NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koin Digital dan Panggung Kecil Menuju Mimpi

   Dua minggu berlalu dengan kecepatan yang terasa luar biasa bagi Dika. Hari-harinya kini dijalani dengan jadwal yang teratur, padat, namun sangat menyenangkan. Tidak ada lagi waktu yang terbuang sia-sia. Pagi-pagi buta, saat kabut masih menempel di atap rumah, Dika sudah berlari mengelilingi desa, melatih ketahanan fisik sambil berlatih teknik pernapasan dalam-dalam—kombinasi sempurna untuk paru-paru yang kuat, berguna baik di lapangan maupun saat bernyanyi.

Rio, yang setia mengikuti di belakangnya dengan napas terengah-engah, sering kali mengeluh tapi tak pernah berhenti.

"Dik... aku rasanya paru-paruku mau meledak nih... kok napas kamu panjang banget sih? Kayak nggak ada habisnya," keluh Rio sambil menyeka keringat yang mengucur deras dari dahinya.

Dika memperlambat larinya menjadi jalan cepat, tersenyum sambil mengatur irama napasnya yang teratur.

"Itulah gunanya latihan napas setiap pagi, Rio. Kamu harus rasakan udaranya masuk sampai ke perut, bukan cuma di dada. Tarik... tahan... keluarkan pelan-pelan. Begini caranya..." Dika mendemonstrasikannya, membuat perutnya menggelembung saat menarik napas dan mengempis saat menghembuskan. "Ini bikin kita nggak gampang capek lari jauh, dan nanti kalau kamu mau ikut nyanyi, suaramu bakal lebih kuat dan nggak serak-serak basah."

Rio mengangguk-angguk antusias meski wajahnya masih pucat kelelahan. "Siap! Aku ikut saja. Siapa tahu aku juga punya bakat terpendam, terus nanti kita jadi duo penyanyi sekaligus duo pemain bola terkenal. Wah, keren banget tuh!"

Siang harinya, di sekolah, kemampuan sepak bola mereka semakin terasah tajam. Pak Budi benar-benar menepati janjinya untuk ikut serta dan memimpin latihan dengan intensitas tinggi. Beliau terkejut luar biasa melihat perkembangan pesat anak-anak didikannya, terutama Dika dan Raka. Raka yang tadinya hanya mengandalkan tenaga, kini mulai pandai membaca pergerakan lawan dan mengoper bola dengan akurat. Sedangkan Dika... Pak Budi sering kali hanya bisa diam terpukau, menyadari bahwa kemampuan dan pemahaman taktik anak itu jauh melampaui anak-anak seusianya, bahkan melampaui pengetahuan pelatihnya sendiri.

"Kalian sudah siap untuk seleksi hari Senin depan?" tanya Pak Budi suatu sore, saat mereka sedang beristirahat di bawah pohon. Matanya menatap tajam namun bangga ke arah kelompok siswa yang berkeringat namun berbinar semangat itu.

"SIAP, PAK!" jawab mereka serentak lantang.

"Bagus. Ingat, di sana nanti kalian akan bertemu anak-anak terbaik dari seluruh sekolah di kota ini. Ada yang dari sekolah olahraga, ada yang dari akademi swasta, ada yang sudah terlatih bertahun-tahun. Jangan takut, tapi jangan meremehkan. Tunjukkan apa yang sudah kita latih selama ini. Dan khusus buat kamu, Dika..." Pak Budi menoleh, senyum misterius terukir di bibirnya. "Besok ada acara penggalangan dana di sekolah. Panitia minta izin sama saya, katanya murid-murid sudah berbisik-bisik ingin mendengar suara emasmu. Kamu sudah bersedia kan?"

Wajah Dika memerah sedikit malu, tapi ia mengangguk mantap. "Siap, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin."

Rio langsung bersorak heboh. "Hore! Konser perdana Kapten kita! Awas ya nanti kamu laku keras, lupa sama teman lama!"

Sore itu, setelah latihan usai dan teman-teman pulang, Dika dan Rio tidak langsung ke rumah. Mereka berjalan kaki menuju pusat kota, menuju warnet langganan mereka. Hari ini adalah hari yang telah mereka tunggu-tunggu. Uang tabungan recehan yang mereka kumpulkan selama dua minggu—hasil menabung saku harian, uang kembalian belanja ke orang tua, dan uang sisa jajan—sudah terkumpul cukup banyak.

