NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Jalan Pulang yang Berbeda

"Mir... gue minta maaf udah datang malam-malam," kata Farhan pelan, suaranya gemetar. "Tapi dia gak mau pergi sebelum ngomong sama lo."

Rina maju selangkah, gak nunggu diundang. "Gue gak mau ribet, Mir. Gue cuma mau jelasain semuanya sekaligus biar lo gak salah paham."

Gue buka pintu lebar dikit, tapi gak ngajak mereka masuk. "Bilang aja di sini. Gue mau denger langsung."

Farhan mau nyela, tapi Rina udah mulai duluan.

"Gue hamil, Mir. Dua bulan lebih." Dia natap Farhan sebentar, balik ke gue. "Dan anak itu Farhan punya."

Gue mundur selangkah, pundak gue nempel tembok. Dunia rasanya berhenti berputar. "Gimana bisa... kalian udah putus setahun lebih kan?"

"Putus di surat doang. Di antara kita belum kelar apa-apa," jawabnya tenang banget, kayak udah hafal kalimat ini dari lama. "Waktu itu gue pergi karena orang tua gue paksa, bukan karena gue mau. Farhan janji nungguin gue. Terus tiba-tiba dia berubah, ngindarin gue, bilang gak bisa lanjutin."

Gue natap Farhan. Dia nunduk, kedua tangannya kepal di saku jaket.

"Han... bener ini?" suaranya gue hampir gak kedengaran.

Dia angkat kepala pelan, matanya berkaca-kaca. "Mir... gue gak tau harus bilang apa. Waktu itu gue bingung, takut, malu. Gue kira kalau gue jaga jarak, lama-lama semua bakal selesai. Tapi..." dia telan ludah susah. "...malam sebelum dia pindah... kita ketemu terakhir kali. Dan kejadian itu terjadi."

"Terus lo gak pernah cerita ke gue? Sama sekali?" Gue ngerasa mata perih, air mata mulai nahan di ujung.

"Karena gue baru tau sekarang, Mir!" potong Rina cepat. "Gue baru dapet hasil kemarin. Gue mau kasih tau dia dulu, tapi dia ngindar terus. Jadi gue harus datang sendiri."

Farhan jatuh duduk di anak tangga depan rumah, mukanya ditutup kedua tangan. "Gue gak tau, Mir. Sumpah... gue gak tau. Kalau gue tau, gue pasti tanggung jawab. Tapi gue juga gak bisa ninggalin lo sekarang. Gue..."

"Lo harus milih, Farhan," potong Rina dingin. "Gak bisa dua-duanya. Lo harus bertanggung jawab sama gue, atau lo lari dari semua kayak pengecut."

Gue diem. Semua suara di kepala tumpuk jadi satu — bingung, sakit, kecewa, takut. Sahabat kecil gue yang gue percaya seumur hidup tiba-tiba punya semuanya tersembunyi. Dan gue cuma tau dari orang lain.

"Yaudah," kata gue pelan, suaranya pecah. "Kalian pulang dulu ya. Gue mau sendiri."

"Mir, jangan kayak gini..." Farhan berdiri, mau nyamperin.

"Gue bilang pulang!" Gue tutup pintu pelan, kunci dari dalam. Punggung gue nempel di balik pintu, turun sampe duduk di lantai. Air mata jatuh sendiri, gak bisa ditahan.

Malam itu gak tidur sama sekali. Buku di meja terbuka, gak ada satu halaman yang dibaca. Kepala gue penuh satu pertanyaan: Siapa yang sebenarnya Farhan buat gue?

Besok paginya, gue jalan ke sekolah pakai topi, nunduk, gak mau natap siapa-siapa. Baru aja masuk gerbang, ada yang nyamperin cepat.

"Mir! Lo oke?"

Dimas berdiri di samping gue, tas di pundak, natap gue khawatir. "Muka lo jelek banget. Matanya sembab."

Gue coba senyum tipis. "Kurang tidur doang, Dim. Gak apa-apa."

Dia jalan di sebelah gue, gak maksa nanya. Beberapa langkah kemudian, dia bilang pelan: "Kalau lo gak mau cerita, gak apa-apa. Gue cuma mau bilang... lo gak harus nanggung sendiri. Gue ada di sini."

Gue natap dia sekilas. Cowok ini hampir gak gue kenal lama, tapi perhatiannya tulus, gak bikin gue bingung. Beda sama Farhan yang setiap hari di sebelah tapi penuh rahasia.

Pas masuk kelas, Farhan udah di tempat. Dia langsung berdiri pas lihat gue masuk.

"Mir..."

