tetap mengganggu, bilang ke saya."

Nada Narendra tenang, tetapi ada sesuatu yang membuat janji itu terdengar sungguh-sungguh. Sekar mengangguk, lalu buru-buru mengambil sayur agar matanya tidak terlalu lama bertemu dengannya.

Tanpa berpikir, Sekar mengambil sayur dengan sumpit dan meletakkannya di mangkuk Narendra, seperti biasa ia lakukan kepada Nindy.

Tangannya berhenti di udara.

Sayur itu sudah menyentuh pinggir mangkuk.

Sekar baru ingat pria di depannya mungkin punya kebiasaan higienis ketat. Ia ingin menarik kembali, tetapi itu justru lebih memalukan.

Narendra mengangkat mata.

Tatapan mereka bertemu.

"Maaf," kata Sekar. "Refleks."

Narendra tidak menjawab. Pandangannya turun pada sumpit Sekar, lalu ke sayur yang menggantung di atas mangkuk.

Sekar membeku, tidak tahu harus meletakkan atau mengambilnya kembali.

Di tempat lain, ponsel Eyang masih menampilkan foto dua punggung yang tampak seperti pasangan pulang belanja.

Namun di meja makan, satu potong sayur terasa lebih menegangkan daripada seluruh rencana para nenek itu.

Narendra mengangkat sumpitnya perlahan. Sekar masih menahan napas, siap meminta maaf sekali lagi. Ia tidak tahu bahwa bagi Narendra, bukan soal kebersihan atau sayur. Tangan itu baru saja memperlakukannya seperti seseorang yang sudah menjadi bagian dari meja makan Sekar.

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!