Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Genetik Phoenix
Ruang pusat kendali taktis di markas komando bayangan Arkananta seketika sunyi senyap, menyisakan deru konstan dari puluhan server kuantum yang berjejer di sepanjang dinding kedap suara. Pesan audio dari masa lalu yang diputar oleh Clarissa bergaung di udara dengan frekuensi rendah yang menggetarkan dada. Suara rekaman Tuan Bramasta dari sepuluh tahun silam terdengar begitu jernih, serak, namun sarat akan beban rahasia yang teramat masif. Kalimat terakhir mengenai kode genetika yang tertanam di dalam DNA Haena seolah membekukan aliran darah semua orang di ruangan tersebut.
Haena berdiri tegak di tengah ruangan, dikelilingi oleh pendar layar hologram biru yang menampilkan grafik untaian heliks ganda asam deoksiribonukleat (DNA) miliknya yang baru saja dipindai secara otomatis oleh sistem medis darurat. Setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat membungkus siluet tubuh tingginya yang memiliki proporsi hourglass figure sempurna. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan yang bertumpu di hidung mancungnya, sepasang mata jernih Haena menatap dingin ke arah fluktuasi data bio-metrik tersebut. Jari telunjuk tangan kirinya perlahan naik, mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang sangat konstan sebuah gestur mutlak yang menandakan otaknya sedang melakukan komputasi tingkat tinggi untuk mendekonstruksi konspirasi sains yang melibatkan eksistensi biologisnya sendiri.
"Kakek tidak pernah merancang 'Protokol Phoenix' sebagai sebuah perangkat lunak murni," suara Haena terdengar teramat jernih, dingin, dan beraura tegas memecah keheningan yang mencekam.
"Dia tahu bahwa di dunia yang dikuasai oleh para tetua, kode digital apa pun bisa diretas, dicuri, atau dihancurkan. Namun, sebuah sirkuit biometrik yang terintegrasi dengan urutan nukleotida spesifik di dalam darah pewaris sah... itu adalah kunci enkripsi yang tidak akan pernah bisa direplikasi tanpa mengorbankan nyawa inangnya."
Kaelen Arkananta yang berdiri di samping konsol kendali utama melangkah maju dengan keangkuhan seorang predator puncak yang karismatik. Sepasang mata elangnya yang tajam berkilat penuh amarah yang luar biasa masif sekaligus kekaguman tak terbatas pada kompleksitas takdir gadis di hadapannya. Tangan kekar Kaelen bergerak cepat, menggenggam jemari Haena dengan gestur posesif yang memancarkan aura protektif yang teramat kental, seolah menegaskan bahwa seluruh armada militer Arkananta siap dikerahkan untuk melindungi setiap tetes darah Haena.
"Itulah alasan mengapa faksi The Second Elder dan seluruh tetua dunia begitu terobsesi untuk menangkapmu hidup-hidup, Haena," bisik Kaelen, suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah, intim, namun sarat akan nada ancaman mematikan bagi musuh-musuh mereka.
"Mereka tidak hanya menginginkan hak veto atau aset finansial Dirgantara Corp. Mereka menginginkan biomaterial di dalam tubuhmu untuk membuka brankas kuantum global yang mengendalikan seluruh jalur likuiditas maritim dunia."
Clarissa yang jemarinya terus menari secepat kilat di atas papan ketik superkomputer portabel langsung menyela dengan nada panik, "Nona Haena, grafik pemindaian biologis menunjukkan adanya aktivitas sekuensial yang tidak biasa pada kromosom nomor tujuh belas Anda! Begitu jet kita mendarat dan terhubung dengan menara pemancar lokal Jakarta, sirkuit bio-metrik jam tangan Anda memicu sinkronisasi nirkabel yang mengaktifkan sinyal genetik ini. The Second Elder di luar sana pasti sudah menerima notifikasi bahwa kunci hidup telah aktif!"
Haena mendongak sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata elang Kaelen tanpa ada riak keraguan sedikit pun di wajah cantiknya yang bersinar sehat dengan riasan Douyin glass skin. Mental bajanya menolak untuk tunduk pada cetak biru takdir yang dipaksakan oleh masa lalu.
"Jika tubuhku adalah kuncinya, Clarissa," sahut Haena dengan seulas senyuman sinis yang teramat menawan namun mematikan di bibir cantiknya, "maka aku yang memegang kendali penuh atas kapan pintu itu akan dibuka, atau kapan pintu itu akan menjepit leher mereka hingga hancur. Gavin! Bagaimana status penahanan Nyonya Rosalind dan Vanya?"
Gavin yang berdiri sigap di dekat pintu baja ruang interogasi memberikan penghormatan dengan nada patuh yang teramat dalam.
"Nona Haena, keduanya telah diisolasi di dalam sel bawah tanah berpelindung elektromagnetik. Nyonya Rosalind terus mengalami histeria, sementara Nona Vanya menolak untuk berbicara namun kondisi fisiknya terus dipantau oleh tim medis kita."
Di dalam sel isolasi bawah tanah markas Arkananta, suasananya begitu kontras. Pencahayaan lampu neon yang redup memantulkan bayangan jeruji besi yang dingin pada dinding beton.
Nyonya Rosalind duduk bersimpuh di sudut ruangan, gaun sutra mewahnya kini tampak kusut dan kotor oleh debu landasan pacu Halim. Sepasang matanya melotot tajam menatap kosong ke arah lantai dengan senyuman penuh kegilaan distorsi kebencian yang masif.
"Genetik... hahaha! Jadi jalang kecil berkacamata itu adalah kuncinya? Bramasta... kamu menipuku selama puluhan tahun! Kamu membiarkan aku membesarkan Vanya seolah dia adalah pewaris, padahal kamu menyembunyikan monster digital di dalam darah anak haram itu! Hahaha!"
