NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009: Malam di Lantai yang Salah

Ketukan dari lantai atas terdengar terlalu pelan untuk sebuah kecelakaan.

Hendra berdiri di kamar gelap tanpa bergerak.

Di luar jendela, lampu Bandung masih menyala seperti tidak ada apa-apa. Di dalam kamar, pendingin ruangan berdengung rendah. Map kontrak bunker tergeletak di meja. Cincin tembaga di jari manis kanannya terasa dingin, tetapi tidak bereaksi.

Belum.

Tubuh Hendra saat ini masih tubuh biasa.

Ia punya pengalaman empat tahun bertahan hidup, ingatan tentang kematian, Ruang Penyimpanan, dan uang yang mulai berubah menjadi benteng. Tapi tulangnya belum ditempa. Ototnya belum berubah. Jika peluru menembus dadanya malam ini, ia tetap akan mati.

Karena itu ia tidak membuka pintu dengan gegabah.

Ia mematikan suara ponsel.

Ia menarik napas.

Satu.

Dua.

Tiga.

Di atas, lantai kembali berderit.

Ada suara orang berbisik kasar. Bukan bahasa tamu hotel yang kesal karena mabuk. Itu nada orang yang sedang menahan panik sambil memerintah.

Hendra mendekat ke pintu kamar dan menempelkan telinga ke panel kayu.

Lorong di luar sepi.

Terlalu sepi.

Hotel seperti ini selalu punya suara: lift naik turun, staf lewat, pintu kamar tertutup, televisi dari kamar lain, koper roda kecil di karpet.

Sekarang semuanya seperti dipotong.

Seseorang telah membuat satu lantai menahan napas.

Hendra mengambil gelas kaca dari meja, membungkusnya dengan handuk kecil, lalu memecahkannya pelan di wastafel.

KRAK.

Pecahannya tidak nyaring karena tertahan kain.

Ia memilih satu potongan yang cukup tajam, menyelipkannya di balik lengan jas, lalu mengambil kartu kamar cadangan dan dompet tipis.

Senjata menyedihkan.

Tapi lebih baik daripada tangan kosong.

Ia membuka pintu sedikit.

Lorong berkarpet merah tua memanjang sunyi. Lampu dinding masih menyala. Di dekat ujung lorong, papan petunjuk tangga darurat bersinar hijau.

Hendra keluar tanpa suara.

Ia tidak naik lewat lift.

Lift terlalu bodoh.

Terlalu terang.

Terlalu mudah ditebak.

Ia masuk ke tangga darurat, naik satu lantai, lalu berhenti sebelum mendorong pintu keluar.

Dari celah kecil, suara menjadi lebih jelas.

"Cepat! Jangan banyak bacot."

"Tas ini berat, Bos."

"Kalau jatuh satu batang saja, kupatahkan tanganmu."

Emas.

Kata itu belum diucapkan.

Tapi berat, panik, dan cara mereka menyebut "batang" membuat darah Hendra bergerak lebih cepat.

Ia menahan napas dan membuka celah pintu sedikit lebih lebar.

Lantai atas hotel berantakan.

Dua tamu berlutut dekat dinding, wajah pucat, mulut ditutup lakban. Seorang staf hotel perempuan duduk gemetar di samping mereka. Di ujung lorong, tiga pria sedang menyeret dua tas olahraga besar ke sebuah kamar yang pintunya terbuka.

Pria pertama kurus, bergerak cepat, matanya liar.

Pria kedua bertubuh lebih besar, memegang pistol rakitan di tangan kanan.

Pria ketiga membawa linggis kecil dan berkali-kali melihat ke arah lift.

Lalu dari dalam kamar, seorang laki-laki keempat keluar.

Ia lebih tenang daripada tiga lainnya.

Jaket hitam. Leher tebal. Wajah keras. Pistol di tangannya terlihat dirawat, jauh dari rakitan murahan.

Pemimpin.

Hendra menghitung.

Empat orang.

Dua senjata api terlihat.

Satu linggis.

Korban tiga orang.

Kemungkinan satu orang dalam kamar? Tidak. Suara langkah dari dalam hanya milik pemimpin tadi.

Ia belum punya kekuatan untuk menghadapi mereka terbuka.

Jika ia maju sekarang, pistol itu cukup untuk mengakhiri semuanya.

Namun matanya jatuh pada salah satu tas olahraga yang ritsletingnya belum tertutup penuh.

Di bawah cahaya lorong, sesuatu berkilau kuning.