Di dalam tas kecil Dika, ada uang tunai sebesar lima puluh ribu rupiah. Jumlah yang bagi anak sekolah tahun 2010 itu terasa sangat besar, hasil pengorbanan tidak jajan, tidak beli kartu telepon, dan tidak main-main.

Mereka duduk di tempat biasa di sudut warnet, jantung Dika berdebar kencang. Ini bukan sekadar uang jajan. Ini adalah benih kekayaan yang ia tahu akan tumbuh menjadi raksasa di masa depan.

"Oke, Rio. Hari ini kita mulai langkah pertama," bisik Dika sambil menggerakkan tetikus komputer dengan fokus tinggi.

Ia masuk ke forum diskusi internet yang populer saat itu, mencari bagian jual beli mata uang digital. Berkat pengetahuannya dari masa depan, Dika tahu siapa penjual yang terpercaya, yang punya rekam jejak baik dan banyak testimoni positif. Ia menghubungi salah satu penjual, bernegosiasi harga, dan menyepakati transaksi.

"Harganya sekarang sekitar 0,07 Dolar AS per koin, Rio. Kalau dirupiahkan, satu Bitcoin itu sekitar empat ratus lima puluh sampai lima ratus rupiah. Dengan uang lima puluh ribu ini, kita bisa dapat lebih dari seratus koin, Rio! Seratus koin!" seru Dika berbisik, matanya berkilat antusias.

Rio menelan ludah, matanya terbelalak menatap layar seolah melihat harta karun. "Seratus...?! Wah, banyak banget ya! Nanti kalau harganya jadi seratus juta satu koin... berarti kita punya uang sepuluh miliar lebih?! Ya Allah... aku nggak berani bayanginnya!"

"Nah itu dia makanya kita harus simpan baik-baik. Jangan dijual dulu berapa pun yang terjadi, sampai aku kasih kode," tegas Dika.

Proses transaksi berjalan cukup lama. Di tahun 2010 ini, sistemnya masih manual dan sederhana. Mereka mentransfer uang ke rekening bank penjual, mengirimkan bukti lewat pesan singkat, lalu penjual mengirimkan kode akses koin ke dompet digital yang sudah mereka buat minggu lalu.

Saat notifikasi muncul di layar bertuliskan: "Saldo Anda: 112,5 Bitcoin", Dika dan Rio saling pandang dengan mulut menganga kaget dan bahagia. Keringat dingin menetes di kening mereka. Rasanya seperti baru saja menyimpan emas batangan di dalam komputer itu.

"Selesai... Kita resmi punya aset masa depan sekarang, Rio. Ingat ya, rahasia besar ini. Kunci rapat-rapat kata sandinya. Kalau hilang, hilang forever aset kita," pesan Dika dengan serius.

Rio mengangguk kuat sampai lehernya sakit. "Siap! Aku sudah tulis kata sandinya di kertas, dilipat kecil, masukkan ke dalam kotak pensil, ditimpuk buku pelajaran paling tebal. Aman sentosa!"

Setelah memastikan semuanya beres dan aman, mereka keluar dari warnet dengan perasaan melayang. Langkah kaki mereka terasa ringan sekali. Di satu sisi, mereka sedang membangun karier sepak bola yang gemilang. Di sisi lain, mereka baru saja menanam benih uang yang kelak akan mengubah hidup mereka dan keluarga selamanya.

"Eh Dik... rasanya aku jadi orang terkaya di dunia nih sekarang," kata Rio sambil tertawa lebar di sepanjang jalan pulang. "Padahal dompetku kosong melompong, nggak ada uang sepeser pun. Tapi rasanya kayak punya miliaran rupiah."

Dika tertawa menyahut. "Rasa percaya diri itu yang mahal, Rio. Kita tahu apa yang kita punya, itu yang paling penting."

Keesokan harinya, suasana di sekolah SMA Merdeka terasa sangat meriah. Hari itu adalah hari acara penggalangan dana yang diadakan siswa. Lapangan tengah sekolah dipenuhi meja-meja jualan makanan, permainan, dan panggung hiburan sederhana di tengah. Bukan hanya siswa, banyak juga warga sekitar dan orang tua siswa yang datang memeriahkan suasana.

