Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Keheningan Yang Asing
Arlan melangkah masuk ke dalam mansion mewahnya dengan sisa rintik hujan yang masih menempel di bahu jas mahalnya.
Suasana rumah begitu gelap, hanya ada lampu remang-remang di sudut ruangan yang menyala otomatis.
Biasanya, begitu suara deru mobilnya terdengar melintasi gerbang besi, pintu utama akan langsung terbuka lebar seolah penghuninya telah berjaga di sana sejak berjam-jam lalu.
Kinara akan menyambutnya dengan senyum lebar yang tulus—senyum yang terkadang dianggap Arlan terlalu berlebihan—lalu dengan sigap mengambil tas kerjanya dan bertanya apakah harinya melelahkan.
Namun malam ini, hanya ada keheningan mencekam yang menyambutnya. Dingin yang ada di dalam rumah ini tiba-tiba terasa lebih menusuk daripada badai yang mengamuk di luar sana.
"Kinara!" panggil Arlan.
Suaranya yang berat dan otoriter menggema di ruang tamu yang luas, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin, namun tak ada sahutan sedikit pun.
Arlan mendengus kasar.
Tangannya bergerak kasar melonggarkan dasi yang tiba-tiba terasa mencekik lehernya.
Mungkin dia sedang mengurung diri di kamar dan menangis seperti biasanya, pikir Arlan sinis.
Ia merasa Kinara hanya sedang berakting dramatis setelah kejadian di lobi kantor tadi.
Di mata Arlan, Kinara adalah wanita yang tidak punya tempat tujuan lain.
Wanita itu telah memangkas seluruh dunianya hanya untuk menjadi nyonya di rumah ini. Bagi Arlan, Kinara tidak akan pernah benar-benar pergi, dia terlalu mencintainya, atau lebih tepatnya, sudah kehilangan harga diri demi memuja pria seperti dirinya,
Ia melangkah menuju dapur, merasa
Kerongkongannya terasa kering dan pahit.
Matanya melirik ke arah meja makan panjang berbahan kayu ek yang kini tampak sangat kosong melompong.
Tak ada piring yang tertata rapi, tak ada lilin aromaterapi yang biasanya dinyalakan Kinara untuk menyambut makan malam mereka, dan yang paling terasa hilang adalah aroma uap masakan rumahan yang biasanya memenuhi indra penciumannya.
Entah kenapa, perutnya yang tadi ia isi dengan hidangan truffle dan steak mewah di restoran bintang lima bersama kliennya, kini mendadak terasa perih dan kosong. Ada lubang di sana yang tidak bisa dipuaskan oleh makanan mahal mana pun.
"Benar-benar kekanak-kanakan," gumam Arlan sambil menuangkan air dingin ke gelas kristalnya.
Tangannya sedikit gemetar saat memegang botol air, sebuah reaksi tubuh yang langsung ia tepis.
"Hanya karena kotak bekal sampah itu dibuang, dia tega membiarkan rumah ini mati seperti kuburan?"
Arlan mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali Kinara bersikap seperti ini.
Tidak pernah.
Bahkan saat Arlan lupa hari ulang tahun Kinara, wanita itu tetap memasak. Bahkan saat Arlan pulang membawa aroma parfum wanita lain di jasnya, Kinara tetap membukakan pintu.
Dia tidak akan pergi jauh, batin Arlan meyakinkan dirinya sendiri.
Ia menaiki tangga menuju kamar utama mereka dengan langkah yang sengaja dihentakkan, seolah ingin memberi tahu seisi rumah bahwa sang tuan telah kembali.
Ia berencana untuk memaki Kinara, memberinya pelajaran bahwa sikap membangkang seperti ini tidak akan mempan padanya.
Namun, saat pintu jati besar itu ia dorong dengan kasar, pemandangan di dalamnya membuat napas Arlan tertahan di tenggorokan.
Kamar itu sangat rapi. Terlalu rapi hingga terasa asing, seperti kamar hotel mewah yang baru saja dibersihkan dan belum pernah dihuni. Tempat tidur mereka tertutup bed cover sutra tanpa ada satu pun kerutan.
Tidak ada sosok Kinara yang biasanya meringkuk di bawah selimut, berpura-pura tidur namun bahunya bergetar karena menahan tangis.
Arlan berjalan menuju ruang rias, tempat yang selama tiga tahun ini dipenuhi oleh barang-barang Kinara.
Biasanya, meja rias itu penuh sesak dengan botol-botol kecil skincare, deretan parfum beraroma bunga, dan beberapa jepit rambut yang seringkali berserakan mengganggu pandangan Arlan.
Sekarang, meja itu kosong. Bersih berkilat.
Seolah-olah tidak pernah ada wanita yang pernah duduk di sana untuk mempercantik diri demi menyenangkan hati suaminya. Arlan mendekat, dan matanya tertuju pada satu lembar kertas putih yang diletakkan tepat di tengah meja, ditindih oleh sebuah vas bunga kecil yang bunganya sudah layu—seolah melambangkan cinta mereka yang mati.