Vanya yang duduk di sisi lain sel memeluk erat jaket denim longgarnya yang kusam dengan tubuh yang bergetar hebat menahan rasa syok. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. Kehancuran faksi mereka kini telah lengkap; mereka bukan lagi pemain, melainkan hanyalah sampah sejarah dari sebuah perang dinasti yang jauh di luar jangkauan akal sehat mereka.
"Ibu... hentikan..." bisik Vanya dengan suara parau yang sarat akan keputusasaan mutlak.
"Kita sudah mati sejak awal... Haena bukan lagi manusia yang bisa kita hancurkan... dia adalah Dirgantara itu sendiri..."
Kembali ke ruang pusat kendali, umpan video terenkripsi dari rumah sakit pusat Jakarta mendadak menyala kembali. Wajah Pak Baskara muncul di layar dengan pelipis yang telah dibalut kain kasa bersih, mengepulkan napas lega setelah tim medis taktis Gavin berhasil mengamankan area rumah sakit dari sisa-siki penyusup faksi The Second Elder.
Di belakang Pak Baskara, di atas tempat tidur perawatan VIP, Tuan Bramasta tampak bernapas dengan bantuan masker oksigen, namun matanya yang bengkak memancarkan kesadaran penuh. Di sampingnya, Ibu Aminah duduk dengan setia, tasbihnya tetap bergerak di antara jemarinya yang gemetar saat dia terus merapalkan doa keselamatan untuk Haena.
"Nona Haena..." suara Pak Baskara terdengar bergetar hebat melalui pelantang suara, sarat akan emosi yang luar biasa masif.
"Tuan Bramasta bersikeras untuk berbicara langsung dengan Anda setelah mendengar bahwa Protokol Phoenix telah bermutasi ke dalam sistem bio-metrik Anda."
Haena melangkah mendekati layar hologram, menatap ayah kandung sejati yang baru ditemukannya dengan kelembutan yang sangat tersembunyi di balik ekspresi dinginnya. "Papa, berhentilah memaksakan diri. Saya sudah mengamankan seluruh perimeter Jakarta. The Second Elder tidak akan bisa menyentuh ruangan itu lagi."
Tuan Bramasta menarik masker oksigennya sedikit ke bawah, suara baritonnya yang lemah namun sarat akan ketegasan mutlak terdengar memenuhi ruangan.
"Haena... anakku... maafkan Papa karena menyembunyikan rahasia kejam ini darimu... Kakekmu tahu bahwa musuh kita menguasai hukum dan militer, maka dia menciptakan 'Phoenix' di dalam DNA-mu agar tidak ada satu pun pengadilan di dunia ini yang bisa merebut Dirgantara Corp dari tanganmu... Kamu adalah pemilik kedaulatan mutlak itu, Haena..."
Ibu Aminah ikut menangis di layar, suaranya parau penuh kasih sayang seorang ibu angkat yang tulus.
"Haena, anakku... pulanglah dengan selamat... jangan biarkan darahmu menjadi kutukan..."
"Saya tidak akan membiarkannya menjadi kutukan, Ibu," jawab Haena tegas, matanya berkilat penuh kecerdasan mutlak yang menenangkan hati kedua orang tuanya.
"Saya akan menjadikannya senjata pamungkas."
Haena berbalik, membelakangi layar hologram dan menatap langsung ke arah Kaelen serta Clarissa dengan otoritas taktis yang tak terbantahkan. Jari telunjuknya mengetuk tahi lalat di bawah dagunya untuk terakhir kali seiring dengan selesainya penyusunan rencana balasan di otaknya.
"Clarissa, gunakan urutan kode genetika kromosom tujuh belas yang baru saja aktif sebagai kunci enkripsi dinamis (dynamic rolling key) pada seluruh server finansial gabungan Dirgantara-Arkananta," perintah Haena taktis.
"Setiap kali faksi The Second Elder mencoba melakukan manipulasi atau penarikan likuiditas dari pasar modal internasional, sistem akan meminta otentikasi denyut nadi biologisku dalam waktu nyata. Jika mereka mencoba meretasnya secara paksa, sirkuit tersebut akan membekukan aset mereka sendiri secara permanen."
Kaelen Arkananta terkekeh rendah—sebuah tawa penuh gairah kemenangan mutlak yang teramat maskulin dan berbahaya. Dia melangkah mendekat, merapikan kerah blazer hitam Haena dengan gerakan yang sangat lembut namun penuh dominasi. "Sebuah jebakan biometrik global. Kamu benar-benar memikat, Haena. Kamu memaksa mereka untuk merangkak berlutut di hadapanmu jika mereka ingin menyelamatkan uang mereka."
"Mereka yang memulai perang ini di Singapura, Kaelen," ucap Haena, matanya dari balik kacamata transparan memancarkan pesona dingin seorang dewi perang intelektual yang siap menjatuhkan hukuman mutlak.
"Dan malam ini, di tanah Jakarta, aku yang akan menulis bab terakhir dari kehancuran mereka."
(Cliffhanger)
"Tepat ketika Clarissa menekan tombol untuk mengunci seluruh server global menggunakan DNA Haena, seluruh dinding kaca markas komando Arkananta mendadak bergetar hebat akibat gelombang sonar berfrekuensi rendah dari luar gedung. Di layar radar utama, sebuah titik hitam raksasa tanpa tanda registrasi mendadak muncul tepat di atas langit Jakarta Pusat—sebuah kapal induk udara siluman milik faksi 'The First Elder' yang selama ini dianggap mitos, kini menampakkan diri sepenuhnya dan melepaskan ribuan drone taktis yang langsung mengunci koordinat markas komando dengan laser merah pembantai. "