Gue jalan ke meja, duduk, buka buku, gak natap dia. "Bentar aja ya, kita gak usah ngobrol dulu. Gue gak kuat."

Dia duduk lagi pelan, natap ke depan sepanjang pelajaran. Gak nyoba ngomong, gak nyoba nanya. Cuma sekali dia naruh selembar kertas di meja gue — gak gue buka. Gue selipin ke saku tanpa natap.

Istirahat tiba, gue langsung jalan keluar kelas duluan. Gak mau ketemu siapa-siapa. Gue duduk di bangku jauh di belakang perpustakaan, sembunyi di antara rak buku.

"Sendirian ya?"

Dimas datang, bawa dua bungkus roti. Duduk di hadapan gue, gak terlalu dekat.

"Lo tau kalau di sini?" tanya gue heran.

"Lo selalu ke sini kalau mau sendiri. Dulu pernah cerita pas kita sekelompok," katanya sambil senyum tipis. "Inget gak?"

Gue senyum dikit. "Lupa gue."

Dia naruh roti di meja. "Makan dulu. Perut kosong bikin kepala makin pusing."

Gue makan pelan. Dimas diem di sebelah, baca buku, gak nanya-nanya. Rasanya tenang. Gak berat. Gak penuh pertanyaan.

"Dim..." panggil gue pelan.

"Iya?"

"Kalau orang yang lo percaya paling banyak... tiba-tiba sembunyiin semuanya dari lo. Lo bakal maafin?"

Dia tutup bukunya pelan, mikir sebentar. "Tergantung alasannya. Kalau dia takut kehilangan lo... mungkin gue ngerti. Tapi kalau dia pilih nyakiti lo biar dirinya aman... itu beda ceritanya."

Gue diem. Kata-katanya ngena banget.

"Gue gak mau nyuruh lo benci Farhan, Mir. Gue gak mau nguntungin diri sendiri," lanjutnya pelan. "Tapi gue mau lo inget satu hal: orang yang bikin lo nangis terus... sebenernya gak bisa jaga lo sebagus yang lo kira."

Sore pulang sekolah, gue keluar duluan. Gak nunggu Farhan kayak biasa. Di depan, Dimas udah nunggu di gerbang.

"Gue antar pulang ya?" tawarnya lembut. "Gak maksa. Cuma nawarin."

Gue lihat ke belakang. Farhan baru keluar kelas, natap gue dari jauh. Langkahnya berhenti. Dia tau gue mau ikut Dimas.

Gue tarik napas panjang, balik natap Dimas.

"Oke. Makasih ya, Dim."

Di dalam mobil, hening tapi nyaman. Gue natap ke luar jendela, jalanan lewat pelan.

"Lo gak usah mikir berat sekarang," kata Dimas sambil nyetir. "Pelan-pelan aja.

Pas mobil berhenti di depan rumah, gue mau turun tapi tangan gue tertinggal di pintu.

"Mir..." panggil Dimas pelan.

Gue nengok. "Iya?"

Dia natap gue lama banget, kayak mau bilang sesuatu yang berat. Tapi akhirnya cuma senyum tipis.

"Hati-hati ya di dalam. Besok gue jemput pagi."

Gue turun, masuk rumah, jatuh di kursi ruang tengah. Buka tas, kertas dari Farhan tadi pagi jatuh ke tangan. Gue buka pelan-pelan.

"Mir, gue ngerti kalau lo benci gue sekarang. Gue juga benci diri sendiri. Tapi satu hal: apapun yang terjadi, apapun kata orang... gue gak pernah berhenti sayang lo. Dan gak akan nyerah buat buktiin itu. Besok sore gue tunggu di taman. Gue harus kasih tau lo semuanya. Termasuk yang gak Rina ceritain."

Gue lipat kertasnya pelan. Kepala gue makin pusing.

Tiba-tiba HP bunyi. Bukan dari Farhan, bukan dari Dimas. Dari nomor asing lagi.

"Jangan datang ke taman, Mir. Farhan sama Rina udah sepakat. Mereka mau pindah ke luar kota besok. Dan lo... lo cuma jadi cadangan selama ini."

Tangan gue dingin. HP jatuh ke meja.

Dan di saat itu...

Pintu rumah gue diketuk keras. Berkali-kali.

"Mir! Keluar sebentar! Darurat!" Suara Farhan, panik banget.

Gue berlari buka pintu.

Di depan, Farhan berdiri napas ngos-ngosan. Matanya lebar, takut.

"Rina hilang, Mir. Dia bawa semua barang gue dan surat pernyataan dari orang tua gue. Dia bilang... bilang kalau gue gak ikut dia, dia bakal laporkan kecelakaan itu ke polisi — dan bikin lo ikut tersangkut."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!