Di belakang panggung sederhana yang dihias dengan kertas warna-warni dan bunga plastik, Dika berdiri diam menatap penampil yang sedang menyanyi di depan. Tangannya memegang mikrofon kabel, jari-jarinya sedikit meremas benda itu karena sedikit gugup. Ini pertama kalinya dia akan tampil menyanyi di depan umum, di depan ratusan pasang mata.

Rio yang berdiri di sampingnya sambil memegang gitar akustik—karena dia bersikeras ingin menemani sahabatnya bermain iringan musik—menepuk bahu Dika pelan.

"Tenang saja, Dik. Anggap saja ini latihan di lapangan. Anggap saja penonton itu tiang gawang. Kamu kan biasa jadi pusat perhatian pas main bola, ini cuma bedanya pakai suara, bukan pakai kaki. Kamu pasti keren banget."

Dika menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan menggunakan teknik yang sudah dia latih setiap pagi. Dadanya terasa lega, detak jantungnya yang tadi cepat kini mulai teratur kembali.

"Terima kasih, Rio. Kamu selalu ada buat aku ya. Ingat, kalau aku salah nada atau suaraku pecah, kamu ikut salah main gitar aja ya, biar salah bareng," canda Dika sambil tersenyum.

Tiba-tiba, pembawa acara mengumumkan nama mereka.

"Selanjutnya, penampilan spesial! Banyak sekali yang menunggu ini. Murid yang bukan hanya jago di lapangan hijau, tapi ternyata punya bakat seni yang luar biasa. Mari kita sambut... DIKA DAN RIO! Ayo beri tepuk tangan yang paling meriah!"

Tepuk tangan dan sorakan langsung meledak. Nama Dika sudah sangat terkenal di sekolah itu semenjak kemenangannya di pertandingan antar kelas. Semua orang penasaran, benarkah anak itu serba bisa?

Dika melangkah naik ke panggung dengan tenang, diikuti Rio yang membawa gitar sambil tersenyum kaku. Begitu berdiri di tengah panggung, sorak-sorai makin keras. Di antara penonton, Dika melihat Pak Budi tersenyum lebar, melihat teman-temannya seperti Doni dan Raka yang melambaikan tangan heboh, dan di bagian depan, ada Ibu, Ayah, dan Rina yang datang khusus untuk menonton, wajah mereka bersinar bangga.

Dika tersenyum lebar ke arah mikrofon.

"Selamat siang semuanya. Terima kasih sudah menyambut kami. Hari ini kami mau membawakan satu lagu. Lagu ini menceritakan tentang mimpi, tentang perjuangan, dan tentang rasa syukur atas apa yang kita miliki. Semoga kalian suka."

Rio mulai memetik senar gitar dengan irama lembut namun tegas. Bunyi dawai itu bergema di sepanjang lapangan.

Dan saat Dika mulai mengeluarkan suara pertamanya...

Hening.

Seketika seluruh keramaian di lapangan itu terhenti. Suara Dika yang jernih, dalam, merdu, dan penuh perasaan meluncur keluar, menyapa telinga setiap orang yang ada di sana. Nadanya pas, getarannya indah, dan ada sesuatu yang menyentuh hati dalam setiap kata yang dia nyanyikan.

"Di sini... ku berdiri... menatap mimpi yang jauh di sana...

Takkan ku berhenti... meski jalan terjal dan penuh duri..."

Lagu itu adalah lagu yang populer, tapi Dika menyanyikannya dengan gaya dan rasa yang berbeda. Dia menyanyikannya dengan perasaan tulus, membayangkan perjalanannya, membayangkan kembali ke masa lalu, membayangkan Bitcoin, membayangkan sepak bola, membayangkan keluarganya. Semua emosi itu dituangkan lewat suaranya.

Di tengah lagu, saat nada tinggi tiba, Dika tidak memaksakan suara. Dia menggunakan teknik pernapasan yang sudah diasah, suara itu naik melengkung indah, kuat namun lembut, membuat bulu kuduk para pendengar merinding. Beberapa siswi sampai menutup mulut takjub, ada yang mulai berbisik-bisik kagum. Ibu di bawah sana, meneteskan air mata haru sambil menggenggam tangan Ayah erat. Ayah sendiri mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca, sangat bangga melihat putranya bersinar di atas panggung.

