NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Tarian Sang Malaikat Maut

​Aura membunuh yang memancar dari tubuh Raja Orc Darah terasa begitu pekat, layaknya lautan darah yang siap menenggelamkan siapa saja. Hawa panas dan bau amis merembes ke setiap sudut Aula Utama Museum Nasional, menekan oksigen hingga membuat napas terasa sesak.

​Namun, kegelapan absolut yang meluap dari tubuh Han Do-Yoon bertindak seperti karang raksasa yang membelah lautan darah tersebut. Energi Kehampaan murni miliknya menelan segala bentuk tekanan, melindungi dirinya—dan secara tidak langsung, Yoo Ji-Ah di belakangnya—dari kelumpuhan akibat rasa takut.

​"Berani sekali seekor babi menatapku dengan mata setinggi itu," ucap Do-Yoon dingin.

​GRAAAAAAAUR!

​Merasa dihina oleh makhluk yang wujudnya sepuluh kali lebih kecil darinya, Raja Orc Darah itu meraung memekakkan telinga. Otot-otot raksasanya mengembang hingga urat-urat nadi merah setebal tali tambang menonjol di sekujur lengannya.

​Ia mengangkat palu godam bajanya dan melompat ke arah Do-Yoon dengan kecepatan yang berbanding terbalik dengan ukuran tubuhnya.

​"Do-Yoon! Awas!" jerit Ji-Ah, secara refleks mundur untuk melindungi adiknya.

​WUSSH! BUMMM!

​Palu godam seberat beberapa ton itu menghantam lantai pualam tepat di titik Do-Yoon berdiri sedetik yang lalu. Ledakan kinetik yang dihasilkannya menghancurkan bongkahan batu dan melemparkan debu ke segala arah. Sebuah kawah sedalam dua meter terbentuk dari satu ayunan murni kekuatan fisik.

​Namun, palu itu hanya menghantam lantai kosong.

​"Terlalu banyak tenaga, terlalu sedikit akal," bisik sebuah suara dari atas.

​Raja Orc Darah itu mendongak dengan panik. Han Do-Yoon telah melompat ke udara tepat sebelum palu itu menyentuh tanah. Di tangan kanannya, Bilah Penebas Malam yang terbuat dari bayangan padat berkilau di bawah sinar matahari pagi.

​Do-Yoon memutar tubuhnya dan menebaskan pedangnya ke arah leher sang monster.

​TRANG!

​Bilah bayangan itu berbenturan dengan kalung tulang belulang yang melingkar di leher Raja Orc Darah. Artefak pelindung milik monster itu hancur berkeping-keping, namun hal itu memberikan cukup waktu bagi sang monster untuk memiringkan kepalanya, menghindari tebasan fatal. Pedang Do-Yoon hanya meninggalkan luka sayatan panjang di bahu berotot makhluk itu, menyemburkan darah berwarna merah gelap.

​Mendapat luka di awal pertarungan membuat amarah sang Raja memuncak.

​Tiba-tiba, dari lubang di atap museum, ratusan Orc dan Goblin yang menunggu di atas mulai berjatuhan layaknya hujan monster. Mereka menuruti panggilan amarah pemimpin mereka.

​"Hancurkan... semua!" perintah Raja Orc Darah.

​Melihat ratusan monster mengincar mereka dari segala arah, Do-Yoon mendecakkan lidah. Ia tidak khawatir pada dirinya sendiri, namun Ji-Ah tidak akan mampu bertahan dari jumlah sebanyak itu.

​Saat ia mendarat dengan anggun di sisa-sisa reruntuhan, Do-Yoon menghentakkan tumit kanannya ke tanah.

​"Keahlian: Manipulasi Bayangan!"

​Kegelapan dari bawah kakinya menjalar layaknya jaring laba-laba raksasa, melesat ke arah Yoo Ji-Ah dan membentuk sebuah kubah setengah lingkaran yang terbuat dari dinding duri bayangan padat. Kubah itu mengurung Ji-Ah dan adiknya, melindungi mereka dari serangan eksternal.