Bukan perhiasan.

Bukan jam.

Batangan.

Emas batangan.

Jumlahnya banyak.

Sangat banyak.

Jantung Hendra berdetak sekali lebih keras.

Unsur Logam.

Di semua ingatan kehidupan lalu, tangga cincin selalu dimulai dari emas. Emas bukan sekadar barang berharga. Bagi orang lain, itu investasi. Bagi cincin, itu bahan bakar pertama.

Hendra sudah punya uang.

Hendra sudah punya stok.

Hendra sudah punya tanah dan kontrak bunker.

Tapi tubuhnya masih terlalu biasa.

Emas di tas itu bisa mengubahnya.

Jika ia mendapatkannya.

Pemimpin geng menendang salah satu tas. "Kunci pintu. Kita bagi setelah mobil jemputan datang."

"Bos, tamu-tamu ini bagaimana?"

"Kalau ribut, buang dari tangga."

Staf perempuan itu mengeluarkan suara tertahan.

Tamu pria di sampingnya gemetar sampai bahunya membentur dinding.

Mata Hendra menyipit.

Di dunia lama, hukum masih ada.

Di dunia yang akan datang, orang seperti ini akan menjadi wabah pertama yang tumbuh sebelum salju turun.

Ia tidak merasa kasihan pada mereka.

Tapi ia juga tidak bisa membiarkan suara korban menarik keamanan hotel atau polisi sebelum ia tahu cara mengambil emas itu.

Satu kesalahan, kesempatan hilang.

Satu suara, peluru bergerak.

Ia mundur satu langkah dari pintu tangga darurat, memeriksa lorong kecil di belakangnya, lalu menatap tanda alarm kebakaran di dinding.

Belum.

Alarm akan memancing semua orang.

Ia butuh kekacauan kecil.

Bukan kekacauan besar.

Hendra turun kembali setengah lantai, mengambil alat pemadam api ringan yang tergantung di dinding tangga, lalu naik lagi tanpa suara.

Tabung merah itu berat, tetapi masih bisa ia pakai.

Bukan untuk memukul.

Untuk asap.

Ia menarik pin pengaman sedikit, cukup longgar untuk sekali tekan cepat.

Saat ia membuka pintu tangga lagi, pria kurus sedang berjalan mendekat sambil membawa botol air.

Jarak lima meter.

Empat.

Tiga.

Hendra mendorong pintu sepenuhnya.

Pria kurus itu menoleh.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada waktu lagi untuk mundur.

Hendra menekan tuas APAR.

PSSSHHH!

Serbuk putih menyembur ke wajah pria itu.

"Aaargh!"

Lorong langsung kacau.

Korban merunduk. Pria besar mengangkat pistol. Pemimpin dari kamar keluar sambil mengumpat.

Hendra tidak berlari ke arah mereka.

Ia justru melangkah ke samping, menendang lutut pria kurus yang masih buta serbuk, lalu menariknya ke depan sebagai penghalang setengah hidup.

Pistol pemimpin terangkat.

Moncongnya mengarah lurus ke dada Hendra.

Di balik kabut putih APAR, mata pria itu tajam dan marah.

"Lepaskan dia," katanya pelan. "Atau kau mati di sini."

Hendra memegang pecahan kaca di balik lengan jas.

Di belakang pemimpin itu, tas berisi emas terbuka sedikit lebih lebar.

Cahaya kuningnya seperti memanggil cincin di jarinya.

Tapi belum.

Belum waktunya.

Jaraknya terlalu buruk.

Pistol pemimpin hanya perlu satu tarikan jari. Pria besar di belakangnya punya senjata kedua. Linggis di tangan pria ketiga bisa mematahkan tulang sebelum Hendra sempat mendekati tas. Korban di dinding bisa menjerit kapan saja.

Jika ia hanya ingin hidup, ia bisa mundur ke tangga dan mencari celah kabur.

Tapi emas itu ada di sana.

Seratus kilogram, mungkin lebih.

Satu langkah menuju tubuh yang tidak lagi mudah ditembus dunia.

Hendra merasakan napas pria kurus yang ia jadikan tameng tersengal di depan dadanya. Bau serbuk APAR, keringat panik, dan logam pistol memenuhi lorong.

Ia tidak boleh cepat.

Ia harus tepat.

Hendra menatap moncong pistol itu tanpa berkedip.

Malam di lantai yang salah akhirnya menemukan pemiliknya.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!