Dengan kening berkerut dan jantung yang berdenyut tidak beraturan, Arlan menyambar kertas itu.
‘Surat Gugatan Cerai.’
Dua kata di bagian atas kertas itu membuat pandangan Arlan memburam sesaat. Sebuah hantaman tak kasat mata menghantam dadanya, membuatnya sulit untuk sekadar menarik napas. Nama Kinara sudah tertera di sana, ditandatangani dengan tinta hitam yang tegas.
Tanpa ragu.
Namun, ego pria itu terlalu besar untuk mengakui rasa takutnya. Ia tertawa meremehkan, suara tawanya terdengar sumbang di kamar yang sepi itu. Ia meremas kertas tersebut hingga tak berbentuk dan melemparnya ke sudut ruangan dengan kasar.
"Gertakan yang sangat murahan, Kinara!"
ucapnya lantang pada dinding-dinding bisu.
"Kita lihat berapa jam kamu bisa bertahan di luar sana tanpa uang dan fasilitas dariku. Paling-paling besok pagi kamu sudah bersimpuh di depan gerbang memohon untuk masuk kembali."
Arlan kemudian melangkah menuju lemari besar di sudut kamar. Ia menarik pintunya dengan tenaga yang berlebihan hingga terdengar bunyi berderit. Ia ingin membuktikan teorinya, ia ingin melihat baju-baju Kinara masih ada di sana.
Ia ingin percaya bahwa Kinara hanya membawa satu tas kecil untuk menginap di rumah temannya, hanya untuk mencari perhatian dan membuat Arlan merasa bersalah.
Tapi, kenyataan menghantamnya lebih brutal kali ini.
Separuh lemari itu kosong melompong. Tidak ada satu pun helai pakaian wanita yang tersisa. Bahkan koper besar yang biasanya tersimpan di bagian atas lemari pun sudah menghilang.
Rak sepatu di bagian bawah yang biasanya dipenuhi high heels dan flat shoes milik Kinara kini hanya menyisakan ruang hampa yang gelap.
Kinara tidak sedang bermain drama. Dia tidak sedang berpura-pura. Dia telah membawa seluruh jejak kehidupannya keluar dari rumah ini, seolah ia ingin menghapus keberadaannya dari sejarah hidup Arlan.
Arlan terdiam membeku di depan lemari yang terbuka itu.
Matanya menatap deretan jas gelapnya yang kini tampak kesepian tanpa gaun-gaun berwarna milik Kinara yang biasanya berhimpitan di sampingnya.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, mansion ini terasa terlalu luas untuk dihuni satu orang. Terlalu dingin untuk disebut rumah.
"Kamu pasti akan kembali merangkak padaku, Kinara. Pasti,"
Arlan menggertakkan giginya, meyakinkan dirinya sendiri meski tangannya kini terkepal kuat hingga buku-bukunya memutih.
Ia membanting pintu lemari hingga suaranya menggelegar, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang besar itu. Ia memejamkan mata, berusaha memanggil kantuk agar rasa sesak di dadanya menghilang.
Namun, bau parfum lavender yang biasanya menenangkan indranya kini tidak tercium lagi. Wangi lembut yang selalu menemaninya setiap malam itu telah menguap, digantikan oleh bau detergen yang tajam, dingin, dan steril.
Arlan berbalik ke sisi kiri ranjang, sisi tempat Kinara biasanya tidur. Sisi yang selalu terasa hangat karena kehadiran wanita itu.
Dingin. Bagian ranjang itu sangat dingin, seolah tak pernah ada kehidupan di sana sebelumnya.
Pikiran Arlan melayang kembali ke masa lalu, saat ia pertama kali membawa Kinara ke rumah ini.
Saat itu, ia mengatakan pada Kinara bahwa pernikahan mereka hanyalah transaksi bisnis, sebuah kesalahan yang harus ia tanggung karena wasiat kakeknya.
Ia ingat betapa hancurnya binar di mata Kinara saat itu, namun wanita itu tetap tersenyum dan berkata,
"Aku akan membuatmu mencintaiku, Arlan."
Selama tiga tahun, Kinara membuktikannya.
Dia bertahan meski Arlan menghinanya. Dia tetap tersenyum meski Arlan membawa wanita lain ke pesta perusahaan. Dia tetap memasak meski Arlan membuang makanannya. Arlan berpikir kesabaran Kinara itu abadi. Ia berpikir Kinara adalah budak cinta yang tak punya batas akhir.
Ternyata, Arlan salah besar. Malam ini, ia menyadari bahwa bahkan es yang paling keras pun bisa hancur jika terus-menerus dihantam.
Malam itu, untuk pertama kalinya, sang Tuan Dingin yang angkuh mendapati dirinya terjaga sepanjang malam. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap, tercekik oleh keheningan yang perlahan-lahan mulai memakan kewarasannya.
Di luar, hujan masih turun dengan deras, seolah langit sedang menertawakan kesombongan seorang pria yang baru saja kehilangan harta paling berharganya tanpa ia sadari.