​Namun, Do-Yoon sengaja menyisakan satu celah sebesar pintu di bagian depan kubah tersebut.

​"Yoo Ji-Ah!" suara bariton Do-Yoon menggema menembus kekacauan. "Kubah ini tidak bisa ditembus oleh makhluk rendahan itu. Mereka hanya bisa masuk melalui satu pintu itu secara bergiliran. Tahan posisi itu, bunuh setiap monster yang masuk, dan lindungi adikmu!"

​Ji-Ah menatap celah yang sengaja ditinggalkan itu, lalu menatap ratusan monster yang mulai berlarian ke arahnya. Ia memahami maksud Do-Yoon. Pria itu menciptakan sebuah arena latihan yang terkendali baginya.

​Gadis itu menarik napas dalam, memantapkan kuda-kudanya, dan energi sihir elemen angin kembali menyelimuti Pedang Panjang Besi Hitam-nya.

​"Aku mengerti! Jangan pedulikan aku, urus babi besar itu!" balas Ji-Ah, sebelum ia mengayunkan pedangnya membelah tubuh Goblin pertama yang berani melangkah melewati celah pintu bayangannya.

​Do-Yoon tersenyum tipis. Sekarang, ia bisa memusatkan seluruh perhatiannya.

​Di depannya, Raja Orc Darah mulai memancarkan kabut berwarna merah pekat dari pori-pori kulitnya.

​[Pemimpin Gelombang menggunakan keahlian aktif: 'Amuk Darah' (Tingkat Menengah)!]

[Kekuatan Fisik dan Ketahanan Raja Orc Darah meningkat 50%.]

[Raja Orc Darah kehilangan sebagian kewarasannya.]

​Luka di bahu monster itu tertutup oleh selaput darah yang mengeras, bertindak seperti baju zirah darurat. Matanya kini sepenuhnya berwarna merah menyala tanpa pupil.

​Makhluk itu tidak lagi meraung; ia langsung menerjang maju, mengayunkan palu godamnya dalam serangkaian putaran yang mematikan layaknya badai tornado baja. Pilar-pilar beton penyangga museum hancur berkeping-keping setiap kali tersapu oleh palu tersebut.

​"Menarik," guman Do-Yoon.

​Menghadapi monster beringas dengan pertahanan baja dan kekuatan perusak setinggi itu, seorang petarung jarak dekat biasa akan segera mundur atau mencari celah untuk menyerang dari jauh.

​Tapi Do-Yoon adalah Pewaris Ketiadaan.

​"Keahlian: Langkah Petir Hitam."

​JDAR!

​Tubuh Do-Yoon lenyap, berubah menjadi kilatan petir gelap yang membelah udara. Alih-alih menjauh, ia melesat langsung ke dalam badai putaran palu godam tersebut.

​[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' menahan napasnya!]

[Rasi Bintang 'Penimbang Keadilan Bersayap' tidak bisa mempercayai matanya!]

​Bagi mata telanjang, Do-Yoon seolah-olah berjalan menembus celah kematian. Menggunakan Mata Kehampaan, ia melihat lintasan ayunan palu godam tersebut dalam gerakan lambat. Ia merunduk di bawah ayunan mendatar, memiringkan kepalanya saat ujung palu nyaris menyambar rambutnya, dan menari di sela-sela serangan mematikan itu dengan keanggunan seorang iblis.

​Begitu ia menembus zona serangan, Do-Yoon berada tepat di depan dada bidang sang Raja Orc.

​"Kau terlalu banyak membuka pertahananmu saat marah," bisik Do-Yoon langsung di telinga monster tersebut.

​Ia menarik Bilah Penebas Malam miliknya ke belakang. Seluruh Energi Sihir di tubuhnya mengalir ke ujung pedang, mengaktifkan atribut Penembus Zirah absolut dari Batu Asah Epik secara maksimal.

​Do-Yoon menusukkan pedangnya lurus ke depan, mengincar jantung sang monster.