Rio di sampingnya, meski sibuk memetik gitar, sesekali melirik Dika dengan pandangan takjub. "Gila... suaranya makin bagus aja. Ini bukan lagi sekadar bagus, ini sudah level penyanyi profesional," batin Rio takjub.

Saat nada terakhir usai bergema dan Rio memetik senar penutup, keheningan masih bertahan sedetik dua detik, sebelum akhirnya tepuk tangan dan sorakan meledak jauh lebih keras dari sebelumnya. Penonton berdiri bertepuk tangan, berteriak-teriak memanggil nama Dika.

"LUAR BIASA!"

"HEBAT BANGET!"

"DIKA... DIKA..."

Dika tersenyum lebar, menundukkan kepalanya tanda terima kasih, hatinya penuh meluap bahagia. Ini dia. Langkah pertamanya di dunia musik pun berhasil. Dia membuktikan pada dirinya sendiri, bahwa dia bisa menguasai dua dunia sekaligus.

Turun dari panggung, teman-temannya langsung menyerbu memeluknya. Raka, Doni, semuanya berebut menepuk bahu dan punggungnya.

"Gila, Dik! Kamu mau jadi apa saja sih?! Pemain bola, pedagang uang internet, sekarang penyanyi terkenal! Awas nanti kamu direkrut perusahaan rekaman, sekolah kita kehilangan bintang!" seru Doni tertawa bahagia.

Pak Budi mendekat, menepuk bahu Dika dengan tatapan kagum yang dalam.

"Saya sudah dengar kabar, tapi melihat dan mendengar langsung... sungguh luar biasa, Dika. Tuhan memberimu banyak sekali anugerah. Gunakan semuanya dengan bijak. Dan ingat, Senin depan seleksi Tim Kota. Saya harap kemampuan hebatmu di lapangan sama hebatnya dengan suaramu tadi."

"Siap, Pak! Saya akan berikan yang terbaik," jawab Dika mantap.

Malam itu, saat pulang ke rumah, suasana di rumah sangat meriah. Ibu memasak makanan istimewa, Ayah membuka botol minuman kesukaannya, dan Rina terus saja meminta Dika menyanyikan lagu itu berulang-ulang di ruang tengah.

"Kakak... suaramu bagus banget. Nanti kalau Kakak sudah besar, Kakak bakal jadi orang paling terkenal sedunia ya? Bintang bola sama bintang penyanyi sekaligus?" tanya Rina polos sambil duduk di pangkuan kakaknya.

Dika tersenyum, mengelus rambut adiknya dengan lembut. Dia menatap Ayah dan Ibu yang tersenyum bahagia dari seberang meja.

"Aku berjanji, Rin. Aku bakal berjuang sampai jadi yang terbaik di apa saja yang aku kerjakan. Aku mau bahagiakan Ayah, Ibu, dan kamu. Aku mau nama kita dikenal bukan cuma karena kaya atau terkenal, tapi karena karya dan perjuangan kita."

Malam itu, di dalam hatinya, Dika merasa lengkap. Dia punya rencana jangka pendek dan panjang yang jelas. Dia punya aset masa depan yang tersimpan aman di dunia maya. Dia punya bakat dan kemampuan yang terus diasah setiap hari. Dia punya keluarga yang penuh kasih sayang dan sahabat sejati yang setia.

Besok adalah hari terakhir persiapan sebelum hari besar: Seleksi Tim Sepak Bola Kota. Gerbang menuju dunia yang lebih luas akan terbuka. Tantangan sesungguhnya baru saja akan dimulai. Dika tahu, di sana dia akan bertemu bakat-bakat hebat lainnya, dia akan diuji kemampuannya sampai batas maksimal, dan dia harus membuktikan bahwa dia layak menjadi yang terbaik.

Dika menatap langit malam lewat jendela kamarnya, memejamkan mata sejenak, dan tersenyum yakin.

"Aku siap. Apapun yang terjadi Senin nanti, aku sudah melakukan persiapan sempurna. Aku membawa masa depan dalam ingatanku, kekayaan dalam tanganku, dan mimpi di dalam dadaku. Dunia, tunggu aku..."

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!