​CRAAAASSH!

​Bilah hitam itu menembus kulit keras, lapisan zirah darah, dan tulang rusuk setebal pilar beton milik Raja Orc Darah seolah-olah semua itu tidak lebih dari lapisan tahu basah. Ujung pedang bayangan menembus keluar dari punggung monster tersebut, diwarnai oleh darah merah kental.

​Waktu seolah membeku. Putaran palu godam itu terhenti.

​Raja Orc Darah menatap dada kirinya dengan pandangan tidak percaya. Amarah di matanya perlahan pudar, digantikan oleh kekosongan maut.

​Do-Yoon tidak mencabut pedangnya. Ia justru memutar gagangnya dengan kasar, merusak seluruh organ dalam di sekitar jantung monster itu.

​"Penyerapan Bayangan: Eksekusi," bisik Do-Yoon mematikan.

​Aura hitam pekat meledak dari pedang yang menancap di dada Raja Orc Darah. Energi kehampaan itu menjalar melalui pembuluh darah sang monster, melahap seluruh energi sihir, darah, dan tulang dari dalam ke luar.

​"HUUAAAARRRGGGHHH!"

​Jeritan terakhir sang Raja mengguncang fondasi museum. Tubuh raksasa itu mengering dengan kecepatan yang mengerikan, menyusut seperti balon yang kempis. Hanya dalam lima detik, makhluk yang seharusnya menjadi teror bagi seluruh distrik Seoul itu hancur menjadi abu kelabu yang tertiup angin dari celah atap.

​[Anda telah membunuh Pemimpin Gelombang: Raja Orc Darah (Tingkat B-)!]

[Kemenangan Absolut! Anda memusnahkan ancaman jauh di atas batasan normal tanpa menerima luka!]

[Misi Utama: Pawai Kematian telah diselesaikan secara prematur oleh Anda!]

[Hadiah Misi didistribusikan: 5.000 Koin Emas, Kotak Hadiah Acak (Peringkat Menengah).]

​Kematian sang Raja membawa dampak instan pada pasukannya.

​Ratusan Orc dan Goblin yang masih berusaha mendobrak kubah bayangan Do-Yoon untuk membunuh Ji-Ah seketika berhenti bergerak. Mereka menatap tumpukan abu raja mereka, lalu kepanikan mutlak melanda pasukan tersebut. Efek dorongan moral mereka lenyap, digantikan oleh teror.

​Monster-monster itu membuang senjata mereka dan berlarian melarikan diri, saling menginjak satu sama lain demi keluar dari gedung museum secepat mungkin.

​Di dalam kubah bayangan pelindung, Yoo Ji-Ah berdiri terengah-engah dengan pedang berlumuran darah. Puluhan mayat monster bertumpuk di depan celah pintu masuk. Tingkatnya telah melonjak drastis berkat poin pengalaman yang ia kumpulkan sendiri. Ia menjatuhkan diri berlutut, napasnya memburu, namun senyum lega menghiasi bibirnya.

​Ia berhasil melindungi adiknya tanpa bantuan siapa pun.

​Di tengah aula, Do-Yoon berdiri diam saat energi dari raja yang mati membanjiri tubuhnya.

​[Anda mendapatkan 45.000 Poin Pengalaman.]

[Tingkat Anda telah naik!]

[Tingkat Anda telah naik!]

[Tingkat Anda telah naik!]

[...Tingkat Anda saat ini adalah 24.]

[Keberuntungan Anda bekerja! Penyerapan Bayangan berhasil mencuri keahlian pasif: 'Regenerasi Darah' (Tingkat Menengah).]

[Luka fisik Anda kini akan pulih secara otomatis selama Anda memiliki Energi Sihir.]

[Anda mendapatkan Rampasan: 'Mahkota Tulang Bencana' (Peringkat Langka).]

​Rentetan notifikasi itu diakhiri dengan gemuruh luar biasa dari Saluran Rasi Bintang. Jendela Sistem berwarna biru seketika berubah menjadi emas berkilauan akibat masuknya pesan dari dimensi atas.

​[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' berdiri dari singgasananya, memberikan penghormatan mutlak kepada keterampilan Anda!]

[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' merinding merasakan niat membunuh Anda, namun ia merasa bersyukur inkarnasinya berada di pihak yang benar.]

[Rasi Bintang 'Raja Serigala Pemakan Bangkai' menjadi gila! Ia menawarkan seluruh hartanya jika Anda mau menjadi pengikutnya!]

[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' memilih untuk memutuskan koneksi saluran karena merasa terhina!]

​Do-Yoon menepis Jendela Sistem itu dengan satu kibasan tangan yang acuh tak acuh. Ia membubarkan pedang bayangannya, lalu menoleh ke arah tumpukan abu Raja Orc Darah.

​Di antara debu tersebut, terdapat sebuah mahkota tulang berwarna putih dan sebuah kotak berwarna perak berpendar—Kotak Hadiah Acak dari penyelesaian Misi Utama.

​Do-Yoon memungut kedua barang tersebut. Mahkota itu ia masukkan langsung ke dalam Ruang Penyimpanan untuk dijual atau ditumbalkan nanti. Perhatiannya terpusat pada kotak perak di tangannya.

​"Kotak Hadiah Peringkat Menengah," guman Do-Yoon. Ia menggunakan jempolnya untuk membuka kait kotak tersebut.

​Cahaya putih meledak pelan dari dalam kotak, dan sebuah benda material melayang keluar. Itu adalah sebuah cincin berwarna hitam pekat, tanpa hiasan batu permata apa pun, namun memancarkan aura spasial yang sangat murni.

​[Anda mendapatkan Barang Pusaka (Dari Kotak Hadiah): Cincin Subruang (Peringkat Langka).]

Keterangan: Memberikan tambahan kapasitas penyimpanan dimensi tanpa batas berat untuk 50 jenis barang berbeda. Hanya dapat digunakan oleh orang yang telah memiliki fitur Ruang Penyimpanan Sistem.

​"Bagus. Persediaan barangku akan semakin aman," ucap Do-Yoon. Ia memasukkan cincin itu ke jari telunjuk kirinya. Benda itu langsung menyatu dengan ukurannya.

​Do-Yoon mengayunkan tangannya, dan kubah bayangan yang melindungi Ji-Ah seketika meleleh menjadi kabut hitam dan menghilang. Ia berjalan menghampiri gadis yang sedang duduk terengah-engah itu.

​"Kau baik-baik saja?" tanya Do-Yoon datar, matanya menilai luka-luka kecil di lengan gadis itu yang kini mulai menutup dengan sendirinya berkat peningkatan tingkat.

​"Y-ya," jawab Ji-Ah serak, mengusap keringat di dahinya. Ia menatap Do-Yoon dengan tatapan penuh kehati-hatian dan kekaguman. "Kau... benar-benar membunuh monster raksasa itu dalam waktu kurang dari satu menit."

​"Monster yang hanya mengandalkan amarah adalah target yang paling mudah ditebak," Do-Yoon mengabaikan pujian tersebut. Ia melirik Ji-Hye yang terbangun dari tidurnya dan menatap Do-Yoon dengan mata bulat yang polos, seolah tumpukan mayat di sekeliling mereka hanyalah mainan.

​"Misi Utama kedua telah selesai. Karena kita membunuh Pemimpin Gelombang lebih awal, gelombang monster di wilayah ini akan menyusut drastis. Sisa 24 jam ke depan akan terasa seperti piknik dibandingkan kemarin," Do-Yoon mengalihkan pandangannya ke luar celah atap museum. Matahari pagi menyinari wajahnya yang dingin.

​"Buka Jendela Statusmu, Yoo Ji-Ah. Setelah ini, kita akan menuju ke sebuah markas persembunyian yang aman. Sudah waktunya kita mulai membangun pilar kekuatan kita sendiri, sebelum tikus-tikus dari serikat masa depan mulai mengambil alih negara ini."

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!